9 Maret 2009

ada-ada saja :)

Puisi Saya Ditiru?

parak siang, 9 maret 2009.
saya belum jua bisa memejam mata. saya ambil buku kumpulan puisi iyut fitra "dongeng-dongeng tua" pemberian dari raudal tanjung banua.

setelah bolak-balik halaman puisi iyut itu, sampai jua saya di halaman 128. dan ketika membaca satu bait yang berada dalam tanda kurung, tersintaklah saya. kiranya bait itu hampir serupa dengan puisi saya yang berjudul MANUSIA PERGI.

silahkan bandingkan bait puisi iyut fitra Pencari Yang kehilangan:

............
--fadhila ramadhona
(burung-burung melintas di bulan merah bara
melintas menuju sarang,
tapi aku yang bergegas, ke mana mesti pulang?
aku manusia pergi
berkali hati terbakar di langit malam)
............

payakumbuh, 2008

dengan puisi saya (manusia pergi):

seekor bangau melintas di langit petang
melintas menuju sarang
aku yang bergegas
ke mana musti pulang?

aku manusia pergi
menyimpan banyak lambaian
menahan ragam kenangan

puisi saya itu dibuat tahun 2007. saya memang tidak lagi memberi penanggalan pada puisi saya. dan puisi Manusia Pergi itu, saya publikasikan di blog saya http://langit-puisi.blogspot.com/2008/07/poem.html pada 3 juli 2008 dan dimuat di MINGGU PAGI NO 21TH 61 MINGGU IV AGUSTUS 2008.

apakah iyut membaca puisi saya? jika tidak, bisakah dua orang menulis puisi dengan beberapa larik yang sama tanpa membaca sebelumnya?

ataukah puisi itu, kiriman fadhila ramadhona ke pada iyut fitra. dan iyut menulis ulang dalam puisinya itu. sebab kalo dilihat secara utuh puisi iyut yang berjudul 'Pencari Yang kehilangan' sepertinya (menurut saya) adalah pengembangan dari sms kiriman atau puisi--di sana ada juga nama-nama: heru jp, dian hardiana, zelfeni wimra.

jika benar dugaan saya, bait puisi itu dikirim oleh fadhila ramadhona, dari manakah dia menemukan bait puisi yang dikirimnya kepada iyut? bisakah dua orang menulis puisi dengan beberapa larik yang sama tanpa membaca sebelumnya?

pembaca yang baik dan tidak baik. pemberitahuan ini saya kirimkan, apabila
pembaca yang baik dan tidak baik menemukan puisi saya (Manusia Pergi) dan bait puisi iyut (Pencari Yang Kehilangan), janganlah bingung. apalagi sampai saya dikira 'nyontek' bait puisi iyut itu.
sebab tak sudilah saya yang keren nih mencontek puisi orang dengan membabi-buta, tapi kalo terinspirasi atau melakukan intertekstual tentulah saya peranh jua melakukannya, hehe..

hehe...lagi deh

1 Maret 2009

Info Buku


rumahlebah - ruangpuisi
adalah majalah puisi tiga bulanan yang diterbitkan oleh Komunitas Rumah Lebah Yogyakarta bekerjasama dengan Framepublishing. Pada edisi perdana ini, majelis redaksi yang terdiri dari Raudal Tanjung Banua, Nur Wahida Idris, Frans Nadjira, Umbu Landu Paranggi dan Faisal Kamandobat telah memilih sejumlah puisi , esai, resensi buku dan puisi terjemahan untuk dimuat di edisi perdana rumahlebah - ruangpuisi.


Sebagaimana kita ketahui, Komunitas Rumah Lebah yang menerbitkan rumahlebah - ruang puisi, selama ini dikenal begitu aktif dalam mendorong kemajuan kehidupan sastra di tanah air melalui penerbitan Akar Indonesia. Rumahlebah - ruangpuisi adalah salah satunya yang sudah lama mejadi cita - cita mereka. Walau hanya terbit tiga kali dalam setahun, majalah puisi ini dipastikan bakal menjadi buruan para penggemar sastra dan puisi Indonesia. Karena itu Anda pun harap bergegas ke toko buku terdekat untuk membeli majalah puisi ini sebelum stoknya habis.

Dalam edisi perdana ini dimuat sejumlah karya: Ahmad Nurullah, Riki Dhamparan putra, Badruddin Emce, Y. Thendra BP, Sindu Putra, Syaifuddin Gani, Saut Situmorang, IOA Suwanti Sideman, Bode Riswandi (Puisi); Arie MP Tamba, Terry Eagleton, I. Fahmi Panimbang (Esei); Walt Whitman (Puisi Terjemahan); Aslan A. Abidin (Perbincangan).


1 Februari 2009

Solilokui


Belajar Menulis Tentang Pohon

kesibukan saya yang berkesan saat ini bagi saya adalah melihat pohon. setiap hari, tanpa jadwal pasti, saya melihat pohon. maklum di kampung saya masih ada pohon. saya cukup senang. tapi saya juga cukup sedih. sebab banyak sekali pohon yang dulu ada, kini tak lagi ada. misalnya pohon jarak di halaman rumah mama saya.

setiap kali teringat pohon jarak itu, saya teringat nenek saya. nenek saya itu sudah mati. dan saya jarang menyanyikan lagu burung kakak tua. tapi cerita nenek saya tentang pohon jarak, tetap hidup dalam ingatan saya. kisah nenek, sewaktu zaman penjajahan jepang dulu, nenek kalau mandi sabunnya pakek buah pohon jarak dan kakek tetap mencintai nenek.

setiap kali teringat pohon jarak itu, saya teringat waktu kecil, saya kena sakit campak. mama mengambil daun pohon jarak itu, merendamnya di air. lalu daun pohon jarak yang sudah basah itu di letakan mama di tubuh saya yang diamuk campak.

sekarang di kampung saya sudah tumbuh pohon baru. kalau di malam hari, pohon itu mengeluarkan cahaya, warnanya merah. batang pohon itu terbuat dari besi, tidak berdaun, tidak berakar. pohon besi itu paling tinggi di kampung saya. sebenarnya, saya tidak suka dengan pohon besi itu. burung-burung dan monyet juga tidak suka. itulah sebabnya tidak ada burung-burung dan monyet membuat sarang di sana. tapi kalau pohon besi itu tak ada, saya tidak bisa berbagi kabar dengan teman-teman saya yang jauh dalam tempo sesingkat-singkatnya. dan pulsa di telpon genggam saya akan membusuk.

eh, burung-burung tidak butuh pulsa. monyet juga tidak butuh pulsa. tapi mengapa orang jual pulsa pakek monyet?! ternyata kecantikan luna maya kurang mampu untuk menjual pulsa, jadi butuh bantuan monyet, hehe...

begitulah, kesibukan saya yang berkesan bagi saya: melihat pohon!

dan kesibukan yang paling berkesan bagi saya adalah menanam pohon. setiap kali saya menanam pohon, saya merasa hidup masih ada.

mong-ngomong, kamu sekarang sibuk apa?

31 Januari 2009

Poem

Menyeberang Ke Pulau Pisang

ketika pasang surut
aku menyeberang
di pertemuan dua ombak yang tenang
anak anak karang dalam air
menata jalan ke pulau kecil
pulau terpencil

aku tinggalkan kisahmu, malin
yang membatu
dan bersitegang dengan camar
di pantai pulau besar

ke pulau kecil
pulau terpencil
ke sana, ke sana aku menuju
lepaskan kisah baru
bagi umang-umang si pengusung sarang
yang tak mengenal kata pulang