Sunday, January 27, 2008

Poem

Nanti Kampungku Jadi Kaleng Mentega

koto dan sukma. kalau nanti kalian jadi pengantin bulan
aku ingin hadir di pesta kalian. tapi
aku tidak tahu apa nasib waktu kemudian.
sekarang kita bikin sedikit angan-angan dalam ambulan:
kalau aku punya uang, kalian aku undang
di kampungku makan lemang, mendaki bukit silungkang.
apa kalian pernah melihat meditasi air di langit-langit ngalau?
ratusan tahun lamanya ia bertahan dalam sunyi hingga menyusun dirinya
jadi ornamen yang lebih indah dari bangunan apa pun orang
kota ciptakan. baiklah, nanti kita jalan-jalan ke sisawah.
memudik air di bawah cahaya matahari yang disaring daun daun,
mendengar suara batu agung (gerbang kampung); suara akar, tebing, tanah,
arus sungai; burung punai, babi hutan, harimau daun, ular, siamang, biawak, kucing air;
cindaku, sijundai, sibigau. apalagi ya? alamak!
angin ternyata menyimpan banyak suara tak tergambarkan
campur aduk dengan suara kesedihan
yang setengah mampus kita tuliskan.


sunlie, kiting, fahmi, mau ikut juga? ajaklah siapa saja
asal jangan kalian bawa pemerintah. aku takut nanti kampungku
jadi seperti kampung ira komang. nanti aku harus beli tiket masuk
untuk berkunjung ke negeri leluhurku sendiri.
nanti kampungku jadi kaleng mentega.

Saturday, January 5, 2008

Retrospeksi

pintu pintu tahun terbuka
seperti pintu pintu bahasa
menuju entah
......
esok kita akan menemukan, sekali lagi, kenyataan dunia ini
......
(octavio pazz)

yeah, tahun 2008 ini kita sambut jua dengan berbagai ragam tutur dan tingkah. barangkali, sebagaimana pepatah jerman, kita boleh kehilangan apa pun asal tidak kehilangan harapan. sebagaimana pula, kafka kabur dengan terpaksa dari negerinya (ceko) hanya dengan beberapa potong buku ke paris karena kebuasan dan kebebalan penguasa di negeri tempat ari-arinya tertanam. yeah, orang boleh kehilangan apa pun asal tidak kehilangan harapan.

mudah-mudahan kita masih punya harapan di negri kalang kabut penuh badut puisi jembut (hehe), harapan tentang kopi di pagi hari dan berita televisi yang mengatakan tak ada lagi rakyat miskin di sini kecuali presiden berserta antek-anteknya. OWAI!