April, Haiku, Chairil
aku melangkah
di jalan sajak--
bukan buat ke pesta
12 April 2008
25 Maret 2008
Poem
Di Kota Wiji Tukul
kami orang baru,
tersesat di kota hanya satu kata yang hilang.
jalan datang dan pulang sama
asingnya dengan sinuwun gusti dan penunggang kuda
dalam billboard itu. tak ada peta di tangan kami,
orang orang yang ditanya memberi tanda dan arah berbeda,
seperti nasib hanya satu kata itu!
ada ragu tumbuh setiap bertemu simpang
atau jalan baru. tapi kami masih sempat berkelakar—
di atas motor pinjaman—jalan apa pun yang ditempuh
semoga bertemu hanya satu kata.
malam yang memboncengi gerimis, jatuh
di atas jejak satu kata yang tak terlacak.
kami orang baru,
tersesat di kota hanya satu kata yang hilang.
jalan datang dan pulang sama
asingnya dengan sinuwun gusti dan penunggang kuda
dalam billboard itu. tak ada peta di tangan kami,
orang orang yang ditanya memberi tanda dan arah berbeda,
seperti nasib hanya satu kata itu!
ada ragu tumbuh setiap bertemu simpang
atau jalan baru. tapi kami masih sempat berkelakar—
di atas motor pinjaman—jalan apa pun yang ditempuh
semoga bertemu hanya satu kata.
malam yang memboncengi gerimis, jatuh
di atas jejak satu kata yang tak terlacak.
1 Maret 2008
Perss release
sungguh. sebenarnya saya malas memposting yang satu ini. tapi setelah saya pikir, tak apalah, setidaknya ini merupakan tanda waktu, sesuatu yang pernah saya tempuh, dan lumayan bikin haru tapi gak nyampe tersedu-sedu, hehe...
keikutsertaan saya dalam sayembara puisi cinta nyata yang diadakan oleh tabloid nyata, hanya sebuah peristiwa kebetulan--mungkin karena hidup itu sendiri peristiwa kebetulan--koto memberi tahu saya ada lomba dan menyarankan untuk ikut (tengkyu koto dan sukma dan kiting). saya yang pemalas mengirim puisi ke media massa cetak apalagi ikut lomba, pada saat itu menerima tawaran tersebut, di samping hadiah yang lumayan untuk membayar hutang saya yang telah menumpuk, juga menjawab tantangan seorang kawan yang namanya kadang-kadang nongol di halaman koran minggu, dan pernah berkata dengan lantang pada saya: "buktikan dengan karya! kita cari tiga juri dan kita adu puisi kita!" (dengar kabar kawan tersebut ikut pula, tapi maaf, namanya tidak tercantum dalam daftar peserta yang berhak dapat uang, tentu saja setelah dipotong pajak buat pemerintah kita yang 'baik', hehe).
Nah beginilah nasib puisi saya, setelah bertarung dengan 6000 puisi (kata panitia, lho) karya macam-macam orang yang punya lagak macam-macam.
sekali lagi, ini bukan ajang pamer diri, ini hanya tanda waktu sebagaimana puisi yang ngos-ngosan dan enjoy saya tulis selama ini.
Sebagaimana larik puisi Mandan Chairi Anwar: Kerja Belum Selesai
1. Sajak buat Istri yang Buta dari Suaminya yang Tuli, M. Aan Mansyur, Makassar.
2. Lunto Kloof, Cinta Pertama yang Gagal Kuselamatkan, Y. Thendra BP, Yogyakarta.
3. Aku melihatmu Menanti di Depan Rumah, Ni Kadek Ayu Winastri, Kuta-Bali.
4. Kidung Perpisahan, Herry Trunajaya BS, Balikpapan Selatan.
5. Merah jambu Selendang Ibu, Thowaf Zuharon, Yogyakarta.
6. Pernikahan, M Anshor Sja’roni, Waru, Sidoarjo.
PERAIH KARYA TERPUJI
1. Dalam Sekental Kopi, Hamiddin, Sumenep-Madura.2. Dan Ini Cinta Tuhan, Lindung Ratwiawan, Malang.3. Kau Bagiku, Ala Roa, Yogyakarta.4. Requiem: Senyum Berkabung, Kukuh Yudha Karnanta, Surabaya.5. Aku Ingin Menjadi Tua, Rozakky, Bangkalan-Madura.6. Ibu, Aulia Muhammad, Semarang.7. Ziarah Cinta, Nurul Iva Yulia Imawan, Randudongkal-Pemalang.8. Sajak Berlayar, Surasono Rashar, Lumajang.9. Mawarilah Aku, S. Yoga, Ngawi.10. Sepucuk Rinduku Padamu, Nak, Suharyono, Pati.11. Pelukan, M. Aan Mansyur, Makassar.12. Malam Pinangan, M. Badri, Bogor.13. Tiga Soneta Cinta untuk Oneta, Ifull Azka Zulkifliy, Cirebon.14. Hutan Kepala, Joko Gesang Santoso, Sleman-Yogyakarta.15. Aku Perempuan Pelamarmu, Putri hati Ningsih, Laweyan-Sala.16. Bacakan Aku Satu Puisi Cinta, Pay Jarot Sujarwo, Pontianak.17. Cinta di Tanah Perang, Alimuddin, Darussalam-Aceh Besar.18. Bayi, Hariqo Wibawa Satria, Bukittinggi-Sumatera Barat.19. Uterus, Kedung Darma Romansha, Indramayu-Jabar.20. Komposisi Kau dan Aku, Indrayani Puspitasari, Surabaya.21. Petak Umpet, Didi Arisandi, Lampung.22. Dzikir Air, Gema Yudha, Bandung.
keikutsertaan saya dalam sayembara puisi cinta nyata yang diadakan oleh tabloid nyata, hanya sebuah peristiwa kebetulan--mungkin karena hidup itu sendiri peristiwa kebetulan--koto memberi tahu saya ada lomba dan menyarankan untuk ikut (tengkyu koto dan sukma dan kiting). saya yang pemalas mengirim puisi ke media massa cetak apalagi ikut lomba, pada saat itu menerima tawaran tersebut, di samping hadiah yang lumayan untuk membayar hutang saya yang telah menumpuk, juga menjawab tantangan seorang kawan yang namanya kadang-kadang nongol di halaman koran minggu, dan pernah berkata dengan lantang pada saya: "buktikan dengan karya! kita cari tiga juri dan kita adu puisi kita!" (dengar kabar kawan tersebut ikut pula, tapi maaf, namanya tidak tercantum dalam daftar peserta yang berhak dapat uang, tentu saja setelah dipotong pajak buat pemerintah kita yang 'baik', hehe).
Nah beginilah nasib puisi saya, setelah bertarung dengan 6000 puisi (kata panitia, lho) karya macam-macam orang yang punya lagak macam-macam.
sekali lagi, ini bukan ajang pamer diri, ini hanya tanda waktu sebagaimana puisi yang ngos-ngosan dan enjoy saya tulis selama ini.
Sebagaimana larik puisi Mandan Chairi Anwar: Kerja Belum Selesai
1. Sajak buat Istri yang Buta dari Suaminya yang Tuli, M. Aan Mansyur, Makassar.
2. Lunto Kloof, Cinta Pertama yang Gagal Kuselamatkan, Y. Thendra BP, Yogyakarta.
3. Aku melihatmu Menanti di Depan Rumah, Ni Kadek Ayu Winastri, Kuta-Bali.
4. Kidung Perpisahan, Herry Trunajaya BS, Balikpapan Selatan.
5. Merah jambu Selendang Ibu, Thowaf Zuharon, Yogyakarta.
6. Pernikahan, M Anshor Sja’roni, Waru, Sidoarjo.
PERAIH KARYA TERPUJI
1. Dalam Sekental Kopi, Hamiddin, Sumenep-Madura.2. Dan Ini Cinta Tuhan, Lindung Ratwiawan, Malang.3. Kau Bagiku, Ala Roa, Yogyakarta.4. Requiem: Senyum Berkabung, Kukuh Yudha Karnanta, Surabaya.5. Aku Ingin Menjadi Tua, Rozakky, Bangkalan-Madura.6. Ibu, Aulia Muhammad, Semarang.7. Ziarah Cinta, Nurul Iva Yulia Imawan, Randudongkal-Pemalang.8. Sajak Berlayar, Surasono Rashar, Lumajang.9. Mawarilah Aku, S. Yoga, Ngawi.10. Sepucuk Rinduku Padamu, Nak, Suharyono, Pati.11. Pelukan, M. Aan Mansyur, Makassar.12. Malam Pinangan, M. Badri, Bogor.13. Tiga Soneta Cinta untuk Oneta, Ifull Azka Zulkifliy, Cirebon.14. Hutan Kepala, Joko Gesang Santoso, Sleman-Yogyakarta.15. Aku Perempuan Pelamarmu, Putri hati Ningsih, Laweyan-Sala.16. Bacakan Aku Satu Puisi Cinta, Pay Jarot Sujarwo, Pontianak.17. Cinta di Tanah Perang, Alimuddin, Darussalam-Aceh Besar.18. Bayi, Hariqo Wibawa Satria, Bukittinggi-Sumatera Barat.19. Uterus, Kedung Darma Romansha, Indramayu-Jabar.20. Komposisi Kau dan Aku, Indrayani Puspitasari, Surabaya.21. Petak Umpet, Didi Arisandi, Lampung.22. Dzikir Air, Gema Yudha, Bandung.
16 Februari 2008
Poem
Lintas Sumatera
baru sampai kota bumi
pedih itu sudah kutemui. rumah
rumah murung tepi jalan
di rembang petang, seperti
rumput kering menanti
kelahiran hujan.
hanya dari balik kaca, balik kaca
bis yang laju berpenumpang rindu,
sebagaimana smsmu, nafas hutan sakit
ladang sawit, sampai jua ke dada
jadi pebukaan puasa.
baru sampai kota bumi
pedih itu sudah kutemui. rumah
rumah murung tepi jalan
di rembang petang, seperti
rumput kering menanti
kelahiran hujan.
hanya dari balik kaca, balik kaca
bis yang laju berpenumpang rindu,
sebagaimana smsmu, nafas hutan sakit
ladang sawit, sampai jua ke dada
jadi pebukaan puasa.
28 Januari 2008
Poem
Nanti Kampungku Jadi Kaleng Mentega
koto dan sukma. kalau nanti kalian jadi pengantin bulan
aku ingin hadir di pesta kalian. tapi
aku tidak tahu apa nasib waktu kemudian.
sekarang kita bikin sedikit angan-angan dalam ambulan:
kalau aku punya uang, kalian aku undang
di kampungku makan lemang, mendaki bukit silungkang.
apa kalian pernah melihat meditasi air di langit-langit ngalau?
ratusan tahun lamanya ia bertahan dalam sunyi hingga menyusun dirinya
jadi ornamen yang lebih indah dari bangunan apa pun orang
kota ciptakan. baiklah, nanti kita jalan-jalan ke sisawah.
memudik air di bawah cahaya matahari yang disaring daun daun,
mendengar suara batu agung (gerbang kampung); suara akar, tebing, tanah,
arus sungai; burung punai, babi hutan, harimau daun, ular, siamang, biawak, kucing air;
cindaku, sijundai, sibigau. apalagi ya? alamak!
angin ternyata menyimpan banyak suara tak tergambarkan
campur aduk dengan suara kesedihan
yang setengah mampus kita tuliskan.
sunlie, kiting, fahmi, mau ikut juga? ajaklah siapa saja
asal jangan kalian bawa pemerintah. aku takut nanti kampungku
jadi seperti kampung komang ira. nanti aku harus beli tiket masuk
untuk berkunjung ke negeri leluhurku sendiri.
nanti kampungku jadi kaleng mentega.
koto dan sukma. kalau nanti kalian jadi pengantin bulan
aku ingin hadir di pesta kalian. tapi
aku tidak tahu apa nasib waktu kemudian.
sekarang kita bikin sedikit angan-angan dalam ambulan:
kalau aku punya uang, kalian aku undang
di kampungku makan lemang, mendaki bukit silungkang.
apa kalian pernah melihat meditasi air di langit-langit ngalau?
ratusan tahun lamanya ia bertahan dalam sunyi hingga menyusun dirinya
jadi ornamen yang lebih indah dari bangunan apa pun orang
kota ciptakan. baiklah, nanti kita jalan-jalan ke sisawah.
memudik air di bawah cahaya matahari yang disaring daun daun,
mendengar suara batu agung (gerbang kampung); suara akar, tebing, tanah,
arus sungai; burung punai, babi hutan, harimau daun, ular, siamang, biawak, kucing air;
cindaku, sijundai, sibigau. apalagi ya? alamak!
angin ternyata menyimpan banyak suara tak tergambarkan
campur aduk dengan suara kesedihan
yang setengah mampus kita tuliskan.
sunlie, kiting, fahmi, mau ikut juga? ajaklah siapa saja
asal jangan kalian bawa pemerintah. aku takut nanti kampungku
jadi seperti kampung komang ira. nanti aku harus beli tiket masuk
untuk berkunjung ke negeri leluhurku sendiri.
nanti kampungku jadi kaleng mentega.
Langganan:
Postingan (Atom)