Belajar Menulis Tentang Pohon
kesibukan saya yang berkesan saat ini bagi saya adalah melihat pohon. setiap hari, tanpa jadwal pasti, saya melihat pohon. maklum di kampung saya masih ada pohon. saya cukup senang. tapi saya juga cukup sedih. sebab banyak sekali pohon yang dulu ada, kini tak lagi ada. misalnya pohon jarak di halaman rumah mama saya.
setiap kali teringat pohon jarak itu, saya teringat nenek saya. nenek saya itu sudah mati. dan saya jarang menyanyikan lagu burung kakak tua. tapi cerita nenek saya tentang pohon jarak, tetap hidup dalam ingatan saya. kisah nenek, sewaktu zaman penjajahan jepang dulu, nenek kalo mandi sabunnya pake buah pohon jarak dan kakek tetap mencintai nenek. setiap kali teringat pohon jarak itu, saya teringat waktu kecil, saya kena sakit campak. mama mengambil daun pohon jarak itu, merendamnya di air, lalu daun pohon jarak yang sudah basah itu di letakan mama di tubuh saya yang diamuk campak itu.
sekarang di kampung saya sudah tumbuh pohon baru. kalau di malam hari, pohon itu mengeluarkan cahaya, warnanya merah. batang pohon itu terbuat dari besi, tidak berdaun, tidak berakar. pohon besi itu, paling tinggi di kampung saya. sebenarnya, saya tidak suka dengan pohon besi itu, burung-burung dan monyet juga tidak suka--mungkin itu sebabnya tidak ada burung-burung dan monyet membuat sarang di sana. tapi kalo pohon besi itu tak ada, saya tidak bisa berbagi kabar dengan teman-teman saya yang jauh dalam tempo sesingkat-singkatnya. dan pulsa di telpon genggam saya akan membusuk. tapi burung-burung tidak butuh pulsa. monyet juga tidak butuh pulsa. tapi kenapa orang jual pulsa pake monyet?! ternyata kecantikan luna maya kurang mampu untuk menjual pulsa, jadi butuh bantuan monyet, hehe...
begitulah, kesibukan saya yang berkesan bagi saya: melihat pohon!
dan kesibukan yang paling berkesan bagi saya adalah menanam pohon. setiap kali saya menanam pohon, saya merasa hidup masih ada.
ngomong-ngomong, kamu sekarang sibuk apa?
Saturday, January 31, 2009
Solilokui
Friday, January 30, 2009
Poem
Menyeberang Ke Pulau Pisang
ketika pasang surut
aku menyeberang
di pertemuan dua ombak yang tenang
anak anak karang dalam air
menata jalan ke pulau kecil
pulau terpencil
aku tinggalkan kisahmu, malin
yang membatu
dan bersitegang dengan camar
di pantai pulau besar
ke pulau kecil
pulau terpencil
ke sana, ke sana aku menuju
lepaskan kisah baru
bagi umang-umang si pengusung sarang
yang tak mengenal kata pulang
ketika pasang surut
aku menyeberang
di pertemuan dua ombak yang tenang
anak anak karang dalam air
menata jalan ke pulau kecil
pulau terpencil
aku tinggalkan kisahmu, malin
yang membatu
dan bersitegang dengan camar
di pantai pulau besar
ke pulau kecil
pulau terpencil
ke sana, ke sana aku menuju
lepaskan kisah baru
bagi umang-umang si pengusung sarang
yang tak mengenal kata pulang
Sunday, January 25, 2009
Solilokui

kita mandi-mandi di laut, cebur diri
jadi kanak-kanak ria lagi
hilang sejenak segan pada usia
ombak berdebur di dada
begitu nyata, begitu terasa
(Pantai Air Manis, Padang, 23-25 Januari 2009)
barangkali, sajak di atas nanti akan bertambah atau berkurang, atau bertahan sebagaimana yang telah ada. biarlah apa nasib waktu kemudian bicara!
trimakasih faiz, pinto, esha, hafzan, romi, wawan, kudil, sayid firman, anda, dll untuk cimeeh'anya, kehangatannya, persahabatannya. trimakasih juga pada panitia latihan alam dasar teater, sasindo unand padang, atas kepercayaan dan penghargaannya menunjuk saya sebagai bagian dari instruktur selama LAD teater di pantai air manis padang, 23-25 Januari 2009.
trimakasih juga pada dede yang lugu, yang pipinya lembut terasa di tanganku, tentu faiz boleh cemburu, huakakak....
trimakasih juga pada seorang perempuan yang telah membacakan puisi untuk saya pada pertunjukan bersahaja malam itu, hehe...
trimakasih pantai, pasir, sampah-sampah di atas pasir, pohon cemara, pohon kelapa, pohon lainnya juga. trimakasih laut, ombak, muara kecil, umang-umang, pulau pisang, hujan, gerimis, angin, orang-orang yang lewat.
trimakasih untuk peristiwa yang membuat kita sampai padanya, peristiwa yang tak pernah kita duga sebelumnya. peristiwa yang membuat saya bisa menulis sesuatu tentangnya.
trimakasih.
trimakasih.
trimakasih.
trimakasih hidup.
kau masih ketawa?

Friday, January 16, 2009
Poem
Di Water Castle
- EP
mata dinginmu
menggiring matahari bangkit
menyibak kabut pagi november
mata yang menyeberangi hari
dari letih ke letih
adakah cahaya lain kamu lihat di langit timur jauh?
perasaan apa membuatmu diam
di atas patahan kastil tua?
di sampingmu, aku hilang bentuk
di bawah, kota dan jalan yang pernah kita tempuh
seperti retakan awan hitam
yang mengurung matahari
sebegitu suramkah perpisahan?
aku yang tak tahu nasib waktu kemudian
menggengam tanganmu lebih dalam
menatap anak rambutmu
yang dimainkan angin
dan tahi lalat di pipimu, sebentar lagi
akan menjadi sebuah pulau
ketika air menggenangiku
ada getar tangan dalam tangan:
dapatkah kau rasakan?
genggaman penghabisan
seperti pertama kali kita berciuman
- EP
mata dinginmu
menggiring matahari bangkit
menyibak kabut pagi november
mata yang menyeberangi hari
dari letih ke letih
adakah cahaya lain kamu lihat di langit timur jauh?
perasaan apa membuatmu diam
di atas patahan kastil tua?
di sampingmu, aku hilang bentuk
di bawah, kota dan jalan yang pernah kita tempuh
seperti retakan awan hitam
yang mengurung matahari
sebegitu suramkah perpisahan?
aku yang tak tahu nasib waktu kemudian
menggengam tanganmu lebih dalam
menatap anak rambutmu
yang dimainkan angin
dan tahi lalat di pipimu, sebentar lagi
akan menjadi sebuah pulau
ketika air menggenangiku
ada getar tangan dalam tangan:
dapatkah kau rasakan?
genggaman penghabisan
seperti pertama kali kita berciuman
Thursday, January 15, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
