Pertemuan Senja
setelah pertemuan ini aku akan pergi,
memasuki angin ke dalam malam.
pertemuan kita hanya senja,
daun berguguran dalam percakapan.
sunyi bergetar di leher kita,
es mencair dalam pikiran.
lihat aku sebagaimana aku melihatmu,
jangan biarkan semua berlalu dengan mata berpaling.
apabila nafas kita menjauh, semakin jauh,
senja ini serupa daun jatuh.
22 September 2010
6 September 2010
Manusia Utama
nagawan into, kenapa kita orang terusir dari kita punya gunung salju abadi,
kita orang sebut itu nemangkawi (anak panah putih). kita orang amung mee,
manusia utama! kita punya emas dalam nemangkawi, tapi tidak disimpan
dalam honai. ke mana kita punya emas pergi?
sejak magaboarat negel jombei-peibei jadi ertsberg jadi grasberg,
suara kasuari hilang dari kita punya telinga. sejak kulit bia diganti rupiah,
kita orang terusir dari lembah tsinga, lembah Hoeya, dan lembah noema.
kenapa kita orang terusir dari nemangkawi?
nagawan into, bila masa pembebasan itu tiba:
sehelai daun lebar turun di sebelah barat
terbang kembali laksana kuncup bunga ubi
tumbuh dan besar di tanah
muncul di kaki gunung...
4 September 2010
Esei
Kebebasan Publikasi, Tantangan Berbahaya
“Penyair muda sepertinya berpikir yang dibutuhkan adalah mesin tik dan beberapa potong kertas. Mereka tidak siap, mereka tidak memiliki persiapan sama sekali.”
Begitulah ucapan Charles Bukowski—dikutip dari Hot Water Music, 1995—penyair Beat Generation gelombang ke dua, yang terkenal karena vitalitasnya bertahan hidup dan peminum berat di masyarakat pinggiran. Sebelum memulai karirnya sebagai penyair, Bukowski bekerja dalam pekerjaan kasar dan jurnalis di Harlequin. Dia digambarkan oleh Jean Genet dan Jean-Paul Sartre sebagai penyair Amerika terbesar.
Setelah lulus dari Los Angeles High School, Bukowski belajar selama setahun di Los Angeles City College, mengambil kursus jurnalistik dan sastra. Dia meninggalkan rumah pada tahun 1941 –ayahnya telah membaca cerita-ceritanya dan melemparkan barang-barang miliknya ke halaman. Ia pernah bekerja di pom bensin, operator lift, sopir truk, buruh pabrik biskuit, dan di kantor pos. Pada usia tiga puluh lima dia mulai menulis puisi.
Melihat perjalanan hidup Bukowski, agaknya bisa membantah pameo antara aktor dan penyair yang ditulis oleh Boleslawski dalam buku Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor (terjemahan Asrul Sani)—aktor dan penyair datang ke sebuah pertunjukan teater, di depan gedung teater mereka melihat pengemis yang sangat menyedihkan, penyair berhasrat menuliskan puisi untuk menggambarkan pengemis itu, sedangkan si aktor tak perlu melakukan apa-apa karena ia ‘merasa’ sudah menjadi pengemis itu, atau dengan kata lain sindiran halus bahwa aktor memiliki empati ‘lebih’ daripada penyair. Benarkah klaim Boleslawski itu? Belum tentu. Sangat belum tentu.
Empati bisa digali dari pengalaman bersentuhan langsung dengan kehidupan, dan itu telah memberi ‘kekuatan’ pada puisi Bukowski. Dimana Bukowski mengaku, 93 persen puisinya adalah otobiografi. Puisinya sangat dipengaruhi oleh keadaan kota tempat tinggalnya. Selain itu, ia juga menulis cerita pendek dan novel.
Secara intrinsik dan ekstrinsik karya Bukowski juga bisa membantah apa yang ditulis oleh ‘manusia hotel’ Iwan Simatupang dalam novel Merahnya Merah: penulis yang tak pernah kena sengatan sinar matahari.
Bisakah spirit dan pergulatan Charles Bukowski ‘memasuki hidup' yang diretrospeksikannya dalam puisi itu, misalnya, ditemukan pada puisi generasi muda sekarang—yang barangkali adalah Poets Society yang datang dari masa depan—bahwa menulis puisi, khususnya otobiografi maupun liris, bukan sesuatu ‘seolah-olah’ atau khayalan semata, tapi berangkat dari empiris, tak terpisah dari kehidupan (lingkungan), dan tak cuma mengandalkan pada bakat alam. Apalagi, kecenderungan puisi generasi sekarang banyak bermain pada ranah otobiografi dan lirisme.
***
Publikasi yang terbuka luas sekarang ini (koran, majalah, buletin, buku, milis, web, blog, facebook, twitter) dan mulai runtuhnya pusat kekuasaan sastra yang kerjanya cuma membaptis kepenyairan seseorang secara arsesif, adalah sebuah kemenangan masa sekaligus tantangan yang berbahaya, yang dimiliki penyair muda!
Pada ruang cyber, dibandingkan media publikasi konvensional (cetak), puisi hadir di publik tidak lagi setelah melalui tangan yang lain, yang masing-masing pemilik tangan tersebut, tentu memiliki selera berbeda-beda.
Namun kebebasan itu, sesungguhnya meminta pertanggungjawaban lebih, agar puisi tidak sekadar kecanggihan bermain bahasa, mengindah-indahkan bahasa (bahasa itu sudah indah!) dan produksi teks dari mesin (komputer) semata. Hal ini juga menjangkiti beberapa penyair yang konon sudah senior. Kegenitan publikasi di media cetak pun cyber, kadang tak ubahnya seperti status di facebook dan twitter, berisi persoalan pribadi yang seolah-olah menyangkut hajat orang banyak.
Wilayah domestik, ruang pribadi, bilik dalam, yang tak menyangkut hajat orang banyak itu tanpa ‘diolah’ tapi tetap dipublikasikan, mengingatkan kita pada infoitament. Lebih mengejar sensasi yang banal. Adakah Selebritis Syndrom juga tengah merasuk dalam sastra kita?
Jika kritik pingsan, jurusan sastra Indonesia mandul, sudah sepatutnya penyair membikin perhitungan habis-habisan dengan puisinya, sebelum puisinya itu melangkah bergelanggang mata orang banyak, bertemu pembaca aktif maupun pasif. Sebagaimana dokter, penyair juga profesi yang menuntut keseriusan dan tanggungjawab agar tidak terjadi malpraktek terhadap karyanya.
Puisi adalah dunia yang menjadi, tulis Chairil Anwar. Bagaimana puisi bisa menjadi ‘dunia yang menjadi’? Inilah tantangan terberat bagi penyair, sesungguhnya. Bukan berapa sering dimuat di media. Lalu berharap dapat undangan resepsi sastra. Apalah guna ikut 'pesta satra' itu, jika cuma ibarat mentimun bungkuk yang masuk karung tapi tak masuk hitungan. Jadi tukuk tambah.
Dan apabila puisi menjadi ‘dunia yang menjadi’ itu, agaknya, kita bakal bertemu apa yang disampaikan Konfusius: “Tidak belajar sajak, tidak ada yang bisa dibicarakan.”
Li Po, Jalaludin Rumi, Matsuo Basho, William Shakespeare, Arthur Rimbaud, Rainer Maria Rilke, TS Eliot, Pablo Neruda, menyebut beberapa nama yang cukup familiar di publik sastra kita misalnya, ketika kita membaca puisi mereka, secara diam-diam puisi mereka menyusup ke dalam memori intim, membuat ingatan bersama. Pengalaman penyair, pengalaman pembaca juga.
Bahkan, puisi bisa menjadi spirit bagi zamannya. Allen Ginsberg, lewat puisinya, turut memberi warna pada gerakan Beat Generation di Amerika Serikat tahun 1950-an. Wiji Tukul, penyair cum aktivis asal Solo yang hingga sekarang tidak diketahui keberadaannya, puisinya “Hanya Ada Satu Kata: Lawan! “ Diteriakkan lantang dan jadi simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru oleh mahasiswa pergerakan, hingga runtuhnya rezim para jenderal itu pada tahun 1998.
Pun Chairil Anwar, yang memberi kontribusi terhadap perkembangan puisi modern dan bahasa Indonesia. Meski berusia pendek, ia hanya mempublikasikan sekitar 77 puisi saja, namun bukan kuantitas yang menjadi tolak ukur, melainkan kualitas. Toh, karya seni bukan seperti barang kerajinan yang berorientasi pasar semata (media).
Yang pasti, masa depan perpuisian Indonesia terletak di tangan penyair muda yang berani melawan ucapan Bukowski di awal tulisan ini. Tentu saja dengan “memiliki persiapan” dalam puisi yang mereka ciptakan. Dan karya bukan sekadar produksi teks dari mesin (komputer), tapi teks yang bersumber dari kehidupan.
“Penyair muda sepertinya berpikir yang dibutuhkan adalah mesin tik dan beberapa potong kertas. Mereka tidak siap, mereka tidak memiliki persiapan sama sekali.”
Begitulah ucapan Charles Bukowski—dikutip dari Hot Water Music, 1995—penyair Beat Generation gelombang ke dua, yang terkenal karena vitalitasnya bertahan hidup dan peminum berat di masyarakat pinggiran. Sebelum memulai karirnya sebagai penyair, Bukowski bekerja dalam pekerjaan kasar dan jurnalis di Harlequin. Dia digambarkan oleh Jean Genet dan Jean-Paul Sartre sebagai penyair Amerika terbesar.
Setelah lulus dari Los Angeles High School, Bukowski belajar selama setahun di Los Angeles City College, mengambil kursus jurnalistik dan sastra. Dia meninggalkan rumah pada tahun 1941 –ayahnya telah membaca cerita-ceritanya dan melemparkan barang-barang miliknya ke halaman. Ia pernah bekerja di pom bensin, operator lift, sopir truk, buruh pabrik biskuit, dan di kantor pos. Pada usia tiga puluh lima dia mulai menulis puisi.
Melihat perjalanan hidup Bukowski, agaknya bisa membantah pameo antara aktor dan penyair yang ditulis oleh Boleslawski dalam buku Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor (terjemahan Asrul Sani)—aktor dan penyair datang ke sebuah pertunjukan teater, di depan gedung teater mereka melihat pengemis yang sangat menyedihkan, penyair berhasrat menuliskan puisi untuk menggambarkan pengemis itu, sedangkan si aktor tak perlu melakukan apa-apa karena ia ‘merasa’ sudah menjadi pengemis itu, atau dengan kata lain sindiran halus bahwa aktor memiliki empati ‘lebih’ daripada penyair. Benarkah klaim Boleslawski itu? Belum tentu. Sangat belum tentu.
Empati bisa digali dari pengalaman bersentuhan langsung dengan kehidupan, dan itu telah memberi ‘kekuatan’ pada puisi Bukowski. Dimana Bukowski mengaku, 93 persen puisinya adalah otobiografi. Puisinya sangat dipengaruhi oleh keadaan kota tempat tinggalnya. Selain itu, ia juga menulis cerita pendek dan novel.
Secara intrinsik dan ekstrinsik karya Bukowski juga bisa membantah apa yang ditulis oleh ‘manusia hotel’ Iwan Simatupang dalam novel Merahnya Merah: penulis yang tak pernah kena sengatan sinar matahari.
Bisakah spirit dan pergulatan Charles Bukowski ‘memasuki hidup' yang diretrospeksikannya dalam puisi itu, misalnya, ditemukan pada puisi generasi muda sekarang—yang barangkali adalah Poets Society yang datang dari masa depan—bahwa menulis puisi, khususnya otobiografi maupun liris, bukan sesuatu ‘seolah-olah’ atau khayalan semata, tapi berangkat dari empiris, tak terpisah dari kehidupan (lingkungan), dan tak cuma mengandalkan pada bakat alam. Apalagi, kecenderungan puisi generasi sekarang banyak bermain pada ranah otobiografi dan lirisme.
***
Publikasi yang terbuka luas sekarang ini (koran, majalah, buletin, buku, milis, web, blog, facebook, twitter) dan mulai runtuhnya pusat kekuasaan sastra yang kerjanya cuma membaptis kepenyairan seseorang secara arsesif, adalah sebuah kemenangan masa sekaligus tantangan yang berbahaya, yang dimiliki penyair muda!
Pada ruang cyber, dibandingkan media publikasi konvensional (cetak), puisi hadir di publik tidak lagi setelah melalui tangan yang lain, yang masing-masing pemilik tangan tersebut, tentu memiliki selera berbeda-beda.
Namun kebebasan itu, sesungguhnya meminta pertanggungjawaban lebih, agar puisi tidak sekadar kecanggihan bermain bahasa, mengindah-indahkan bahasa (bahasa itu sudah indah!) dan produksi teks dari mesin (komputer) semata. Hal ini juga menjangkiti beberapa penyair yang konon sudah senior. Kegenitan publikasi di media cetak pun cyber, kadang tak ubahnya seperti status di facebook dan twitter, berisi persoalan pribadi yang seolah-olah menyangkut hajat orang banyak.
Wilayah domestik, ruang pribadi, bilik dalam, yang tak menyangkut hajat orang banyak itu tanpa ‘diolah’ tapi tetap dipublikasikan, mengingatkan kita pada infoitament. Lebih mengejar sensasi yang banal. Adakah Selebritis Syndrom juga tengah merasuk dalam sastra kita?
Jika kritik pingsan, jurusan sastra Indonesia mandul, sudah sepatutnya penyair membikin perhitungan habis-habisan dengan puisinya, sebelum puisinya itu melangkah bergelanggang mata orang banyak, bertemu pembaca aktif maupun pasif. Sebagaimana dokter, penyair juga profesi yang menuntut keseriusan dan tanggungjawab agar tidak terjadi malpraktek terhadap karyanya.
Puisi adalah dunia yang menjadi, tulis Chairil Anwar. Bagaimana puisi bisa menjadi ‘dunia yang menjadi’? Inilah tantangan terberat bagi penyair, sesungguhnya. Bukan berapa sering dimuat di media. Lalu berharap dapat undangan resepsi sastra. Apalah guna ikut 'pesta satra' itu, jika cuma ibarat mentimun bungkuk yang masuk karung tapi tak masuk hitungan. Jadi tukuk tambah.
Dan apabila puisi menjadi ‘dunia yang menjadi’ itu, agaknya, kita bakal bertemu apa yang disampaikan Konfusius: “Tidak belajar sajak, tidak ada yang bisa dibicarakan.”
Li Po, Jalaludin Rumi, Matsuo Basho, William Shakespeare, Arthur Rimbaud, Rainer Maria Rilke, TS Eliot, Pablo Neruda, menyebut beberapa nama yang cukup familiar di publik sastra kita misalnya, ketika kita membaca puisi mereka, secara diam-diam puisi mereka menyusup ke dalam memori intim, membuat ingatan bersama. Pengalaman penyair, pengalaman pembaca juga.
Bahkan, puisi bisa menjadi spirit bagi zamannya. Allen Ginsberg, lewat puisinya, turut memberi warna pada gerakan Beat Generation di Amerika Serikat tahun 1950-an. Wiji Tukul, penyair cum aktivis asal Solo yang hingga sekarang tidak diketahui keberadaannya, puisinya “Hanya Ada Satu Kata: Lawan! “ Diteriakkan lantang dan jadi simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru oleh mahasiswa pergerakan, hingga runtuhnya rezim para jenderal itu pada tahun 1998.
Pun Chairil Anwar, yang memberi kontribusi terhadap perkembangan puisi modern dan bahasa Indonesia. Meski berusia pendek, ia hanya mempublikasikan sekitar 77 puisi saja, namun bukan kuantitas yang menjadi tolak ukur, melainkan kualitas. Toh, karya seni bukan seperti barang kerajinan yang berorientasi pasar semata (media).
Yang pasti, masa depan perpuisian Indonesia terletak di tangan penyair muda yang berani melawan ucapan Bukowski di awal tulisan ini. Tentu saja dengan “memiliki persiapan” dalam puisi yang mereka ciptakan. Dan karya bukan sekadar produksi teks dari mesin (komputer), tapi teks yang bersumber dari kehidupan.
4 Agustus 2010
Seribu Kunang-kunang di Mataram

Lampu-lampu kota di lembah Mataram itu tampak seperti kunang-kunang saat saya menatapnya, Rabu (28/7) malam, dari Bukit Patuk atau populer disebut Bukit Bintang. Tersebab lampu-lampu kota yang tampak berkelip-kelip indah dari ketinggian membuat bukit ini disebut Bukit Bintang.
Bukit Bintang terletak di bawah belik (mata air) di wilayah kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, belakangan ini menjadi objek wisata 'menebar pandang dari ketinggian' terutama di malam hari. Dari kota Yogya jaraknya sekitar 20 Km, menuju arah timur melintasi Jalan Wonosari, bakal ditemui tanjakan curam dengan tikungan tajam. Kawasan ini merupakan gerbang Kabupaten Gunungkidul.
Aih, tiba-tiba saya teringat pada Cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan karya Umar Kayam. Cerpen berseting akhir tahun 1960-an itu, mengisahkan tentang Marno perantau asal Jawa di kota Manhattan. Marno mabuk bersama perempuan yang 'memeliharanya', Jane, di apartemen milik Jane. Dan mereka sama-sama kesepian, sama-sama mengalami kebosanan, tapi dalam soal yang beda.
Jane meracau tentang Tommy mantan suaminya, sedangkan Marno merindukan kampung halamannya. Sehingga ketika Marno melihat kelap-kelip lampu kota Manhattan dari kaca apartemen, ia teringat pada kunang-kunang di sawah di kampungnya pada malam hari. Sementara Jane, yang hidup dan dibesarkan di kota itu, belum pernah melihat kunang-kunang dan penasaran pada binatang bercahaya itu. Yeah, kisah pertemuan dua kultur yang berbeda dan sama-sama terperangkap dalam kesepian kaum urban.
Ah, kisah biasa tentang pengalaman dari penulis dunia ketiga yang terperangah pada lampu-lampu dan gedung American Dream. Mirip mahasiswa tingkat pertama dipukau film drama Hollywood. Lalu berharap mimpi basah...
Itulah sebabnya saya tidak sedang membayangkan diri saya seperti Marno. Lagipula tak ada Jane di samping saya. Tak ada apartemen. Lampu-lampu kota yang saya lihat itu bukanlah lampu-lampu kota Manhattan melainkan kota Yogya yang tumbuh di negeri Mataram. Maka, saya menyebut kelap-kelip lampu itu sebagai Seribu Kunang-kunang di Mataram.
“Kalau kita datang sore hari, kita bisa menyaksikan momen matahari tenggelam, keren bro!” celetuk Andika diikuti anggukan Iman. Dua sahabat itu menyadarkan saya bahwa saya tidak sendiri menikmati 'Seribu Kunang-kunang di Mataram'.
Dan malam itu pengunjung cukup ramai. Setidaknya di warung bambu tempat saya menebar pandang ke lembah Mataram itu dipenuhi pengunjung baik yang berombongan, pun yang mojok berduaan. Belum lagi di warung-warung lainnya. Ada sekitar 10 warung dengan konstruksi bambu di bibir jurang, sebagai tempat bersantai menikmati pesona malam sambil menikmati menu yang tersedia.
Andika benar juga. Seandainya kami datang sore hari, tentu kami bisa menyaksikan persalinan waktu di lembah Mataram dari ketinggian. Dimana matahari pelahan-lahan tenggelam, lampu-lampu kota bermunculan. Sebuah momen yang mempesona tentunya.
Lantaran asik menikmati pesona perpaduan antara malam dan cahaya buatan manusia di lembah, dua porsi nasi goreng magelangan dan tiga gelas kopi yang kami pesan jadi tak terasa lama. Namun, sebelum memesan makanan tersebut kami mesti menanyakan harganya terlebih dahulu, sebab di menu tak ada daftar harga. Kami tak mau dipalak dengan sopan. Usai makan, bayarnya kemahalan. Hal yang jamak terjadi di tempat wisata.
Malam meninggi. Langit cukup cerah, meski tak banyak bintang bermunculan. Apakah telah jatuh bintang itu ke lembah? Udara dingin perbukitan mulai terasa di kulit saya.
Sebentar lagi saya akan turun ke bawah, menemui kenyataan sesungguhnya bahwa seribu kunang-kunang yang saya lihat dari bukit bintang itu adalah lampu-lampu berebut ingin menerangi kota Yogya. Kadang lampu-lampu itu terasa sesak juga.
Saya teringat pada frasa 'kota seribu lampu merah' dalam Cerpen Radio Tua, Kota Tua karya Raudal Tanjung Banua. Agaknya, itulah yang akan saya temui dari Seribu Kunang-kunang di Mataram menjadi Kota Seribu Lampu Merah bila saya turun dari Bukit Bintang dan memasuki kota Yogya.
24 April 2010
poem
Repromosi Sebuah Kota
siang di kotaku ramah sekali
pohon pohon tumbuh melindungi rumah
kau bisa berjalan di bawah cahaya matahari yang disaring daun-daun
mendengar kicau burung
angin lembut menyentuh
siang di kotaku ramah sekali
tak ada kemacetan
orang orang tahu aturan
karena pemimpin bijak
rakyat taat pajak
datanglah ke kotaku
kau akan menemukan omong kosong yang indah ini
lebih banyak lagi
Yogyakarta, 2007
siang di kotaku ramah sekali
pohon pohon tumbuh melindungi rumah
kau bisa berjalan di bawah cahaya matahari yang disaring daun-daun
mendengar kicau burung
angin lembut menyentuh
siang di kotaku ramah sekali
tak ada kemacetan
orang orang tahu aturan
karena pemimpin bijak
rakyat taat pajak
datanglah ke kotaku
kau akan menemukan omong kosong yang indah ini
lebih banyak lagi
Yogyakarta, 2007
Langganan:
Postingan (Atom)