7 November 2008

Cerpen


Tumbal


Tabrakan bis AKAP ekonomi dengan mobil Kijang Inova itu—menyebabkan 10 orang penumpang meninggal dunia, sekian luka berat dan selebihnya luka ringan—diyakini masyarakat sekitarnya disebabkan oleh Genderuwo penunggu pohon Asam Jawa di pinggir jalan.

“Jalan itu memang ganas,” ucap Parno.

“Menurut Mbah Darmo, dulu jalan itu adalah istana makhluk halus. Sewaktu pembangunan jalan tidak ada yang minta izin. Tidak diselametin. Makanya pada saat tertentu penghuninya minta jatah,” sahut Gondes.

Kemudian obrolan di pos ronda itu berkembang, membahas makhluk halus dan kiat mengatasinya. Dari Wewe Gombel sampai Drakula. Kadang mengutip pendapat ahli memedi yang sering tampil di koran daerah.

Makin malam tambah ngawur. Membosankan.

Dengan alasan mau istirahat karena besok membuka bengkel tambal ban, aku meninggalkan pos ronda itu.

Begitulah. Seminggu sejak peristiwa tabrakan bis AKAP ekonomi dengan mobil Kijang Inova itu, kampungku dipenuhi mulut-mulut yang menyusun kisah tentang dunia lain. Selaras usia dan daya mulut.

Sementara korban tabrakan cuma mendapat porsi cerita sekedar. Seakan bumbu pelengkap. Tak ada yang membahas lebih nasib korban meninggal, ditinggalkan, terluka, dan cacat. Perhatian orang-orang kampungku tercurah pada Genderuwo.

Malah akan dilaksanakan upacara selamatan.

“Sesuai dengan anjuran Mbah Darmo—yang disampaikan melalui Kang Samin—kita harus melakukan ruwatan. Agar kampung kita kembali tentrem. Kita akan menanam kepala seekor kerbau di pinggir jalan yang telah berulang minta korban itu. Maka, diharapkan sumbangan warga semua, baik berupa materi maupun non materi. Mengenai kapan waktunya, marilah kita tunggu petunjuk dari Mbah Darmo,” ucap Pak Narto, pemuka kampung, di hadapan penduduk yang hadir dalam rembug kampung.

Riuhlah balai kampung. Tapi tak satu pun mulut berani membantah rencana selametan itu.

Jalan akan diselamatkan itu lengang. Daerah pesawangan. Jalan aspal mulus dan lurus sepanjang 100 meter. Tidak ada penduduk berumah di pinggirnya—atau sengaja dibiarkan tanpa rumah? Pohon-pohon dan semak perdu berebut tumbuh di sisi kiri dan kanan jalan. Dari pohon-pohon yang ada, pohon asam Jawa itu satu-satunya, tumbuh di tengah—bagian kiri pinggir jalan kalau kau melintas dari arah timur.

Di ujung barat jalan yang dibiarkan lengang terentang itu, barulah ada rumah, milik Mbah Darmo, penasehat supranatural kampung kami. Di sebelah rumah Mbah Darmo, terdapat bengkel tambal ban milik cucunya, Kang Samin. Kemudian disusul rumah penduduk lainnya. Sedang di ujung timur jalan, akan kau temui bangunan pertama, yaitu bengkel tambal ban milikku, bersebelahan dengan rumah makan Padang.

Sebenarnya, aku tidak sepakat dengan acara selametan itu.

Tabrakan itu, aku yakin bukan disebabkan Genderuwo.

Begini ceritanya:

Malam itu—malam Jum’at Kliwon—sekitar pukul sebelas. Aku yang biasanya ditemani Kirun, ini kali cuma sendiri. Aku memetik gitar; berlagu Gereja Tua di bengkel. Kirun nonton dangdut Koplo di kampung sebelah.

Pada saat-saat begitu, dari arah timur melaju kencang mobil Kijang Inova. Kira-kira 20 meter setelah melintasi bengkelku, mobil ban itu meletus, suaranya keras. Mengagetkan aku. Menghentikan kocokan gitarku. Juga lagu Gereja Tua yang akan memasuki reffren.

“Ban mobil itu meledak karena melindas paku!” Batinku.

Tak lama berselang, terdengar bunyi cicit rem mobil mengoyak-ngoyak sepi malam. Disusul kemudian bunyi benda bertubrukan. Keras sekali.

Selepas itu orang-orang kampung berdatangan, mencari sumber suara yang mengguncang malam.

Tepat di depan pohon Asam Jawa, Kijang Inova terbalik dengan posisi melintang dan badannya remuk. Sedang bis AKAP ekonomi rebah menimpa semak-semak di seberang. Kepalanya juga remuk, menghantam pohon Jati—barangkali pohon Jati itu menghentikan laju bis setelah tabrakan.

Begitulah.

Dan kemudian tersiar kabar kecelakaan itu disebabkan Genderuwo. Kabar itu dihembuskan pertama kali oleh Kang Samin di pos ronda. Katanya, petunjuk ini didapatkannya dari hasil terawang Mbah Darmo.

Entah bagaimana, lantas jadi keyakinan bersama.

Sementara Mbah Darmo hingga sekarang belum bisa ditemui. Menurut Kang Samin, Mbah Darmo sedang melakukan meditasi; mencari wangsit.

Tapi aku yakin, tabrakan itu disebabkan oleh paku! Paku yang sengaja ditebarkan di jalan. Membuat ban mobil Kijang Inova itu meletus. Sehingga supirnya hilang kendali.

Dan aku tahu siapa yang menebar paku itu!