25 Mei 2012

Puisi

Puisi Sebagai Hal Sehari-hari & Di balik Hal Sehari-hari

tanpa cipika cipiki ama patung tugu tani: daag... jakarta...
15.04. cet-macet. banjir keringet. cerewet....

menempuh kata dalam sms:

nanti turun d terminal bayangan cilegon. naik angkot wrn ungu. trn di masjid agung cilegon, msh satu arah naik angkot wrn silver ongkos 5000, sblmnya tanya smpe anyer apa gak. di anyer nanti turun d pertigaan gudang areng, ada alva expres tgu di situ. biar nanti dijmpt anak2.

sampai di tujuan: hari sudah malam...

19 April 2012

Puisi


Aku Tidak Tahu
 
hanya losmen murah. kipas angin mati.
dinding dinding mencekik hati. dan ia
mengirim sms pada seseorang di luar sana:
kenapa aku menangis?

balasan dari luar sana:
aku tidak tahu. aku tidak tahu apa-apa tentangmu.

ia menghapus tangisnya dengan bir
hingga habis. dan ia berkata pada botol kosong:
aku tidak tahu. aku tidak tahu...

9 Februari 2012

Puisi

Mata dalam Dinding

di ruang ini
jam cinta masih membuat bayang.
kepalaku dipenuhi air, nama nama tenggelam.

oh mata dalam dinding,
katakan sesuatu, katakan sesuatu...



2 Desember 2011

Puisi


Sajak

cahaya musim hujan di lampu jalan. malam panas bersalin malam dingin.
kata-kata terus membocengi cuaca, melaju ke yang tak terduga.

aku teringat padamu, aku teringat...
lolong anjing impikan tulang dalam daging.



23 Oktober 2011

Puisi

Malam yang Berangin

malam yang berangin. akan aku ingat malam itu
sebagai yang berangin
lehermu dan pantai
suara ombak dan bau dupa
menyatu di udara.

malam itu aku meletakan kata-kataku di dalam pasir
seperti penyu menyimpan telurnya.
dan apabila aku terlalu tua untuk bermimpi
kata-kataku akan menetas menjadi sajak
mencarimu di dalam laut
di antara ganggang, bangkai kapal,
dan anggur yang terperangkap dalam botol tua
berlumut.

bila suatu hari sajakku tak lagi menyentuhmu
bila suatu hari sajakku membuatmu jemu--
seperti payudara dalam beha, tak henti
menyelundup dari satu gaun ke lain gaun--
lupakan aku, lupakanlah
meskipun dalam sajakku tersimpan
helai rambutmu yang lepas
di malam berangin itu.

tapi bila kau datang lagi ke dalam pelukanku
di bawah langit tak berbatas,
ah kamulah sajak sesungguhnya,
aku tulis dengan garis nasib tangan.
hingga hari berangin
tulangku
tulangmu
kaku
dingin
jadi karang
di pantai
lain.