Berak
“sebentar lagi saya akan meninggalkan kota ini” ucap saya pada seseorang yang ke luar dari dalam diri saya di suatu malam.
“saya akan pergi tanpa perlu membawa apa-apa selain beberapa kerat kenangan, itu pun kalau saya pikir perlu!”.
“oya” sahut seseorang itu. kemudian ia mengambil rokok saya. menghisapnya. mengambil kopi saya. tentu saja meminumnya.
ia menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan.
tingkahnya yang acuh itu bikin saya mulai gusar.
saya amati dia dengan saksama. alamak, ternyata dia mirip dengan saya. dia memakai kaos oblong putih jack daniels saya, celana saya, dan bau tubuhnya mengeluarkan deodorant yang biasa saya pakai. jangan-jangan dia juga memakai celana dalam saya.
“saya jenuh di kota ini, seperti susu dalam kutang, tak henti menyelundup dari satu gaun ke lain gaun, tidur di kejauhan”.
“ehem”.
“kenapa cuma ehem doang? kasih tanggapan dong!”
“oya”.
“apa kamu tidak tertarik dengan gagasan saya?! atau barangkali kamu masih bingung ke mana saya akan pergi? baiklah, saya katakan padamu, saya hendak pergi ke mana saja asal tidak pulang ke masa lalu, asal bisa menikmati nafas saya yang masuk dan keluar, sederhana bukan? sesuatu yang mulai susah untuk dilakukan di kota ini, kota yang terburu-buru lalu seperti hari, seperti janji manis kekasih yang berulangkali diingkari oleh dirinya sendiri”.
tiba-tiba ia berdiri, melangkah ke pintu.
“mau ke mana?” tanya saya agak berteriak.
“keluar!’ jawabnya tanpa memalingkan kepala.
“tunggu sebentar! apa kamu tidak faham dengan apa yang saya bicarakan tadi? oke, saya bicara dengan kata-kata lugas, apa adanya, nggak pakai metafor la, kayak masa kecil kita dulu”.
“gw ngerti maksud lu! tapi gw mo ke luar”.
“ke mana?”
“stasiun tugu”.
“ngapain? mo ke jakarta, bandung, atau solo, malang, surabaya? pokoknya, asal ninggalin kota ini, kemana aja deh, saya ikut dong”. teriak saya girang separuh merajuk.
“gw mo berak!”
“idih, jauh amat! di rumah ini kan bisa?”.
ia tetap ke luar. terburu-buru. sepanjang jalan, dalam remang lampu jalan, tubuhnya menjelma bayang-bayang. saya terpaksa mengikutinya di belakang dengan perut sakit menahan toilet.
Wednesday, November 28, 2007
Monday, November 26, 2007
Poem
Taman Jam Gadang
bersama lelaki tua yang memberi kunama
dan angin yang bersalin menuju senja
beri aku kesempatan mengucapkan cinta
lebih sayup dari mata peniup saluang di jenjang empat puluh
pada daun kering di tamanmu
pada angka IIII di jammu
sesuatu yang tak sempat kukata
di masa kecil dulu
tersebab bujuk rayu penjual balon itu
bersama lelaki tua yang memberi kunama
dan angin yang bersalin menuju senja
beri aku kesempatan mengucapkan cinta
lebih sayup dari mata peniup saluang di jenjang empat puluh
pada daun kering di tamanmu
pada angka IIII di jammu
sesuatu yang tak sempat kukata
di masa kecil dulu
tersebab bujuk rayu penjual balon itu
Sunday, November 25, 2007
Poem
Merak-Bakauheni
angin jalang
matahari lajang
laut bercermin di langitmu
siang hampir matang
ahk! semua lapar
usus menjerit
seperti tulang tulang ikan di terumbu karang
masih jauhkah pelabuhan itu?
semua ingin sampai
rindu ingin digapai
tapi kapal ini begitu lambat
congkak dan tua
seperti pemerintah
mengigau
atas cahaya bawah laut
gunung krakatau itu tampak tenang?
sesungguhnya tidak, seperti dirimu
menyimpan larva duka cinta
angin jalang
matahari lajang
laut bercermin di langitmu
siang hampir matang
ahk! semua lapar
usus menjerit
seperti tulang tulang ikan di terumbu karang
masih jauhkah pelabuhan itu?
semua ingin sampai
rindu ingin digapai
tapi kapal ini begitu lambat
congkak dan tua
seperti pemerintah
mengigau
atas cahaya bawah laut
gunung krakatau itu tampak tenang?
sesungguhnya tidak, seperti dirimu
menyimpan larva duka cinta
Thursday, November 22, 2007
Poem
Sawahlunto
dari taman rumah sakit di ketinggian, di antara
bau luka rumput dan tabung infus, kita lihat
sebatang sungai kurus dan kumal
bagai pemabuk mengalir sempoyongan
melintasi kota lembah yang terbuat
dari sperma belanda. lengking peluit
kereta batu bara penghabisan masih mengiang dan
melayang antara bukit mata air dan puncak polan
dalam senja berlemak. kualihkan pandangmu
pada menara angin: rumah hantu masa lampau.
kemudian percakapan kita melangkah ke bawah
bersama malam berminyak.
di depan gereja tua dan pengantuk
mataku terantuk pada punggung
pengendara motor tak dikenal
yang melintas begitu cepat seperti tingkap
seperti pintu rumah dikunci, di sini, sebelum tetes
embun pertama jatuh dari mata bintang bintang
menamatkan riwayat malam yang kesepian. ah,
begitu lekas segala lalu. sementara
aku tak tahu bagaimana kau hidup dengan kaki terantai
di atas lubang lubang tambang yang terbengkalai.
mungkin, parfum murahan, musik yang mengalir dari telpon genggam,
buklet pariwisata dalam tas hitam, sedikit menjagamu
dari ketiadaan.
dari taman rumah sakit di ketinggian, di antara
bau luka rumput dan tabung infus, kita lihat
sebatang sungai kurus dan kumal
bagai pemabuk mengalir sempoyongan
melintasi kota lembah yang terbuat
dari sperma belanda. lengking peluit
kereta batu bara penghabisan masih mengiang dan
melayang antara bukit mata air dan puncak polan
dalam senja berlemak. kualihkan pandangmu
pada menara angin: rumah hantu masa lampau.
kemudian percakapan kita melangkah ke bawah
bersama malam berminyak.
di depan gereja tua dan pengantuk
mataku terantuk pada punggung
pengendara motor tak dikenal
yang melintas begitu cepat seperti tingkap
seperti pintu rumah dikunci, di sini, sebelum tetes
embun pertama jatuh dari mata bintang bintang
menamatkan riwayat malam yang kesepian. ah,
begitu lekas segala lalu. sementara
aku tak tahu bagaimana kau hidup dengan kaki terantai
di atas lubang lubang tambang yang terbengkalai.
mungkin, parfum murahan, musik yang mengalir dari telpon genggam,
buklet pariwisata dalam tas hitam, sedikit menjagamu
dari ketiadaan.
Thursday, November 15, 2007
Poem
Parangkusumo
sebuah ciuman kita ciptakan dengan mata terpejam
dengan nafas garam di pantai selatan berbau menyan
dan kembang setaman. mendesahlah
pada jari-jari pasir yang meremas pinggulmu
pada keringat malam pada gairah bintang bintang
pada birahi laut pada geliat lampu tongkang yang
berlayar bersama sekerat bulan
bersama jaring ikan di getar tangan nelayan
kesepian karena rindu
payudara lusuh istri menunggu
dalam gubuk 13 meter dari kita
menciptakan ciuman ciuman ombak.
ah!
sebuah ciuman kita ciptakan dengan mata terpejam
dengan nafas garam di pantai selatan berbau menyan
dan kembang setaman. mendesahlah
pada jari-jari pasir yang meremas pinggulmu
pada keringat malam pada gairah bintang bintang
pada birahi laut pada geliat lampu tongkang yang
berlayar bersama sekerat bulan
bersama jaring ikan di getar tangan nelayan
kesepian karena rindu
payudara lusuh istri menunggu
dalam gubuk 13 meter dari kita
menciptakan ciuman ciuman ombak.
ah!
Monday, November 12, 2007
Poem
Tak Ada Yang Bersalin, Kecuali Halaman Rambutmu
aku yang datang untuk kembali pergi
menjelang halaman rambutmu yang kau pangkas
jadi sebahu. malam itu rabu. langit
menyamun bulan. daun daun runduk
menunggu kelahiran hujan.
dalam patahan angin. aku duduk di matamu
yang tak berubah setiap kali menatap
pasang laut di dahiku. kau berucap dengan
lidah garam: “kenapa kau betah memikirkan dunia
yang tak lagi memikirkan dirimu”.
kemudian kita berseteru tentang rambu-rambu,
jalan kita tempuh, seperti kayu bersilang dalam tungku.
ah, tak ada yang bersalin, kecuali halaman rambutmu
dan bibirmu yang telah jadi milik orang lain.
sewaktu sikutmu menyentuh pinggangku
ada getar hujan merambat ke seluruh tubuh
kita ingkari itu. barangkali kita terlanjur
membuat simpul mati: yang dulu biarlah
menjadi milik masa lalu. barangkali,
kita tak biasa jalan dengan punggung menghadap ke depan.
kenapa kita hidup dengan ingatan
mengusung beban kenangan?
seperti sebuah buku, kau telah baca tubuhku
aku telah baca tubuhmu. tapi kita
belum sungguh tahu, di halaman mana
sepi kita bertemu. sebab
seperti sebuah buku, tubuhmu tubuhku
terlanjur jatuh sebelum tuntas dibaca
bersama senja dan lolongan anjing tetangga.
aku yang datang untuk kembali pergi, sekali lagi
menatap halaman rambutmu. getar tanganku
yang pernah kutanam di halaman rambutmu
akan tetap tumbuh di kepalamu
disiangi waktu--sesekali mungkin berbuah rindu--
dan mati
jika kau jagal nanti.
aku yang datang untuk kembali pergi
menjelang halaman rambutmu yang kau pangkas
jadi sebahu. malam itu rabu. langit
menyamun bulan. daun daun runduk
menunggu kelahiran hujan.
dalam patahan angin. aku duduk di matamu
yang tak berubah setiap kali menatap
pasang laut di dahiku. kau berucap dengan
lidah garam: “kenapa kau betah memikirkan dunia
yang tak lagi memikirkan dirimu”.
kemudian kita berseteru tentang rambu-rambu,
jalan kita tempuh, seperti kayu bersilang dalam tungku.
ah, tak ada yang bersalin, kecuali halaman rambutmu
dan bibirmu yang telah jadi milik orang lain.
sewaktu sikutmu menyentuh pinggangku
ada getar hujan merambat ke seluruh tubuh
kita ingkari itu. barangkali kita terlanjur
membuat simpul mati: yang dulu biarlah
menjadi milik masa lalu. barangkali,
kita tak biasa jalan dengan punggung menghadap ke depan.
kenapa kita hidup dengan ingatan
mengusung beban kenangan?
seperti sebuah buku, kau telah baca tubuhku
aku telah baca tubuhmu. tapi kita
belum sungguh tahu, di halaman mana
sepi kita bertemu. sebab
seperti sebuah buku, tubuhmu tubuhku
terlanjur jatuh sebelum tuntas dibaca
bersama senja dan lolongan anjing tetangga.
aku yang datang untuk kembali pergi, sekali lagi
menatap halaman rambutmu. getar tanganku
yang pernah kutanam di halaman rambutmu
akan tetap tumbuh di kepalamu
disiangi waktu--sesekali mungkin berbuah rindu--
dan mati
jika kau jagal nanti.
Friday, November 9, 2007
Poem
Sungai Tarab
kincir air itu masih berputar
dan perempuan tua itu mengayak bubuk kopi.
begitulah kami jumpai: nagari tua di pagi hari.
angin dingin turun dari puncak marapi, hinggap
di kelopak bungo setangkai dalam genggam roh
leluhur yang mengintai di balik pohon tarab.
aku pun menggigil. tapi nyanyian air bandar,
suara bincang dan kelakar
menyatu di udara, seperti mimpi basah. kemudian
berlatar sawah terkembang ditelantar anak bujang
dan kabut yang masih melayang, kami foto berempat
dengan juru kamera turunan raja
kincir air itu masih berputar
dan perempuan tua itu mengayak bubuk kopi.
begitulah kami jumpai: nagari tua di pagi hari.
angin dingin turun dari puncak marapi, hinggap
di kelopak bungo setangkai dalam genggam roh
leluhur yang mengintai di balik pohon tarab.
aku pun menggigil. tapi nyanyian air bandar,
suara bincang dan kelakar
menyatu di udara, seperti mimpi basah. kemudian
berlatar sawah terkembang ditelantar anak bujang
dan kabut yang masih melayang, kami foto berempat
dengan juru kamera turunan raja
Thursday, November 8, 2007
Poem
Dua Gelas Kosong
antara kita sebuah meja terbentang.
di atas meja, dua gelas kosong
saling memandang.
selepas dusta cinta terucap
sebelum teguk penghabisan,
kita hilang kata, hilang arah,
sesat dalam diam.
kita kini dua gelas kosong,
tengadah pada malam disamun hujan.
antara kita sebuah meja terbentang.
di atas meja, dua gelas kosong
saling memandang.
selepas dusta cinta terucap
sebelum teguk penghabisan,
kita hilang kata, hilang arah,
sesat dalam diam.
kita kini dua gelas kosong,
tengadah pada malam disamun hujan.
Tuesday, November 6, 2007
Poem
Pada Jam 9 Malam Itu
hujan jatuh dari bintang bintang
keping keping cahaya yang dingin berserakan
di halaman. kupungut jua
dengan mata gigil
dan senyum paling ganjil.
hujan jatuh dari bintang bintang.
air mata malaikat dalam butir butir hujan.
hujan jatuh dari bintang bintang
keping keping cahaya yang dingin berserakan
di halaman. kupungut jua
dengan mata gigil
dan senyum paling ganjil.
hujan jatuh dari bintang bintang.
air mata malaikat dalam butir butir hujan.
Monday, November 5, 2007
Poem
petang kami jelang
di pantai padang
ombak datang dan pergi
seperti hari
seperti janji pada kekasih
kami berempat
berbagi tempat
di tatahan batu menjorok ke laut
dalam matahari yang terus susut
di pantai padang
ombak datang dan pergi
seperti hari
seperti janji pada kekasih
kami berempat
berbagi tempat
di tatahan batu menjorok ke laut
dalam matahari yang terus susut
Saturday, November 3, 2007
Solilokui
Hujan Jatuh Dari Bintang Bintang
sudah hampir seminggu kedatangan saya di jogja sejak mudik dari kampung di ranah minang, dan selama itu pula saya bertemu melulu dengan hujan yang menebarkan aroma basah di mana-mana, hujan yang membuat kota seperti berada dalam linangan cahaya bawah air. sedang saya seperti penyelam kehabisan oksigen, ingin bergegas naik menuju pusat cahaya.
sudah hampir seminggu kedatangan saya di jogja sejak mudik dari kampung di ranah minang, dan selama itu pula saya bertemu melulu dengan hujan yang menebarkan aroma basah di mana-mana, hujan yang membuat kota seperti berada dalam linangan cahaya bawah air. sedang saya seperti penyelam kehabisan oksigen, ingin bergegas naik menuju pusat cahaya.
Thursday, November 1, 2007
Solilokui
Semuanya indah dalam angan-angan
kami bersepakat (saya, indrian koto, esha tegar putra, pinto anugrah) pada hari lebaran ketiga tahun 2007 ini akan berkumpul di kota padang untuk raun-raun (traveling) mengelilingi ranah minang. kenapa kami harus berkumpul di kota padang? maklumlah kami berasal dari nagari yang saling berpencar. koto di lansano, pesisir selatan. esha di saniang bakar tepi danau singkarak. pinto di sungai tarab, batu sangkar. sedang saya di padang sibusuak, sebuah nagari yang merupakan benteng pertahanan kerjaan minangkabau pada zaman dahulu, dan menurut tambo alam minangkabau, nama padang sibusuak diberikan pada nagari yang awalnya bernama padang bulu kasab itu, tersebab keheroikan perjuangan rakyat minangkabau menghadang invansi bala tentara majapahit ke kerajaan pagaruyung di nagari padang bulu kasab yang kemudian berganti nama menjadi nagari padang sibusuak karena banyaknya mayat bergelimpangan seusai pertempuran dan menimbulkan bau busuk.
kerajaan minangkabau tidak memiliki pasukan militer sebagaimana kerajaan lainnya. minangkabau menganut sistem pertahanan rakyat semesta dimana apabila diserang seluruh rakyat terlibat mempertahankan tanah pusako bundo. minangkabau selain dibantu oleh geografis alam yang dilingkung oleh bukit barisan (benteng alam), juga menerapkan nagari nagari benteng seperti kawasan "racun" di pasaman. sistem pertahanan 'rakyat semesta' inilah yang pernah diapdosi oleh tan malaka untuk dijadikan sistem pertahanan indonesia dan dipergunakan pada masa revolusi fisik (1945-1949).
dalam angan-angan saya selepas kesepakatan kami buat, sangatlah indah. bagaimana tidak, kami akan raun-raun berempat dengan motor melihat ranah minang. bukit nan manjulang. lembah nan tambantang. langit nan takambang. lihat kincir air penumbuk kopi di sungai tarab sambil merasakan udara dingin turun dari gunung marapi menyapa tubuh. mandi di danau singkarak dan kalau lapar makan nasi bareh solok dengan lauk pangek ikan bili, hem sedap sekali! singgah di padang sibusuak dan pergi ke nagari sisawah menyusuri ngalau (goa) stalagmit, menghayati meditasi air yang menjadi ornamen batu yang indah di langit-langit goa. pergi melaut di lansano, pesisir selatan, bersama nelayan yang telah dipesan koto. tentu kami akan bersua pula dengan padusi minang nan rancak, kamek, jongkek. alamak jang! perjalanan ini akan menyenangkan. dan saya yakin, lebih indah dari puisi apa pun yang pernah kami buat.
angin menggiring hari. hari yang kami sepakati pun tiba. tapi berempat dari kami, hanya koto yang percaya pada janji. ia tiba di padang sendiri (apakah ia sedih waktu itu?). sedang esha tetap di saniang baka. pinto di sungai tarab. saya di padang sibusuak. dengan kesibukan dan halangan masing-masing. untunglah di padang, ia bertemu dengan romi zarman dan mereka pun jalan-jalan. entah ke mana.
kami bersepakat (saya, indrian koto, esha tegar putra, pinto anugrah) pada hari lebaran ketiga tahun 2007 ini akan berkumpul di kota padang untuk raun-raun (traveling) mengelilingi ranah minang. kenapa kami harus berkumpul di kota padang? maklumlah kami berasal dari nagari yang saling berpencar. koto di lansano, pesisir selatan. esha di saniang bakar tepi danau singkarak. pinto di sungai tarab, batu sangkar. sedang saya di padang sibusuak, sebuah nagari yang merupakan benteng pertahanan kerjaan minangkabau pada zaman dahulu, dan menurut tambo alam minangkabau, nama padang sibusuak diberikan pada nagari yang awalnya bernama padang bulu kasab itu, tersebab keheroikan perjuangan rakyat minangkabau menghadang invansi bala tentara majapahit ke kerajaan pagaruyung di nagari padang bulu kasab yang kemudian berganti nama menjadi nagari padang sibusuak karena banyaknya mayat bergelimpangan seusai pertempuran dan menimbulkan bau busuk.
kerajaan minangkabau tidak memiliki pasukan militer sebagaimana kerajaan lainnya. minangkabau menganut sistem pertahanan rakyat semesta dimana apabila diserang seluruh rakyat terlibat mempertahankan tanah pusako bundo. minangkabau selain dibantu oleh geografis alam yang dilingkung oleh bukit barisan (benteng alam), juga menerapkan nagari nagari benteng seperti kawasan "racun" di pasaman. sistem pertahanan 'rakyat semesta' inilah yang pernah diapdosi oleh tan malaka untuk dijadikan sistem pertahanan indonesia dan dipergunakan pada masa revolusi fisik (1945-1949).
dalam angan-angan saya selepas kesepakatan kami buat, sangatlah indah. bagaimana tidak, kami akan raun-raun berempat dengan motor melihat ranah minang. bukit nan manjulang. lembah nan tambantang. langit nan takambang. lihat kincir air penumbuk kopi di sungai tarab sambil merasakan udara dingin turun dari gunung marapi menyapa tubuh. mandi di danau singkarak dan kalau lapar makan nasi bareh solok dengan lauk pangek ikan bili, hem sedap sekali! singgah di padang sibusuak dan pergi ke nagari sisawah menyusuri ngalau (goa) stalagmit, menghayati meditasi air yang menjadi ornamen batu yang indah di langit-langit goa. pergi melaut di lansano, pesisir selatan, bersama nelayan yang telah dipesan koto. tentu kami akan bersua pula dengan padusi minang nan rancak, kamek, jongkek. alamak jang! perjalanan ini akan menyenangkan. dan saya yakin, lebih indah dari puisi apa pun yang pernah kami buat.
angin menggiring hari. hari yang kami sepakati pun tiba. tapi berempat dari kami, hanya koto yang percaya pada janji. ia tiba di padang sendiri (apakah ia sedih waktu itu?). sedang esha tetap di saniang baka. pinto di sungai tarab. saya di padang sibusuak. dengan kesibukan dan halangan masing-masing. untunglah di padang, ia bertemu dengan romi zarman dan mereka pun jalan-jalan. entah ke mana.
Subscribe to:
Posts (Atom)
