14 Januari 2010

cerpen

Kematian Yang Sangat Menyedihkan

setiap kali duduk di depan komputer kantor, saya suka menatap sejenak pada senyum gadis dalam poster di dinding, yang jaraknya tiga meter dari saya duduk. saya selalu memastikan, apakah senyum gadis dalam poster itu telah berubah? hemm...ternyata senyum gadis dalam poster itu masih seperti dulu, seperti pertama kali saya menatapnya.

senyum gadis itu dalam poster itu sering membantu saya menulis kalimat pertama berita, setelah saya menatapnya barang sejenak. inilah yang membuat ia menjadi cukup penting bagi saya.

saya tidak tahu dan juga tidak ingin bertanya siapa nama gadis yang tersenyum dalam poster itu. biarlah ia menjadi rahasia, seperti senyumnya itu. yang jelas, gadis dalam poster itu sudah ada sebelum saya bekerja sebagai 'pemulung berita' di surat kabar sebuah kota tua. karena gadis itu pernah menjadi model iklan sabun mandi di surat kabar tempat saya bekerja. begitulah.

suatu malam, saya harus menulis berita tentang kematian, sendiri di kantor. semua bahan sudah ada, berserakan di atas meja. tapi saya tidak bisa memulai kalimat pertama. sebab, kematian itu sangat menyedihkan. jauh lebih sedih dari kematian apa pun yang pernah saya jumpa.

bagaimana saya akan menceritakan tentang kematian yang sangat menyedihkan itu, sedang saya belum bisa menulis kalimat pertama? saya takut menulisnya asal-asalan. saya takut kalau kematian itu tak lagi menyedihkan. seperti kematian manusia pada tahun 1966. ah...

saya telah berulang-ulang menatap senyum gadis dalam poster itu, tapi belum juga bisa membantu sebagaimana biasanya.

saya pejamkan mata. saya membatin: "baiklah, ini terakhir kali saya menatap senyum gadis dalam poster itu. jika ia tak bisa membantu saya menulis kalimat pertama tentang kematian yang sangat menyedihkan itu, saya akan melupakannya. ia akan menjadi sesuatu yang biasa."

kemudian saya membuka mata, dan menatap senyum gadis dalam poster itu. senyum gadis dalam poster itu tampak makin manis, makin mistis. pelahan-lahan, saya merasakan tubuh saya melayang, naik dari kursi. saya terus melayang, melewati meja komputer. melayang menuju dinding, mendekat ke arah gadis dalam poster itu.

dan senyum gadis dalam poster itu mulai menyedot kepala saya. badan saya. kemaluan saya. paha saya. kaki saya. hingga lenyaplah saya ke dalam senyum gadis dalam poster, yang manis, yang mistis itu.

saya seperti terdampar di pulau kecil, pulau terpencil, yang hilang dalam peta. saya mencari jalan keluar, seperti mencari kalimat pertama untuk berita tentang kematian yang sangat menyedihkan itu, yang ingin saya bagikan kepada anda.


Yogyakarta, 2010

8 Oktober 2009

poem

Kepada Fatris dan 30 September 2009

dari potret gempa sumatera barat

yang datang pada jam 5 sore itu
begitu tiba-tiba
yang pergi pada jam 5 sore itu
begitu tergesa-gesa

aku sanggup melupakan
yang datang
tapi tak sanggup melupakan
yang pergi

gadis kecil memeluk kucing hitam
di antara reruntuhan bangunan
dan air mata hitam

11 September 2009

poem

Solilokui

dingin bulan
gigil jalan
aku melangkah
rumah rumah tutup
kedai larut malam
pengendara motor tak dikenal
melintasi embun
yang jatuh dari bintang tak bernama
betapa lengang jam berdentang
di mata jaga
lampu lampu hotel
lampu lampu reklame
bikin asing pada kepulangan—
kekasih yang menyimpan ciuman:
lidah lembut dalam telinga

angin berhembus
sedikit suara tergambarkan
aku terus melangkah
ambang subuh
kau makin tertinggal jauh
yang tidur dalam sajak:
rabun senja!
aku terus melangkah
pada bengkolan ke tujuh
pagi baru tumbuh

7 September 2009

Poem

Angin Panas

angin panas
angin panas yang menyeberangi laut
membawa bau tubuhmu
yang hutan terbakar itu

angin panas
angin panas yang membuat malam
kotaku jadi demam
karna lehermu menyimpan sungai
sungai yang melarungkan abu pohon-pohon


o, cintaku yang ditinggalkan burung-burung,
matamu mengeluarkan asap
jadi kata-kata sesak dalam sajak
sajakku yang berjalan sendirian
di jalan jalan kotaku yang malam
yang demam

19 Agustus 2009

Event Sastra



Temu Sastrawan Indonesia II:
Sastra Indonesia Pascakolonial, 30 Juli-2 Agustus 2009

MENCARI IDENTITAS SASTRA INDONESIA


Sastra moderen Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perpanjangan dan politik kolonial Belanda dengan keberadaan Balai Pustaka-nya pasca lingua franca, bahasa Melayu menjadi bahasa administratif pemerintahan lewat pengajaran di sekolah. Keberadaan sastra moderen Indonesia sebagai sastra pascakolonial, tentu berbeda dengan sastra pascakolonial di negara-negara Dunia Ketiga lainnya. Masing-masing memiliki ciri khas dan problemnya sendiri. Sastra Indonesia berbeda dengan sastra Amerika Latin, sastra Afrika, atau sastra negara-negara Asia bekas jajahan Barat lainnya. Sebagai bekas jajahan Belanda misalnya, kita tak pernah meneruskan bahasa Belanda sebagai ekspresi (sastra) kita, berbeda dengan kalangan sastrawan hibrid India, yang menulis dalam bahasa bekas jajahannya (Inggris).

Lantas, apakah yang disebut dengan sastra Indonesia itu sastra yang yang berbahasa Indonesia, atau ditulis oleh orang Indonesia, ataukah sastra yang berisi segala sesuatu tentang Keindonesian? Bagaimana pula posisi sastra berbahasa daerah, atau sastra populer yang dalam sejarahnya juga bagian dari sastra alternatif? Persoalan tersebut merupakan garis besar yang diangkat dalam Temu Sastrawan Indonesia II di Pangkalpinang, Propinsi Bangka Belitung, pada 30 Juli-2 Agustus 2009. Dengan tema “Sastra Indonesia Pascakolonial”.

Pada diskusi sesi 1, Jum'at (31 Juli 2009), dengan tema “Merumuskan Kembali Sastra Indonesia: Definisi, Sejarah, Identitas” dengan pembicara Agus R. Sarjono, Saut Situmorang, Haryatmoko dan moderator Joni Ariadinata. Menurut Agus R Sarjono, Sastra Indonesia didominasi oleh gambaran rumah yang hilang, retak, hancur, atau tak tergapai. Maka hampir dapat disimpulkan bahwa selepas kolonialisme para sastrawan Indonesia sebagian besar tak berumah. Kajian atas pewacanaan lahirnya bangsa sebagaimana direpresentasikan dalam novel Keluarga Gerilya Pramoedya Ananta Toer dan Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis, berakhir pada kesimpulan bahwa Indonesia adalah sebuah negeri tanpa rumah.

Saut Situmorang yang mengusung “Politik Kanon Dalam Sastra Indonesia: Beberapa Catatan” sebagai bagian persoalan dari definisi, sejarah, identitas sastra Indonesia, melihat adanya ketidakjujuran dalam peta sastra Indonesia. Kepentingan yang tidak lepas dari nilai “politik” suatu kelompok. Misalnya karya sastra yang dianggap sebagai Kanon tanpa melalui sebuah kritik sastra yang pantas.

“Pada umumnya politik kanonisasi sastra diyakini lebih banyak dipengaruhi oleh politik kekuasaan demi kepentingan ideologis, politis dan nilai-nilai ketimbang sekedar karena kedahsyatan artistik karya. Pada saat yang sama politik kanonisasi sastra juga membuktikan betapa naifnya, betapa ahistorisnya, betapa tidak membuminya, para sastrawan yang masih yakin bahwa teks sastra adalah segalanya, bahwa tidak ada apa-apa di luar teks sastra, apalagi yang bisa mempengaruhi eksistensinya, bahwa 'substansi' sastra adalah ukuran karya sastra, karena 'substansi' adalah 'estetika' sastra yang 'sublim', sastra yang menjadi itu,” ujarnya.

Apa yang disampaikan oleh tiga pembicara di atas bukanlah jawaban final dari permasalahan sastra Indonesia yang berlarat-larat dengan eksistensinya. Akan tetapi, memberikan ruang bagi pertanyaan-pertanyaan dalam perjalanan sastra Indonesia, dulu-sekarang-dan akan datang.

Begitu pula pada Diskusi Sesi II di hari yang sama. Mengambil tema “Kritik Sastra Indonesia Pascakolonial” dengan pembicara Dr. Syafrina Noorman, Yasraf Amir Piliang, Katrin Bandel, Zen Hae, dan moderator Willy Siswanto. Pertanyaan tentang identitas sastra Indonesia itu menukik pada persoalan 'keberadaan' kritik sastra yang kurang dari khazanah sastra Indonesia.

Yasraf Amir Piliang berpendapat, tugas kesusasteraan masa depan adalah membangun 'imajinasi' mandiri (self imagination), dengan meninggalkan 'imajinasi-imajinasi kolonial' atau imajinasi produksi 'sang lain', untuk mampu menghasilkan 'perbedaan' dan 'otentisitas', melalui sebuah sebuah proses 'menjadi diri sendiri' (becoming one-self). Dunia sastra diharapkan mampu membangun sebuah proses pertandaan(signification) yang melaluinya tanda-tanda budaya-budaya diperbedakan, makna-makna diproduksi, dan nilai-nilai dikembangkan. Sebuah proses 'resemiotasi' kebudayaan (cultural re-semiotizatian) melalui kekuatan sastra dapat diusulkan, dalam rangka pengkayaan dan penganekaragaman bentuk, makna dan nilai-nilai kebudayaan itu sendiri.

Pada hari ke dua, Sabtu (1 Agustus 2009), Diskusi Sesi III “Membaca Teks dan Gerakan Sastra Mutakhir: Mencari Subjek Pascakolonial” dengan pembicara Nenden Lilis Aisyah, Nurahayat Arif Permana, Zurmailis, Radhar Panca Dahana dan moderator Triyanto Triwikromo.

“Dalam perkembangan sastra kita pada era yang untuk sementara secara simplis saya sebut era reformasi ini, tema karya sastra cukup beragam. Namun, di antara tema-tema tersebut ada tema yang mendapat banyak sorotan. Tema yang dimaksud adalah tema mengenai femisme, dan tema seksualitas dan tubuh. Sorotan itu terjadi karena; pertama, radikal dan berani; kedua, karena dianggap ideologi barat,” ucap Nenden Lilis Aisyah.

Dikusi yang semestinya menarik—merujuk pada tema yang dihadirkan—terasa agak hambar. Selain pembicara yang kurang mampu menghidupkan diskusi, juga banyaknya kursi peserta yang kosong.

Sementara pada Diskusi Sesi IV, “Penerjemah Sastra Muktahir: Mencari Subjek Pascakolonial” dengan pembicara Anton Kurnia, Arif Bagus Prasetyo, John McGlym dan moderator Tia Setiadi.

Menurut Arif Bagus Prasetyo, penerjemahan adalah kegiatan yang amat kompleks. Bahasa itu sendiri sudah kompleks, tapi faktor-faktor yang terlibat dalam wacana manusia bahkan lebih kompleks. Tujuan terjemahan begitu beragam, dan pembaca karya terjemahan juga sangat beragam. Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa penerjemahan, mengutip pakar studi terjemahan, I. Richards, barangkali jenis peristiwa paling kompleks yang dihasilkan dalam evolusi jagad raya.

“Betapa memprihatikan kondisi karya terjemahan kita secara umum. Di antara sejumlah karya terjemahan yang bisa dibilang baik, amat banyak karya terjemahan yang buruk. Menurut Alfons yang pernah menjadi Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), para penerjamalah yang paling bertanggung jawab atas kualitas karya terjemahan mereka. Namun, ia pun mengakui adanya faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seorang penerjemah, seperti situasi sosial ekonomi, akses terhadap refrensi, serta penghargaan orang terhadap penerjemah dan hasil karyanya,” tutur Anton Kurnia.

John McGlynn dari Yayasan Lontar menilai tentang usaha penerjemahan Sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris, memiliki beberapa hambatan, yaitu kualitas karya, ongkos penerbitan, sikap xenofobis, dan kurangnya visi pemerintah.

“Sebagaimana halnya dengan Indonesia yang mendapatkan hikmah dari pengetahuan mengenai kebudayaan lain, negara-negara lain dapat memperoleh manfaat dari ilmu yang berasal dari Indonesia—sebuah hal yang tidak akan terjadi kecuali orang Indonesia dapat mempromosikan diri secara aktif,” tukasnya.

Di mana Identitas Sastra Indonesia?


Selain Diskusi Sastra, TSI II 2009 yang dihadiri oleh pelaku sastra (Sastrawan dan Penikmat Sastra) dari berbagai wilayah yang ada di tanah air—yang setidaknya mewakili kantung sastra, baik muda mapun tua dalam proses kreatif—juga diisi dengan malam Apresiasi Sastra dan pertunjukan pembacaan karya sastra, peluncuran buku antologi sastra “Pedas Lada Pasir Kuarsa” (kumpulan puisi TSI II 2009) dan “Jalan Menikung ke Bukit Timah” (kumpulan cerpen TSI II 2009), Bazar Buku, dan Wisata Budaya.

Sudahkah identitas sastra Indonesia ditemukan? Terlalu naif jika dalam 4 hari untuk menagihnya. Peristiwa sastra di pulau Timah itu, barangkali bisa jadi 'modal' untuk menggali sastra Indonesia 'lebih' dan merangsang proses kreatif sastrawan. Di mana sastra Indonesia tidak sekadar selesai sebagai 'teks' semata dan tidak ada apa pun di luar 'teks' itu—hal ini bisa kita lihat dari penghargaan karya sastra yang ada, bahkan sekelas Nobel pun!--sebab omong kosong yang indah apabila sastra terbebas dari nilai di luar sastra itu sendiri. Sehingga ketika karya (sastra) selesai ditulis, pengarang cukup berleha-leha saja gara-gara salah kaprah memahami istilah, “pengarang sudah mati”.

Namun, bagaimana event sastra seperti Temu Sastrawan Indonesia itu tidak dijadikan sekedar sebuah pesta laiknya beberapa event sastra di Indonesia yang konon katanya bertaraf internasional. Bukan ajang 'bersolek' para sastrawan semata. Inilah tantangan bagi penyelenggara Temu Sastrawan Indonesia berikutnya 2010 di Kota Tanjungpinang, Propinsi Kepulauan Riau.