4 Agustus 2010

Seribu Kunang-kunang di Mataram



Lampu-lampu kota di lembah Mataram itu tampak seperti kunang-kunang saat saya menatapnya, Rabu (28/7) malam, dari Bukit Patuk atau populer disebut Bukit Bintang. Tersebab lampu-lampu kota yang tampak berkelip-kelip indah dari ketinggian membuat bukit ini disebut Bukit Bintang.

Bukit Bintang terletak di bawah belik (mata air) di wilayah kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, belakangan ini menjadi objek wisata 'menebar pandang dari ketinggian' terutama di malam hari. Dari kota Yogya jaraknya sekitar 20 Km, menuju arah timur melintasi Jalan Wonosari, bakal ditemui tanjakan curam dengan tikungan tajam. Kawasan ini merupakan gerbang Kabupaten Gunungkidul.

Aih, tiba-tiba saya teringat pada Cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan karya Umar Kayam. Cerpen berseting akhir tahun 1960-an itu, mengisahkan tentang Marno perantau asal Jawa di kota Manhattan. Marno mabuk bersama perempuan yang 'memeliharanya', Jane, di apartemen milik Jane. Dan mereka sama-sama kesepian, sama-sama mengalami kebosanan, tapi dalam soal yang beda.

Jane meracau tentang Tommy mantan suaminya, sedangkan Marno merindukan kampung halamannya. Sehingga ketika Marno melihat kelap-kelip lampu kota Manhattan dari kaca apartemen, ia teringat pada kunang-kunang di sawah di kampungnya pada malam hari. Sementara Jane, yang hidup dan dibesarkan di kota itu, belum pernah melihat kunang-kunang dan penasaran pada binatang bercahaya itu. Yeah, kisah pertemuan dua kultur yang berbeda dan sama-sama terperangkap dalam kesepian kaum urban.

Ah, kisah biasa tentang pengalaman dari penulis dunia ketiga yang terperangah pada lampu-lampu dan gedung American Dream. Mirip mahasiswa tingkat pertama dipukau film drama Hollywood. Lalu berharap mimpi basah...

Itulah sebabnya saya tidak sedang membayangkan diri saya seperti Marno. Lagipula tak ada Jane di samping saya. Tak ada apartemen. Lampu-lampu kota yang saya lihat itu bukanlah lampu-lampu kota Manhattan melainkan kota Yogya yang tumbuh di negeri Mataram. Maka, saya menyebut kelap-kelip lampu itu sebagai Seribu Kunang-kunang di Mataram.

“Kalau kita datang sore hari, kita bisa menyaksikan momen matahari tenggelam, keren bro!” celetuk Andika diikuti anggukan Iman. Dua sahabat itu menyadarkan saya bahwa saya tidak sendiri menikmati 'Seribu Kunang-kunang di Mataram'.

Dan malam itu pengunjung cukup ramai. Setidaknya di warung bambu tempat saya menebar pandang ke lembah Mataram itu dipenuhi pengunjung baik yang berombongan, pun yang mojok berduaan. Belum lagi di warung-warung lainnya. Ada sekitar 10 warung dengan konstruksi bambu di bibir jurang, sebagai tempat bersantai menikmati pesona malam sambil menikmati menu yang tersedia.

Andika benar juga. Seandainya kami datang sore hari, tentu kami bisa menyaksikan persalinan waktu di lembah Mataram dari ketinggian. Dimana matahari pelahan-lahan tenggelam, lampu-lampu kota bermunculan. Sebuah momen yang mempesona tentunya.

Lantaran asik menikmati pesona perpaduan antara malam dan cahaya buatan manusia di lembah, dua porsi nasi goreng magelangan dan tiga gelas kopi yang kami pesan jadi tak terasa lama. Namun, sebelum memesan makanan tersebut kami mesti menanyakan harganya terlebih dahulu, sebab di menu tak ada daftar harga. Kami tak mau dipalak dengan sopan. Usai makan, bayarnya kemahalan. Hal yang jamak terjadi di tempat wisata.

Malam meninggi. Langit cukup cerah, meski tak banyak bintang bermunculan. Apakah telah jatuh bintang itu ke lembah? Udara dingin perbukitan mulai terasa di kulit saya.

Sebentar lagi saya akan turun ke bawah, menemui kenyataan sesungguhnya bahwa seribu kunang-kunang yang saya lihat dari bukit bintang itu adalah lampu-lampu berebut ingin menerangi kota Yogya. Kadang lampu-lampu itu terasa sesak juga.

Saya teringat pada frasa 'kota seribu lampu merah' dalam Cerpen Radio Tua, Kota Tua karya Raudal Tanjung Banua. Agaknya, itulah yang akan saya temui dari Seribu Kunang-kunang di Mataram menjadi Kota Seribu Lampu Merah bila saya turun dari Bukit Bintang dan memasuki kota Yogya.

24 April 2010

poem

Repromosi Sebuah Kota

siang di kotaku ramah sekali
pohon pohon tumbuh melindungi rumah
kau bisa berjalan di bawah cahaya matahari yang disaring daun-daun
mendengar kicau burung
angin lembut menyentuh

siang di kotaku ramah sekali
tak ada kemacetan
orang orang tahu aturan
karena pemimpin bijak
rakyat taat pajak

datanglah ke kotaku
kau akan menemukan omong kosong yang indah ini
lebih banyak lagi

Yogyakarta, 2007

31 Januari 2010

poem

Lempuyangan, November 2008

semua akan berlalu, yang tersisa cuma kenangan
tapi apa itu kenangan?
getar tangan dalam tangan
getar mata dalam mata
jadi sepi yang bergaung
di stasiun tua ini
dan kereta rongsokan
yang akan membawaku pergi

jam berdentang
malam tinggal bayang
kota tak punya perasaan
bagi perpisahan

biarlah ciumanku di keningmu penghabisan
mengerti bagi air mata yang kita tahan
sebagai kekasih, memang, kita usai sudah
tapi cinta tetap ada
untuk apa
dan siapa saja

29 Januari 2010

puisi

Lunto Kloof, Cinta Pertama Yang Gagal Kuselamatkan
lalu ia menunjuk stasiun tua yang mati itu, keberangkatan
dan kepulangan yang tak lagi ada, dan sadar, kami pernah lugu
berciuman di sudut sekolah itu.
laila, lesung pipitmu yang bertahan, senja
mengembalikan ingatan kita pada cinta yang remaja, pada bagaimana
gugupnya aku menyentuh jemarimu pertama kali, di bangku taman gluck auf
yang kini tak ada. seperti orang rantai di kota ini, akhirnya semua pergi
menyisakan masa lampau yang hanya bisa dijangkau lewat memori. tetapi
di lembah ini, tubuhmu jadi lubang lubang tambang bekas yang ditinggalkan,
juga cinta pertama yang gagal kuselamatkan.

aku pandangi menara asap itu. ketika aku sentuh,
sungai mengalir dari bahunya.
waktu telah mengubah
bibir kita jadi milik yang lain. milik yang lain, laila.
aku kalungkan cindera mata di lehernya, syal pacar
dari jogja.
matamu gemetar, tanganku bergetar.
lunto kloof, lunto kloof, maafkan aku, laila.
ciuman pertama itu masih membekas
mustahil terhapus lekas

14 Januari 2010

cerpen

Kematian Yang Sangat Menyedihkan

setiap kali duduk di depan komputer kantor, saya suka menatap sejenak pada senyum gadis dalam poster di dinding, yang jaraknya tiga meter dari saya duduk. saya selalu memastikan, apakah senyum gadis dalam poster itu telah berubah? hemm...ternyata senyum gadis dalam poster itu masih seperti dulu, seperti pertama kali saya menatapnya.

senyum gadis itu dalam poster itu sering membantu saya menulis kalimat pertama berita, setelah saya menatapnya barang sejenak. inilah yang membuat ia menjadi cukup penting bagi saya.

saya tidak tahu dan juga tidak ingin bertanya siapa nama gadis yang tersenyum dalam poster itu. biarlah ia menjadi rahasia, seperti senyumnya itu. yang jelas, gadis dalam poster itu sudah ada sebelum saya bekerja sebagai 'pemulung berita' di surat kabar sebuah kota tua. karena gadis itu pernah menjadi model iklan sabun mandi di surat kabar tempat saya bekerja. begitulah.

suatu malam, saya harus menulis berita tentang kematian, sendiri di kantor. semua bahan sudah ada, berserakan di atas meja. tapi saya tidak bisa memulai kalimat pertama. sebab, kematian itu sangat menyedihkan. jauh lebih sedih dari kematian apa pun yang pernah saya jumpa.

bagaimana saya akan menceritakan tentang kematian yang sangat menyedihkan itu, sedang saya belum bisa menulis kalimat pertama? saya takut menulisnya asal-asalan. saya takut kalau kematian itu tak lagi menyedihkan. seperti kematian manusia pada tahun 1966. ah...

saya telah berulang-ulang menatap senyum gadis dalam poster itu, tapi belum juga bisa membantu sebagaimana biasanya.

saya pejamkan mata. saya membatin: "baiklah, ini terakhir kali saya menatap senyum gadis dalam poster itu. jika ia tak bisa membantu saya menulis kalimat pertama tentang kematian yang sangat menyedihkan itu, saya akan melupakannya. ia akan menjadi sesuatu yang biasa."

kemudian saya membuka mata, dan menatap senyum gadis dalam poster itu. senyum gadis dalam poster itu tampak makin manis, makin mistis. pelahan-lahan, saya merasakan tubuh saya melayang, naik dari kursi. saya terus melayang, melewati meja komputer. melayang menuju dinding, mendekat ke arah gadis dalam poster itu.

dan senyum gadis dalam poster itu mulai menyedot kepala saya. badan saya. kemaluan saya. paha saya. kaki saya. hingga lenyaplah saya ke dalam senyum gadis dalam poster, yang manis, yang mistis itu.

saya seperti terdampar di pulau kecil, pulau terpencil, yang hilang dalam peta. saya mencari jalan keluar, seperti mencari kalimat pertama untuk berita tentang kematian yang sangat menyedihkan itu, yang ingin saya bagikan kepada anda.


Yogyakarta, 2010