16 Februari 2008

Poem

Lintas Sumatera

baru sampai kota bumi
pedih itu sudah kutemui. rumah
rumah murung tepi jalan
di rembang petang, seperti
rumput kering menanti
kelahiran hujan.

hanya dari balik kaca, balik kaca
bis yang laju berpenumpang rindu,
sebagaimana smsmu, nafas hutan sakit
ladang sawit, sampai jua ke dada
jadi pebukaan puasa.

28 Januari 2008

Poem

Nanti Kampungku Jadi Kaleng Mentega

koto dan sukma. kalau nanti kalian jadi pengantin bulan
aku ingin hadir di pesta kalian. tapi
aku tidak tahu apa nasib waktu kemudian.
sekarang kita bikin sedikit angan-angan dalam ambulan:
kalau aku punya uang, kalian aku undang
di kampungku makan lemang, mendaki bukit silungkang.
apa kalian pernah melihat meditasi air di langit-langit ngalau?
ratusan tahun lamanya ia bertahan dalam sunyi hingga menyusun dirinya
jadi ornamen yang lebih indah dari bangunan apa pun orang
kota ciptakan. baiklah, nanti kita jalan-jalan ke sisawah.
memudik air di bawah cahaya matahari yang disaring daun daun,
mendengar suara batu agung (gerbang kampung); suara akar, tebing, tanah,
arus sungai; burung punai, babi hutan, harimau daun, ular, siamang, biawak, kucing air;
cindaku, sijundai, sibigau. apalagi ya? alamak!
angin ternyata menyimpan banyak suara tak tergambarkan
campur aduk dengan suara kesedihan
yang setengah mampus kita tuliskan.


sunlie, kiting, fahmi, mau ikut juga? ajaklah siapa saja
asal jangan kalian bawa pemerintah. aku takut nanti kampungku
jadi seperti kampung komang ira. nanti aku harus beli tiket masuk
untuk berkunjung ke negeri leluhurku sendiri.
nanti kampungku jadi kaleng mentega.

6 Desember 2007

Poem

Jalan Wirobrajan

jalan ini padat dan pedas
malam melintas gegas
hanya sejenak
sepi yang sejenak
kami bertegur pandang:
aku dan makam tua di seberang.

26 November 2007

Poem

Merak-Bakauheni

angin jalang
matahari lajang
laut bercermin di langitmu
siang hampir matang
ahk! semua lapar
usus menjerit
seperti tulang tulang ikan di terumbu karang
masih jauhkah pelabuhan itu?
semua ingin sampai
rindu ingin digapai
tapi kapal ini begitu lambat
congkak dan tua
seperti pemerintah
mengigau
atas cahaya bawah laut

gunung krakatau itu tampak tenang?
sesungguhnya tidak, seperti dirimu
menyimpan larva duka cinta

22 November 2007

Poem

Sawahlunto

dari taman rumah sakit di ketinggian, di antara
bau luka rumput dan tabung infus, kita lihat
sebatang sungai kurus dan kumal
bagai pemabuk mengalir sempoyongan
melintasi kota lembah yang terbuat
dari sperma belanda. lengking peluit
kereta batu bara penghabisan masih mengiang dan
melayang antara bukit mata air dan puncak polan
dalam senja berlemak. kualihkan pandangmu
pada menara angin: rumah hantu masa lampau.
kemudian percakapan kita melangkah ke bawah
bersama malam berminyak.

di depan gereja tua dan pengantuk
mataku terantuk pada punggung
pengendara motor tak dikenal
yang melintas begitu cepat seperti tingkap
seperti pintu rumah dikunci, di sini, sebelum tetes
embun pertama jatuh dari mata bintang bintang
menamatkan riwayat malam yang kesepian. ah,

begitu lekas segala lalu. sementara
aku tak tahu bagaimana kau hidup dengan kaki terantai
di atas lubang lubang tambang yang terbengkalai.
mungkin, parfum murahan, musik yang mengalir dari telpon genggam,
buklet pariwisata dalam tas hitam, sedikit menjagamu
dari ketiadaan.