baiklah, saya akan tutup tahun 2007 ini di Jogja dengan sebuah puisi:
Kali Code Pada Suatu Malam
kantung plastik hitam yang tenggelam
Saturday, December 29, 2007
Wednesday, December 19, 2007
Esai
Apologia Bunga Bunga
trimakasih buat kawan petualang yang telah sudi singgah di blog saya yang fungky, gaul, dan bertaqwa ini (hehe). trimakasih juga telah mengapresiasi puisi Jembatan Siti Nurbaya, dimana kawan Petualang tertarik (mungkin terkesima?) dengan larik itu tubuh penuh luka hingga enggan membaca puisi saya yang lain sebagaimana kawan sampaikan di "kotak pesan". benar jika larik tersebut mengingatkan kawan pada puisi chairil anwar aku bercermin/ bukan buat ke pesta/ ini wajah penuh luka/ siapa punya?
saya salut buat kawan Petualang yang memiliki bacaan yang luas. tapi saya nggak salut deh dengan ucapan kawan Petualang yang "kebelet" mengatakan bahwa puisi JSN adalah plagiat dari puisi uda Chairil Anwar. sebab secara utuh puisi itu tak menunjukannya. hanya sekilas tampak dalam larik itu tubuh penuh luka tapi kalok diperhatikan secara saksama berbeda dengan larik ini wajah penuh luka. sebab perbedaan yang sangat mencolok itu terdapat pada "kata" petunjuk (keterangan) "itu" dan "ini". "itu" menunjukan tempat yang jauh sedang "ini" sebaliknya (waktu eSDe kan udah dipelajari, idih lupa ya? kemana aja? hehe).
kalok terjadi peristiwa intertekstual, mungkin. nah, ini sedikit oleh-oleh buat kawan Petualang tentang intertekstual itu, yang saya kutip dari pengantar Saut Situmorang (hal 11) untuk buku kumpulan puisinya: Otobiografi kumpulan puisi 1987-2007 (SIC, November 2007).
.......
sudah berabad-abad para kritikus dan sejarawan sastra di Barat membahas apa yang disebut sebagai "pengaruh" seorang sastrawan atau tradisi sastra atas sastrawan sesudahnya, yang dianggap mengapdosi, dan pada saat yang sama merubah, aspek-aspek dari tema, bentuk, atau gaya dari penulis sebelumnya. "kecemasan (atas) pengaruh" atau " the anxienty of influnce" merupakan sebuah istilah yang dipakai Harold Bloom untuk teori yang diciptakannya yang merevisi secara radikal teori lama di atas yang menganggap pengaruh hanya sebagai sebuah "peminjaman" langsung, atau asimilasi, dari material dan unsur-unsur penting sastrawan sebelumnya. Bagi Bloom, dalam penciptaan puisi, pengaruh tak mungkin dielakan, tapi pengaruh tersebut menimbulkan dalam diri penyair sebuah kecemasan yang memaksanya membuat distorsi drastis atas karya pendahulunya itu. seorang penyair tergerak untuk menulis puisi setelah imajinasinya terpesona oleh puisi "pendahulu" nya. tapi reaksinya atas pendahulunya itu ambivalen, mirip dengan hubungan Oedipal antara anak laki-laki dengan bapaknya dalam teori psikoanalisis Sigmun Freud: bukan hanya rasa pesona yang timbul tapi juga (karena penyair yang kuat memiliki keinginan besar untuk bebas dan orisinal) rasa benci, cemburu, dan takut atas penguasaan ruang imajinatifnya oleh pendahulunya tersebut. karena itulah ia membaca puisi pendahulunya secara "bela diri" sehingga mendistorsinya sampai tak dikenalinya lagi. meskipun demikian tetap saja "puisi induk" (parent-poem) yang sudah terdistorsi itu terkandung dalam puisi yang kemudian ditulisnya. apa yang mungkin dicapai oleh seorang penyair terbaik sekalipun adalah menulis puisi yang begitu "kuat" sehingga menimbulkan efek "prioritas", yaitu sebuah ilusi ganda bahwa puisinya telah mendahului puisi pendahulunya itu dalam waktu, dan sudah melampauinya dalam kebesarannya. menurut Bloom lagi, konsep "kecemasan pengaruh" ini tidak hanya terjadi pada sastrawan saja tapi juga pada pembaca sastra.
.......
trimakasih buat kawan petualang yang telah sudi singgah di blog saya yang fungky, gaul, dan bertaqwa ini (hehe). trimakasih juga telah mengapresiasi puisi Jembatan Siti Nurbaya, dimana kawan Petualang tertarik (mungkin terkesima?) dengan larik itu tubuh penuh luka hingga enggan membaca puisi saya yang lain sebagaimana kawan sampaikan di "kotak pesan". benar jika larik tersebut mengingatkan kawan pada puisi chairil anwar aku bercermin/ bukan buat ke pesta/ ini wajah penuh luka/ siapa punya?
saya salut buat kawan Petualang yang memiliki bacaan yang luas. tapi saya nggak salut deh dengan ucapan kawan Petualang yang "kebelet" mengatakan bahwa puisi JSN adalah plagiat dari puisi uda Chairil Anwar. sebab secara utuh puisi itu tak menunjukannya. hanya sekilas tampak dalam larik itu tubuh penuh luka tapi kalok diperhatikan secara saksama berbeda dengan larik ini wajah penuh luka. sebab perbedaan yang sangat mencolok itu terdapat pada "kata" petunjuk (keterangan) "itu" dan "ini". "itu" menunjukan tempat yang jauh sedang "ini" sebaliknya (waktu eSDe kan udah dipelajari, idih lupa ya? kemana aja? hehe).
kalok terjadi peristiwa intertekstual, mungkin. nah, ini sedikit oleh-oleh buat kawan Petualang tentang intertekstual itu, yang saya kutip dari pengantar Saut Situmorang (hal 11) untuk buku kumpulan puisinya: Otobiografi kumpulan puisi 1987-2007 (SIC, November 2007).
.......
sudah berabad-abad para kritikus dan sejarawan sastra di Barat membahas apa yang disebut sebagai "pengaruh" seorang sastrawan atau tradisi sastra atas sastrawan sesudahnya, yang dianggap mengapdosi, dan pada saat yang sama merubah, aspek-aspek dari tema, bentuk, atau gaya dari penulis sebelumnya. "kecemasan (atas) pengaruh" atau " the anxienty of influnce" merupakan sebuah istilah yang dipakai Harold Bloom untuk teori yang diciptakannya yang merevisi secara radikal teori lama di atas yang menganggap pengaruh hanya sebagai sebuah "peminjaman" langsung, atau asimilasi, dari material dan unsur-unsur penting sastrawan sebelumnya. Bagi Bloom, dalam penciptaan puisi, pengaruh tak mungkin dielakan, tapi pengaruh tersebut menimbulkan dalam diri penyair sebuah kecemasan yang memaksanya membuat distorsi drastis atas karya pendahulunya itu. seorang penyair tergerak untuk menulis puisi setelah imajinasinya terpesona oleh puisi "pendahulu" nya. tapi reaksinya atas pendahulunya itu ambivalen, mirip dengan hubungan Oedipal antara anak laki-laki dengan bapaknya dalam teori psikoanalisis Sigmun Freud: bukan hanya rasa pesona yang timbul tapi juga (karena penyair yang kuat memiliki keinginan besar untuk bebas dan orisinal) rasa benci, cemburu, dan takut atas penguasaan ruang imajinatifnya oleh pendahulunya tersebut. karena itulah ia membaca puisi pendahulunya secara "bela diri" sehingga mendistorsinya sampai tak dikenalinya lagi. meskipun demikian tetap saja "puisi induk" (parent-poem) yang sudah terdistorsi itu terkandung dalam puisi yang kemudian ditulisnya. apa yang mungkin dicapai oleh seorang penyair terbaik sekalipun adalah menulis puisi yang begitu "kuat" sehingga menimbulkan efek "prioritas", yaitu sebuah ilusi ganda bahwa puisinya telah mendahului puisi pendahulunya itu dalam waktu, dan sudah melampauinya dalam kebesarannya. menurut Bloom lagi, konsep "kecemasan pengaruh" ini tidak hanya terjadi pada sastrawan saja tapi juga pada pembaca sastra.
.......
Tuesday, December 11, 2007
Poem
Jembatan Siti Nurbaya
kabut pada lampu, dingin pada tiang,
bayang hujan di langit oktober penghabisan.
penjual malam, pengunjung malam
bertemu di penyeberangan.
di bawah itu semua, kita saksikan
arus sungai cinta terus jalan--
itu tubuh penuh luka
ditinggam pasir tujuh muara.
kabut pada lampu, dingin pada tiang,
bayang hujan di langit oktober penghabisan.
penjual malam, pengunjung malam
bertemu di penyeberangan.
di bawah itu semua, kita saksikan
arus sungai cinta terus jalan--
itu tubuh penuh luka
ditinggam pasir tujuh muara.
Friday, December 7, 2007
Poem
Mudik Bersama Toilet Yang Berjalan
come away with me on the night
come away with me and i will write you a song
come away with me on a bus
petang tergantung
di atap rumah rumah murung
tepi lintas sumatera.
kami baru saja menghabiskan
dua kaleng bir dalam bis
bersama norah jones.
dan seorang penumpang
masuk ke dalam toilet.
aku menyalakan rokok lagi
dengan sembunyi-sembunyi.
koto memotret matahari
dan larutan cahaya emas
di langit tanjung karang
tapi hasilnya masih saja buram
seperti puput menggambar air mata
di atas kardus mie instan
100 hari paska gempa mei 2006.
dan seorang penumpang
ke luar dari dalam toilet.
kami telah meninggalkan jogja.
sehari semalam.
punggungku sakit
seperti menahan dinding rumah
450 hari paska gempa mei 2006.
sementara sawahlunto
masih sehari semalam
perjalanan.
dan seorang penumpang
masuk ke dalam toilet
come away with me on the night
come away with me and i will write you a song
come away with me on a bus
petang tergantung
di atap rumah rumah murung
tepi lintas sumatera.
kami baru saja menghabiskan
dua kaleng bir dalam bis
bersama norah jones.
dan seorang penumpang
masuk ke dalam toilet.
aku menyalakan rokok lagi
dengan sembunyi-sembunyi.
koto memotret matahari
dan larutan cahaya emas
di langit tanjung karang
tapi hasilnya masih saja buram
seperti puput menggambar air mata
di atas kardus mie instan
100 hari paska gempa mei 2006.
dan seorang penumpang
ke luar dari dalam toilet.
kami telah meninggalkan jogja.
sehari semalam.
punggungku sakit
seperti menahan dinding rumah
450 hari paska gempa mei 2006.
sementara sawahlunto
masih sehari semalam
perjalanan.
dan seorang penumpang
masuk ke dalam toilet
Wednesday, December 5, 2007
Poem
Jalan Wirobrajan
jalan ini padat dan pedas
malam melintas gegas
hanya sejenak
sepi yang sejenak
kami bertegur pandang:
aku dan makam tua di seberang.
jalan ini padat dan pedas
malam melintas gegas
hanya sejenak
sepi yang sejenak
kami bertegur pandang:
aku dan makam tua di seberang.
Inspirasi
Nama silat ini (Kumango) sangat erat kaitannya dengan tempat di mana silat itu tumbuh dan berkembang. Silat Kumango pada awalnya tumbuh dan berkembang di sebuah kampung yang bernama “Kumango” (di daerah Kabupaten Tanah Datar). Oleh karena itu, silat itu kemudian dikenal atau diberi nama “Silat Kumango”.Pencipta silat ini adalah Syekh Abdul Rahman Al Khalidi yang bernama kecil Alam Basifat. Syekh Abdul Rahman Al Khalidi adalah seorang ulama yang menyebarkan tarekat Samaniyyah dan Naksyabandiyah di seluruh ranah Minang. Konon, sebelumnya Syekh Abdul Rahman Al Khalidi pernah menjadi seorang parewa (preman) yang malang-melintang selama 15 tahun. Suatu saat ia bertemu dengan Syekh Abdurrahman, kemudian menekuni ajaran agama Islam, dan menjadi seorang ulama. Berdasarkan pengalamannya sebagai seorang preman yang sering berkelahi, Syekh Abdul Rahman Al Khalidi menguasai “seni berkelahi” yang kemudian dikombinasikan dengan ajaran-ajaran agama Islam. Pengkombinasian itu akhirnya membuahkan seni bela diri yang bernama Silat Kumango, sehingga sang pendiri sering disebut dengan “Syekh Kumango”. Oleh karena Syekh Abdul Rahman Al Khalidi adalah penganut dan sekaligus penyebar tarekat Samaniyyah dan Naksyabandiyah, maka gerakan-gerakan silat yang diciptakannya tidak lepas dari kedua tarekat tersebut. Dalam hal ini gerakan-gerakannya sarat dengan ajaran-ajaran cinta kasih dan keridhaan Allah SWT, sebagaimana sikap dan perilaku Rasulullah SAW. Hal ini tercermin dari kegunaan silat yang tidak bertujuan untuk menyakiti lawan, tetapi hanya digunakan untuk membela diri, dan hanya boleh digunakan apabila terpaksa.Langkah-langkah dalam gerakan Silat Kumango membentuk Alif-Lam, Lam-Ha, Mim-Ha, dan Mim-Dal. Gerakan-gerakan (langkah-langkah) inilah yang kemudian menjadi khas, berbeda dengan aliran-aliran silat lain yang sebagian jurus-jurusnya mengacu pada gerakan-gerakan binatang, seperti Silat Bayang Buayo dan Silat Harimau.Perkembangan Silat KumangoIbrahim Paduko Sultan dan Syamsarif Malin Marajo adalah dua tokoh pewaris Silat Kumango, yang disegani masyarakat setempat. Mereka ini adalah keturunan langsung dari Syekh Abdul Rahman Al Khalidi. Silat kumango di zamannya sempat menjadi salah satu unsur yang sangat erat kaitannya dengan kedudukan sosial seseorang. Artinya, dengan menguasai Silat Kumango, seseorang akan dihormati karena ia mempunyai strata sosial yang tinggi dalam masyarakat. Oleh karena itu, para orang tua banyak yang mendorong anak laki-lakinya yang berumur 5—10 tahun untuk mempelajarinya agar kelak menjadi orang yang terpandang dan disegani di dalam masyarakatnya.Berkat kerja keras kedua tokoh tersebut (Ibrahim Paduko Sultan dan Syamsarif Malim Marajo), Silat Kumango menyebar ke seluruh penjuru Sumatera Barat. Bahkan, dikenal oleh masyarakat Indonesia (pada tahun 1952, Syamsarif Malin Marajo berhasil menjadi juara pencak silat pada PON II di Jakarta).Perkembangan aliran silat ini sempat terhenti ketika Syamsyarif Malim Marajo diculik dan akhirnya dibunuh oleh anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), karena dianggap sebagai lawan yang berbahaya dan mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakatnya. Namun, pengikut-pengikutnya tetap mengembangkannya, sehingga Silat Kumango sampai sekarang masih tetap eksis. Jurus-Jurus Khas Seni Bela Diri Silat KumangoJurus-jurus yang ada dalam Silat Kumango ini terdiri atas 11 jurus dasar, yaitu: (1) jurus elakan (kiri luar dan dalam), (2) jurus elakan (kanan luar dan dalam), (3) jurus sambuik pisau, (4) jurus rambah, (5) jurus cancang, (6) jurus ampang, (7) jurus lantak siku, (8) jurus patah tabu, (9) jurus sandang, (10) jurus ucak tanggung, dan (11) jurus ucak lapeh. Dari kesebalas jurus pokok yang ada pada silat ini, yang setiap jurusnya mengandung puluhan pecahan, hampir semuanya bertujuan untuk melumpuhkan lawan dengan teknik kuncian. Seseorang yang ingin belajar kesemua pecahan atau inti dari setiap jurus tersebut harus terlebih dahulu menguasai atau mengkhatamkan 11 jurus dasar yang ada dalam Silat Kumango. Apabila seseorang telah menyelesaikan atau menguasainya, maka ia akan disebut guru tuo (di atas guru tuo disebut dengan guru gadang). Seseorang yang telah menduduki tingkat guru gadang, yang merupakan tingkatan tertinggi dalam sebuah perguruan Silat Kumango, harus dapat menciptakan sebuah jurus baru yang akan diajarkan kepada ahli warisnya.Seluruh jurus tersebut berangkat dari ajaran agama Islam dan filosofi yang dalam peribahasa Minang disebut “hiduik nan ka dipakai, mati nan ka tiumpang”. Artinya: “Apapun laku dan adab yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, hendaknya manusia selalu berbuat dan berperilaku amal saleh, karena perbuatan kita, baik dan buruk di dunia akan diperhitungkan kelak saat kita mati”.Akibat dua pengaruh tersebut, maka tidak mengherankan apabila karakter Silat Kumango hanya bersifat bertahan (mempertahankan diri) dan baru menyerang apabila sudah benar-benar terpojok. Apabila seorang pesilat Kumango diserang oleh lawan, serangan pertama lawan itu harus diibaratkan seorang ibu yang marah kepada anaknya. Artinya, ketulusan yang harus dimunculkan adalah mengumpamakan ibu sedang menasihati anaknya sehingga sang anak harus memahami dan bukan melawannya. Dalam aplikasi gerakan fisik, serangan tersebut akan dielakkan oleh pesilat Kumango.Apabila lawan masih menyerang untuk kedua kalinya, pesilat Kumango harus mengganggp serangan tersebut sebagai seorang ayah yang sedang marah kepada anaknya, sehingga harus menggunakan jurus elakan dan tidak boleh membalasnya. Begitu juga apabila musuh masih menyerang untuk ketiga dan keempat kalinya, serangan itu harus diibaratkan sebagai seorang guru dan seorang saudara kandung (lebih tua) yang sedang marah. Baru pada saat musuh melakukan serangan untuk yang kelima kalinya, seorang pesilat Kumango wajib melawannya dengan menggunakan kuncian agar lawan tidak dapat leluasa bergerak. Teknik kuncian yang dilakukan oleh pesilat harus cepat dan keras, agar lawan yang menggunakan senjata dapat dilumpuhkan dengan cepat dan efektif tanpa melukainyaSebagai catatan, satu hal yang menarik dari perguruan Silat Kumango, khususnya yang berada di Tanah Datar, adalah pemakaian sarung yang dililitkan di pinggang. Fungsi dari pemakaian sarung ini sebenarnya bukan hanya untuk menyimpan senjata, melainkan juga untuk melindungi perut dari sabetan senjata tajam. Sedangkan, apabila sarung diletakkan dipundak, mengandung makna bahwa orang tersebut (pesilat) mempunyai kedudukan menengah di dalam perguruan. Selain makna tersebut, sebenarnya fungsi peletakan sarung di pundak adalah sebagai senjata untuk mengunci pergerakan lawan. Untuk menjadi seorang murid di sebuah perguruan Silat Kumango dan mempelajari seluruh jurus-jurusnya, seseorang harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan terlebih dahulu yaitu: (1) lado jo garam (cabai dan garam) yang bermakna kepandaian yang diperoleh haruslah pedasnya melebihi cabai dan asinnya melebihi garam; (2) pisau tumpul yang bermakna bahwa proses belajar dan ilmu yang dipelajari harus diasah terus-menerus hingga tajam dan setelah itu haruslah disimpan dan hanya dipakai bila diperlukan saja; (3) kain kafan yang bermakna kepasrahan diri pada Sang Khalik dan kesadaran bahwa padaNyalah kita akan kembali; (4) jarum pajaik jo banang (jarum dan benang) yang bermakna bahwa hidup itu harus hemat atau tidak boros; (5) bareh sacupak (beras 1 cupak) yang bermakna bahwa seorang murid jangan sampai menyusahkan gurunya ketika hari pertama berlatih; dan (6) ayam betina yang masih hidup yang bermakna perbaikan gizi. Ayam tersebut akan dipelihara oleh guru silatnya.Nilai BudayaSilat Kumango, sebagai suatu seni bela diri yang tumbuh dan berkembang di Sumatera Barat, jika dicermati mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain: kesehatan, kerja keras, kedisiplinan, kepercayaan diri, dan sportivitas. Nilai kesehatan tercermin dari gerakan jurus-jurus dan teknik-teknik yang dilakukan, baik ketika sedang berlatih maupun bertanding. Dalam hal ini, gerakan-gerakan Silat Kumango harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga otot-otot tubuh akan menjadi kuat dan aliran darah pun menjadi lancar. Ini akan membuat tubuh menjadi kuat dan sehat. Nilai kerja keras tercermin dari usaha untuk menguasai jurus-jurus dan teknik-teknik yang ada dalam seni bela diri Silat Kumango. Tanpa kerja keras mustahil jurus-jurus dan teknik-tekniknya yang rumit itu (karena setiap jurus mempunyai pecahan-pecahan yang jumlahnya puluhan) dapat dikuasai secara sempurna.Mempelajari seni bela diri Silat Kumango juga memerlukan kedisiplinan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap aturan-aturan persilatan. Tanpa kedisiplinan diri dan taat serta patuh kepada aturan-aturan persilatan, akan sulit bagi seseorang untuk menguasai jurus-jurus Silat Kumango secara sempurna.Mempelajari seni bela diri Silat Kumango, sebagaimana seni bela diri lainnya, berarti mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, baik demi keselamatan dirinya maupun orang lain yang memerlukan pertolongannya. Dengan menguasai seni Silat Kumango seseorang akan menjadi percaya diri dan karenanya tidak takut gangguan dan atau ancaman dari pihak lain. Untuk “mengasah” ilmu Kumango setiap muridnya, sebuah perguruan seni bela diri pada umumnya mengadakan latih-tanding dan pertandingan. Dalam latih-tanding atau pertandingan tersebut tentu diperlukan adanya sikap dan perilaku yang sportif dari para pelakunya, sebab akan ada pesilat yang kalah dan menang. Nilai sportivitas tercermin dari pesilat yang kalah akan mengakui keunggulan lawan dan menerimanya dengan lapang dada.
Subscribe to:
Posts (Atom)
