11 Desember 2010

Puisi

Sepatu & Tuhan Impor Buat Kaki Dunia Ketiga

aku mesti memasukan kakiku sendiri
ke dalam sepatu
untuk berjalan sore ini.

hari apa mama
memasukan kakiku
pertama kali
ke dalam sepatu?

kini,
aku tidak pernah salah memasukan kakiku
ke dalam sepatu
dengan santai atau terburu-buru.
saat aku belajar memakai sepatuku sendiri,
kadang mama bilang:
“sepatumu terbalik.
nanti orang tertawa.
nanti kamu jatuh.
diperbaiki dong.”

olala, apa warna sepatu yang pertama?
berapa sepatu habis untuk berjalan?

bila aku bertemu orang yang melirik sepatuku,
aku jawab dalam hati:
“hei men, ini sepatu boot australia
beli di singapur
pemberian kakak di batam.
impor men!”

sepatuku
ya allah
ya bapa
ya dewa
impor!

oh my god
& sepatuku
yang impor.
ayo, kita jalan-jalan,
beli es cendol
& buku
pascakolonial
sore ini.

Puisi

Ia Membuat Malam Lebih Cepat Daripada Jam

- V -

bibir lembut, bibir yang basah itu
mengawali pertemuan kami dengan:

"aku sudah tampak tua, ya?"

pelayan tiba—
meletakan secangkir kopi
dan secangkir teh tarik
di meja kayu—
dan berlalu.

"kamu belum tua."
aku melihat kuku jarinya.

bibir lembut, bibir yang basah itu
memercik ragu:

"kata mama, aku sudah tampak tua."

aku melihat tangannya gelisah,
mengaduk-aduk teh tarik siang itu.
ia memutar waktu dengan sendok,
membuat ruang lebih cepat jadi malam,
menelan bibir lembut, bibir yang basah.
hanya kukunya, kuku tinggal cahaya.
kunang-kunang di keheningan.

16 November 2010

Puisi

Manusia Berjalan

bagaimana kita beradu mata
tanpa janji sebelumnya?
bagaimana waktu bekerja
merancang pertemuan
menyusun ingatan!

fais, kau masih memotret?

ada bapak dua anak.
bila malam, ia berdandan jadi wanita,
menunggu pelanggan di sudut jalan.
siang, ia jadi bapak kembali.
aku ingin memotretnya. aku perlu mendekatinya.
aku tidak mau memotret perempuan cantik papan reklame itu.
then, sebentar lagi aku akan jadi seorang bapak.

berapa jauh manusia berjalan hingga pantas disebut manusia?

udara masih berembun, menyimpan banyak kesedihan.
di senen, di senen sebuah bis kota meninggalkan perhentian
membawa manusia subuh.
entah ke mana.

Puisi

Braga

Braga

aku ingin bernyanyi
di trotoar jalan malam
di samping ibu yang tidur bersama anaknya.
perempuan perempuan berpaha mulus melintas.
o, aku ingin bernyanyi dengan lirik terhubung pada lampu jalan
seperti api membakar bandung selatan.

satu kaleng bir
musik ke luar dari kafe
aku teguk di trotoar.
aku rasakan angin teduh
berhembus dalam mata ibu
yang tidur bersama anaknya.
tapi di jalan ini,
cinta telah gagal percaya
pada dirinya sendiri.
orang-orang menyusun malam
dari film hongkong
dan hollywood.

perempuan perempuan berpaha mulus melintas.
mari pergi ke jalan yang lain, euy.

9 November 2010

Puisi

Meninggalkan Pulau Penyengat

dalam gerimis petang,
bersama pompong
aku tinggalkan pulau penyengat
tanpa menziarahi gurindam dua belas.
aku membaca pasal 13:
air laut yang kembali kepada laut.

kesunyian bangkit
antara tiang kapal yang bersandar
dan kibasan sayap burung burung.
langit yang jauh, langit yang jauh
semuram punggung laut.
seperti dentuman pertama
meriam paranggi di selat malaka
mengusir bahasa melayu.

aku menghirup angin garam.
telepon genggamku masih memiliki sinyal.
antara rambut gimbal saut dan kacamata bode,
aku mendengar sorak-sorai,
orang-orang membangkitkan yang mati,
jadi hantu laut merompak pelayaran bahasa.

pom pong pom pong
pom pong pom pong