Meninggalkan Pulau Penyengat
dalam gerimis petang,
bersama pompong
aku tinggalkan pulau penyengat
tanpa menziarahi gurindam dua belas.
aku membaca pasal 13:
air laut yang kembali kepada laut.
kesunyian bangkit
antara tiang kapal yang bersandar
dan kibasan sayap burung burung.
langit yang jauh, langit yang jauh
semuram punggung laut.
seperti dentuman pertama
meriam paranggi di selat malaka
mengusir bahasa melayu.
aku menghirup angin garam.
telepon genggamku masih memiliki sinyal.
antara rambut gimbal saut dan kacamata bode,
aku mendengar sorak-sorai,
orang-orang membangkitkan yang mati,
jadi hantu laut merompak pelayaran bahasa.
pom pong pom pong
pom pong pom pong
9 November 2010
3 Oktober 2010
feature
Para Perempuan Perkasa
Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa
(Perempuan-perempuan Perkasa, Hartoyo Andangjaya)
Pukul 01.00, Senin (27/9), tiga perempuan tua itu asyik duduk dan ngobrol dengan bahasa Jawa ngoko di pinggir jalan. Di depan mereka terhampar bayam, kangkung, pisang dan kelapa yang diletakan ala-kadarnya beralas karung plastik.
“Sekarang apa-apa mahal (red),” sela Sunaryo (70). Lalu disahut oleh Jira (60), “Iya.”
Dalam gelap di perempatan jalan di samping Balai Desa Bangunjiwo, Bantul, itu mereka terus ngobrol sambil menunggu dagangannya. Tak ada lampu yang menerangi dagangan dan wajah tua mereka. Lampu neon Balai Desa tak sampai ke tempat mereka. Sementara lampu warung kecil yang masih buka di depan mereka, persisnya di pojok barat perempatan, hanya membiaskan sedikit cahaya.
Tapi gelap dinihari itu bukan penghalang bagi mereka untuk berjualan, karena sudah terbiasa. Sebagaimana pengakuan Sunaryo, “Saya sudah berjualan sejak perawan cilik. Dulu, saya nganterin dagangan ke Pasar Gamping, Pasar Kranggan, Pasar Niten. Sekarang, jualan di sini (perempatan) aja, karena sudah tua.”
Dagangan Sunaryo, Ibu 6 anak dan 15 cucu ini, tidaklah banyak dinihari itu. Hanya setengah karung kangkung yang diambilnya dari kebun milik sendiri. Begitu pula dengan Jira, berasal dari Dukuh Salakan, yang menjajakan 5 sisir pisang serta bayam. Dan Wagirah, 7 kelapa.
Embun masih terus berjatuhan, bulan sepenggal di langit mulai disaput awan, waktu sudah menunjukan pukul 02.00. Dari berbagai arah, bermunculan perempuan-perempuan lainnya membawa dagangan mereka dengan sepeda dan berjalan kaki. Dan dua orang numpak motor.
Lalu, di perempatan samping Balai Desa mereka menjajakan barang dangannya itu, yang merupakan hasil kebun sendiri, seperti bayam, kangkung, telo pendem, kelapa, kemangi, banturi, jagung.
Ada sekitar 10 orang perempuan berusia lanjut saat itu, mereka membuat semacam pasar tiban. Bertransaksi dalam gelap dan embun dinihari.
Menurut Suminah (40), pemilik warung kecil di pojok perempatan itu, aktivitas pasar tiban dinihari di samping Balai Desa Bangunjiwo sudah lama dimulai. Bahkan sebelum ia lahir, pasar tiban dinihari itu sudah ada.
“Mulai pukul 00.00 sampai pukul 05.00 mereka (pedagang kecil) sudah berdatangan dari berbagai dukuh di Bangunjiwo. Tapi itu tergantung cuaca juga. Kalau hujan ya ndak jualan,” terang Suminah yang juga membuka warungnya khusus malam sampai subuh saja. Siang hari tutup.
Suminah adalah anak Sunaryo, salah seorang pedagang kecil itu. Ia sudah akrab dengan kondisi dan suasana pasar tiban dinihari di perempatan samping Balai Desa Bangunjiwo itu. Suminah mengatakan, biasanya hasil kebun yang dijual kecil-kecilan di perempatan itu, akan dibeli oleh mereka yang akan memasarkannya kepada bakul sayur di pasar tradisional daerah Yogya. Seperti Pasar Gamping, Pasar Serangan, Pasar Kranggan, Pasar Prawirotaman dan Pasar Niten.
Jadi, pasar tiban dinihari tanpa los dan penerangan di perempatan samping Balai Desa Bagunjiwo itu semacam pasar transit. Petani-petani kecil itu mengambil hasil kebunnya, memasarkannya, yang kemudian diteruskan oleh pedagang lainnya ke pasar-pasar tradisional di Yogya.
“Saya berjualan sejak kecil, diajak orang tua,” ucap Slamet (58), usai menurunkan hasil kebunnya, jagung, kangkung, telo pendem dari atas motor bebek.
Slamet yang belum sempat tidur karena mengikuti Syawalan di pedukuhannya, tetap terlihat bersemangat. Kebetulan ia memarkir motornya di depan Balai Desa yang diterangi lampu neon, sehingga guratan wajahnya terlihat meski samar. Guratan wajahnya yang tua itu bukanlah guratan keluh kesah. Tapi guratan hidup yang bekerja. Dan terlihat sangan feminim tanpa slogan muluk-muluk di ruang ber-AC. Begitu nyata adanya. Begitu feminitas.
“Anak saya dua. Suami saya sudah pensiun dari Dinas PU. Saya bekerja untuk menambah keuangan keluarga,” ucap Slamet dengan polos.
Begitulah. Transaksi terus berlanjut. Bagi dagangannya yang sudah laku, berasak menuju rumah. Sementara bagi dagangannya yang belum laku, bersabar menunggu hingga batas waktu yang sudah ditentukan pukul 05.00. Dimana matahari muncul, pasar tiban dinihari itu usai, dan hari baru dimulai.
Namun yang jelas, mereka yang berjualan di perempatan kecil itu, adalah perempuan-perempuan perkasa, akar-akar yang melata dari tanah menghidupi kota. Siapa bilang orang Indonesia pemalas.
22 September 2010
Puisi
Pertemuan Senja
setelah pertemuan ini aku akan pergi,
memasuki angin ke dalam malam.
pertemuan kita hanya senja,
daun berguguran dalam percakapan.
sunyi bergetar di leher kita,
es mencair dalam pikiran.
lihat aku sebagaimana aku melihatmu,
jangan biarkan semua berlalu dengan mata berpaling.
apabila nafas kita menjauh, semakin jauh,
senja ini serupa daun jatuh.
setelah pertemuan ini aku akan pergi,
memasuki angin ke dalam malam.
pertemuan kita hanya senja,
daun berguguran dalam percakapan.
sunyi bergetar di leher kita,
es mencair dalam pikiran.
lihat aku sebagaimana aku melihatmu,
jangan biarkan semua berlalu dengan mata berpaling.
apabila nafas kita menjauh, semakin jauh,
senja ini serupa daun jatuh.
6 September 2010
Manusia Utama
nagawan into, kenapa kita orang terusir dari kita punya gunung salju abadi,
kita orang sebut itu nemangkawi (anak panah putih). kita orang amung mee,
manusia utama! kita punya emas dalam nemangkawi, tapi tidak disimpan
dalam honai. ke mana kita punya emas pergi?
sejak magaboarat negel jombei-peibei jadi ertsberg jadi grasberg,
suara kasuari hilang dari kita punya telinga. sejak kulit bia diganti rupiah,
kita orang terusir dari lembah tsinga, lembah Hoeya, dan lembah noema.
kenapa kita orang terusir dari nemangkawi?
nagawan into, bila masa pembebasan itu tiba:
sehelai daun lebar turun di sebelah barat
terbang kembali laksana kuncup bunga ubi
tumbuh dan besar di tanah
muncul di kaki gunung...
4 September 2010
Esei
Kebebasan Publikasi, Tantangan Berbahaya
“Penyair muda sepertinya berpikir yang dibutuhkan adalah mesin tik dan beberapa potong kertas. Mereka tidak siap, mereka tidak memiliki persiapan sama sekali.”
Begitulah ucapan Charles Bukowski—dikutip dari Hot Water Music, 1995—penyair Beat Generation gelombang ke dua, yang terkenal karena vitalitasnya bertahan hidup dan peminum berat di masyarakat pinggiran. Sebelum memulai karirnya sebagai penyair, Bukowski bekerja dalam pekerjaan kasar dan jurnalis di Harlequin. Dia digambarkan oleh Jean Genet dan Jean-Paul Sartre sebagai penyair Amerika terbesar.
Setelah lulus dari Los Angeles High School, Bukowski belajar selama setahun di Los Angeles City College, mengambil kursus jurnalistik dan sastra. Dia meninggalkan rumah pada tahun 1941 –ayahnya telah membaca cerita-ceritanya dan melemparkan barang-barang miliknya ke halaman. Ia pernah bekerja di pom bensin, operator lift, sopir truk, buruh pabrik biskuit, dan di kantor pos. Pada usia tiga puluh lima dia mulai menulis puisi.
Melihat perjalanan hidup Bukowski, agaknya bisa membantah pameo antara aktor dan penyair yang ditulis oleh Boleslawski dalam buku Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor (terjemahan Asrul Sani)—aktor dan penyair datang ke sebuah pertunjukan teater, di depan gedung teater mereka melihat pengemis yang sangat menyedihkan, penyair berhasrat menuliskan puisi untuk menggambarkan pengemis itu, sedangkan si aktor tak perlu melakukan apa-apa karena ia ‘merasa’ sudah menjadi pengemis itu, atau dengan kata lain sindiran halus bahwa aktor memiliki empati ‘lebih’ daripada penyair. Benarkah klaim Boleslawski itu? Belum tentu. Sangat belum tentu.
Empati bisa digali dari pengalaman bersentuhan langsung dengan kehidupan, dan itu telah memberi ‘kekuatan’ pada puisi Bukowski. Dimana Bukowski mengaku, 93 persen puisinya adalah otobiografi. Puisinya sangat dipengaruhi oleh keadaan kota tempat tinggalnya. Selain itu, ia juga menulis cerita pendek dan novel.
Secara intrinsik dan ekstrinsik karya Bukowski juga bisa membantah apa yang ditulis oleh ‘manusia hotel’ Iwan Simatupang dalam novel Merahnya Merah: penulis yang tak pernah kena sengatan sinar matahari.
Bisakah spirit dan pergulatan Charles Bukowski ‘memasuki hidup' yang diretrospeksikannya dalam puisi itu, misalnya, ditemukan pada puisi generasi muda sekarang—yang barangkali adalah Poets Society yang datang dari masa depan—bahwa menulis puisi, khususnya otobiografi maupun liris, bukan sesuatu ‘seolah-olah’ atau khayalan semata, tapi berangkat dari empiris, tak terpisah dari kehidupan (lingkungan), dan tak cuma mengandalkan pada bakat alam. Apalagi, kecenderungan puisi generasi sekarang banyak bermain pada ranah otobiografi dan lirisme.
***
Publikasi yang terbuka luas sekarang ini (koran, majalah, buletin, buku, milis, web, blog, facebook, twitter) dan mulai runtuhnya pusat kekuasaan sastra yang kerjanya cuma membaptis kepenyairan seseorang secara arsesif, adalah sebuah kemenangan masa sekaligus tantangan yang berbahaya, yang dimiliki penyair muda!
Pada ruang cyber, dibandingkan media publikasi konvensional (cetak), puisi hadir di publik tidak lagi setelah melalui tangan yang lain, yang masing-masing pemilik tangan tersebut, tentu memiliki selera berbeda-beda.
Namun kebebasan itu, sesungguhnya meminta pertanggungjawaban lebih, agar puisi tidak sekadar kecanggihan bermain bahasa, mengindah-indahkan bahasa (bahasa itu sudah indah!) dan produksi teks dari mesin (komputer) semata. Hal ini juga menjangkiti beberapa penyair yang konon sudah senior. Kegenitan publikasi di media cetak pun cyber, kadang tak ubahnya seperti status di facebook dan twitter, berisi persoalan pribadi yang seolah-olah menyangkut hajat orang banyak.
Wilayah domestik, ruang pribadi, bilik dalam, yang tak menyangkut hajat orang banyak itu tanpa ‘diolah’ tapi tetap dipublikasikan, mengingatkan kita pada infoitament. Lebih mengejar sensasi yang banal. Adakah Selebritis Syndrom juga tengah merasuk dalam sastra kita?
Jika kritik pingsan, jurusan sastra Indonesia mandul, sudah sepatutnya penyair membikin perhitungan habis-habisan dengan puisinya, sebelum puisinya itu melangkah bergelanggang mata orang banyak, bertemu pembaca aktif maupun pasif. Sebagaimana dokter, penyair juga profesi yang menuntut keseriusan dan tanggungjawab agar tidak terjadi malpraktek terhadap karyanya.
Puisi adalah dunia yang menjadi, tulis Chairil Anwar. Bagaimana puisi bisa menjadi ‘dunia yang menjadi’? Inilah tantangan terberat bagi penyair, sesungguhnya. Bukan berapa sering dimuat di media. Lalu berharap dapat undangan resepsi sastra. Apalah guna ikut 'pesta satra' itu, jika cuma ibarat mentimun bungkuk yang masuk karung tapi tak masuk hitungan. Jadi tukuk tambah.
Dan apabila puisi menjadi ‘dunia yang menjadi’ itu, agaknya, kita bakal bertemu apa yang disampaikan Konfusius: “Tidak belajar sajak, tidak ada yang bisa dibicarakan.”
Li Po, Jalaludin Rumi, Matsuo Basho, William Shakespeare, Arthur Rimbaud, Rainer Maria Rilke, TS Eliot, Pablo Neruda, menyebut beberapa nama yang cukup familiar di publik sastra kita misalnya, ketika kita membaca puisi mereka, secara diam-diam puisi mereka menyusup ke dalam memori intim, membuat ingatan bersama. Pengalaman penyair, pengalaman pembaca juga.
Bahkan, puisi bisa menjadi spirit bagi zamannya. Allen Ginsberg, lewat puisinya, turut memberi warna pada gerakan Beat Generation di Amerika Serikat tahun 1950-an. Wiji Tukul, penyair cum aktivis asal Solo yang hingga sekarang tidak diketahui keberadaannya, puisinya “Hanya Ada Satu Kata: Lawan! “ Diteriakkan lantang dan jadi simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru oleh mahasiswa pergerakan, hingga runtuhnya rezim para jenderal itu pada tahun 1998.
Pun Chairil Anwar, yang memberi kontribusi terhadap perkembangan puisi modern dan bahasa Indonesia. Meski berusia pendek, ia hanya mempublikasikan sekitar 77 puisi saja, namun bukan kuantitas yang menjadi tolak ukur, melainkan kualitas. Toh, karya seni bukan seperti barang kerajinan yang berorientasi pasar semata (media).
Yang pasti, masa depan perpuisian Indonesia terletak di tangan penyair muda yang berani melawan ucapan Bukowski di awal tulisan ini. Tentu saja dengan “memiliki persiapan” dalam puisi yang mereka ciptakan. Dan karya bukan sekadar produksi teks dari mesin (komputer), tapi teks yang bersumber dari kehidupan.
“Penyair muda sepertinya berpikir yang dibutuhkan adalah mesin tik dan beberapa potong kertas. Mereka tidak siap, mereka tidak memiliki persiapan sama sekali.”
Begitulah ucapan Charles Bukowski—dikutip dari Hot Water Music, 1995—penyair Beat Generation gelombang ke dua, yang terkenal karena vitalitasnya bertahan hidup dan peminum berat di masyarakat pinggiran. Sebelum memulai karirnya sebagai penyair, Bukowski bekerja dalam pekerjaan kasar dan jurnalis di Harlequin. Dia digambarkan oleh Jean Genet dan Jean-Paul Sartre sebagai penyair Amerika terbesar.
Setelah lulus dari Los Angeles High School, Bukowski belajar selama setahun di Los Angeles City College, mengambil kursus jurnalistik dan sastra. Dia meninggalkan rumah pada tahun 1941 –ayahnya telah membaca cerita-ceritanya dan melemparkan barang-barang miliknya ke halaman. Ia pernah bekerja di pom bensin, operator lift, sopir truk, buruh pabrik biskuit, dan di kantor pos. Pada usia tiga puluh lima dia mulai menulis puisi.
Melihat perjalanan hidup Bukowski, agaknya bisa membantah pameo antara aktor dan penyair yang ditulis oleh Boleslawski dalam buku Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor (terjemahan Asrul Sani)—aktor dan penyair datang ke sebuah pertunjukan teater, di depan gedung teater mereka melihat pengemis yang sangat menyedihkan, penyair berhasrat menuliskan puisi untuk menggambarkan pengemis itu, sedangkan si aktor tak perlu melakukan apa-apa karena ia ‘merasa’ sudah menjadi pengemis itu, atau dengan kata lain sindiran halus bahwa aktor memiliki empati ‘lebih’ daripada penyair. Benarkah klaim Boleslawski itu? Belum tentu. Sangat belum tentu.
Empati bisa digali dari pengalaman bersentuhan langsung dengan kehidupan, dan itu telah memberi ‘kekuatan’ pada puisi Bukowski. Dimana Bukowski mengaku, 93 persen puisinya adalah otobiografi. Puisinya sangat dipengaruhi oleh keadaan kota tempat tinggalnya. Selain itu, ia juga menulis cerita pendek dan novel.
Secara intrinsik dan ekstrinsik karya Bukowski juga bisa membantah apa yang ditulis oleh ‘manusia hotel’ Iwan Simatupang dalam novel Merahnya Merah: penulis yang tak pernah kena sengatan sinar matahari.
Bisakah spirit dan pergulatan Charles Bukowski ‘memasuki hidup' yang diretrospeksikannya dalam puisi itu, misalnya, ditemukan pada puisi generasi muda sekarang—yang barangkali adalah Poets Society yang datang dari masa depan—bahwa menulis puisi, khususnya otobiografi maupun liris, bukan sesuatu ‘seolah-olah’ atau khayalan semata, tapi berangkat dari empiris, tak terpisah dari kehidupan (lingkungan), dan tak cuma mengandalkan pada bakat alam. Apalagi, kecenderungan puisi generasi sekarang banyak bermain pada ranah otobiografi dan lirisme.
***
Publikasi yang terbuka luas sekarang ini (koran, majalah, buletin, buku, milis, web, blog, facebook, twitter) dan mulai runtuhnya pusat kekuasaan sastra yang kerjanya cuma membaptis kepenyairan seseorang secara arsesif, adalah sebuah kemenangan masa sekaligus tantangan yang berbahaya, yang dimiliki penyair muda!
Pada ruang cyber, dibandingkan media publikasi konvensional (cetak), puisi hadir di publik tidak lagi setelah melalui tangan yang lain, yang masing-masing pemilik tangan tersebut, tentu memiliki selera berbeda-beda.
Namun kebebasan itu, sesungguhnya meminta pertanggungjawaban lebih, agar puisi tidak sekadar kecanggihan bermain bahasa, mengindah-indahkan bahasa (bahasa itu sudah indah!) dan produksi teks dari mesin (komputer) semata. Hal ini juga menjangkiti beberapa penyair yang konon sudah senior. Kegenitan publikasi di media cetak pun cyber, kadang tak ubahnya seperti status di facebook dan twitter, berisi persoalan pribadi yang seolah-olah menyangkut hajat orang banyak.
Wilayah domestik, ruang pribadi, bilik dalam, yang tak menyangkut hajat orang banyak itu tanpa ‘diolah’ tapi tetap dipublikasikan, mengingatkan kita pada infoitament. Lebih mengejar sensasi yang banal. Adakah Selebritis Syndrom juga tengah merasuk dalam sastra kita?
Jika kritik pingsan, jurusan sastra Indonesia mandul, sudah sepatutnya penyair membikin perhitungan habis-habisan dengan puisinya, sebelum puisinya itu melangkah bergelanggang mata orang banyak, bertemu pembaca aktif maupun pasif. Sebagaimana dokter, penyair juga profesi yang menuntut keseriusan dan tanggungjawab agar tidak terjadi malpraktek terhadap karyanya.
Puisi adalah dunia yang menjadi, tulis Chairil Anwar. Bagaimana puisi bisa menjadi ‘dunia yang menjadi’? Inilah tantangan terberat bagi penyair, sesungguhnya. Bukan berapa sering dimuat di media. Lalu berharap dapat undangan resepsi sastra. Apalah guna ikut 'pesta satra' itu, jika cuma ibarat mentimun bungkuk yang masuk karung tapi tak masuk hitungan. Jadi tukuk tambah.
Dan apabila puisi menjadi ‘dunia yang menjadi’ itu, agaknya, kita bakal bertemu apa yang disampaikan Konfusius: “Tidak belajar sajak, tidak ada yang bisa dibicarakan.”
Li Po, Jalaludin Rumi, Matsuo Basho, William Shakespeare, Arthur Rimbaud, Rainer Maria Rilke, TS Eliot, Pablo Neruda, menyebut beberapa nama yang cukup familiar di publik sastra kita misalnya, ketika kita membaca puisi mereka, secara diam-diam puisi mereka menyusup ke dalam memori intim, membuat ingatan bersama. Pengalaman penyair, pengalaman pembaca juga.
Bahkan, puisi bisa menjadi spirit bagi zamannya. Allen Ginsberg, lewat puisinya, turut memberi warna pada gerakan Beat Generation di Amerika Serikat tahun 1950-an. Wiji Tukul, penyair cum aktivis asal Solo yang hingga sekarang tidak diketahui keberadaannya, puisinya “Hanya Ada Satu Kata: Lawan! “ Diteriakkan lantang dan jadi simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru oleh mahasiswa pergerakan, hingga runtuhnya rezim para jenderal itu pada tahun 1998.
Pun Chairil Anwar, yang memberi kontribusi terhadap perkembangan puisi modern dan bahasa Indonesia. Meski berusia pendek, ia hanya mempublikasikan sekitar 77 puisi saja, namun bukan kuantitas yang menjadi tolak ukur, melainkan kualitas. Toh, karya seni bukan seperti barang kerajinan yang berorientasi pasar semata (media).
Yang pasti, masa depan perpuisian Indonesia terletak di tangan penyair muda yang berani melawan ucapan Bukowski di awal tulisan ini. Tentu saja dengan “memiliki persiapan” dalam puisi yang mereka ciptakan. Dan karya bukan sekadar produksi teks dari mesin (komputer), tapi teks yang bersumber dari kehidupan.
Langganan:
Postingan (Atom)