sungguh. sebenarnya saya malas memposting yang satu ini. tapi setelah saya pikir, tak apalah, setidaknya ini merupakan tanda waktu, sesuatu yang pernah saya tempuh, dan lumayan bikin haru tapi gak nyampe tersedu-sedu, hehe...
keikutsertaan saya dalam sayembara puisi cinta nyata yang diadakan oleh tabloid nyata, hanya sebuah peristiwa kebetulan--mungkin karena hidup itu sendiri peristiwa kebetulan--koto memberi tahu saya ada lomba dan menyarankan untuk ikut (tengkyu koto dan sukma dan kiting). saya yang pemalas mengirim puisi ke media massa cetak apalagi ikut lomba, pada saat itu menerima tawaran tersebut, di samping hadiah yang lumayan untuk membayar hutang saya yang telah menumpuk, juga menjawab tantangan seorang kawan yang namanya kadang-kadang nongol di halaman koran minggu, dan pernah berkata dengan lantang pada saya: "buktikan dengan karya! kita cari tiga juri dan kita adu puisi kita!" (dengar kabar kawan tersebut ikut pula, tapi maaf, namanya tidak tercantum dalam daftar peserta yang berhak dapat uang, tentu saja setelah dipotong pajak buat pemerintah kita yang 'baik', hehe).
Nah beginilah nasib puisi saya, setelah bertarung dengan 6000 puisi (kata panitia, lho) karya macam-macam orang yang punya lagak macam-macam.
sekali lagi, ini bukan ajang pamer diri, ini hanya tanda waktu sebagaimana puisi yang ngos-ngosan dan enjoy saya tulis selama ini.
Sebagaimana larik puisi Mandan Chairi Anwar: Kerja Belum Selesai
1. Sajak buat Istri yang Buta dari Suaminya yang Tuli, M. Aan Mansyur, Makassar.
2. Lunto Kloof, Cinta Pertama yang Gagal Kuselamatkan, Y. Thendra BP, Yogyakarta.
3. Aku melihatmu Menanti di Depan Rumah, Ni Kadek Ayu Winastri, Kuta-Bali.
4. Kidung Perpisahan, Herry Trunajaya BS, Balikpapan Selatan.
5. Merah jambu Selendang Ibu, Thowaf Zuharon, Yogyakarta.
6. Pernikahan, M Anshor Sja’roni, Waru, Sidoarjo.
PERAIH KARYA TERPUJI
1. Dalam Sekental Kopi, Hamiddin, Sumenep-Madura.2. Dan Ini Cinta Tuhan, Lindung Ratwiawan, Malang.3. Kau Bagiku, Ala Roa, Yogyakarta.4. Requiem: Senyum Berkabung, Kukuh Yudha Karnanta, Surabaya.5. Aku Ingin Menjadi Tua, Rozakky, Bangkalan-Madura.6. Ibu, Aulia Muhammad, Semarang.7. Ziarah Cinta, Nurul Iva Yulia Imawan, Randudongkal-Pemalang.8. Sajak Berlayar, Surasono Rashar, Lumajang.9. Mawarilah Aku, S. Yoga, Ngawi.10. Sepucuk Rinduku Padamu, Nak, Suharyono, Pati.11. Pelukan, M. Aan Mansyur, Makassar.12. Malam Pinangan, M. Badri, Bogor.13. Tiga Soneta Cinta untuk Oneta, Ifull Azka Zulkifliy, Cirebon.14. Hutan Kepala, Joko Gesang Santoso, Sleman-Yogyakarta.15. Aku Perempuan Pelamarmu, Putri hati Ningsih, Laweyan-Sala.16. Bacakan Aku Satu Puisi Cinta, Pay Jarot Sujarwo, Pontianak.17. Cinta di Tanah Perang, Alimuddin, Darussalam-Aceh Besar.18. Bayi, Hariqo Wibawa Satria, Bukittinggi-Sumatera Barat.19. Uterus, Kedung Darma Romansha, Indramayu-Jabar.20. Komposisi Kau dan Aku, Indrayani Puspitasari, Surabaya.21. Petak Umpet, Didi Arisandi, Lampung.22. Dzikir Air, Gema Yudha, Bandung.
Friday, February 29, 2008
Friday, February 15, 2008
Poem
Lintas Sumatera
baru sampai kota bumi
pedih itu sudah kutemui. rumah
rumah murung tepi jalan
di rembang petang, seperti
rumput kering menanti
kelahiran hujan.
hanya dari balik kaca, balik kaca
bis yang laju berpenumpang rindu,
sebagaimana smsmu, nafas hutan sakit
ladang sawit, sampai jua ke dada
jadi pebukaan puasa.
baru sampai kota bumi
pedih itu sudah kutemui. rumah
rumah murung tepi jalan
di rembang petang, seperti
rumput kering menanti
kelahiran hujan.
hanya dari balik kaca, balik kaca
bis yang laju berpenumpang rindu,
sebagaimana smsmu, nafas hutan sakit
ladang sawit, sampai jua ke dada
jadi pebukaan puasa.
Monday, February 4, 2008
Poem
Kepada A
di retak tangannya
yang pernah menyentuh
rambut halus di punggungmu,
terjatuh
buku yang belum tuntas dibaca.
lalu
ia menggambar sebuah kereta
melarikan rindu paling hitam
ke dalam derau yang menggesau jendela.
senja purna.
tangan angin
melemparkan dirinya ke malam sungsang
ke labirin bintang bintang
yang telah menyesatkan bibirmu
hingga lupa jalan pulang
pada ciuman itu.
Requiem
--N
kenangankah yang menagih duka
bagi mayat pandanmu, terbujur di air pecah
jauh dari getar tangannya. anginkah
menghantarmu ke negeri akar—
kau berawal.
ingatankah yang menjagamu sebisanya dari ketiadaan
hingga kematian itu tak lagi bertahta atas luka.
Demam
terbaring ia bagai dihimpit suara pasar
entah asalnya. kamar berkabut
menelan erangan manik manik keringat api.
gigil bertelur dalam aorta. ia hilang rupa.
hilang gairah pada dada gadis remaja.
angin hitam.
di retak tangannya
yang pernah menyentuh
rambut halus di punggungmu,
terjatuh
buku yang belum tuntas dibaca.
lalu
ia menggambar sebuah kereta
melarikan rindu paling hitam
ke dalam derau yang menggesau jendela.
senja purna.
tangan angin
melemparkan dirinya ke malam sungsang
ke labirin bintang bintang
yang telah menyesatkan bibirmu
hingga lupa jalan pulang
pada ciuman itu.
Requiem
--N
kenangankah yang menagih duka
bagi mayat pandanmu, terbujur di air pecah
jauh dari getar tangannya. anginkah
menghantarmu ke negeri akar—
kau berawal.
ingatankah yang menjagamu sebisanya dari ketiadaan
hingga kematian itu tak lagi bertahta atas luka.
Demam
terbaring ia bagai dihimpit suara pasar
entah asalnya. kamar berkabut
menelan erangan manik manik keringat api.
gigil bertelur dalam aorta. ia hilang rupa.
hilang gairah pada dada gadis remaja.
angin hitam.
Subscribe to:
Posts (Atom)
