Tuesday, June 19, 2007

poem


Alis Matamu

sesekali tak salah kiranya
aku kembali jadi bocah manja
tak menagih apa-apa dari cinta
dan cukup bahagia
meski hanya bisa
mengakrapi alis matamu
dari jauh

Yogyakarta, 2007

poem

Panorama

potongan-potongan awan
mengapung di langit biru
burung-burung melintas
bebas menangkap cahaya

poem

Tuhan, telpon aku dong

tuhan, sesekali telpon aku dong
biar aku tahu di mana kau sungguh.
jangan pakai sljj apalagi sli, yang dekat saja, lokal cukuplah.
kalau engkau nilpon pakai sljj apalagi sli
betapa jauhnya engkau dariku.

habis, setiap kali kucalling engkau
acap kali mailbox atau terdengar suara mendayu bidadari entah: "tuhan
yang anda hubungi sedang sibuk, tunggulah beberapa saat lagi"

memang dosaku banyak,
untuk itu aku pinta ampunanmu.
kalau engkau tak sudi: wah pada siapa lagi aku akan meminta.

tuhan, telpon aku dong
tak usah lama-lama, sedetik cukuplah.
dan hidupku akan sempurna.

Yogyakarta, Januari 2003

poem

Kekasih Malam

malam seperti penyamun
yang menghadang tiba-tiba
ketika aku berjalan
tanpa sesiapa bersama

malam meminta sesuatu
tapi aku tak membawa apa-apa,
selain hatiku

lalu malam mengambil hatiku

(sejak itu,kami pacaran di kuburan)

Yogyakarta, 2005

poem

refleksi di bawah tiang bendera
(in memorian independent day)

selama 60 tahun kita telah melakukan dusta bersama: menyanyikan lagu kosong, mengibarkan bendera kosong, membikin keadilan dan kemakmuran kosong, di bawah bibir birokrasi omong kosong.selama 60 tahun kita telah telah melakukan dusta bersama: pengkhianatan terhadap derita bersama!

Yogyakarta, 17 Agustus 2005 pukul 01.11 Wib
antara kita laut membujurkan badan, upik, antara dua pulau yang saling berbisik apabila kukenang sebuah halaman dan tapak-tapak yang memanjang ke belakang, rasanya seperti getir bening di matamu, upik, yang ligat menuruni tebing-tebing pipimu pagi itu, saat perpisahan aku kemas ke dalam tas, campur aduk dengan baju, rendang buatan ibu, dan catatan alamat yang kabur dan musti dituju.hampir 7 tahun sudah, upik. jauh dari bau lemang, ratok saluang, kawan sepermainan, tapian mandi, bukit-ngarai, dan rumah gadang. rasanya seperti bulan tergelang di matamu.antara kita rindu menggulapai, upik. hati ditinjau lengang. badan dijuluk sangsai.Yogyakarta, 2005
sebuah langit, sebuah puisi.
aku singgah disana........