<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307</id><updated>2012-01-15T12:46:46.536+07:00</updated><title type='text'>Langit Puisi-Y. Thendra BP</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>87</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-6926463652892267081</id><published>2011-12-02T23:52:00.000+07:00</published><updated>2011-12-02T23:52:38.622+07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sajak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cahaya musim hujan di lampu jalan. malam panas bersalin malam dingin.&lt;br /&gt;kata-kata terus membocengi cuaca, melaju ke yang tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;aku teringat padamu, aku teringat...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;lolong anjing impikan tulang dalam daging. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-6926463652892267081?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/6926463652892267081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=6926463652892267081&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6926463652892267081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6926463652892267081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2011/12/puisi_02.html' title='Puisi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-549360674211399404</id><published>2011-10-23T01:39:00.002+07:00</published><updated>2011-12-17T08:56:30.808+07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;Malam yang Berangin&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam yang berangin. akan aku ingat malam itu&lt;br /&gt;sebagai yang berangin&lt;br /&gt;lehermu dan pantai&lt;br /&gt;suara ombak dan bau dupa&lt;br /&gt;menyatu di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam itu aku meletakan kata-kataku di dalam pasir&lt;br /&gt;seperti penyu menyimpan telurnya.&lt;br /&gt;dan apabila aku terlalu tua untuk bermimpi&lt;br /&gt;kata-kataku akan menetas menjadi sajak&lt;br /&gt;mencarimu di dalam laut&lt;br /&gt;di antara ganggang, bangkai kapal,&lt;br /&gt;dan anggur yang terperangkap dalam botol tua&lt;br /&gt;berlumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila suatu hari sajakku tak lagi menyentuhmu&lt;br /&gt;bila suatu hari sajakku membuatmu jemu--&lt;br /&gt;seperti payudara dalam beha, tak henti&lt;br /&gt;menyelundup dari satu gaun ke lain gaun--&lt;br /&gt;lupakan aku, lupakanlah&lt;br /&gt;meskipun dalam sajakku tersimpan&lt;br /&gt;helai rambutmu yang lepas&lt;br /&gt;di malam berangin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi bila kau datang lagi ke dalam pelukanku&lt;br /&gt;di bawah langit tak berbatas,&lt;br /&gt;ah kamulah sajak sesungguhnya,&lt;br /&gt;aku tulis dengan garis nasib tangan.&lt;br /&gt;hingga hari berangin&lt;br /&gt;tulangku&lt;br /&gt;tulangmu&lt;br /&gt;kaku&lt;br /&gt;dingin&lt;br /&gt;jadi karang&lt;br /&gt;di pantai&lt;br /&gt;lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-549360674211399404?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/549360674211399404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=549360674211399404&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/549360674211399404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/549360674211399404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2011/10/puisi.html' title='Puisi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-3311687289243583004</id><published>2011-07-25T04:36:00.000+07:00</published><updated>2011-07-25T04:38:47.845+07:00</updated><title type='text'>Esei</title><content type='html'>Sahabat yang baik, berikut ini ulasan buku puisi &lt;i&gt;Manusia Utama (IBC 2011)&lt;/i&gt; oleh Damhuri Muhammad yang dimuat di rubrik Khazanah (hal 25) Pikiran Rakyat, Minggu, 24 Juli 2011. Selamat menikmati dunia puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ari-ari Puisi&lt;br /&gt;Damhuri Muhammad*&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fisik, ari-ari tak lebih dari selaput pelindung janin semasa di rahim ibu. Ari-ari adalah pangkal dari segala macam obsesi, busur yang melesatkan anak panah harapan, doa, dan cita-cita. Selepas prosesi kelahiran yang melelahkan, bukankah banyak syarat-rukun yang mesti dipenuhi sebelum ari-ari dikuburkan? Bila menginginkan watak luhur yang disukai banyak orang, maka serakkan lah kembang tujuh-rupa dalam wadah ari-ari. Mendambakan kejeniusan yang pilih tanding? Sertakan pensil dan buku. Atau bilamana menginginkan jiwa petualang, bubuhkan pasir dari tujuh muara. Untuk syarat yang disebutkan terakhir, percaya atau tidak, bila sudah tiba saatnya, seorang anak akan melesat bagai pelor yang ditembakkan dari muncung senapan laras panjang. Pergi sejauh-sejauhnya, dan jangan harap ia bakal pulang. Ia petualang sejati, yang segera melupakan jalan pulang. Lupa kembali ke pangkal jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah panggilan penciptaan sajak bertajuk  “Bangkinang” dalam antologi &lt;i&gt;Manusia Utama (IBC 2011) &lt;/i&gt;karya terkini penyair muda Y. Thendra BP, &lt;i&gt;pernah sekali/angin dini hari/menyusup lewat jendela bis/yang tak terkunci/menegur aku/menoleh pada tanah kelahiran itu/tapi tak tahu aku/di bawah pohon apa ibu/menanam ari-ariku/dan bis terus melaju.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat saya, perhatian utama sajak ini adalah ari-ari. Sejarah mula-mula, muasal paling purba dari sebuah identitas. Tiada satu pun teori yang dapat menakar sejauhmana signifikansi ketercapaian obsesi dan cita-cita itu, kelak di kemudian hari. Namun, pengharapan dan hasrat selalu saja hendak dilekatkan pada ari-ari, dari satu kelahiran ke kelahiran yang baru. Maka, sajak ini adalah sebuah ikhtiar penggalian kenangan yang nyaris hilang perihal dunia ari-ari, atau lebih jauh, sebuah pemancangan tanda bahwa di bawah "pohon yang entah di mana" itulah segala macam tarikh manusia bermula. Kecenderunga semacam inilah dalam bahasa filsuf Jacques Ranciere (2010) disebut &lt;i&gt;petrification,&lt;/i&gt; upaya pembatuan kenangan, pemosilan sebuah peristiwa yang nyaris tertimbun oleh debu dan residu sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak-sajak yang terbuhul dalam antologi Manusia Utama itu sebagian besar─bila tak dapat disebut dominan─bermula dari sejumlah peristiwa perjalanan, baik perjalanan spasial-temporal maupun mental-transendental. Tengoklah pula sajak bertajuk “Di Jembatan Siti Nurbaya,” yang menegaskan sebuah afirmasi betapa latennya pengaruh &lt;i&gt;the power of imagination.&lt;/i&gt; Betapa tidak? Hingga esai ini dinukilkan, di belahan Indonesia manapun, bila ada peristiwa kawin-paksa, selalu saja muncul hasrat melawan yang direpresentasikan dengan ungkapan: “Ah, ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan saya, dalam ranah historiografi kita, kapan sesungguhnya kurun yang patut disebut zaman Siti Nurbaya itu? Sama sekal tidak bisa ditandai bukan? Inilah bukti paling absah dari upaya pemfosilan sebagaimana disinyalir Ranciere. Sedemikian besarnya pengaruh pembatuan itu, di Ranah Minang masa kini─ latar tempatan roman karya Marah Rusli itu─bahkan ada kuburan Siti Nurbaya (entah siapa yang berinisiatif menggali dan menuliskan &lt;i&gt;efitap&lt;/i&gt;-nya), ada umat yang rutin berziarah ke sana, mendoakan keselamatan arwah Siti Nurbaya. Ada pula jembatan yang diberi nama “Siti Nurbaya”, yang kemudian menjadi &lt;i&gt;asbab al-wurud&lt;/i&gt; sajak Y. Thendra B.P:&lt;i&gt; siti, muara teramat senja/mengalir di bawah rambutmu/mengingat kasih menggenggam/untuk melepas. Sajak ini, lagi-lagi hendak membendakan sebuah kenangan yang bermuasal dari dunia bernama imajinasi, dunia khayali.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan yang lain, tak lupa Thendra menyinggahi kampung halaman, Minangkabau selepas megabencana, gempa yang tak hanya mengakibatkan korban manusia, tapi juga kemanusiaan, sebagaimana ternukil dalam sajak “Kepada Farits dan 30 September 2009.” Pada sajak itu, penyair tak sekadar singgah, lalu memotret semesta duka sebagaimana kerja seorang pewarta. Tidak! Subjek penyair berada dalam ketegangan antara penyelamat dan korban. Ia &lt;i&gt;survivor,&lt;/i&gt; sekaligus korban. aku sanggup melupakan yang datang/tapi tak sanggup melupakan yang pergi. Rumah kalau mau rubuh rubuh lah, sawah-ladang amblas lah, namun masih mujur nyawa dapat terselamatkan. Bukankah selalu begitu kita mencari yang luhur dari setiap musibah yang datang tiba-tiba? Ada yang luhur dalam petaka. Inilah yang barangkali disebut Mikhail Bakhtin (1895-1975) dengan konsep “Karnaval.” Ada terang dalam gelap, ada riuh dalam sunyi. Dalam batas-batas tertentu, subjek pembaca bisa berpihak pada pemegang kuasa bencana, karena lantaran musibah yang telah menyebabkan kematian, yang tak pernah terpanggil untuk menengok kampung halaman akan datang, yang tercerai-berai bakal tersambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di titik manakah tualang kepenyairan bakal berlabuh? Di dunia kepenyairan, bukan perjalanan lagi namanya bila gerak petualangan itu sudah berhenti. Namun, sajak yang hendak membendakan kenangan dari setiap perjalanan (Merak-Bakauheni, Tanjung Pinang, Papua, Jalan Lintas Sumatera, Bangkinang, dll) tentu bukan sekadar perjalanan spasial-temporal yang tak menyisakan &lt;i&gt;memorable-line.&lt;/i&gt; Bila itu yang terjadi, maka sajak-sajak dalam antologi itu akan jatuh sebagai &lt;i&gt;feature &lt;/i&gt;perjalanan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, mengingat Thendra telah memaklumatkan jalan sajaknya sebagai jalan “yang bukan buat ke pesta” (April, Haiku, Chairil), maka riwayat perjalanannya tak lagi sekadar singgah dari kota ke kota, berlabuh dari pelabuhan ke pelabuhan, melainkan perantauan yang berangkat dari sebuah obsesi, pencapaian, tujuan, sebagaimana obsesi seorang ayah saat menguburkan ari-ari bayinya. Bila tidak, maka perjalanan tanpa haluan, tanpa tujuan, sesungguhnya lebih pantas disebut pelarian…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;* Esais, penyuka sajak&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-3311687289243583004?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/3311687289243583004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=3311687289243583004&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3311687289243583004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3311687289243583004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2011/07/esei_24.html' title='Esei'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-8076572386408920598</id><published>2011-07-18T03:07:00.000+07:00</published><updated>2011-12-16T01:52:50.206+07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;Bunga Padi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;engkaulah bunga padi, &lt;br /&gt;tumbuh di ladang sepiku.&lt;br /&gt;angin menyalakan malaimu, &lt;br /&gt;di bawah langit tak berbatas&lt;br /&gt;pikiran sari muncul dari lemma &lt;br /&gt;dan palea yang terbuka,&lt;br /&gt;hari menjadi adalah &lt;br /&gt;bulir emas yang merunduk &lt;br /&gt;kerna berisi di hatimu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berisi di hatiku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o, mekarnya mekar, mekarlah...&lt;br /&gt;kulantunkan litani&lt;br /&gt;di lembah sungai yangtze.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-8076572386408920598?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/8076572386408920598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=8076572386408920598&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8076572386408920598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8076572386408920598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2011/07/puisi.html' title='Puisi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1135407194497986519</id><published>2011-07-14T21:16:00.000+07:00</published><updated>2011-07-14T21:17:43.270+07:00</updated><title type='text'>Esei</title><content type='html'>&lt;i&gt;Boleh dibilang, puisi merupakan genre sastra yang paling banyak ditulis sekarang ini di Negeri Rayuan Pulau Kelapa, baik oleh penulis sekadar maupun penulis sungguhan. Apalagi makin beragamnya media publikasi, dan semakin mudahnya akses  untuk menjadikan puisi sebagai buku, baik antologi bersama maupun antologi tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini menunjukan bahwa puisi sudah memasyarakat atau jangan-jangan karena puisi "dianggap" mudah ditulis karena tak butuh "mengetik" kata berjela-jela hingga ratusan halaman, sebagaimana kelakar Wina Bojonegoro saat kami bertemu di Surabaya (Mei, 2011):"menulis puisi itu yang dibutuhkan cuma kopi, rokok, kertas, dan pena. Beda dengan novel yang butuh penelitian"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kelakar Wina tersebut berlaku bagi dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, menulis puisi selain butuh penelitian, juga butuh "yang lain". Dan ketika puisi tersebut sudah dijadikan buku, bagi saya, ia harus bicara dan harus dibicarakan. Tentu saja ini bukan kerja yang mudah di tengah minimnya apresiasi secara teks. Saya mengucapkan terima kasih kepada mereka yang sudi mengapresiasi buku puisi saya "Manusia Utama" (IBC, April 2011) secara teks, dengan berbagai tanggapan dan bentuk ulasan. Dalam hal ini saya percaya, "Jika kita mau menghidupkan tradisi apresiasi puisi secara teks, ia akan hidup". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berikut ini tulisan Dwi Pranoto yang membahas buku puisi "Manusia Utama" dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Kelompok Tikungan di Warung Gubuk, Selasa (18/5) malam, di Jember. Saya bagikan ulang kepada sahabat yang hadir maupun tak sempat hadir dalam acara tersebut, agar peristiwa puisi (sastra) mesti dicatet mesti dapat tempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Membaca Thendra Berkaca pada Chairil&lt;br /&gt;oleh Dwi Pranoto&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan dua baris pernyataan Chairil Anwar,&lt;i&gt; Aku suka pada mereka yang berani hidup / Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam&lt;/i&gt; yang termuat di lembar halaman setelah halaman penerbit – ini berarti sebelum kita berhadapan langsung dengan puisi-puisi dalam kumpulan puisi &lt;i&gt;Manusia Utama (MU)&lt;/i&gt; – seolah memberi tahu puisi-puisi seperti apa yang bakal kita baca setelahnya. Benarlah, walaupun tak sepenuhnya, setidaknya pilihan diksi, irama, dan suasana sejumlah puisi dalam &lt;i&gt;MU&lt;/i&gt; mengingatkan kita pada beberapa puisi si binatang jalang itu. Sebagaimana puisi-puisi Chairil yang disusun dari pilihan kata-kata yang lugas dan tandas dengan larik-larik pendek yang tajam, puisi-puisi seperti &lt;i&gt;Solilokui, Bangkinang, Bila Kita Jadi Tua Bersama , Merak – Bakauheni&lt;/i&gt; yang terhimpun dalam &lt;i&gt;MU&lt;/i&gt; juga demikian. Y. Thendra BP juga sering menggunakan istilah sehari-hari, kadang percakapan biasa, yang selanjutnya berubah menjadi alam imaji. Namun, jika Chairil menggabungkan percakapan sehari-hari dengan metafora, Thendra lebih banyak menggabungkan percakapan sehari-hari dengan sinekdoke. Daripada “menyembunyikan” makna lain dalam kalimat metafora, Thendra lebih memilih menyusun kalimat dari kata-kata yang punya bobot pembangun suasana guna membuat keseluruhan dari sebagian. Puisi&lt;i&gt; Kepada N&lt;/i&gt; dimulai dengan tujuh baris yang menggunakan kata-kata dalam percakapan biasa namun mampu mengungkapkan suasana kerinduan dengan menggabungkannya bersama pilihan kata-kata yang menyusun kalimat sinekdoke; &lt;i&gt;jam berdentang dan malam jadi bayang&lt;/i&gt; menggambarkan waktu berjalan muram disusul dengan matanya yang bulat, bibirnya yang manis –  melukiskan seseorang (wanita) dengan menyebutkan sebagian anggota tubuhnya – dengan diantarai oleh sebuah pertanyaan yang menegaskan kerinduan akankah ia kembali datang seperti memperkenalkan kepada siapa ia merindu. Yaitu kepada seseorang yang bisa memberikan penerangan dan ketenangan; sebagaimana mata bulat yang benderang itu menyibak keremangan kabut dan bibir manis yang lembut meredam gemuruh suara pesawat dan kehadiran orang yang memiliki mata dan bibir demikian itu juga diharapkan bisa mencerahkan waktu yang berjalan muram “saat ini”. Jadi fungsi larik kalimat &lt;i&gt;akankah ia kembali datang?&lt;/i&gt; itu bukan hanya menegaskan kerinduan, tapi sekaligus menghubungkan waktu kini dan waktu lalu yang tersimpan dalam ingatan. Pada bait kedua waktu yang berjalan muram itu kembali dinyatakan dengan mengulang baris pertama dan kedua pada bait pertama. Sementara fungsi &lt;i&gt;akankah ia kembali datang?&lt;/i&gt; digantikan oleh bagaimana aku melupakan. Perasaan rindu semakin pekat mengental di bait kedua ini dengan ditandai oleh permainan pengulangan yang membuat waktu seolah membeku. Untuk bait terakhir yakni bait ketiga yang terdiri dari dua baris merupakan kesimpulan yang mengingatkan kita pada sejumlah puisi Chairil seperti &lt;i&gt;Sia-sia&lt;/i&gt; dan&lt;i&gt; Kawanku dan Aku&lt;/i&gt; yang diakhiri dengan kesimpulan yang tandas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Chairil Anwar yang menolak diikat cinta, lebih memilih dengan sadar menjauhinya dan menjadi individu merdeka yang bebas menghisap habis nafsu badani meski harus diganjar perih, seperti diungkapkan dalam salah satu puisinya, &lt;i&gt;Sia-sia.&lt;/i&gt; Thendra sebaliknya, ia ditinggalkan cinta. Sejumlah sajak bertema cinta dalam MU, seperti &lt;i&gt;Lunto Kloof&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Kepada N, Di Jembatan Siti Nurbaya, Lempuyangan,&lt;/i&gt; mengungkapkan nganga luka yang membuat sepi karena cinta yang menjauh-menjauh. Bahkan dalam puisi &lt;i&gt;Di Jembatan Siti Nurbaya&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Tanpa Judul&lt;/i&gt; menjadi cinta yang platonis. Cinta menjadi nampak lebih agung ketika belaka dibayangkan seperti dituliskan dalam dua baris di bait terakhir dalam &lt;i&gt;Di Jembatan Siti Nurbaya&lt;/i&gt;; &lt;i&gt;tak dilahir bersatu /di batin bertaut jua; atau empat baris terakhir dalam Tanpa Judul&lt;/i&gt;; dan &lt;i&gt;cukup bahagia/meski hanya bisa/mengakrabi alis matamu/dari jauh&lt;/i&gt;. Namun begitu ia juga mendendangkan cinta sederhana dalam &lt;i&gt;Bila Kita Jadi Tua Bersama&lt;/i&gt; yang bisa dibandingkan cinta sederhananya Chairil dalam &lt;i&gt;Di Taman.&lt;/i&gt; Tapi pada Thendra cinta sederhana itu tumbuh setelah nafsu badani padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa lalu yang gemilang dan kampung halaman yang menenangkan barangkali menjadi impian para penyair Indonesia yang tak pernah hapus sejak tahun 1920-an ketika kemoderenan masih menjadi pengalaman yang begitu belia. Demikian juga dengan Thendra, modernisme hari ini telah melemparkannya pada kebimbangan panjang untuk menemukan diri sendiri ditengah puing-puing identitas tradisional yang pecah di kota-kota besar Indonesia. Pulang menjadi suatu gagasan yang rawan ketika kampung halaman pun kini telah menghilang. Dalam puisi &lt;i&gt;Bangkinang&lt;/i&gt; misalnya, kampung halaman tak lagi dikenali dengan penuh karena ia hanya memandangnya dari dalam bis yang laju. Kampung halaman memang menegurnya, tapi ia telah kehilangan sebagian dirinya di kampung halaman itu dan tak ada waktu lagi untuk mencari; &lt;i&gt;tapi tak tahu aku/di bawah pohon apa ibu/menanam ari-ariku/dan bis terus laju.&lt;/i&gt; Pilihan kata “menegur” daripada “memanggil” di sini menjadi penting untuk menandai penyifatan sapaan kampung halaman. Sementara dalam &lt;i&gt;Solilokui&lt;/i&gt; kepulangan menjadi sesuatu yang asing karena perubahan; &lt;i&gt;lampu-lampu hotel/lampu-lampu reklame/ bikin asing pada kepulangan &lt;/i&gt;– . Bahkan dalam&lt;i&gt; Ngai Oi Ngi&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Manusia Pergi&lt;/i&gt; pulang menjadi sesuatu yang mustahil. Dalam &lt;i&gt;Disebabkan Humor&lt;/i&gt; kebiasaan lama menghormati leluhur pada akhirnya harus menyesuaikan diri dengan perubahan modernitas yang dilambangkan dengan mall jika ingin masih terus dilakukan. Tentu &lt;i&gt;Disebabkan Humor&lt;/i&gt; merupakan puisi sindiran yang pahit, demikian juga dengan ironi sinis yang dimainkan dalam&lt;i&gt; Sepatu dan Tuhan Impor Buat Kaki Dunia Ketiga&lt;/i&gt; yang diungkapkan dengan menyajikan kontras antara sepatu impor dan es cendol yang kemudian ditutup dengan buku pascakolonial yang seolah mengisyaratkan suatu kontradiksi yang tak tersembuhkan. Bagaimanapun, hal-hal di atas menggambarkan suatu pendirian yang berada di garis perbatasan yang mana sebelah kaki berada di masa lalu sementara sebelah lagi menjejak masa kini. Persis tak sama dengan Chairil yang meneriakkan kata putus dengan masa lalu dengan segala norma komunalnya dan memutuskan menjadi individu tanpa terikat dengan apapun. Tentu kita sama tahu kalau pendirian Chairil ini telah mendapat cibiran bertubi sebagai individu yang bertanah air Eropa, terutama oleh angkatan sesudah 40-an dengan Ajip Rosidi sebagai juru bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini modernisme seolah menemukan dirinya yang “baru” setelah usainya perang dingin dan kapitalisme liberal muncul sebagai kekuatan dominan yang hampir tanpa tertahan lagi merangsek ke seluruh permukaan bumi (sebagian orang lebih menyebutnya sebagai masa pasca modern). Invasi agresif perusahaan-perusahaan multinasional untuk membuka pasar baru bukan hanya menyasar ruang-ruang fisik atau geografis. Lebih dari itu, mereka juga telah masuk jauh ke dalam “imajinasi” dan berupaya menduduki identitas komunal yang dipusakakan oleh masa lalu seperti simbol-simbol ikatan etnik dan sejenisnya. Hal yang membuat globalisme nampak sebagai pecahan-pecahan lokalitas yang bangkit kembali setelah masa tidur panjang dalam selubung uniformitas modernism lama. Namun, orientalisme baru ini menitikberatkan pembangkitan lokalitas pada diri individu daripada kerjasama komunal yang ditandai dengan tumbuh maraknya budaya &lt;i&gt;life style.&lt;/i&gt; Artinya, munculnya simbol-simbol etnis bukan menandai suatu praktik budaya yang dilandasi oleh semangat etnisitas. Tapi lebih merupakan pilihan individu untuk menjalani hidup di bawah suatu panji-panji tertentu tanpa harus menerima konsekwensi-konsekwensi tertentu yang merupakan akibat dari pilihannya. Pengosongan biohistoriografi komunal nampaknya berupaya diisi oleh kaum “pemberontak” penentang keserakahan kapitalisme lanjut dengan politik. Maka kita kemudian bisa membaca puisi &lt;i&gt;Manusia Utama&lt;/i&gt; sebagai ungkapan hilangnya kearifan lokal bersama pemiskinan material yang disebabkan oleh pengurasan sumber daya alam. Istilah-istilah lokal (saya duga dari Papua) yang banyak bertebaran di sekujur puisi &lt;i&gt;Manusia Utama &lt;/i&gt;merupakan ungkapan simpati yang amat dalam pada apa yang terjadi disamping memberikan pengangkuan keberadaan identitas lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernism atau pasca modernisme merupakan semacam mesin penghancur masa lalu. Mesin yang mengasingkan individu dari biohistoriografi komunalnya sendiri. Seperti yang terungkap dalam puisi &lt;i&gt;Urban&lt;/i&gt;, bahwa hilangnya pohon dan udara yang sering diasosiasikan pada kehidupan tradisi etnis yang alami (damai) yang diganti oleh lambang-lambang modernitas yakni beton dan uang telah mencederai individu atau manusia yang dinyatakan sebagai membakar tangan atau merupakan unsur yang asing bagi tubuh hingga ditanggapi dengan menolak, terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernisme atau pasca modernisme atau masa kapitalisme lanjut bukan hanya telah merampas masa lalu, sekaligus juga menciptakan ketimpangan dalam relasi produksi yang mengakibatkan tak terpenuhinya kesejahteraan. Dalam puisi &lt;i&gt;Manusia 10 Jam Sehari &lt;/i&gt;yang bertitimangsa 2011 tergambarkan bagaimana seorang buruh yang hidup dalam penghisapan majikan. Namun, yang agak ganjil adalah ketika kata “proletariat” yang dapat diasosiasikan pada perjuangan radikal (kiri) digabungkan dengan kata “bunga-bunga” yang dapat diasosiasikan pada suatu hal yang berhubungan dengan kelembutan, sebagaimana juga penggabungan “kupu-kupu” dengan “mata merah”. Apakah hal ini menyiratkan suatu jiwa pemberontakan yang tertahan ataukah jiwa pemberontakan yang coba dikendalikan radikalitasnya dengan membasuhkan suatu kelembutan padanya? Hal yang pasti adalah puisi-puisi yang dihimpun dalam &lt;i&gt;Manusia Utama&lt;/i&gt; seperti hendak menerakan kebimbangan antara kehidupan individu yang bebas dengan kehidupan sosial yang menghendaki suatu perikatan, antara masa kini dan masa lalu, yang mana kontradiksi itu hidup berpenjelang masa depan yang tak pasti. Aku kira penyusunan 42 puisi dalam &lt;i&gt;Manusia Utama&lt;/i&gt; yang tak mengindahkan pengelompokan tema dan urutan titi mangsa penulisannya mengisyaratkan hilangnya pembedaan ruang-ruang pribadi dan sosial. Melelehnya sekat-sekat ruang atau lebih tegas lagi hapusnya sekat-sekat ruang yang hendak menyepadani ruang-ruang maya yang diciptakan oleh pencapian tekhnologi media informasi. Tibanya suatu masa ketika reproduksi artistik makin mengandalkan tekhnik mimikri yang menggarap ulang karya-karya lama tanpa perasaan simpati yang rahasia pada karya-karya yang digarap ulang tersebut. Tak ada rangsang satiris pada puisi Retrospeksi &lt;i&gt;Lagu Kanak-kanak&lt;/i&gt; yang menggarap ulang lagu Burung Kakak Tua, tak juga dalam &lt;i&gt;Lagu Lama&lt;/i&gt; yang menggarap ulang pribahasa lama Bagai pungguk merindukan bulan, begitu juga dengan &lt;i&gt;April, Haiku, Chairil&lt;/i&gt;. Semua penggarapan ulang ini hanya berlandas pada hasrat bermain-main. Setidaknya begitulah yang aku duga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chairil tak hadir sebagai simpati rahasia atau rangsang satiris dalam&lt;i&gt; Manusia Utama,&lt;/i&gt; kecuali denyar-denyar stilistiknya yang itupun tak pekat benar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1135407194497986519?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1135407194497986519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1135407194497986519&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1135407194497986519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1135407194497986519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2011/07/esei.html' title='Esei'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-6745832075206398119</id><published>2011-05-24T12:31:00.000+07:00</published><updated>2011-05-24T12:40:16.840+07:00</updated><title type='text'>Apresiasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sabtu, 21 Mei 2011, jam 19.00, Beranda 57 bekerjasama dengan Teater Kappas SMA Pasundan 2 Tasikmalaya menggelar bedah buku puisi "Manusia Utama" (IBC, Mei 2011) karya penyair Yogyakarta, Y. Thendra BP. Bertempat di aula kampus SMA Pasundan 2 Tasikmalaya, acara ini dimeriahkan oleh pembacaan puisi, diskusi, dan bajigur party, dihadiri oleh para seniman Tasikmalaya dan kalangan pecinta sastra. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sarabunis Mubarok&lt;/span&gt;, penyair dan pemerhati sastrawati yang Aktif di Sanggar Sastra Tasik (SST)dan Komunitas Azan, menjadi pemantik diskusi malam itu. Berikut tulisan doi yang dijadikan pemantik diskusi dan dimuat di Radar Tasikmalaya, Minggu, 22 Mei 2011.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PUISI DAN TUSIRAN PERISTIWA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Oleh Sarabunis Mubarok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca antologi puisi ‘Manusia Utama’ karya Y. Thendra BP, saya mungkin tidak begitu kagum dengan bentuk-bentuk puisi yang ada di dalamnya. Secara teknik dan bentuk penulisan, puisi-puisi dalam antologi ini adalah sesuatu yang sangat umum ditulis oleh penyair-penyair mapan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun lepas dari bentuk penulisannya, mau tak mau saya tetap harus memuji Thendra dalam hal kemampuannya mencatat peristiwa. Penyair dengan kesadaran yang baik mampu membebaskan peristiwa untuk berbicara tengtang realitasnya. Peristiwa-peristiwa tersebut berloncatan dalam dunia barunya, yaitu puisi. Ia bebas bergerak, menangis, tertawa, bergumam atau berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mudah memeroleh kesadaran mengemas sebuah peristiwa untuk bisa berbicara realitasnya sendiri melalui puisi. Dan penyair memang semestinya tidak melulu harus mencampur banyak hal untuk membumbui suatu peristiwa supaya menjadi puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah peristiwa yang ditusir si penyair ke dalam puisi dengan jarak yang telalu dalam, akan menyebabkan melimpahnya distrorsi kreativitas. Meskipun mungkin akan terasa sangat dramatis, namun sebagian realitas menjadi kabur atau seakan-akan dikaburkan. Dan hal seperti ini mennyebabkan puisi terjebak di lorong yang gelap. Kekuatan realitasnya menjadi sulit dinikmati, atau mungkin menjadi tak ternikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya jika sebuah peristiwa ditusir penyair dalam jarak yang terlalu dekat, akan menyebabkan puisi kehilangan sudut pandang. Lalu puisi akan terasa sangat cair. Puisi menjadi terlalu apa adanya, dengan kretivitas yang apa adanya pula. Ketika realitas sebuah peristiwa begitu terang, puisi menjadi tak lebih dari sebuah catatan jurnalistik belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam antologi ini, penyair memiliki kehati-hatian yang baik. Thendra  menempatkan peristiwa dalam puisi dengan jarak tusir yang terjaga. Tidak terlalu jauh sekaligus tak terlalu dekat dengan peristiwa yang ditusirnya. Sebuah kesadaran yang baik untuk menjaga puisi agar tidak kehilangan rasa realitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara auditif, puisi-pusi Thendra juga enak dibaca dan enak didengar. Selain ada banyak rima yang bermain cukup apik,  pada banyak puisinya ia juga cermat membagun dialog yang memperkuat puisi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi ini diberi judul Manusia Utama, judul yang sama dengan salah satu puisi di dalamnya. Sebagai judul antologi, sangat menarik, puisinya pun asyik. Saya mencoba memahaminya, meski tidak mudah. Puisi ini mengajak pembaca untuk mencari literatur tentang Amungme, Nemangkawi, dan istilah lainnya supaya benar-benar bisa menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nemangkawi adalah sebuah kata yang berasal dari salah satu bahasa dari tujuh suku pemilik tanah ulayat yang masuk dalam wilayah kontrak karya PT Freeport, di Kabupaten Mimika, Papua. Dan di sanalah hidup suku Amungme. Secara harafiah amungme terdiri dari dua kata yang memiliki makna berbeda yaitu "amung" yang artinya utama dan "mee" yang artinya manusia. Orang Amungme percaya bahwa mereka adalah keturunan pertama dari anak sulung bangsa manusia, mereka hidup disebelah utara dan selatan pegunungan tengah yang selalu diselimuti salju abadi yang dalam bahasa Amungme disebut nemangkawi (anak panah putih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengenal arti dari kata-kata tersebut, membaca puisi ini mungkin akan mengerutkan dahi, meskipun secara keseluruhan masih bisa ditangkap suatu kegelisahan yang samar-samar terderngar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun justru kata-kata berbahasa Papua itulah yang membuat puisi ini sangat khas. Meskipun saya hanya mendapatkan arti harfiah dari kata-kata tersebut, namun puisi ini mampu membangun imajinasi saya: Sekelompok suku yang tengah bersembahyang, bersudud dan memanjatkan doa keluh kesah kepada Tuhannya. Ini terjadi karena sebuah keadaan yang tak bisa dilepaskan dari sejarah Papua. Sebuah ketakberdayaan masyarakat ketika kekayaan alam mereka berpuluh tahun dirampok di depan mata oleh sekelompok kapitalis yang kejam dan serakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada yang beda, atau Thendra sengaja membuatnya berbeda. Pada puisi-puisi lainnya tusiran realitasnya tergerus kejengkelannya penyairnya sendiri. Pada puisi  yang berjudul Repromosi sebuah kota, Sepatu &amp; Tuhan Impor buat Kaki Dunia ke Tiga, Urban, Disebabkan Humor dan puisi berjudul Braga, misalnya. Puisi-puisi tersebut terasa togmol, dan sebagian lainnya lebih terasa sebagai anekdot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thendra bertutur dengan sangat lancar. Namun pada beberapa puisi, penekanannya banyak disimpan pada bait akhir, semacam kesimpulan yang menyebabkan deskripsi yang didedahkan di bait-bait sebelumnya terasa hanya sebagai penyangga. Pada bait akhir puisi Merak-Bakauheni misalnya, gunung krakatau itu tampak tenang? / sesungguhnya tidak, seperti dirimu/ menyimpan larva dan duka cinta//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi ini dibuka dengan sajak tentang peristiwa dan waktu. Sebuah peristiwa akhir tahun yang ditulis sangat apik. Ada tusiran realitas yang menafsiri waktu sebagai pertanda. ”aku akan menutup jendela, menemuimu/membuka jendela yang lain/di tubuhmu//”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan antologi ini ditutup dengan puisi berjudul Taman Bermain. Sebagai penutup, puisi ini seolah mengisyaratkan proses kreatif penyairnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di taman bermain / merendah angin pada bunga-bunga / dua kanak-kanak berkejaran dalam mata / dua kanak-kanak dalam diri bicara//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ kita mau ke mana? / -ke mana saja asal ada tempat bermain ./ + hari sudah petang / - aku belum mau pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi ini Thendra kembali memandang waktu hanya sebagai pertanda, bukan sebagai batas. Dalam kepenyairan, tak eloklah kiranya jika penyair menjadikan waktu membatasi kreativitasnya. Tak ada pensiun dalam kamus seorang penyair, kecuali sekedar menunggu ilham lahir. Karena seperti yang diungkapkan Thendra, puisi akan terus mengalir seperti angin dan bunga, bermain-main untuk menikmati kematian dan kelahiran yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin demikianlah Y. Thendra BP. Ia selalu ingin pergi ke tempat bermain, mengasuh anak-anak yang tumbuh dalam dirinya, menyadarkan diri bahwa hari sudah petang, sekaligus menyadari belum saatnya untuk pulang..(*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-6745832075206398119?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/6745832075206398119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=6745832075206398119&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6745832075206398119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6745832075206398119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2011/05/apresiasi.html' title='Apresiasi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-7203346144506169222</id><published>2011-05-23T14:45:00.000+07:00</published><updated>2011-05-23T14:54:33.434+07:00</updated><title type='text'>Resensi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manusia Utama: Puisi, Politik dan Sajak Cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Edy Firmansyah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penyair cum Jurnalis&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika memesan buku “Manusia Utama” karya Y. Thendra BP, sebuah buku kumpulan puisi yang dihimpun penulisnya mulai dari tahun 2006 sampai dengan 2011 saya membayangkan sebuah buku puisi gemuk, tebal yang berisi ratusan puisi. Namun ketika buku puisi tersebut sampai di tangan, ternyata saya keliru besar. Buku “Manusia Utama” itu hanya memuat kurang lebih 51 puisi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali Thendra termasuk penyair yang mengutamakan kualitas sebuah karya daripada sekedar menyelam dalam kuantitas.  Dalam artian, Thendra tak lagi risau dengan pertanyaan banyak penyair ‘senior’ yang selalu ribut soal kuantitas ketika muncul penyair baru yang masih muda belia: “sudah berapa banyak puisi yang kau tulis?”  “Sudah berapa banyak puisimu yang dimuat di Koran nasional?” Sebaliknya dengan buku puisi tipis itu ia hendak menampik semua pertanyaan itu bahwa seorang penyair yang berhasil tidak ditentukan oleh seberapa banyak puisi dibuat dan diorbitkan, melainkan seberapa dalam puisi dibuat, dibongkar, digali, dirombak, direvisi untuk mampu menyentuh sisi terdalam kemanusiaan. Bukankah dengan menulis sekitar 70-an puisi Chairil Anwar mampu memberi warna baru pada khasanah sastra Indonesia? Itulah mengapa Thendra menulis dalam salah satu sajak pendeknya berjudul April, Haiku, Chairil (yang pernah saya dengar menjadi kredo-nya): &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aku melangkah/di jalan sajak—/bukan buat ke pesta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja bukan perkara gampang untuk memilih dan memilih kata ketika disusun menjadi puisi agar bisa menciptakan sebuah puisi yang menyentuh kemanusiaan. Karena bukan satu hal yang mudah seringkali tak sedikit penyair tersesat ketika membuat puisi. Alih-alih membuat puisi yang menyentuh, misalnya mengungkap kepedihan perempuan di pelacuran, tetapi kata yang dipilih kata-kata berat dan kadang kata yang tak lazim digunakan sehari-hari yang sengaja ia pungut dari dalam kamus besar bahasa Indonesia hanya untuk menunjukkan keunikan sajaknya. Akibatnya upaya penulis puisi yang hendak mengungkapkan kepedihan pelacur tak sampai pada pembaca. Malah yang terjadi justru pembaca tak bisa memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Putu Oka Sukanta, salah satu penyair lekra terkemuka itu, puisi sebagai sebuah kumpulan kata, harus mampu mengorganisasi dirinya agar makna setiap kata dapat mengungkapkan/ mempresentasikan dirinya untuk dipahami oleh pembaca dan kemanusiaan. Bahkan walaupun puisi otobiografis sekalipun. Artinya, meski puisi merupakan hasil kreasi individu yang berdasarkan sudut pandang subyektif, puisi seharusnya bisa mengungkapkan nilai-nilai kemanusiaan. Sebab penyair dan pembaca adalah manusia, yang terjaring saling menghidupi dengan manusia lainnya dalam berbagai kondisi sosial-ekonomi-politik yang melingkupinya dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan lain kata, pengalaman penyair adalah pengalaman pembaca juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja untuk mencapai itu semua diperlukan kerja terus-menerus belajar terus menerus tanpa pamrih. Saya sendiri tak tahu bagaimana proses kreatif Thendra untuk mencipta puisi dalam Manusia Utama dan juga karya-karya yang lain. Tapi melalui puisi-puisi di dalam bukunya ini terasa sekali bagaimana Thendra berjibaku dengan kata-kata, dengan pemilihan diksi yang sederhana, memadukan dengan kepribadian penulisnya, bacaan-bacaan yang pernah ia konsumsi juga idelogi dirinya untuk mencipta dan membentuk sajak-sajaknya. Hasilnya adalah bukan hanya sajak-sajak  yang berirama aliran keindahan yang menggetarkan, tetapi juga mampu mencipta arus tragis, ironi, dan kegetiran yang dalam. Salah satu contoh sajak Thendra yang cukup berhasil menerbarkan ironi menurut saya adalah sajak berjudul Repromosi sebuah kota:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siang di kotaku ramah sekali/pohon pohon tumbuh melindungi rumah/kau bisa berjalan di bawah cahaya matahari/yang disaring daun-daun/mendengar kicau burung/angin lembut menyentuh//siang di kotaku ramah sekali/tak ada kemacetan/orang orang tahu aturan/karena pemimpin bijak/rakyat taat pajak//datanglah ke kotaku/kau akan menemukan omong kosong yang indah ini/lebih banyak lagi//&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dikemas dengan semangat humor dan kesannya main-main sebagaimana puisi-puisi mbeling yang sempat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;booming&lt;/span&gt; di era tahun 80-an itu. Tapi lewat puisi itu kita diajak untuk menyaksikan kebusukan sebuah rejim yang korup dan bebal. Dan rejim tersebut justru dibangun dan ‘dibesarkan’ dengan segala pencitraan dan opini-opini yang keluar dari mulut aparat dan pejabatnya penuh dengan kemunafikan. Artinya meski tak langsung sajak ini dengan selera humornya menyeret pembacanya pada pembacaan politik sebuah negara bernama Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dalam sajak itu saja sebuah diksi yang secara tegas mengolok-olok rejim kekuasaan yang kini sedang berdiri ini—yang barangkali oleh kebanyakan penyair justru dihindari—digunakan. Dalam sajak Merak-Bakauheni misalnya, dengan cukup manis penulisnya mengolok-olok Negara metafora kapal tua: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;…kapal ini begitu lambat/congkak dan tua/seperti pemerintah/mengigau atas cahaya bawah laut/……&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah salah jika seorang penyair berpolitik dengan memilih ideologinya yang notabene menantang langsung rejim Negara yang bebal dan korup? Saya rasa tidak. Sebagaimana diungkapkan Putu Oka Sukanta di atas bahwa seorang penyair suka tidak suka adalah bagian kecil dari masyarakat sekitar dimana ia tinggal. Penyair adalah bagian dari masyarakat. Karena selain penyair terpengaruh oleh bacaan-bacaan yang pernah ia mamah dan tersimpan dalam otaknya, ia juga terpengaruh oleh kondisi sosial-ekonomi-politik masyarakatnya. Dan Thendra secara tegas memilih untuk tidak tercerabut dari akar masyarakatnya. Yakni masyarakat Indonesia pascakolonial yang miskin, lemah dan masih terus tertindas oleh pengelola Negara yang menghamba pada neoliberalisme yang menghisap itu. Itulah mengapa Thendra sempat menyindir penyair yang hanya bergelut dengan kata tapi buta dengan realitas sosial dalam salah satu bait sajaknya berjudul Solilokui: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;yang tidur dalam sajak: rabun senja!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Thendra juga tak mau ia tercerabut dari akar sastranya. Atau tepatnya tidak mau tercerabut dari akar sastra Indonesia. Sastra Indonesia adalah sastra lingua franca. Sastra yang dibentuk dari perpaduan sastra-sastra berbagai belahan dunia, dari ujung barat ke ujung timur yang Dari ujung selatan ke ujung utara. Bertumpang tindih dengan sastra lokal nusantara yang maha luas. Karenanya ia tak serampangan menulis puisi sekedar menggugat semata. Ia berjibaku betul untuk mampu melahirkan karya puisi yang berhasil yang—meminjam mukaddimah Lekra—tinggi mutu ideologinya juga tinggi mutu artistiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pergulatannya yang intens untuk menciptakan puisi yang berhasil itu, sengaja tidak sengaja, suka tidak suka seringkali pengaruh penyair-penyair yang pernah ia geluti karya-karyanya itu juga larut dalam puisinya. Dalam hal ini memang perlu kemahiran tersendiri dalam meracik puisi sehingga tidak kehilangan karakteristik puisinya sendiri. Dan saya yakin tidak ada penyair atau penulis yang mampu lepas dari pengaruh karya atau tulisan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering mengibaratkan seorang penulis atau penyair dalam melahirkan karya itu seperti seorang ibu melahirkan. Jika seorang ibu menginginkan anaknya sehat, maka ia harus memakan makanan bergizi dan minuman bergizi. Karena makanan itulah yang menentukan bayi-nya lahir sehat dan montok. Ya, jika si ibu selama masa kehamilannya mengkonsumsi kentaki dan minumnya koka kola dan fanta, dijamin anaknya lahir invalid. Dalam hal ini ibulah yg menentukan makanan untuk janinnya. Sebagaimana karya, penulislah yang menentukan karya macam apa yang harus ia konsumsi untuk melahirkan karya yang “sehat”. Inilah apa yang disebut sebagai pembacaan selektif barangkali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pergulatan yang inten dengan karya puisi penyair lain yang diramu dengan kreatifitas dan kecerdasannya Thendra membangun puisi-puisinya. Bergerak dari pengaruh Chairil Anwar, Charles Bukowsky, Jim Morrison, Subagio sastrowardoyo dan banyak lain, Thendra menciptakan puisi dengan ciri khasnya sendiri. Pengaruh sajak Chairil berjudul selamat tinggal, terutama pada bait awal sajak tersebut Misalnya, oleh Thendra diobrak-abrik menjadi haiku yang berbunyi: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aku melangkah/di jalan sajak—/bukan buat ke pesta&lt;/span&gt;. Syair lagu Jim Morrison, vokalis The Dorrs berjudul “Light My Fire” yang fenomenal itu diramu ulang dalam sajak “Nyalakan Apiku” berkenaan dengan pengaruh itulah diksi-diksi politis dalam sajak-sajak thendra justru diramu dalam tema sajak-sajak cinta. Hasilnya bukan sekadar sajak cinta picisan, melainkan sajak cinta yang menggetarkan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lunto Kloof, Cinta Pertama yang gagal diselamatkan&lt;/span&gt; yang pernah menjadi salah satu juara dalam lomba puisi cinta Tabloid Nyata beberapa tahun silam itu salah satu contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga pembaca puisi yang alergi dengan sajak-sajak lugas yang menggugat dan menantang secara langsung secara politik pada rejim represif semisal sajak-sajak Widji Thukul tak harus menutup mata untuk tidak membaca buku puisi ”Manusia Utama” ini. Karena mereka yang menyukai tema sajak cinta, kepedihan, harapan, kegembiraan, dan kenangan masa silam yang biasa dialami kebanyakan orang akan menemukannya lebih banyak dalam buku puisi ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-7203346144506169222?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/7203346144506169222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=7203346144506169222&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7203346144506169222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7203346144506169222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2011/05/resensi.html' title='Resensi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-970983343617026693</id><published>2011-04-12T01:19:00.000+07:00</published><updated>2011-04-12T01:22:39.775+07:00</updated><title type='text'>Release</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-H_-fF_op9kE/TaNGl7-cCQI/AAAAAAAAAQ8/jFyMFMJrIMc/s1600/cover%2Bgw.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 278px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-H_-fF_op9kE/TaNGl7-cCQI/AAAAAAAAAQ8/jFyMFMJrIMc/s400/cover%2Bgw.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594392779692968194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Telah terbit buku puisi "Manusia Utama" karya Y. Thendra BP&lt;br /&gt;yang menghimpun puisi doi dari 2006-2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga Rp 30 ribu + ongkos kirim (Luar Yogya).&lt;br /&gt;Bisa dipesan lewat inbox fesbuk doi (Thendra Malako Sutan)&lt;br /&gt;atau Hp 085263631682&lt;br /&gt;Email: thendra1980@gmail.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-970983343617026693?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/970983343617026693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=970983343617026693&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/970983343617026693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/970983343617026693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2011/04/release.html' title='Release'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-H_-fF_op9kE/TaNGl7-cCQI/AAAAAAAAAQ8/jFyMFMJrIMc/s72-c/cover%2Bgw.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1654487129036529247</id><published>2011-03-18T23:34:00.000+07:00</published><updated>2011-03-18T23:47:06.888+07:00</updated><title type='text'>Berbagi Kabar</title><content type='html'>Pengunjung Blog Langit-Puisi yang baik,&lt;br /&gt;dalam waktu dekat ini akan terbit buku kumpulan buku puisi ke dua saya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manusia Utama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku puisi terdapat sejumlah puisi saya dari tahun 2006 hingga 2011 yang pernah dimuat di sejumlah antologi komunal, media massa cetak, dan media online. Saya melakukan semacam memanggil anak-anak kreatif saya pulang untuk berkumpul bersama, setelah melakukan penyuntingan ulang di beberapa puisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga rasa haru, karena saya masih bersetia di jalan sajak hingga buku puisi Manusia Utama itu terbit. Tapi sesungguhnya, saya lebih terharu kepada pembaca blog ini yang sudi membaca puisi saya di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalah puisi kalau hanya bertahan sebagai milik penyair semata. Puisi-Penyair-Pembaca adalah mata rantai yang tak bisa dipisahkan. Karena di sanalah kita bersua berbagi perkara hidup dalam teks dan metafora. Apapun maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1654487129036529247?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1654487129036529247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1654487129036529247&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1654487129036529247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1654487129036529247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2011/03/berbagi-kabar.html' title='Berbagi Kabar'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-597485247586658839</id><published>2011-01-16T07:13:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T10:32:47.400+07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kepada N&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jam berdentang.&lt;br /&gt;malam jadi bayang.&lt;br /&gt;akankah ia kembali datang?&lt;br /&gt;matanya yang bulat,&lt;br /&gt;benderang dalam kabut bukit itu.&lt;br /&gt;bibirnya yang manis,&lt;br /&gt;lembut di bawah suara pesawat menderu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jam berdentang.&lt;br /&gt;malam jadi bayang.&lt;br /&gt;bagaimana aku melupakan&lt;br /&gt;kereta sore itu,&lt;br /&gt;bis malam itu,&lt;br /&gt;dan kami laju.&lt;br /&gt;menyimpan tangan dalam tangan.&lt;br /&gt;menyimpan mata dalam mata.&lt;br /&gt;menyimpan kata dalam kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa yang pernah kami sentuh bersama&lt;br /&gt;menyentuh kami saat sendirian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-597485247586658839?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/597485247586658839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=597485247586658839&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/597485247586658839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/597485247586658839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2011/01/puisi.html' title='Puisi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-4375222142333904947</id><published>2011-01-10T23:48:00.000+07:00</published><updated>2011-01-11T00:07:25.925+07:00</updated><title type='text'>Cerpen</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cinta Siti Nurbaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HATTA&lt;/span&gt;, tersebutlah Datuk Maringgih pengusaha kaya dari Jakarta pulang kampung. Doi pulang dari rantau bukan tersebab rindu ingin melihat rumah gadangnya yang sudah hampir roboh dan pandam pakuburan kaumnya yang sudah bersemak. Tapi doi ingin bertemu dan melamar Siti Nurbaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak melihat Siti Nurbaya jadi peran utama di Sinetron Cinta Siti, Datuk Maringgih jatuh hati. Mabuk kepayang. Sampai-sampai Datuk Maringgih acap kali mabuk beneran di tempat dugem hingga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jackpot&lt;/span&gt; dan meracau, "Siti, ai lop yu, beib..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran tak tahan lagi menahan perasaan, Datuk Maringgih menyuruh kaki tangannya Pandeka Limo, Pandeka Ampek dan Pandeka Tigo mencari tahu siapa sebenarnya Siti Nurbaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergaya ala Densus 88, Pandeka Limo, Pandeka Ampek dan Pandeka Tigo, akhirnya tahu siapa Siti Nurbaya itu. Sebenarnya, ini bukan pekerjaan susah. Sebab Siti Nurbaya sudah terkenal dan keberadaannya gampang diketahui. Tapi dasar cecunguk, lagak perlu diperbanyak untuk menyenangkan Si Bos. Ya, mirip benar dengan Densus 88 &lt;span style="font-style:italic;"&gt;deh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siti Nurbaya itu anak Bagindo Sulaiman, grosir kain di Tanah Abang. Dan sama-sama berasal dari Padang dengan Datuk Maringgih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, seminggu menjelang Hari Raya Idul Fitri Bagindo Sulaiman pulang basamo ke Padang, Datuk Maringgih juga mudik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Pada suatu siang yang berangin-angin, hari ke dua Hari Raya, Datuk Maringgih bertandang ke Rumah Gadang Siti Nurbaya yang sudah berdinding beton, berlantai keramik, ber-AC, dan kamar mandi dalam--&lt;span style="font-style:italic;"&gt;bershower&lt;/span&gt; pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meneguk sirup dan menguyah kacang tujin, berbasa-basi, bercerita tentang kesuksesannya yang membuat kagum Bagindo Sulaiman, Datuk Maringgih menyampaikan niatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nak&lt;/span&gt; melamar Siti Nurbaya jadi biniku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagindo Sulaiman tersenyum, mengangguk-anggukan kepala, lalu berkata, "Bagaimana baiknya menurut Nurbaya sajalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan Datuk. Jangan..." sahut Siti Nurbaya gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siti Nurbaya terdiam. Doi Melirik ayahnya. Bagindo Sulaiman tersenyum di samping istrinya yang juga tersenyum. Lalu doi menundukan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana Nurbaya. Kau terimakah lamaranku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah punya pacar, Datuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu, Datuk Maringgih berdiri dari sofa. "Samsul Bahri maksud kau! Apa yang bisa kau harapkan dari sastrawan sekadar yang menggantungkan hidupnya di koran-koran minggu itu, hah?! Yang tulisannya cuma rintang-rintang bercinta dan tak jelas pula, hah?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Datuk..." Siti Nurbaya menundukan kepalanya makin dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang apa aku ini Nurbaya. Pintu tokoku berpuluh-puluh. Perusahaanku di mana-mana. Kalau perlu PH Sinetron Cinta Siti itu kubeli."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Datuk..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahu kah kau Nurbaya, piti dolarku tersimpan di salah satu Bank di Swiss!"&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;"Apa?! Piti dolar?!" Siti Nurbaya mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siti Nurbaya, Bagindo Sulaiman dan istrinya saling berpandang-pandangan. Mata mereka jadi hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benarkah itu piti dolar, Datuk?"&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;"Yoi!" Datuk Maringgih tersenyum dan dadanya yang kerempeng itu membusung.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;"Kalau begitu, cepat lamar aku Datuk. Boleh ya Pap. Boleh ya Mam." Siti Nurbaya minta persetujuan dengan hati berbunga-bunga. Bagindo Sulaiman dan istrinya tersenyum, lalu menganggukan kepala.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Datuk Maringgih tiba-tiba tertegun. Senyumnya jadi kecut. Dada kerempengnya makin kempes.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Begitu cepat dan mudah tidak seperti dalam roman favoritku &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siti Nurbaya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;karangan Marah Rusli itu, batin Datuk  Maringgih. Doi kembali duduk, terhenyak di sofa. Ruangan ber-AC itu dirasakannya begitu dingin, melebihi puncak   Singgalang di malam tahun baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggigil Datuk Maringgih berkata, "Dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;carito&lt;/span&gt; yang pernah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aden baco&lt;/span&gt;, ndak ada tu Siti Nurbaya matre macam kau! Pandeka Limo, Pandeka Ampek, Pandeka Tigo, mari kita pulang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk Maringgih beranjak dari ruang tamu rumah gadang beton, lantai keramik, dan ber-AC itu.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;"Tunggu Datuk!" Bagindo Sulaiman yang sedari tadi diam, angkat bicara.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;"Jangan tinggalkan Siti, Datuk." Siti Nurbaya berusaha menahan.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Datuk Maringgih tak tertegah. Doi sudah melangkah diiringi Pandeka Limo, Pandeka Ampek dan Pandeka Tigo yang berkaca mata reben dan bersafari biru gelap. Naik mobil. Menuju Pasar Raya Padang. Datuk Maringgih menumpahkan kekecewaannya pada berpiring-piring Sate Pariaman dan bermangkok-mangkok es tebak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-4375222142333904947?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/4375222142333904947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=4375222142333904947&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4375222142333904947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4375222142333904947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2011/01/cerpen.html' title='Cerpen'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1603024542851229319</id><published>2010-12-11T23:00:00.001+07:00</published><updated>2011-04-28T10:13:20.971+07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sepatu &amp; Tuhan Impor Buat Kaki Dunia Ketiga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mesti memasukan kakiku sendiri&lt;br /&gt;ke dalam sepatu &lt;br /&gt;untuk berjalan sore ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari apa mama&lt;br /&gt;memasukan kakiku&lt;br /&gt;pertama kali&lt;br /&gt;ke dalam sepatu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini, &lt;br /&gt;aku tidak pernah salah memasukan kakiku&lt;br /&gt;ke dalam sepatu &lt;br /&gt;dengan santai atau terburu-buru.&lt;br /&gt;saat aku belajar memakai sepatuku sendiri,&lt;br /&gt;kadang mama bilang: &lt;br /&gt;“sepatumu terbalik.&lt;br /&gt;nanti orang tertawa. &lt;br /&gt;nanti kamu jatuh.&lt;br /&gt;diperbaiki dong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;olala, apa warna sepatu yang pertama?&lt;br /&gt;berapa sepatu habis untuk berjalan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila aku bertemu orang yang melirik sepatuku,&lt;br /&gt;aku jawab dalam hati: &lt;br /&gt;“hei men, ini sepatu boot australia &lt;br /&gt;beli di singapur &lt;br /&gt;pemberian kakak di batam.&lt;br /&gt;impor men!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepatuku &lt;br /&gt;ya allah&lt;br /&gt;ya bapa&lt;br /&gt;ya dewa&lt;br /&gt;impor!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oh my god&lt;br /&gt;&amp; sepatuku&lt;br /&gt;yang impor.&lt;br /&gt;ayo, kita jalan-jalan,&lt;br /&gt;beli es cendol&lt;br /&gt;&amp; buku&lt;br /&gt;pascakolonial&lt;br /&gt;sore ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1603024542851229319?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1603024542851229319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1603024542851229319&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1603024542851229319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1603024542851229319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/12/puisi_11.html' title='Puisi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1076306032325944251</id><published>2010-12-11T22:55:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T10:45:01.870+07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ia Membuat Malam Lebih Cepat Daripada Jam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;- V -&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bibir lembut, bibir yang basah itu&lt;br /&gt;mengawali pertemuan kami dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"aku sudah tampak tua, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pelayan tiba—&lt;br /&gt;meletakan secangkir kopi&lt;br /&gt;dan secangkir teh tarik&lt;br /&gt;di meja kayu—&lt;br /&gt;dan berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kamu belum tua."&lt;br /&gt;aku melihat kuku jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bibir lembut, bibir yang basah itu&lt;br /&gt;memercik ragu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kata mama, aku sudah tampak tua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku melihat tangannya gelisah, &lt;br /&gt;mengaduk-aduk teh tarik siang itu. &lt;br /&gt;ia memutar waktu dengan sendok,&lt;br /&gt;membuat ruang lebih cepat jadi malam, &lt;br /&gt;menelan bibir lembut, bibir yang basah. &lt;br /&gt;hanya kukunya, kuku tinggal cahaya. &lt;br /&gt;kunang-kunang di keheningan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1076306032325944251?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1076306032325944251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1076306032325944251&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1076306032325944251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1076306032325944251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/12/puisi.html' title='Puisi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-6358603606676840997</id><published>2010-11-16T20:58:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T11:20:33.239+07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manusia Berjalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana kita beradu mata&lt;br /&gt;tanpa janji sebelumnya? &lt;br /&gt;bagaimana waktu bekerja&lt;br /&gt;merancang pertemuan&lt;br /&gt;menyusun ingatan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;fais, kau masih memotret?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada bapak dua anak. &lt;br /&gt;bila malam, ia berdandan jadi wanita, &lt;br /&gt;menunggu pelanggan di sudut jalan. &lt;br /&gt;siang, ia jadi bapak kembali.&lt;br /&gt;aku ingin memotretnya. aku perlu mendekatinya. &lt;br /&gt;aku tidak mau memotret perempuan cantik papan reklame itu. &lt;br /&gt;then, sebentar lagi aku akan jadi seorang bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;berapa jauh manusia berjalan hingga pantas disebut manusia?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;udara masih berembun, menyimpan banyak kesedihan.&lt;br /&gt;di senen, di senen sebuah bis kota meninggalkan perhentian&lt;br /&gt;membawa manusia subuh. &lt;br /&gt;entah ke mana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-6358603606676840997?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/6358603606676840997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=6358603606676840997&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6358603606676840997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6358603606676840997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/11/puisi_1601.html' title='Puisi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-7261250026195110686</id><published>2010-11-16T20:55:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T10:49:58.362+07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Braga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Braga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin bernyanyi &lt;br /&gt;di trotoar jalan malam&lt;br /&gt;di samping ibu yang tidur bersama anaknya.&lt;br /&gt;perempuan perempuan berpaha mulus melintas. &lt;br /&gt;o, aku ingin bernyanyi dengan lirik terhubung pada lampu jalan &lt;br /&gt;seperti api membakar bandung selatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;satu kaleng bir&lt;br /&gt;musik ke luar dari kafe &lt;br /&gt;aku teguk di trotoar. &lt;br /&gt;aku rasakan angin teduh &lt;br /&gt;berhembus dalam mata ibu &lt;br /&gt;yang tidur bersama anaknya.&lt;br /&gt;tapi di jalan ini,  &lt;br /&gt;cinta telah gagal percaya &lt;br /&gt;pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;orang-orang menyusun malam &lt;br /&gt;dari film hongkong &lt;br /&gt;dan hollywood.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;perempuan perempuan berpaha mulus melintas.&lt;br /&gt;mari pergi ke jalan yang lain, euy.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-7261250026195110686?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/7261250026195110686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=7261250026195110686&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7261250026195110686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7261250026195110686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/11/puisi_16.html' title='Puisi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-779927304594108139</id><published>2010-11-09T11:52:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T13:34:58.612+07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Meninggalkan Pulau Penyengat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam gerimis petang,&lt;br /&gt;bersama pompong&lt;br /&gt;aku tinggalkan pulau penyengat &lt;br /&gt;tanpa menziarahi gurindam dua belas.&lt;br /&gt;aku membaca pasal 13: &lt;br /&gt;air laut yang kembali kepada laut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesunyian bangkit &lt;br /&gt;antara tiang kapal yang bersandar &lt;br /&gt;dan kibasan sayap burung burung. &lt;br /&gt;langit yang jauh, langit yang jauh&lt;br /&gt;semuram punggung laut. &lt;br /&gt;seperti dentuman pertama &lt;br /&gt;meriam paranggi di selat malaka&lt;br /&gt;mengusir bahasa melayu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;aku menghirup angin garam. &lt;br /&gt;telepon genggamku masih memiliki sinyal. &lt;br /&gt;antara rambut gimbal saut dan kacamata bode, &lt;br /&gt;aku mendengar sorak-sorai, &lt;br /&gt;orang-orang membangkitkan yang mati, &lt;br /&gt;jadi hantu laut merompak pelayaran bahasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;pom pong pom pong&lt;br /&gt;pom pong pom pong&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-779927304594108139?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/779927304594108139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=779927304594108139&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/779927304594108139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/779927304594108139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/11/puisi.html' title='Puisi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-6649190256220696065</id><published>2010-10-03T21:18:00.001+07:00</published><updated>2010-10-03T21:21:48.666+07:00</updated><title type='text'>feature</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/TKiRZPLDz5I/AAAAAAAAAQs/6MWWioNwN04/s1600/perempuan1.JPEG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 239px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/TKiRZPLDz5I/AAAAAAAAAQs/6MWWioNwN04/s320/perempuan1.JPEG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5523824805725589394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para Perempuan Perkasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka&lt;br /&gt;mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa&lt;br /&gt;akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota&lt;br /&gt;mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(Perempuan-perempuan Perkasa, Hartoyo Andangjaya)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pukul 01.00, Senin (27/9), tiga perempuan tua itu asyik duduk dan ngobrol dengan bahasa Jawa ngoko di pinggir jalan. Di depan mereka terhampar bayam, kangkung, pisang dan kelapa yang diletakan ala-kadarnya beralas karung plastik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sekarang apa-apa mahal (red),” sela Sunaryo (70). Lalu disahut oleh Jira (60), “Iya.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam gelap di perempatan jalan di samping Balai Desa Bangunjiwo, Bantul, itu mereka terus ngobrol sambil menunggu dagangannya. Tak ada lampu yang menerangi dagangan dan wajah tua mereka. Lampu neon Balai Desa tak sampai ke tempat mereka. Sementara lampu warung kecil yang masih buka di depan mereka, persisnya di pojok barat perempatan, hanya membiaskan sedikit cahaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi gelap dinihari itu bukan penghalang bagi mereka untuk berjualan, karena sudah terbiasa. Sebagaimana pengakuan Sunaryo, “Saya sudah berjualan sejak perawan cilik. Dulu, saya nganterin dagangan ke Pasar Gamping, Pasar Kranggan, Pasar Niten. Sekarang, jualan di sini (perempatan) aja, karena sudah tua.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dagangan Sunaryo, Ibu 6 anak dan 15 cucu ini, tidaklah banyak dinihari itu. Hanya setengah karung kangkung yang diambilnya dari kebun milik sendiri. Begitu pula dengan Jira, berasal dari Dukuh Salakan, yang menjajakan 5 sisir pisang serta bayam. Dan Wagirah, 7 kelapa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Embun masih terus berjatuhan, bulan sepenggal di langit mulai disaput awan, waktu sudah menunjukan pukul 02.00. Dari berbagai arah, bermunculan perempuan-perempuan lainnya membawa dagangan mereka dengan sepeda dan berjalan kaki. Dan dua orang numpak motor.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu, di perempatan samping Balai Desa mereka menjajakan barang dangannya itu, yang merupakan hasil kebun sendiri, seperti bayam, kangkung, telo pendem, kelapa, kemangi, banturi, jagung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada sekitar 10 orang perempuan berusia lanjut saat itu, mereka membuat semacam pasar tiban. Bertransaksi dalam gelap dan embun dinihari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Suminah (40), pemilik warung kecil di pojok perempatan itu, aktivitas pasar tiban dinihari di samping Balai Desa Bangunjiwo sudah lama dimulai. Bahkan sebelum ia lahir, pasar tiban dinihari itu sudah ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Mulai pukul 00.00 sampai pukul 05.00 mereka (pedagang kecil) sudah berdatangan dari berbagai dukuh di Bangunjiwo. Tapi itu tergantung cuaca juga. Kalau hujan ya ndak jualan,” terang Suminah yang juga membuka warungnya khusus malam sampai subuh saja. Siang hari tutup.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suminah adalah anak Sunaryo, salah seorang pedagang kecil itu. Ia sudah akrab dengan kondisi dan suasana pasar tiban dinihari di perempatan samping Balai Desa Bangunjiwo itu. Suminah mengatakan, biasanya hasil kebun yang dijual kecil-kecilan di perempatan itu, akan dibeli oleh mereka yang akan memasarkannya kepada bakul sayur di pasar tradisional daerah Yogya. Seperti Pasar Gamping, Pasar Serangan, Pasar Kranggan, Pasar Prawirotaman dan Pasar Niten.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi, pasar tiban dinihari tanpa los dan penerangan di perempatan samping Balai Desa Bagunjiwo itu semacam pasar transit. Petani-petani kecil itu mengambil hasil kebunnya, memasarkannya, yang kemudian diteruskan oleh pedagang lainnya ke pasar-pasar tradisional di Yogya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya berjualan sejak kecil, diajak orang tua,” ucap Slamet (58), usai menurunkan hasil kebunnya, jagung, kangkung, telo pendem dari atas motor bebek.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Slamet yang belum sempat tidur karena mengikuti Syawalan di pedukuhannya, tetap terlihat bersemangat. Kebetulan ia memarkir motornya di depan Balai Desa yang diterangi lampu neon, sehingga guratan wajahnya terlihat meski samar. Guratan wajahnya yang tua itu bukanlah guratan keluh kesah. Tapi guratan hidup yang bekerja. Dan terlihat sangan feminim tanpa slogan muluk-muluk di ruang ber-AC. Begitu nyata adanya. Begitu feminitas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Anak saya dua. Suami saya sudah pensiun dari Dinas PU. Saya bekerja untuk menambah keuangan keluarga,” ucap Slamet dengan polos.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitulah. Transaksi terus berlanjut. Bagi dagangannya yang sudah laku, berasak menuju rumah. Sementara bagi dagangannya yang belum laku, bersabar menunggu hingga batas waktu yang sudah ditentukan pukul 05.00. Dimana matahari muncul, pasar tiban dinihari itu usai, dan hari baru dimulai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun yang jelas, mereka yang berjualan di perempatan kecil itu, adalah perempuan-perempuan perkasa, akar-akar yang melata dari tanah menghidupi kota. Siapa bilang orang Indonesia pemalas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-6649190256220696065?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/6649190256220696065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=6649190256220696065&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6649190256220696065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6649190256220696065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/10/feature.html' title='feature'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/TKiRZPLDz5I/AAAAAAAAAQs/6MWWioNwN04/s72-c/perempuan1.JPEG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-2798794582566433228</id><published>2010-10-03T21:08:00.000+07:00</published><updated>2011-12-02T23:40:51.325+07:00</updated><title type='text'>Mulung Berita</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para Perempuan Perkasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka&lt;br /&gt;mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa&lt;br /&gt;akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota&lt;br /&gt;mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Perempuan-perempuan Perkasa, Hartoyo Andangjaya)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pukul 01.00, Senin (27/9), tiga perempuan tua itu asyik duduk dan ngobrol dengan bahasa Jawa &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ngoko&lt;/span&gt; di pinggir jalan. Di depan mereka terhampar bayam, kangkung, pisang dan kelapa yang diletakan ala-kadarnya beralas karung plastik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sekarang apa-apa mahal (red),” sela Sunaryo (70). Lalu disahut oleh Jira (60), “Iya.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam gelap di perempatan jalan di samping Balai Desa Bangunjiwo, Bantul, itu mereka terus ngobrol sambil menunggu dagangannya. Tak ada lampu yang menerangi dagangan dan wajah tua mereka. Lampu neon Balai Desa tak sampai ke tempat mereka. Sementara lampu warung kecil yang masih buka di depan mereka, persisnya di pojok barat perempatan, hanya membiaskan sedikit cahaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi gelap dinihari itu bukan penghalang bagi mereka untuk berjualan, karena sudah terbiasa. Sebagaimana pengakuan Sunaryo, “Saya sudah berjualan sejak perawan cilik. Dulu, saya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nganterin&lt;/span&gt; dagangan ke Pasar Gamping, Pasar Kranggan, Pasar Niten. Sekarang, jualan di sini (perempatan) aja, karena sudah tua.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dagangan Sunaryo, Ibu 6 anak dan 15 cucu ini, tidaklah banyak dinihari itu. Hanya setengah karung kangkung yang diambilnya dari kebun milik sendiri. Begitu pula dengan Jira, berasal dari Dukuh Salakan, yang menjajakan 5 sisir pisang serta bayam. Dan Wagirah, 7 kelapa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Embun masih terus berjatuhan, bulan sepenggal di langit mulai disaput awan, waktu sudah menunjukan pukul 02.00. Dari berbagai arah, bermunculan perempuan-perempuan lainnya membawa dagangan mereka dengan sepeda dan berjalan kaki. Dan dua orang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;numpak &lt;/span&gt;motor.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu, di perempatan samping Balai Desa mereka menjajakan barang dangannya itu, yang merupakan hasil kebun sendiri, seperti bayam, kangkung, telo pendem, kelapa, kemangi, banturi, jagung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada sekitar 10 orang perempuan berusia lanjut saat itu, mereka membuat semacam pasar tiban. Bertransaksi dalam gelap dan embun dinihari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Suminah (40), pemilik warung kecil di pojok perempatan itu, aktivitas pasar tiban dinihari di samping Balai Desa Bangunjiwo sudah lama dimulai. Bahkan sebelum ia lahir, pasar tiban dinihari itu sudah ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Mulai pukul 00.00 sampai pukul 05.00 mereka (pedagang kecil) sudah berdatangan dari berbagai dukuh di Bangunjiwo. Tapi itu tergantung cuaca juga. Kalau hujan ya ndak jualan,” terang Suminah yang juga membuka warungnya khusus malam sampai subuh saja. Siang hari tutup.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suminah adalah anak Sunaryo, salah seorang pedagang kecil itu. Ia sudah akrab dengan kondisi dan suasana pasar tiban dinihari di perempatan samping Balai Desa Bangunjiwo itu. Suminah mengatakan, biasanya hasil kebun yang dijual kecil-kecilan di perempatan itu, akan dibeli oleh mereka yang akan memasarkannya kepada bakul sayur di pasar tradisional daerah Yogya. Seperti Pasar Gamping, Pasar Serangan, Pasar Kranggan, Pasar Prawirotaman dan Pasar Niten.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi, pasar tiban dinihari tanpa los dan penerangan di perempatan samping Balai Desa Bagunjiwo itu semacam pasar transit. Petani-petani kecil itu mengambil hasil kebunnya, memasarkannya, yang kemudian diteruskan oleh pedagang lainnya ke pasar-pasar tradisional di Yogya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya berjualan sejak kecil, diajak orang tua,” ucap Slamet (58), usai menurunkan hasil kebunnya, jagung, kangkung, telo pendem dari atas motor bebek.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Slamet yang belum sempat tidur karena mengikuti Syawalan di pedukuhannya, tetap terlihat bersemangat. Kebetulan ia memarkir motornya di depan Balai Desa yang diterangi lampu neon, sehingga guratan wajahnya terlihat meski samar. Guratan wajahnya yang tua itu bukanlah guratan keluh kesah. Tapi guratan hidup yang bekerja. Dan terlihat sangan feminim tanpa slogan muluk-muluk di ruang ber-AC. Begitu nyata adanya. Begitu feminitas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Anak saya dua. Suami saya sudah pensiun dari Dinas PU. Saya bekerja untuk menambah keuangan keluarga,” ucap Slamet dengan polos.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitulah. Transaksi terus berlanjut. Bagi dagangannya yang sudah laku, berasak menuju rumah. Sementara bagi dagangannya yang belum laku, bersabar menunggu hingga batas waktu yang sudah ditentukan pukul 05.00. Dimana matahari muncul, pasar tiban dinihari itu usai, dan hari baru dimulai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun yang jelas, mereka yang berjualan di perempatan kecil itu, adalah perempuan-perempuan perkasa, akar-akar yang melata dari tanah menghidupi kota. Siapa bilang orang Indonesia pemalas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-2798794582566433228?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/2798794582566433228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=2798794582566433228&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2798794582566433228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2798794582566433228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/10/mulung-berita.html' title='Mulung Berita'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-4347059480490432304</id><published>2010-09-22T20:28:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T10:31:49.156+07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertemuan Senja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah pertemuan ini aku akan pergi,&lt;br /&gt;memasuki angin ke dalam malam.&lt;br /&gt;pertemuan kita hanya senja,&lt;br /&gt;daun berguguran dalam percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sunyi bergetar di leher kita,&lt;br /&gt;es mencair dalam pikiran.&lt;br /&gt;lihat aku sebagaimana aku melihatmu,&lt;br /&gt;jangan biarkan semua berlalu dengan mata berpaling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apabila nafas kita menjauh, semakin jauh,&lt;br /&gt;senja ini serupa daun jatuh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-4347059480490432304?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/4347059480490432304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=4347059480490432304&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4347059480490432304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4347059480490432304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/09/puisi_22.html' title='Puisi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-5516627942079467353</id><published>2010-09-06T21:59:00.001+07:00</published><updated>2010-11-16T21:07:03.674+07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manusia Utama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nagawan into, kenapa kita orang terusir dari kita punya gunung salju abadi,&lt;br /&gt;kita orang sebut itu nemangkawi (anak panah putih). kita orang amung mee,&lt;br /&gt;manusia utama! kita punya emas dalam nemangkawi, tapi tidak disimpan&lt;br /&gt;dalam honai. ke mana kita punya emas pergi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejak magaboarat negel jombei-peibei jadi ertsberg jadi grasberg,&lt;br /&gt;suara kasuari hilang dari kita punya telinga. sejak kulit bia diganti rupiah,&lt;br /&gt;kita orang terusir dari lembah tsinga, lembah Hoeya, dan lembah noema.&lt;br /&gt;kenapa kita orang terusir dari nemangkawi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nagawan into, bila masa pembebasan itu tiba:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sehelai daun lebar turun di sebelah barat&lt;br /&gt;terbang kembali laksana kuncup bunga ubi&lt;br /&gt;tumbuh dan besar di tanah&lt;br /&gt;muncul di kaki gunung...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-5516627942079467353?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/5516627942079467353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=5516627942079467353&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5516627942079467353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5516627942079467353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/09/puisi.html' title='Puisi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-8108065503836656102</id><published>2010-09-04T18:37:00.000+07:00</published><updated>2010-09-28T06:32:17.768+07:00</updated><title type='text'>Esei</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kebebasan Publikasi, Tantangan Berbahaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Penyair muda sepertinya berpikir yang dibutuhkan adalah mesin tik dan beberapa potong kertas. Mereka tidak siap, mereka tidak memiliki persiapan sama sekali.”&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah ucapan Charles Bukowski—dikutip dari Hot Water Music, 1995—penyair &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Beat Generation&lt;/span&gt; gelombang ke dua, yang terkenal karena vitalitasnya bertahan hidup dan peminum berat di masyarakat pinggiran. Sebelum memulai karirnya sebagai penyair, Bukowski bekerja dalam pekerjaan kasar dan jurnalis di Harlequin. Dia digambarkan oleh Jean Genet dan Jean-Paul Sartre sebagai penyair Amerika terbesar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus dari Los Angeles High School, Bukowski belajar selama setahun di Los Angeles City College, mengambil kursus jurnalistik dan sastra. Dia meninggalkan rumah pada tahun 1941 –ayahnya telah membaca cerita-ceritanya dan melemparkan barang-barang miliknya ke halaman.  Ia pernah bekerja di pom bensin, operator lift, sopir truk, buruh pabrik biskuit, dan di kantor pos. Pada usia tiga puluh lima dia mulai menulis puisi.&lt;br /&gt;Melihat perjalanan hidup Bukowski, agaknya bisa membantah pameo antara aktor dan penyair  yang ditulis oleh Boleslawski dalam buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor &lt;/span&gt;(terjemahan Asrul Sani)—aktor dan penyair datang ke sebuah pertunjukan teater, di depan gedung teater mereka melihat pengemis yang sangat menyedihkan, penyair berhasrat menuliskan puisi untuk menggambarkan pengemis itu, sedangkan si aktor tak perlu melakukan apa-apa karena ia ‘merasa’ sudah menjadi pengemis itu, atau dengan kata lain sindiran halus bahwa aktor memiliki empati ‘lebih’ daripada penyair. Benarkah klaim Boleslawski itu? Belum tentu. Sangat belum tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empati bisa digali dari pengalaman bersentuhan langsung dengan kehidupan, dan itu telah memberi ‘kekuatan’ pada puisi Bukowski. Dimana Bukowski mengaku, 93 persen puisinya adalah otobiografi. Puisinya sangat dipengaruhi oleh keadaan kota tempat tinggalnya. Selain itu, ia juga menulis cerita pendek dan novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara intrinsik dan ekstrinsik karya Bukowski juga bisa membantah apa yang ditulis oleh ‘manusia hotel’ Iwan Simatupang dalam novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Merahnya Merah&lt;/span&gt;: penulis yang tak pernah kena sengatan sinar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah spirit dan pergulatan Charles Bukowski ‘memasuki hidup' yang diretrospeksikannya dalam puisi itu, misalnya, ditemukan pada puisi generasi muda sekarang—yang barangkali adalah Poets Society yang datang dari masa depan—bahwa menulis puisi, khususnya otobiografi maupun liris, bukan sesuatu ‘seolah-olah’ atau khayalan semata, tapi berangkat dari empiris, tak terpisah dari kehidupan (lingkungan), dan tak cuma mengandalkan pada bakat alam. Apalagi, kecenderungan puisi generasi sekarang banyak bermain pada ranah otobiografi dan lirisme. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publikasi yang terbuka luas sekarang ini (koran, majalah, buletin, buku, milis, web, blog, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;facebook, twitter&lt;/span&gt;) dan mulai runtuhnya pusat kekuasaan sastra yang kerjanya cuma membaptis kepenyairan seseorang secara arsesif, adalah sebuah kemenangan masa sekaligus tantangan yang berbahaya, yang dimiliki penyair muda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ruang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cyber,&lt;/span&gt; dibandingkan media publikasi konvensional (cetak), puisi hadir di publik tidak lagi setelah melalui tangan yang lain, yang masing-masing pemilik tangan tersebut, tentu memiliki selera berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kebebasan itu, sesungguhnya meminta pertanggungjawaban lebih, agar puisi tidak sekadar kecanggihan bermain bahasa, mengindah-indahkan bahasa (bahasa itu sudah indah!) dan produksi teks dari mesin (komputer) semata. Hal ini juga menjangkiti beberapa penyair yang konon sudah senior. Kegenitan publikasi di media cetak pun cyber, kadang tak ubahnya seperti status di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;facebook&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;twitter,&lt;/span&gt; berisi persoalan pribadi yang seolah-olah menyangkut hajat orang banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah domestik, ruang pribadi, bilik dalam, yang tak menyangkut hajat orang banyak itu tanpa ‘diolah’ tapi tetap dipublikasikan, mengingatkan kita pada infoitament. Lebih mengejar sensasi yang banal. Adakah Selebritis Syndrom juga tengah merasuk dalam sastra kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kritik pingsan, jurusan sastra Indonesia mandul, sudah sepatutnya penyair membikin perhitungan habis-habisan dengan puisinya, sebelum puisinya itu melangkah bergelanggang mata orang banyak, bertemu pembaca aktif maupun pasif. Sebagaimana dokter, penyair juga profesi yang menuntut keseriusan dan tanggungjawab agar tidak terjadi malpraktek terhadap karyanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi adalah dunia yang menjadi, tulis Chairil Anwar. Bagaimana puisi bisa menjadi ‘dunia yang menjadi’? Inilah tantangan terberat bagi penyair, sesungguhnya. Bukan berapa sering dimuat di media. Lalu berharap dapat undangan resepsi sastra. Apalah guna ikut 'pesta satra' itu, jika cuma ibarat mentimun bungkuk yang masuk karung tapi tak masuk hitungan. Jadi tukuk tambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apabila puisi menjadi ‘dunia yang menjadi’ itu, agaknya, kita bakal bertemu apa yang disampaikan Konfusius: “Tidak belajar sajak, tidak ada yang bisa dibicarakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Li Po, Jalaludin Rumi, Matsuo Basho, William Shakespeare, Arthur Rimbaud,  Rainer Maria Rilke, TS Eliot, Pablo Neruda, menyebut beberapa nama yang cukup familiar di publik sastra kita misalnya, ketika kita membaca puisi mereka, secara diam-diam puisi mereka menyusup ke dalam memori intim, membuat ingatan bersama. Pengalaman penyair, pengalaman pembaca juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, puisi bisa menjadi spirit bagi zamannya. Allen Ginsberg, lewat puisinya, turut memberi warna pada gerakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Beat Generation&lt;/span&gt; di Amerika Serikat tahun 1950-an. Wiji Tukul, penyair &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cum &lt;/span&gt;aktivis asal Solo yang hingga sekarang tidak diketahui keberadaannya, puisinya “Hanya Ada Satu Kata: Lawan! “ Diteriakkan lantang dan jadi simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru oleh mahasiswa pergerakan, hingga runtuhnya rezim para jenderal itu pada tahun 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun Chairil Anwar, yang memberi kontribusi terhadap perkembangan puisi modern dan bahasa Indonesia. Meski berusia pendek, ia hanya mempublikasikan sekitar 77 puisi saja, namun bukan kuantitas yang menjadi tolak ukur, melainkan kualitas. Toh, karya seni bukan seperti barang kerajinan yang berorientasi pasar semata (media). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, masa depan perpuisian Indonesia terletak di tangan penyair muda yang berani melawan ucapan Bukowski di awal tulisan ini. Tentu saja dengan “memiliki persiapan” dalam puisi yang mereka  ciptakan. Dan karya bukan sekadar produksi teks dari mesin (komputer), tapi teks yang bersumber dari kehidupan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-8108065503836656102?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/8108065503836656102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=8108065503836656102&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8108065503836656102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8108065503836656102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/09/esei.html' title='Esei'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-4034190563073319756</id><published>2010-08-04T22:44:00.000+07:00</published><updated>2010-08-08T03:01:22.745+07:00</updated><title type='text'>jeda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/TFmNrNnw_QI/AAAAAAAAAQc/c_L3a4b_JJ4/s1600/gw.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 204px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/TFmNrNnw_QI/AAAAAAAAAQc/c_L3a4b_JJ4/s320/gw.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501584193340112130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seribu Kunang-kunang di Mataram&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu-lampu kota di lembah Mataram itu tampak seperti kunang-kunang, saat saya menatapnya, Rabu (28/7) malam dari Bukit Patuk atau populer disebut Bukit Bintang. Agaknya, tersebab lampu-lampu kota yang berkelip-kelip indah dari ketinggian itulah yang membuat bukit ini disebut Bukit Bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukit Bintang terletak di bawah belik (mata air) di wilayah kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, belakangan ini menjadi objek wisata 'menebar pandang dari ketinggian' terutama di malam hari. Dari kota Yogya jaraknya sekitar 20 Km, menuju arah timur melintasi Jalan Wonosari, bakal ditemui tanjakan curam dengan tikungan tajam. Kawasan ini merupakan gerbang Kabupaten Gunungkidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aih, tiba-tiba saya teringat pada Cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan karya Umar Kayam. Cerpen berseting akhir tahun 1960-an itu, mengisahkan tentang Marno perantau asal Jawa di kota Manhattan. Marno mabuk bersama perempuan yang 'memeliharanya', Jane, di apartemen milik Jane. Dan mereka sama-sama kesepian, sama-sama mengalami kebosanan, tapi dalam soal yang beda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jane meracau tentang Tommy mantan suaminya, sedangkan Marno merindukan kampung halamannya. Sehingga ketika Marno melihat kelap-kelip lampu kota Manhattan dari kaca apartemen, ia teringat pada kunang-kunang di sawah di kampungnya pada malam hari. Sementara Jane, yang hidup dan dibesarkan di kota itu, belum pernah melihat kunang-kunang dan penasaran pada binatang bercahaya itu. Yeah, kisah pertemuan dua kultur yang berbeda dan sama-sama terperangkap dalam kesepian kaum urban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kisah biasa tentang pengalaman dari penulis dunia ketiga yang terperangah pada lampu-lampu dan gedung "American Dream". Mirip mahasiswa tingkat pertama dipukau film drama Hollywood. Lalu berharap mimpi basah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, saya tidak sedang membayangkan diri saya seperti Marno. Lagipula tak ada Jane di samping saya. Tak ada apartemen. Dan, lampu-lampu kota yang saya lihat itu bukanlah lampu-lampu kota Manhattan melainkan kota Yogya yang tumbuh di negeri Mataram. Maka, saya menyebut kelap-kelip lampu itu sebagai 'Seribu Kunang-kunang di Mataram'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kita datang sore hari, kita bisa menyaksikan momen matahari tenggelam, keren bro!” celetuk Andika diikuti anggukan Iman. Dua sahabat itu menyadarkan saya bahwa saya tidak sendiri menikmati 'Seribu Kunang-kunang di Mataram'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam itu pengunjung cukup ramai. Setidaknya di warung bambu tempat saya menebar pandang ke lembah Mataram itu, dipenuhi pengunjung baik yang berombongan pun yang mojok berduaan. Belum lagi di warung-warung lainnya. Ada sekitar 10 warung dengan konstruksi bambu di bibir jurang, sebagai tempat bersantai menikmati pesona malam sambil menikmati menu yang tersedia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, Andika benar juga. Seandainya kami datang sore hari, tentu kami bisa menyaksikan persalinan waktu di lembah Mataram dari ketinggian. Dimana matahari pelahan-lahan tenggelam, lampu-lampu kota bermunculan. Sebuah momen yang mempesona, tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran asik menikmati pesona perpaduan antara malam dan cahaya buatan manusia di lembah, dua porsi nasi goreng magelangan dan tiga gelas kopi yang kami pesan jadi tak terasa lama. Namun, sebelum memesan makanan tersebut kami musti menanyakan harganya terlebih dahulu, sebab di menu tak ada daftar harga. Kami tak mau dipalak dengan sopan. Usai makan, bayarnya kemahalan. Hal yang jamak terjadi di tempat wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam meninggi. Langit cukup cerah, meski tak banyak bintang bermunculan. Apakah telah jatuh bintang itu ke lembah? Udara dingin perbukitan mulai terasa di kulit saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi saya akan turun ke bawah, menemui kenyataan sesungguhnya bahwa seribu kunang-kunang yang saya lihat dari bukit bintang itu adalah lampu-lampu yang berebut ingin menerangi kota Yogya. Kadang lampu-lampu itu terasa sesak juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat pada frasa 'kota seribu lampu merah' dalam Cerpen Radio Tua, Kota Tua karya Raudal Tanjung Banua. Agaknya, itulah yang akan saya temui dari Seribu Kunang-kunang di Mataram menjadi Kota Seribu Lampu Merah, bila saya turun dari Bukit Bintang dan memasuki kota Yogya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-4034190563073319756?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/4034190563073319756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=4034190563073319756&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4034190563073319756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4034190563073319756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/08/jedah.html' title='jeda'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/TFmNrNnw_QI/AAAAAAAAAQc/c_L3a4b_JJ4/s72-c/gw.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-2955192281429161522</id><published>2010-04-24T03:03:00.000+07:00</published><updated>2010-04-24T03:04:26.678+07:00</updated><title type='text'>poem</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Repromosi Sebuah Kota&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;siang di kotaku ramah sekali&lt;br /&gt;pohon pohon tumbuh melindungi rumah&lt;br /&gt;kau bisa berjalan di bawah cahaya matahari yang disaring daun-daun&lt;br /&gt;mendengar kicau burung&lt;br /&gt;angin lembut menyentuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siang di kotaku ramah sekali&lt;br /&gt;tak ada kemacetan&lt;br /&gt;orang orang tahu aturan&lt;br /&gt;karena pemimpin bijak&lt;br /&gt;rakyat taat pajak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;datanglah ke kotaku&lt;br /&gt;kau akan menemukan omong kosong yang indah ini&lt;br /&gt;lebih banyak lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-2955192281429161522?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/2955192281429161522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=2955192281429161522&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2955192281429161522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2955192281429161522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/04/poem.html' title='poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-5360058978217421854</id><published>2010-01-31T17:49:00.000+07:00</published><updated>2010-01-31T17:51:00.433+07:00</updated><title type='text'>poem</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lempuyangan, November 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua akan berlalu, yang tersisa cuma kenangan&lt;br /&gt;tapi apa itu kenangan?&lt;br /&gt;getar tangan dalam tangan&lt;br /&gt;getar mata dalam mata&lt;br /&gt;jadi sepi yang bergaung&lt;br /&gt;di stasiun tua ini&lt;br /&gt;dan kereta rongsokan&lt;br /&gt;yang akan membawaku pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jam berdentang&lt;br /&gt;malam tinggal bayang&lt;br /&gt;kota tak punya perasaan&lt;br /&gt;bagi perpisahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biarlah ciumanku di keningmu penghabisan&lt;br /&gt;mengerti bagi air mata yang kita tahan&lt;br /&gt;sebagai kekasih, memang, kita usai sudah&lt;br /&gt;tapi cinta tetap ada&lt;br /&gt;untuk apa&lt;br /&gt;dan siapa saja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-5360058978217421854?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/5360058978217421854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=5360058978217421854&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5360058978217421854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5360058978217421854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/01/poem_31.html' title='poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-376131749075299393</id><published>2010-01-29T17:28:00.001+07:00</published><updated>2011-12-16T07:29:04.004+07:00</updated><title type='text'>puisi</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lunto Kloof, Cinta Pertama Yang Gagal Kuselamatkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lalu ia menunjuk stasiun tua yang mati itu, keberangkatan&lt;br /&gt;dan kepulangan yang tak lagi ada, dan sadar, kami pernah lugu&lt;br /&gt;berciuman di sudut sekolah itu.&lt;/span&gt; laila, lesung pipitmu yang bertahan, senja &lt;br /&gt;mengembalikan ingatan kita pada cinta yang remaja, pada bagaimana&lt;br /&gt;gugupnya aku menyentuh jemarimu pertama kali, di bangku taman gluck auf &lt;br /&gt;yang kini tak ada. seperti orang rantai di kota ini, akhirnya semua pergi&lt;br /&gt;menyisakan masa lampau yang hanya bisa dijangkau lewat memori. tetapi&lt;br /&gt;di lembah ini, tubuhmu jadi lubang lubang tambang bekas yang ditinggalkan,&lt;br /&gt;juga cinta pertama yang gagal kuselamatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku pandangi menara asap itu.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ketika aku sentuh,&lt;br /&gt;sungai mengalir dari bahunya.&lt;/span&gt; waktu telah mengubah&lt;br /&gt;bibir kita jadi milik yang lain. milik yang lain, laila.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aku kalungkan cindera mata di lehernya, syal pacar&lt;br /&gt;dari jogja.&lt;/span&gt; matamu gemetar, tanganku bergetar.&lt;br /&gt;lunto kloof,  lunto kloof, maafkan aku, laila.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ciuman pertama itu masih membekas&lt;br /&gt;mustahil terhapus lekas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-376131749075299393?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/376131749075299393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=376131749075299393&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/376131749075299393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/376131749075299393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/01/poem_29.html' title='puisi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-6197942570763574866</id><published>2010-01-14T14:57:00.000+07:00</published><updated>2010-01-14T14:58:33.633+07:00</updated><title type='text'>cerpen</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kematian Yang Sangat Menyedihkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap kali duduk di depan komputer kantor, saya suka menatap sejenak pada senyum gadis dalam poster di dinding, yang jaraknya tiga meter dari saya duduk. saya selalu memastikan, apakah senyum gadis dalam poster itu telah berubah? hemm...ternyata senyum gadis dalam poster itu masih seperti dulu, seperti pertama kali saya menatapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senyum gadis itu dalam poster itu sering membantu saya menulis kalimat pertama berita, setelah saya menatapnya barang sejenak. inilah yang membuat ia menjadi cukup penting bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya tidak tahu dan juga tidak ingin bertanya siapa nama gadis yang tersenyum dalam poster itu. biarlah ia menjadi rahasia, seperti senyumnya itu. yang jelas, gadis dalam poster itu sudah ada sebelum saya bekerja sebagai 'pemulung berita' di surat kabar sebuah kota tua. karena gadis itu pernah menjadi model iklan sabun mandi di surat kabar tempat saya bekerja. begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suatu malam, saya harus menulis berita tentang kematian, sendiri di kantor. semua bahan sudah ada, berserakan di atas meja. tapi saya tidak bisa memulai kalimat pertama. sebab, kematian itu sangat menyedihkan. jauh lebih sedih dari kematian apa pun yang pernah saya jumpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana saya akan menceritakan tentang kematian yang sangat menyedihkan itu, sedang saya belum bisa menulis kalimat pertama? saya takut menulisnya asal-asalan. saya takut kalau kematian itu tak lagi menyedihkan. seperti kematian manusia pada tahun 1966. ah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya telah berulang-ulang menatap senyum gadis dalam poster itu, tapi belum juga bisa membantu sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya pejamkan mata. saya membatin: "baiklah, ini terakhir kali saya menatap senyum gadis dalam poster itu. jika ia tak bisa membantu saya menulis kalimat pertama tentang kematian yang sangat menyedihkan itu, saya akan melupakannya. ia akan menjadi sesuatu yang biasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian saya membuka mata, dan menatap senyum gadis dalam poster itu. senyum gadis dalam poster itu tampak makin manis, makin mistis. pelahan-lahan, saya merasakan tubuh saya melayang, naik dari kursi. saya terus melayang, melewati meja komputer. melayang menuju dinding, mendekat ke arah gadis dalam poster itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan senyum gadis dalam poster itu mulai menyedot kepala saya. badan saya. kemaluan saya. paha saya. kaki saya. hingga lenyaplah saya ke dalam senyum gadis dalam poster, yang manis, yang mistis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya seperti terdampar di pulau kecil, pulau terpencil, yang hilang dalam peta. saya mencari jalan keluar, seperti mencari kalimat pertama untuk berita tentang kematian yang sangat menyedihkan itu, yang ingin saya bagikan kepada anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-6197942570763574866?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/6197942570763574866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=6197942570763574866&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6197942570763574866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6197942570763574866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2010/01/cerpen.html' title='cerpen'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-7710880256270465856</id><published>2009-10-08T05:08:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T10:51:29.888+07:00</updated><title type='text'>poem</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kepada Fatris dan 30 September 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dari potret gempa sumatera barat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang datang pada jam 5 sore itu&lt;br /&gt;begitu tiba-tiba&lt;br /&gt;yang pergi pada jam 5 sore itu&lt;br /&gt;begitu tergesa-gesa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku sanggup melupakan&lt;br /&gt;yang datang&lt;br /&gt;tapi tak sanggup melupakan&lt;br /&gt;yang pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gadis kecil memeluk kucing hitam&lt;br /&gt;di antara reruntuhan bangunan&lt;br /&gt;dan air mata hitam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-7710880256270465856?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/7710880256270465856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=7710880256270465856&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7710880256270465856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7710880256270465856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/10/poem.html' title='poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-678374439233500154</id><published>2009-09-11T04:33:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T10:53:25.903+07:00</updated><title type='text'>poem</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Solilokui&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dingin bulan&lt;br /&gt;gigil jalan&lt;br /&gt;aku melangkah&lt;br /&gt;rumah rumah tutup&lt;br /&gt;kedai larut malam&lt;br /&gt;pengendara motor tak dikenal&lt;br /&gt;melintasi embun&lt;br /&gt;yang jatuh dari bintang tak bernama&lt;br /&gt;betapa lengang jam berdentang&lt;br /&gt;di mata jaga&lt;br /&gt;lampu lampu hotel&lt;br /&gt;lampu lampu reklame&lt;br /&gt;bikin asing pada kepulangan—&lt;br /&gt;kekasih yang menyimpan ciuman:&lt;br /&gt;lidah lembut dalam telinga &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angin berhembus&lt;br /&gt;sedikit suara tergambarkan&lt;br /&gt;aku terus melangkah&lt;br /&gt;ambang subuh&lt;br /&gt;kau makin tertinggal jauh&lt;br /&gt;yang tidur dalam sajak:&lt;br /&gt;rabun senja!&lt;br /&gt;aku terus melangkah&lt;br /&gt;pada bengkolan ke tujuh&lt;br /&gt;pagi baru tumbuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-678374439233500154?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/678374439233500154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=678374439233500154&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/678374439233500154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/678374439233500154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/09/poem_10.html' title='poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-2649547857952890037</id><published>2009-09-07T23:54:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T10:54:17.852+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Angin Panas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angin panas&lt;br /&gt;angin panas yang menyeberangi laut&lt;br /&gt;membawa bau tubuhmu&lt;br /&gt;yang hutan terbakar itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angin panas&lt;br /&gt;angin panas yang membuat malam&lt;br /&gt;kotaku jadi demam&lt;br /&gt;karna lehermu menyimpan sungai&lt;br /&gt;sungai yang melarungkan abu pohon-pohon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o, cintaku yang ditinggalkan burung-burung, &lt;br /&gt;matamu mengeluarkan asap&lt;br /&gt;jadi kata-kata sesak dalam sajak&lt;br /&gt;sajakku yang berjalan sendirian&lt;br /&gt;di jalan jalan kotaku yang malam&lt;br /&gt;yang demam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-2649547857952890037?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/2649547857952890037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=2649547857952890037&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2649547857952890037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2649547857952890037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/09/poem.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1843776793701189521</id><published>2009-08-19T07:26:00.000+07:00</published><updated>2010-12-14T18:50:09.417+07:00</updated><title type='text'>Event Sastra</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SotHNK6kf0I/AAAAAAAAAP0/cP59qUvNuhA/s1600-h/IMG_2873.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SotHNK6kf0I/AAAAAAAAAP0/cP59qUvNuhA/s320/IMG_2873.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371465272163336002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Temu Sastrawan Indonesia II: &lt;br /&gt;Sastra Indonesia Pascakolonial, 30 Juli-2 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENCARI IDENTITAS SASTRA INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sastra moderen Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perpanjangan dan politik kolonial Belanda dengan keberadaan Balai Pustaka-nya pasca lingua franca, bahasa Melayu menjadi bahasa administratif pemerintahan lewat pengajaran di sekolah. Keberadaan sastra moderen Indonesia sebagai sastra pascakolonial, tentu berbeda dengan sastra pascakolonial di negara-negara Dunia Ketiga lainnya. Masing-masing memiliki ciri khas dan problemnya sendiri. Sastra Indonesia berbeda dengan sastra Amerika Latin, sastra Afrika, atau sastra negara-negara Asia bekas jajahan Barat lainnya. Sebagai bekas jajahan Belanda misalnya, kita tak pernah meneruskan bahasa Belanda sebagai ekspresi (sastra) kita, berbeda dengan kalangan sastrawan hibrid India, yang menulis dalam bahasa bekas jajahannya (Inggris).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apakah yang disebut dengan sastra Indonesia itu sastra yang yang berbahasa Indonesia, atau  ditulis oleh orang Indonesia, ataukah sastra yang berisi segala sesuatu tentang Keindonesian? Bagaimana pula posisi sastra berbahasa daerah, atau sastra populer yang dalam sejarahnya juga bagian dari sastra alternatif? Persoalan tersebut merupakan garis besar yang diangkat dalam Temu Sastrawan Indonesia II di Pangkalpinang, Propinsi Bangka Belitung, pada 30 Juli-2 Agustus 2009. Dengan tema “Sastra Indonesia Pascakolonial”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada diskusi sesi 1, Jum'at (31 Juli 2009), dengan tema “Merumuskan Kembali Sastra Indonesia: Definisi, Sejarah, Identitas” dengan pembicara Agus R. Sarjono, Saut Situmorang, Haryatmoko dan moderator Joni Ariadinata. Menurut Agus R Sarjono, Sastra Indonesia didominasi oleh gambaran rumah yang hilang, retak, hancur, atau tak tergapai. Maka hampir dapat disimpulkan bahwa selepas kolonialisme para sastrawan Indonesia sebagian besar tak berumah. Kajian atas pewacanaan lahirnya bangsa sebagaimana direpresentasikan dalam novel Keluarga Gerilya Pramoedya Ananta Toer dan Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis, berakhir pada kesimpulan bahwa Indonesia adalah sebuah negeri tanpa rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saut Situmorang yang mengusung “Politik Kanon Dalam Sastra Indonesia: Beberapa Catatan” sebagai bagian persoalan dari definisi, sejarah, identitas sastra Indonesia, melihat adanya ketidakjujuran dalam peta sastra Indonesia. Kepentingan  yang tidak lepas dari nilai “politik” suatu kelompok. Misalnya karya sastra yang dianggap sebagai Kanon  tanpa melalui sebuah kritik sastra yang pantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada umumnya politik kanonisasi sastra diyakini lebih banyak dipengaruhi oleh politik kekuasaan demi kepentingan ideologis, politis dan nilai-nilai ketimbang sekedar karena kedahsyatan artistik karya. Pada saat yang sama politik kanonisasi sastra juga membuktikan betapa naifnya, betapa ahistorisnya, betapa tidak membuminya, para sastrawan yang masih yakin bahwa teks sastra adalah segalanya, bahwa tidak ada apa-apa di luar teks sastra, apalagi yang bisa mempengaruhi eksistensinya, bahwa 'substansi' sastra adalah ukuran karya sastra, karena 'substansi' adalah 'estetika' sastra yang 'sublim', sastra yang menjadi itu,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disampaikan oleh tiga pembicara di atas bukanlah jawaban final dari permasalahan sastra Indonesia yang berlarat-larat dengan eksistensinya. Akan tetapi, memberikan ruang bagi pertanyaan-pertanyaan dalam perjalanan sastra Indonesia, dulu-sekarang-dan akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula pada Diskusi Sesi II di hari yang sama. Mengambil tema “Kritik Sastra Indonesia Pascakolonial” dengan pembicara Dr. Syafrina Noorman,  Yasraf Amir Piliang, Katrin Bandel, Zen Hae, dan moderator Willy Siswanto. Pertanyaan tentang identitas sastra Indonesia itu menukik pada persoalan 'keberadaan' kritik sastra yang kurang dari khazanah sastra Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yasraf Amir Piliang berpendapat, tugas kesusasteraan masa depan adalah membangun 'imajinasi' mandiri (self imagination), dengan meninggalkan 'imajinasi-imajinasi kolonial' atau imajinasi produksi 'sang lain', untuk mampu menghasilkan 'perbedaan' dan 'otentisitas', melalui sebuah sebuah proses 'menjadi diri sendiri' (becoming one-self). Dunia sastra diharapkan mampu membangun sebuah proses pertandaan(signification) yang melaluinya tanda-tanda budaya-budaya diperbedakan, makna-makna diproduksi, dan nilai-nilai dikembangkan. Sebuah proses 'resemiotasi' kebudayaan (cultural re-semiotizatian) melalui kekuatan sastra dapat diusulkan, dalam rangka pengkayaan dan penganekaragaman bentuk, makna dan nilai-nilai kebudayaan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ke dua, Sabtu (1 Agustus 2009), Diskusi Sesi III “Membaca Teks dan Gerakan Sastra Mutakhir: Mencari Subjek Pascakolonial” dengan pembicara Nenden Lilis Aisyah, Nurahayat Arif  Permana, Zurmailis, Radhar Panca Dahana dan moderator Triyanto Triwikromo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam perkembangan sastra kita pada era yang untuk sementara secara simplis saya sebut era reformasi ini, tema karya sastra cukup beragam. Namun, di antara tema-tema tersebut ada tema yang mendapat banyak sorotan. Tema yang dimaksud adalah tema mengenai femisme, dan tema seksualitas dan tubuh. Sorotan itu terjadi karena; pertama, radikal dan berani; kedua, karena dianggap ideologi barat,” ucap Nenden Lilis Aisyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikusi yang semestinya menarik—merujuk pada tema yang dihadirkan—terasa agak hambar. Selain pembicara yang kurang mampu menghidupkan diskusi, juga banyaknya kursi peserta yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada Diskusi Sesi IV, “Penerjemah Sastra Muktahir: Mencari Subjek Pascakolonial” dengan pembicara Anton Kurnia, Arif Bagus Prasetyo, John McGlym dan moderator Tia Setiadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arif Bagus Prasetyo, penerjemahan adalah kegiatan yang amat kompleks. Bahasa itu sendiri sudah kompleks, tapi faktor-faktor yang terlibat dalam wacana manusia bahkan lebih kompleks. Tujuan terjemahan begitu beragam, dan pembaca karya terjemahan juga sangat beragam. Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa penerjemahan, mengutip pakar studi terjemahan, I. Richards, barangkali jenis peristiwa paling kompleks yang dihasilkan dalam evolusi jagad raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa memprihatikan kondisi karya terjemahan kita secara umum. Di antara sejumlah karya terjemahan yang bisa dibilang baik, amat banyak karya terjemahan yang buruk. Menurut Alfons yang pernah menjadi Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), para penerjamalah yang paling bertanggung jawab atas kualitas karya terjemahan mereka. Namun, ia pun mengakui adanya faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seorang penerjemah, seperti situasi sosial ekonomi, akses terhadap refrensi, serta penghargaan orang terhadap penerjemah dan hasil karyanya,” tutur Anton Kurnia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John McGlynn dari Yayasan Lontar menilai tentang usaha penerjemahan Sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris, memiliki beberapa hambatan, yaitu kualitas karya, ongkos penerbitan, sikap xenofobis, dan kurangnya visi pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagaimana halnya dengan Indonesia yang mendapatkan hikmah dari pengetahuan mengenai kebudayaan lain, negara-negara lain dapat memperoleh manfaat dari ilmu yang berasal dari Indonesia—sebuah hal yang tidak akan terjadi kecuali orang Indonesia dapat mempromosikan diri secara aktif,” tukasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di mana Identitas Sastra Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Diskusi Sastra,  TSI II 2009 yang dihadiri oleh pelaku sastra (Sastrawan dan Penikmat Sastra) dari berbagai wilayah yang ada di tanah air—yang setidaknya mewakili kantung sastra, baik muda mapun tua dalam proses kreatif—juga diisi dengan malam Apresiasi Sastra dan pertunjukan pembacaan karya sastra, peluncuran buku antologi sastra “Pedas Lada Pasir Kuarsa” (kumpulan puisi TSI II 2009) dan “Jalan Menikung ke Bukit Timah” (kumpulan cerpen TSI II 2009), Bazar Buku, dan Wisata Budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah identitas sastra Indonesia ditemukan? Terlalu naif jika dalam  4 hari untuk menagihnya. Peristiwa sastra di pulau Timah itu, barangkali bisa jadi 'modal' untuk menggali sastra Indonesia 'lebih' dan merangsang proses kreatif sastrawan. Di mana sastra Indonesia tidak sekadar selesai sebagai 'teks' semata dan tidak ada apa pun di luar 'teks' itu—hal ini bisa kita lihat dari penghargaan karya sastra yang ada, bahkan sekelas Nobel pun!--sebab omong kosong yang indah apabila sastra terbebas dari nilai di luar sastra itu sendiri. Sehingga ketika karya (sastra) selesai ditulis, pengarang cukup berleha-leha saja gara-gara salah kaprah memahami istilah, “pengarang sudah mati”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bagaimana event sastra seperti Temu Sastrawan Indonesia itu tidak dijadikan sekedar sebuah pesta laiknya beberapa event sastra di Indonesia yang konon katanya bertaraf internasional. Bukan ajang 'bersolek' para sastrawan semata. Inilah tantangan bagi penyelenggara Temu Sastrawan Indonesia berikutnya 2010 di Kota Tanjungpinang, Propinsi Kepulauan Riau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1843776793701189521?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1843776793701189521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1843776793701189521&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1843776793701189521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1843776793701189521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/08/event-sastra.html' title='Event Sastra'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SotHNK6kf0I/AAAAAAAAAP0/cP59qUvNuhA/s72-c/IMG_2873.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-5538427722370970253</id><published>2009-08-15T02:02:00.001+07:00</published><updated>2011-04-28T10:55:14.024+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ngai Oi Ngi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu yang singkat&lt;br /&gt;menyusun ingatan yang panjang, mei lan&lt;br /&gt;di belinyu, di belinyu&lt;br /&gt;kita bertemu&lt;br /&gt;ruko-ruko tutup pada jam 4 petang&lt;br /&gt;dikepung bekas lubang-lubang tambang&lt;br /&gt;yang ditinggalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menggenggam tanganmu lebih dalam&lt;br /&gt;--tangan yang datang dari negeri hutan terbakar--&lt;br /&gt;di benteng bongkap, pha kak liang&lt;br /&gt;pantai penyusuk, atau di bawah bulan&lt;br /&gt;ketika listrik padam&lt;br /&gt;pada jam 9 malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetapi sepanjang jalan depati amir&lt;br /&gt;angin mengembalikan tangan kita&lt;br /&gt;jadi milik masing-masing&lt;br /&gt;agar bisa menangkap senja&lt;br /&gt;bangunan-bangunan tua&lt;br /&gt;dari masa gemilang timah&lt;br /&gt;hingga kesedihan&lt;br /&gt;orang-orang hakka&lt;br /&gt;dalam pembakaran taiseja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar bisa merasakan&lt;br /&gt;suara mereka yang hidup dan tak bisa pulang&lt;br /&gt;lalu membangun kampung dalam dirinya&lt;br /&gt;jauh lebih sunyi, jauh lebih sunyi&lt;br /&gt;daripada sihir puisi&lt;br /&gt;igauan pelayaran&lt;br /&gt;yang tak pernah menyentuh lautan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belinyu-Yogyakarta, Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-5538427722370970253?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/5538427722370970253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=5538427722370970253&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5538427722370970253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5538427722370970253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/08/poem.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-7304391381535579832</id><published>2009-08-10T08:02:00.000+07:00</published><updated>2011-12-03T00:06:25.042+07:00</updated><title type='text'>Catatan Perjalanan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ke Belinyu Saja, Melihat Kota Tua Timah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/Sn94htq-D2I/AAAAAAAAAPs/o7pJXkWGIE8/s1600-h/IMG_3402.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368141801439760226" src="http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/Sn94htq-D2I/AAAAAAAAAPs/o7pJXkWGIE8/s320/IMG_3402.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 240px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saya menampik tawaran mengunjungi Pantai Tanjung Bunga, Hutan Wisata TuaTunu, Kuburan Cina Sentosa, Katedral ST. Yosef, Kuburan Akek Bandang, Museum Timah Indonesia, Rumah Eks Residen, Perigi Pasem, Tugu Kemerdekaan, Kerhof, yang ditawarkan oleh dinas Pariwisata Bangka-Belitung lewat buklet bagi peserta Temu Sastrawan Indonesia II yang hendak melancong. Bukan karena tempat itu tidak menarik, tapi saya ingin sesuatu yang beda. Saya ingin mengunjungi objek  wisata yang tidak terpromosikan. Berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, tempat seperti itu kadang memiliki pesona yang tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayung bersambut! Kebetulan Raudal Tanjung Banua, Nurwahida Idris, Tsabit, Kedung Darma Romansah, (Yogyakarta), Nur Zen Hae beserta anak istrinya (Jakarta), Risa Syukria (Siak), dan Dahlia (Palembang), hendak bertandang ke rumah Sunlie Thomas Alexander di Belinyu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama rombongan peserta Temu Sastrawan Indonesia II di Pangkalpinang (30 Juli-2 Agustus 2009) yang masih belum bergegas pulang ke daerah masing-masing meski event tahunan itu sudah usai, saya menumpangi bus Damri yang disediakan oleh dinas Pariwisata negeri Timah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan dari Pangkalpinang ke Belinyu, saya pergunakan untuk melihat daerah yang dilintasi dari kaca bus yang melaju dalam angin petang. Beberapa kali saya tertegun, setiap kali melihat bekas-bekas lubang tambang timah yang ditinggalkan dan terbengkalai. Dan pohon-pohon yang tidak seramai laiknya di tepi Lintas Sumatera, berjajar rapat menatap bus yang melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, kegersangan yang menciptakan kesedihan. Tapi saya musti melihatnya. Melihatnya sebagai pelancong yang hanya bisa bertanya “kenapa?” tanpa menemukan jawaban yang memuaskan. Sebab tidak ada guide dalam rombongan kami selama perjalanan di bus itu. Diam-diam, kami seperti bersepakat menjadi guide bagi diri kami sendiri. Seperti sengaja menciptakan pertanyaan-pertanyaan bagi diri kami sendiri dan dijawab oleh diri kami sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa lebih kurang 3 jam, bus itu mengantarkan kami ke kota kecamatan Belinyu. Sebuah kota tua yang didirikan karena pertambangan timah. Kami disambut deretan bangunan-bangunan tua dan ruko-ruko yang sebagian besar tutup. Padahal baru jam 5 sore. Lagi-lagi saya didera pertanyaan “kenapa?”&lt;br /&gt;Karena tidak tahan, saya pun bertanya kepada Sunlie, “Kenapa ruko-ruko di sini tutup?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini orang-orang berdagang cuma sampai jam 4 petang,” jawab Sunlie. Lalu ia mengajak saya masuk ke rumahnya, menyusul yang lain. Di depan pintu, saya disambut oleh Mama Sunlie yang berumur sekitar 60-an dan ramah. Ia Menyapa saya dalam bahasa Cina Hakka. Saya cuma bisa memberi senyum, lantaran tidak faham bahasa Hakka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama saya tidak bisa ngomong dengan bahasa Indonesia,” ucap Sunlie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Belinyu sekitar 30 persen penduduknya adalah Cina Hakka. Dalam sejarah Cina perantauan (Overseas Chinese) ke Asia Tenggara, setidaknya dikenal 5 kelompok besar yang datang dan menetap, yaitu Hokkian,Hakka, Tiochiu atau Hoklo, Kanton, dan Hailam.Kelompok Hokkian dan Tiochiu dikenal sebagai kelompok pedagang, Kanton sebagai kelompok pengrajin dan tukang kayu. Hakka sebagai pekerja tambang dan perkebunan. Dalam sejarah, Hakka adalah kelompok terakhir yang datang ke Indonesia . Mereka datang berombongan untuk dipekerjakan sebagai kuli tambang dan perkebunan. Kedatangan Hakka pertama adalah ke Mandor dan Montrado, pertambangan emas yang dikonsesi oleh Sultan Mempawah dan Sambas, Sekitar awal tahun 1700, mereka didatangkan dalam jumlah besar melalui Serawak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tambang timah di Bangka di buka sekitar pertengahan tahun 1700, yang disusul kemudian di Belitung,  beratus-ratus orang Hakka dikapalkan ke Bangka. Dan terus berlanjut hingga pertengahan tahun 1800. Rata-rata didatangkan dari Meixien. Mereka datang tanpa membawa istri. Ketika kontrak habis hanya ada dua pilihan, kembali ke Cina atau menetap di sekitar lokasi tambang. Bagi mereka yang tidak pulang membuka permukiman di Bangka, seperti di Belinyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putusan untuk menetap diikuti dengan mengambil wanita setempat sebagai istri. Arsitektur permukiman mereka telah berbaur dengan budaya setempat. Namun yang masih terlihat   menonjol adalah banyaknya tapekong (tempat pemujaan besar kecil dalam permukiman itu). Berbagai perayaan besar dalam tradisi Cina masih mereka lakukan. Sembahyang Imlek masih dirayakan dengan ketat, seperti pantangan menyapu pada hari Imlek, saling memberi Angpau, perayaan Cengbeng atau Cingming (perayaan bersih kubur leluhur). Begitu pula dengan Cioko atau sembahyang rebut, masih dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah menarik, di Belinyu memiliki tradisi mengadakan pembakaran Taiseja. Dalam perayaan itu juga disertakan berbagai replika alat transportasi seperi kapal laut, kapal terbang, dan sebagainya. Menurut Sunlie, itu disediakan bagi arwah-arwah orang Cina yang hendak pulang ke negeri leluhur. Sayangnya, saya tidak datang pada saat perayaan itu berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jalan-jalan melewati rumah-rumah kuno beraksitektur campuran Melayu-Cina-Belanda, pedagang buah-buahan, martabak Bangka, Sate Madura, Warung Pecel Lele, Bakso Solo, Ampera Padang, Otak-otak Bakar, Mpek-mpek, di bawah cahaya bulan malam itu menciptakan nuansa eksotis. Apalagi kelengangan memberikan kedamaian tersendiri. Jauh dari suasana kota metropolis yang hiruk-pikuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kapitan Bongkap, Benteng Kutopanji, Kelenteng Liang San Phak &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/Sn934p6YR5I/AAAAAAAAAPc/xNUv2mdNTtk/s1600-h/IMG_3270.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368141096056014738" src="http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/Sn934p6YR5I/AAAAAAAAAPc/xNUv2mdNTtk/s320/IMG_3270.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 240px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasakan malam pertama di kota Belinyu dengan listrik yang mati hingga subuh. Karena listrik bermasalah. Sebagian jaringan Listrik dilayani PT Timah karena PLN kekurangan jaringan. PLTU Mantung dekat pelabuhan Belinyu, yang pernah dibilang terbesar di Asia Tenggara, sudah lama tidak berfungsi. Pun PLTD di Baturusa, setali tiga uang. Sama saja. PT Timah akhirnya menjadi pemasok listrik tanpa meteran, dengan sistem borongan. Tapi layanannya masih mengecewakan, listriknya sering padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangun! Lihat ke bawah,” ujar Raudal membangunkan saya dari tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beranda lantai atas rumah Sunlie, saya melihat ke bawah. Ada bus-bus umum ngetem di depan rumah Sunlie. Bus-bus itu sangat antik. Bodinya terbuat dari kayu yang dilapisi seng. Ada tangga menuju bagasi berpagar besi di atap bus itu. Saya jadi ingat waktu kecil dulu, bus keluaran tahun 1970-an macam itu pernah saya tumpangi bersama Papa dari Padang ke Bukittingi pertengahan tahun 1980-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh kota tua yang masih menyimpan masa lalunya,” bisik saya pada pagi yang mulai menggeliat bersama pedagang-pedagang yang membuka pintu tokonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 10 pagi, saya beserta rombongan melancong ke luar kota dengan mobil rental kijang Inova. Berdesakan memang, karena mobil itu dinaiki  saya, Raudal Tanjung Banua, Nurwahida Idris, Tsabit, Kedung Dharma Romansah, Nur Zen Hae beserta anak istrinya, Risa Syukria, Dahlia, Sunlie Thomas Alexander dan tentu saja Pak sopir. Tapi suasana riang bikin yang sempit jadi lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menempuh jarak 2 kilometer dari pusat kota Belinyu, sampailah kami di Benteng Kutopanji atau Benteng Bongkap, terletak di kampung Kusam. Kekokohan sisa-sisa bangunan Benteng berwaran hitam keabuan—terbuat dari tanah liat yang dibakar—yang dibangun sekitar 1700 oleh Kapitan Bong atau Bong Khiung Fu , membuat saya terpesona. Meski yang saya jumpai sekarang adalah sisa-sisa dan kisah tentang Kapitan Bongkap, saudagar Cina yang kaya raya dan seorang pelarian politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masuk ke dalam benteng, menemukan dua makam dengan arsitektur Cina di bagian paling belakang Benteng itu. Yang terbesar adalah makam  Kapitan Bong bertahun 1700 dan dipugar pada tahun 1973, di belakangnya di atas tebing adalah makam pengawalnya. Namun itu adalah replika makam Kapitan Bong, tapi tetap dihormati oleh masyarakat setempat. Karena sebenarnya, Kapitan itu meninggal di  Malaysia dan Benteng Kutopanji jatuh ke tangan perompak Moro, Filipina. Kemudian kami singgah ke Kelenteng Liang San Phak yang berdampingan dengan Benteng Kutopanji di sisi barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelenteng Liang San Phak, sebenarnya merupakan bagian dari Benteng Kutopanji yang juga didirikan oleh Kapitan Bong. Aroma Hio menyambut kami. Nur Zen Hae, Risa Syukria, Kedung Darma Romansah, dan Dahlia, mencoba bergantian mengadu peruntungan dan ramalan nasib dengan membakar Hio di depan patung Thai Pak Kong (Paman Besar) bernama Liang San Phak dan patung istrinya, yang dibawa langsung oleh Kapitan Bong dari negeri leluhurnya. Patung ini pada tanggal 15 bulan ketujuh penanggalan Cina, diarak mengelilingi kota Belinyu sebagai prosesi sembahyang rebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini Klenteng Dewa Bumi atau Tapekong. Menurut agama Konghucu, Klenteng Tapekong ini untuk tempat bersembahyang dan meminta agar rezeki banyak dan keselamatan,” ujar Fujianto alias Afu (35), salah seorang pengurus Klenteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin bertanya lebih banyak lagi pada Afu yang ramah itu. Tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, perjalanan musti dilanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pha Kak Liang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/Sn93dnfyxuI/AAAAAAAAAPU/c-zgTQTdrfE/s1600-h/IMG_3312.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368140631551166178" src="http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/Sn93dnfyxuI/AAAAAAAAAPU/c-zgTQTdrfE/s320/IMG_3312.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 240px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati jalan tanah berdebu, dan sesekali bertemu pula dengan bekas tambang timah yang ditinggalkan, sampailah kami di gerbang utama Pha Kak Liang yang bernuansa Cina. Makin ke dalam, arsitektur Cina itu makin terasa. Seperti demarga, rumah peristirahatan, gazebo, semuanya berornamen Cina.&lt;br /&gt;Pha Kak Liang adalah sebuah objek wisata tirta yang dibangun di atas bekas tambang timah (kolong). Terletak 10 Kilometer dari kota Belinyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keheningan dan kedamaian begitu terasa di tepi telaga seluas 3,5 hektar yang ditumbuhi pohon cemara dan akasia. Pemiliknya tiga orang etnis Cina bersaudara, dan menjadikannya sebagai villa peristirahatan, yang tetap terbuka untuk umum.Sayangnya, kurang terawatnya Pha Kak Liang membuat objek wisata degan telaga berisi  ribuan ikan emas yang hidup bebas itu tampak sedikit suram. Tapi bagi pecinta suasana sunyi, Pha Kak Liang memberikan itu. Dan semakin lama akan makin terasa. Namun, lagi-lagi perjalanan musti dilanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pantai Penyusuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat pohon-pohon yang memeluk batu itu!” Kalimat Raudal yang puitis itu seperti memberi tahu bahwa kami telah memasuki gerbang pantai Penyusuk. Ya, di kiri-kanan jalan memasuki area pantai tampak beberapa batu besar yang di sekilingnya di tumbuhi pohon-pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamparan pantai yang landai dan ditumbuhi batu-batu besar menyambut kami. Beberapa perahu nelayan tertambat. Ombaknya tenang karena di depannya ada pulau cukup besar yang menjadi tameng. Sedang pulau kecil di sampingnya, berdiri menara suar yang tampak sebesar pohon nyiur melambai dari tempat saya berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amboi! Negeri rayuan pulau kelapa, alangkah eloknya.Saya tidak sabaran ingin menceburkan diri. Mandi-mandi di laut jadi kanak-kanak ria kembali. Hilang sejenak segan pada usia.Namun Risa Syukria meminta saya untuk menemani dia mengambil air wudhu. Inilah perkaranya, ternyata kamar mandi umum dikunci. Penjaganya entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pantai Penyusuk sepi, jauh dari pedagang yang mata duitan. Akhirnya, kami menemukan berbungkus-bungkus air minum tergeletak ditinggalkan pemiliknya di atas sebuah batu besar.Jadilah Risa sholat dan saya pun mandi menceburkan diri ke laut menyusul yang lain, yang telah dulu bermain dengan air garam yang jinak itu. Tak lama berselang, Risa pun menyusul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma Kedung Darma Romansah dan Pak sopir yang tidak mau membasahi tubuhnya dengan air laut di pantai yang tenang itu. Entah kenapa. Setelah puas mandi-mandi. Main pasir pantai yang putih. Duduk-duduk dari satu batu ke lain batu. Rombongan sastrawan itu memutuskan untuk pulang.&lt;br /&gt;Matahari sudah mulai mendekati ubun-ubun laut, beberapa jam lagi bakal angslup. Cuaca cerah. Tentu saja sunset akan terlihat terlihat sempurna di pantai barat ini. Namun apa hendak dikata, pertemuan matahari dan laut yang menciptakan cahaya emas itu, tak bisa saya saksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun pulang dengan tubuh yang belum dibilas dari air laut karena penjaga kamar mandi umum itu tidak juga datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di jalan Depati Amir, saya dan Risa Syukria yang juga reporter TV Siak, memutuskan turun dari mobil. Kami ingin berjalan kaki berdua menuju rumah Sunlie di jalan Sriwijaya yang jaraknya sekitar 500 meter dari tempat kami turun. Sedang yang lain terus pulang dengan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami turun dari mobil itu bukan karena ngambek, tapi ingin melihat lebih dekat rumah-rumah arsitektur Belanda yang dihuni pegawai timah di bawah gelimang cahaya senja. Ya, sepanjang jalan Depati Amir itu berjajar bangunan-bangunan lama. Sayang sebagian sudah tidak terawat lagi. Padahal bangunan-bangunan itu merupakan jejak langkah dari perjalanan kota timah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibrahim (52), salah seorang karyawan pertambangan timah yang kami temui di salah satu rumah  kuno itu, dulunya rumah-rumah di kawasan jalan Depati Amir itu adalah kawasan elit yang ditempati oleh pegawai teras atas pertambangan timah, dibangun pada tahun 1928.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menipisnya cadangan timah di Belinyu, rumah-rumah itu dihuni campur aduk antara karyawan biasa dan pegawai menengah. Bahkan sebagian rumah tidak dihuni lagi dalam kondisi yang mengenaskan, pintu dan jendela yang copot, serta dindingnya kumuh penuh coretan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kota yang aneh. Tidak seperti kota-kota lain yang pernah saya datangi. Selama di sini, belum pernah saya lihat ada ABG nongkrong bersama menghabiskan petang. Bagaimana ya orang-orang hidup dalam kelengangan ini?” ucap Risa, dara rancak asal Minang ini, di jalan menuju ke rumah Sunlie—selepas jalan Depati Amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kota ini membuat Ngai Oi Ngi!” ujar saya memakai sekerat bahasa Hakka yang saya pelajari dari Sunlie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu  Ngai Oi Ngi?” tanya Risa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku Mencintaimu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/Sn94OYb4nrI/AAAAAAAAAPk/uoePwP_V8gg/s1600-h/IMG_3396.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368141469321830066" src="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/Sn94OYb4nrI/AAAAAAAAAPk/uoePwP_V8gg/s320/IMG_3396.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 240px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-7304391381535579832?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/7304391381535579832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=7304391381535579832&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7304391381535579832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7304391381535579832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/08/catatan-perjalanan.html' title='Catatan Perjalanan'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/Sn94htq-D2I/AAAAAAAAAPs/o7pJXkWGIE8/s72-c/IMG_3402.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1268603014401641522</id><published>2009-06-04T16:23:00.000+07:00</published><updated>2009-06-04T16:24:18.396+07:00</updated><title type='text'>poem</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bila Kita Jadi Tua Bersama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila kita jadi tua bersama&lt;br /&gt;dari kerut sudut matamu&lt;br /&gt;dari uban kepalaku&lt;br /&gt;berjatuhan masa lalu&lt;br /&gt;kata kata renta&lt;br /&gt;punya kita&lt;br /&gt;akan membaginya&lt;br /&gt;dengan manis&lt;br /&gt;teramat manis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila kita jadi tua bersama&lt;br /&gt;hilang sudah birahi&lt;br /&gt;pada tubuh&lt;br /&gt;dan segala yang mendandaninya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada saat-saat begitu, sayangku&lt;br /&gt;kita cuma perlu kisah&lt;br /&gt;sambil menunggu burung kakak tua&lt;br /&gt;hinggap di jendela&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1268603014401641522?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1268603014401641522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1268603014401641522&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1268603014401641522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1268603014401641522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/06/poem_04.html' title='poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-2763192981090365371</id><published>2009-05-16T02:43:00.000+07:00</published><updated>2009-05-16T02:44:21.255+07:00</updated><title type='text'>Press release</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Disinterprestasi Pendendang &lt;br /&gt;dan Klaim Poliandri Sebagai Adat Minangkabau &lt;br /&gt;dalam Pertunjukan Teater “3 Perempuan”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan Teater Sakata, “3 Perempuan” di Yogyakarta, Sabtu, 2 Mei 2009 lalu, menuai protes keras dari Forum Budaya Peduli Budaya Alam Minangkabau (F-PBAM) yang terdiri dari mahasiswa dan seniman asal Sumbar. &lt;br /&gt;Hal ini dipicu oleh laporan di Harian Jogja (Senin, 4 Mei 2009), halaman 12 berjudul “Pentas 3 Perempuan: Angkat Konflik Perempuan di Rumah Gadang” yang menyatakan bahwa adat Minangkabau memperbolehkan perkawinan poliandri, satu perempuan menikah dengan banyak laki-laki. &lt;br /&gt;Dari hasil diskusi beberapa kawan di F-PBAM, Syuhendri Dt. Siri Marajo (Ketua), Raudal Tanjung Banua (Sekretaris), Ivan Adilla, Y. Thendra BP dan Indrian Koto, tidak ada ditemukan adat Minangkabau memperbolehkan poliandri. Kalau pun ada Pendendang yang berganti suami selama menjalani profesinya, itu tidak bisa dijadikan pengklaiman sebagai adat Minangkabau. Itu cuma berupa laku personal—yang mungkin sebenarnya tidak diinginkan oleh Pendendang—dan tindakan itu juga bukan bentuk poliandri. &lt;br /&gt;Lantas dari manakah munculnya pernyataan Poliandri sebagai Adat Minangkabau? Apakah hasil kesimpulan subyektif dari Reporter Harian Jogja atau tafsir individu Tya Setyawaty selaku Sutradara dan penggagas ide, serta teater Sakata sebagai sebuah kelompok?&lt;br /&gt;Setelah menyimak kesaksian pertunjukan, membaca keterangan di buklet, pun pada diskusi yang berlangsung di Studio Teater Garasi; pernyataan Poliandri sebagai bagian adat di Minangkabau adalah tafsir individu (kelompok) dari Tya Setyawati.&lt;br /&gt;Maka bersepakatlah F-PBAM untuk melakukan klarifikasi dan menggunakan hak jawab untuk membantah reportase dan pernyataan yang merugikan masyarakat Minangkabau tersebut kepada Harian Jogja.&lt;br /&gt;Akan tetapi sebelum klarifikasi dan hak jawab F-PBAM dimuat (14/05/09), Enrico Alamo, Pimpinan Teater Sakata Padang Panjang, membuat pernyataan di suara pembaca Harian Jogja (13/05/09). Menurutnya, pernyataan poliandri itu bukan bersumber dari teater Sakata, bahkan teater Sakata merasa dirugikan oleh Harian Jogja, yang mengakibatkan terhambatnya proses “Pencairan Dana” dari sponsor! Surat pembaca ini dibalas langsung oleh Harian Jogja, bahwa reportase mereka bersumber dari teater Sakata itu sendiri.&lt;br /&gt;Dalam kasus ini, Enrico sebagai pimpinan dari teater Sakata bukannya meminta maaf atas tindakan yang mereka lakukan, malah terkesan ingin ‘mencuci tangan’ dan lebih memusingkan kerugian kelompoknya—pencairan dana dari sponsor—daripada kerugian moral masyarakat Minangkabau yang diakibatkan oleh tafsir yang dangkal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seni Pesanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus pertunjukan “3 Perempuan” yang ditampilkan oleh kelompok Teater Sakata, bisa menjadi pelajaran bagi kita bersama, bagaimana proses kreatif penggarapan suatu seni pertunjukan yang (berhasrat) mengangkat khazanah etnis, lebih banyak mengedapankan sensasi yang dangkal. Tidak menyentuh substansinya!&lt;br /&gt;Jika Saluang dan Dendang cuma dijadikan objek pelengkap (latar) dari sebuah ‘peristiwa teater’ yang disajikan, terlalu gegabah ‘mengklaim’ itu telah menjadi bentuk eksperimen ‘teater’ yang mengambil unsur seni etnis. Apalagi  sampai  munculnya pernyataan bahwa apa yang penyaji (teater Sakata) tampilkan adalah Adat yang disepakati oleh masyarakat komunal (Minangkabau).&lt;br /&gt;Untuk itu, F-PABM mengimbau kepada Peneliti, Ilmuwan, Jurnalis, Budayawan, Seniman, dan siapa pun yang tertarik untuk mengangkat Adat Minangkabau, supaya lebih teliti dan mendalam melakukan sebuah studi kasus sebelum menampilkan di gelanggang mata orang banyak. Supaya tidak menghancurkan adat itu sendiri demi kepentingan sesaat individu atau kelompok yang terjebak dalam euforia banal, demi memenuhi misi liberalisme global yang ingin melenyapkan manusia dari identitas dan budayanya, salah satunya melalui “pesan sponsor” fanding asing.&lt;br /&gt;Ketua F-PABM, Syuhendri Dt. Siri menegaskan tidak bermaksud menghambat proses kreatifitas siapa pun dari latar mana pun. Apa yang dilakukan F-PABM hanyalah sebuah bentuk kepedulian atas budaya Minangkabau supaya tidak sewenang-wenang disalah-tafsirkan.**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-2763192981090365371?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/2763192981090365371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=2763192981090365371&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2763192981090365371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2763192981090365371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/05/press-release.html' title='Press release'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-7369094942697313176</id><published>2009-05-16T02:41:00.000+07:00</published><updated>2009-05-16T02:43:00.074+07:00</updated><title type='text'>Lampiran</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;PERNYATAAN SIKAP &lt;br /&gt;FORUM PEDULI BUDAYA ALAM MINANGKABAU (F-PBAM)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca dan mencermati laporan pertunjukan Teater Sakata di Harian Jogja, Senin, 4 Mei 2009, halaman 12 berjudul “Pentas 3 Perempuan: Angkat Konflik Perempuan di Rumah Gadang”—ide dan sutradara Tya Setiawaty, Sabtu, 2 Mei 2009, bertempat di Studio Teater Garasi Yogyakarta—kami menemukan kejanggalan yang sangat fatal dalam paragraf pertama laporan tersebut, yakni pada kalimat: Apalagi, adat Minangkabau yang memperbolehkan perkawinan poliandri, satu perempuan menikah dengan banyak laki-laki. (dokumentasi terlampir)&lt;br /&gt;Hal ini akan menjadi lebih bias lagi jika mencermati keterangan foto laporan dimaksud, berbunyi: SEMANGAT: Sang Ibu dan Sang anak dalam pentas 3 Perempuan mampu menyemangati perempuan untuk mempertahankan prinsip hidupnya. Jika tidak hati-hati, keterangan ini dapat menggiring asosiasi pembaca menghubungkan prinsip hidup itu dengan pernyataan keliru di dalam teks laporan. Terlebih yang ditonjolkan dari pentas dan laporan pementasan tersebut bukanlah perjuangan seorang perempuan Minangkabau mempertahankan eksistensi diri dan seni-budayanya (dalam hal ini saluang dan dendang), tetapi justru menonjolkan hal-hal yang dianggap sensasional, seperti seksualitas dan affair keluarga, yang sangat personal sifatnya dan tindakan semacam itu tidak memiliki hubungan apa pun dengan sistem adat alam Minangkabau yang hendak dipresentasikan.&lt;br /&gt;Bertolak dari hal di atas, maka kami Forum Peduli Budaya Alam Minangkabau (F-PBAM) menyatakan sikap sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Merujuk pada Tambo (hukum adat yang menjadi pegangan masyarakat alam Minangkabau hingga saat ini), baik dari Laras Koto Piliang (Datuak Katamanggungan), Laras Bodi Caniago (Datuak Parpatih Nan Sabatang), maupun Laras Nan Panjang (Datuak Simaharjo Nan Banego-nego), tidak ada memuat perihal tentang adat Minangkabau yang memperbolehkan perkawinan poliandri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Adat Alam Minangkabau disusun dari hasil kesepakatan bersama masyarakat Minangkabau, sebagaimana pepatah bulek aia dek pambuluah bulek kato dek mupakek (bulat air karena pembuluh bulat kata karena mufakat) dan tuah dek sakato cilako dek basilang (tuah karena sekata celaka karena berkonflik) dan kato daulu kato ditapati kato kudian kato dicari (kata pertama kata ditepati kata kemudian kata dicari). Baik itu yang berlaku di dalam: manitiak dari ateh (menitik dari atas) Laras Koto Piliang, mambusek dari bumi (membuncah dari bumi) Laras Bodi Caniago, maupun gabungan dari kedua laras tersebut (Laras Nan Panjang). Maka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Adat Minangkabau yang memperbolehkan perkawinan poliandri, satu perempuan menikah dengan banyak laki-laki adalah tafsir dan pernyataan individu yang ke bawah tidak berakar, ke atas tidak berpucuk, di tengah digirik (digerogoti) kumbang dan tidak bisa dijadikan atau disebut sebagai adat Minangkabau yang menyangkut tatanan kehidupan masyarakat alam Minangkabau. Untuk itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kepada Peneliti, Ilmuwan, Jurnalis, Budayawan, Seniman, dan siapa pun yang tertarik untuk mengangkat Adat Minangkabau, supaya lebih teliti dan mendalam melakukan sebuah studi kasus sebelum menampilkan di gelanggang mata orang banyak. Supaya tidak menghancurkan adat itu sendiri demi kepentingan sesaat individu atau kelompok yang terjebak dalam euforia banal, demi memenuhi misi liberalisme global yang ingin melenyapkan manusia dari identitas dan budayanya, salah satunya melalui “pesan sponsor” fanding asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pernyataan ini kami buat bukan bermaksud untuk menghambat proses kreatifitas siapa pun, akan tetapi sebagai sebuah bentuk rasa memiliki dan mempertahankan budaya Minangkabau sebagai salah satu budaya Nusantara dari penghancuran gerakan liberalisme global yang telah membuat kita seperti ayam mati kelaparan di lumbung padi! Dengan niat semacam ini, kami ingin menekankan agar tidak ada pihak yang merasa “dizalimi” lalu mengeksploitasinya untuk keuntungan lebih lanjut—sebagaimana banyak menjadi motif atau modus operandi dalam gerakan liberalisme global! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 12 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami Forum Peduli Budaya Alam Minangkabau (F-PBAM):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syuhendri Dt. Siri Marajo (Ketua)&lt;br /&gt;2. Raudal Tanjung Banua (Sekretaris)&lt;br /&gt;3. Ivan Adilla&lt;br /&gt;4. Y. Thendra BP&lt;br /&gt;5. Indrian Koto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-7369094942697313176?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/7369094942697313176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=7369094942697313176&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7369094942697313176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7369094942697313176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/05/lampiran.html' title='Lampiran'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-8485195666637678048</id><published>2009-03-16T10:56:00.000+07:00</published><updated>2009-03-16T10:58:55.016+07:00</updated><title type='text'>masih ada-ada saja :)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puisi Saya Diambil Diam-diam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melanjutkan tulisan saya sebelumnya: PUISI SAYA DITIRU? yang dimuat di buku kumpulan puisi iyut firta "dongeng=dongeng tua" (baca di &lt;a href="http://www.facebook.com/notes.php?id=594592097%29" onmousedown="'return" target="_blank" rel="nofollow"&gt;&lt;span&gt;http://www.facebook.com/no&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;tes.php?id=594592097)&lt;/a&gt;. maka inilah hasil 'ngoyak maling':&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(SMS dari Fadhila Ramadhona)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bknx menganggap&lt;br /&gt;entg mslh ini. tp la&lt;br /&gt;sdri bngung hrus&lt;br /&gt;mlkukan apa. la&lt;br /&gt;mrs g pnh ngrm&lt;br /&gt;puisi itu ke kyt*. sjk&lt;br /&gt;kul di bdg la sgt jrg&lt;br /&gt;komnksi dg kyt&lt;br /&gt;aplg pake puisi&lt;br /&gt;sms.&lt;br /&gt;(krn la agak kcwa&lt;br /&gt;dg kyt aplg stlh acr&lt;br /&gt;temu pnyair 5kota)&lt;br /&gt;&amp;amp;la g pny bukt atw&lt;br /&gt;alsn y kuat kl itu&lt;br /&gt;bkn la y&lt;br /&gt;ngrm. sdgkn jeks2&lt;br /&gt;sms mu itu ada di&lt;br /&gt;hp la.&lt;br /&gt;Nb: mw mngrim&lt;br /&gt;sms ini pd y&lt;br /&gt;lain, kalmat y dlm&lt;br /&gt;kurung jgn&lt;br /&gt;difoward jg. jg nanti&lt;br /&gt;mlah bkmbang&lt;br /&gt;kmn2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengirim:&lt;br /&gt;Dila&lt;br /&gt;+62852636060XX&lt;br /&gt;dikirim:&lt;br /&gt;09:30:28&lt;br /&gt;12.03.2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*kyt= kuyut. panggilan buat iyut fitra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian selepas jum'atan iyut fitra menelpon saya (13maret2009). isinya lebih kurang menanyakan kasus ini, dan iyut bilang, bahwa bait puisi yang ditulis dalam tanda kurung itu, telah dia minta izin dulu sebelumnya kepada pemiliknya, dan pemiliknya mengijinkannya (sebagaimana pengakuan heru jp di houtsmix saya di blog saya:&lt;a href="http://langit-puisi.blogspot.com/" onmousedown="'return" target="_blank" rel="nofollow"&gt;&lt;span&gt;http://langit-puisi.blogsp&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;ot.com/&lt;/a&gt; yang namanya juga ditulis dalam puisi bermasalah itu).&lt;br /&gt;beberapa saat kemudian iyut meng-SMS saya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;besok kyt&lt;br /&gt;lounching buku tsb&lt;br /&gt;di stsi&lt;br /&gt;padangpanjang.&lt;br /&gt;kalau ada waktu&lt;br /&gt;datanglah. kyt&lt;br /&gt;akan umumkan&lt;br /&gt;bahwa puisi tsb&lt;br /&gt;adalah karya&lt;br /&gt;tendra dan bukan&lt;br /&gt;karya dilla. apakah&lt;br /&gt;tendra setuju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengirim:&lt;br /&gt;Iyut Fitra&lt;br /&gt;+62852747112XX&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena sudah acara lain, saya tidak bisa menghadiri undangan iyut tersebut. tetapi saya menghargai sikap iyut tersebut, yang tanpa saya hubungi, menghubungi saya.&lt;br /&gt;Esoknya, iyut mengumumkan mengenai puisi bermaslah tersebut. ini saya ketahui dari sms romi zarman, yang saat itu menghadiri acara launching buku dongeng-dongeng masa tua di stsi padang panjang. sekali lagi saya menghargai sikap iyut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akan tetapi hingga saat saya menulis catatan ini, Fadhila Ramadhona, belum juga mau melakukan 'pernyataan' kepada publik. entah karena malu, atawa pura-pura tidak mau tahu. itu masalah dia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang baik dan tidak baik.&lt;br /&gt;persoalan dari kasus ini, bukan sekedar curi-mencuri saja. namun bagaimana pragmatisme telah merasuki dunia sastra indonesia. pragmatisme yang merupakan antek-antek kapitalisme global. penghargaan terhadap sebuah karya sastra cuma OMONG KOSONG YANG INDAH! koncoisme dan birahisme sastra!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau pun saya pernah mengirim puisi tersebut kepada dila lewat sms, itu sama halnya dengan meng-tag teman di fb. silahkan baca dan komentari. tak ada tujuan apa2 selain proses kreatif. lagi pula, setiap kali saya mengirim puisi sms kepada teman, saya telah mengarsipkannya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu kenapa kita menulis? kenapa kita menulis?&lt;br /&gt;untuk kehidupankah atau popularitas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah satu contoh kasus 'sastra sinetron'!&lt;br /&gt;sastra pesta melulu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;haha....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-8485195666637678048?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/8485195666637678048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=8485195666637678048&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8485195666637678048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8485195666637678048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/03/masih-ada-ada-saja.html' title='masih ada-ada saja :)'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1632069950759676264</id><published>2009-03-09T15:21:00.000+07:00</published><updated>2009-03-09T15:56:43.509+07:00</updated><title type='text'>ada-ada saja :)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puisi Saya Ditiru?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;parak siang, 9 maret 2009.&lt;br /&gt;saya belum jua bisa memejam mata. saya ambil buku kumpulan puisi iyut fitra "dongeng-dongeng tua" pemberian dari raudal tanjung banua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah bolak-balik halaman puisi iyut itu, sampai jua saya di halaman 128. dan ketika membaca satu bait yang berada dalam tanda kurung, tersintaklah saya. kiranya bait itu hampir serupa dengan puisi saya yang berjudul MANUSIA PERGI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;silahkan bandingkan bait puisi iyut fitra Pencari Yang kehilangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;............&lt;br /&gt;--fadhila ramadhona&lt;br /&gt;(burung-burung melintas di bulan merah bara&lt;br /&gt;melintas menuju sarang,&lt;br /&gt;tapi aku yang bergegas, ke mana mesti pulang?&lt;br /&gt;aku manusia pergi&lt;br /&gt;berkali hati terbakar di langit malam)&lt;br /&gt;............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;payakumbuh, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan puisi saya (manusia pergi):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seekor bangau melintas di langit petang&lt;br /&gt;melintas menuju sarang&lt;br /&gt;aku yang bergegas&lt;br /&gt;ke mana musti pulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku manusia pergi&lt;br /&gt;menyimpan banyak lambaian&lt;br /&gt;menahan ragam kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;puisi saya itu dibuat tahun 2007. saya memang tidak lagi memberi penanggalan pada puisi saya. dan puisi Manusia Pergi itu, saya publikasikan di blog saya &lt;a href="http://langit-puisi.blogspot.com/2008/07/poem.html" onmousedown="'return" target="_blank" rel="nofollow"&gt;&lt;span&gt;http://langit-puisi.blogsp&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;ot.com/2008/07/poem.html&lt;/a&gt; pada 3 juli 2008 dan dimuat di MINGGU PAGI NO 21TH 61 MINGGU IV AGUSTUS 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah iyut membaca puisi saya? jika tidak, bisakah dua orang menulis puisi dengan beberapa larik yang sama tanpa membaca sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ataukah puisi itu, kiriman fadhila ramadhona ke pada iyut fitra. dan iyut menulis ulang dalam puisinya itu. sebab kalo dilihat secara utuh puisi iyut yang berjudul 'Pencari Yang kehilangan' sepertinya (menurut saya) adalah pengembangan dari sms kiriman atau puisi--di sana ada juga nama-nama: heru jp, dian hardiana, zelfeni wimra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika benar dugaan saya, bait puisi itu dikirim oleh fadhila ramadhona, dari manakah dia menemukan bait puisi yang dikirimnya kepada iyut? bisakah dua orang menulis puisi dengan beberapa larik yang sama tanpa membaca sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pembaca yang baik dan tidak baik. pemberitahuan ini saya kirimkan, apabila&lt;br /&gt;pembaca yang baik dan tidak baik menemukan puisi saya (Manusia Pergi) dan bait puisi iyut (Pencari Yang Kehilangan), janganlah bingung. apalagi sampai saya dikira 'nyontek' bait puisi iyut itu.&lt;br /&gt;sebab tak sudilah saya yang keren nih mencontek puisi orang dengan membabi-buta, tapi kalo terinspirasi atau melakukan intertekstual tentulah saya peranh jua melakukannya, hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hehe...lagi deh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1632069950759676264?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1632069950759676264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1632069950759676264&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1632069950759676264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1632069950759676264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/03/ada-ada-saja.html' title='ada-ada saja :)'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1717993363351669844</id><published>2009-03-01T15:16:00.000+07:00</published><updated>2009-03-01T15:32:27.512+07:00</updated><title type='text'>Info Buku</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;br /&gt;rumahlebah - ruangpuisi&lt;/b&gt; adalah majalah puisi tiga bulanan yang diterbitkan oleh Komunitas Rumah Lebah Yogyakarta bekerjasama dengan Framepublishing. Pada edisi perdana ini, majelis redaksi yang terdiri dari Raudal Tanjung Banua, Nur Wahida Idris, Frans Nadjira, Umbu Landu Paranggi dan Faisal Kamandobat telah memilih sejumlah puisi , esai, resensi buku dan puisi terjemahan untuk dimuat di edisi perdana rumahlebah - ruangpuisi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui, Komunitas Rumah Lebah yang menerbitkan rumahlebah - ruang puisi, selama ini dikenal begitu aktif dalam mendorong kemajuan kehidupan sastra di tanah air melalui penerbitan Akar Indonesia. Rumahlebah - ruangpuisi adalah salah satunya yang sudah lama mejadi cita - cita mereka. Walau hanya terbit tiga kali dalam setahun, majalah puisi ini dipastikan bakal menjadi buruan para penggemar sastra dan puisi Indonesia. Karena itu Anda pun harap bergegas ke toko buku terdekat untuk membeli majalah puisi ini sebelum stoknya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam edisi perdana ini dimuat sejumlah karya: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ahmad Nurullah, Riki Dhamparan putra, Badruddin Emce, Y. Thendra BP, Sindu Putra, Syaifuddin Gani, Saut Situmorang, IOA Suwanti Sideman, Bode Riswandi (Puisi); Arie MP Tamba, Terry Eagleton, I. Fahmi Panimbang (Esei); Walt Whitman (Puisi Terjemahan); Aslan A. Abidin (Perbincangan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SapFK0XFw2I/AAAAAAAAAN0/V9nOOdTHS3E/s1600-h/juralrumahlebahweb.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 237px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SapFK0XFw2I/AAAAAAAAAN0/V9nOOdTHS3E/s320/juralrumahlebahweb.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308131162966049634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SapFLHE00OI/AAAAAAAAAN8/moYZEwB69_g/s1600-h/tampakbelakag.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 242px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SapFLHE00OI/AAAAAAAAAN8/moYZEwB69_g/s320/tampakbelakag.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308131167989715170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1717993363351669844?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1717993363351669844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1717993363351669844&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1717993363351669844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1717993363351669844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/03/info-buku.html' title='Info Buku'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SapFK0XFw2I/AAAAAAAAAN0/V9nOOdTHS3E/s72-c/juralrumahlebahweb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-45972389794191638</id><published>2009-02-04T02:06:00.000+07:00</published><updated>2009-02-04T02:20:48.708+07:00</updated><title type='text'>Inspirasi</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemandangan Alam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298650877707409410" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 516px; CURSOR: hand; HEIGHT: 293px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SYiW5lqP2AI/AAAAAAAAANc/GNDUDrQEPhQ/s320/IMG_9379.jpg" border="0" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-45972389794191638?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/45972389794191638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=45972389794191638&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/45972389794191638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/45972389794191638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/02/blog-post.html' title='Inspirasi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SYiW5lqP2AI/AAAAAAAAANc/GNDUDrQEPhQ/s72-c/IMG_9379.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-404249010019282844</id><published>2009-02-01T04:09:00.001+07:00</published><updated>2009-02-01T06:31:46.797+07:00</updated><title type='text'>Solilokui</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Belajar Menulis Tentang Pohon&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesibukan saya yang berkesan saat ini bagi saya adalah melihat pohon. setiap hari, tanpa jadwal pasti, saya melihat pohon. maklum di kampung saya masih ada pohon. saya cukup senang. tapi saya juga cukup sedih. sebab banyak sekali pohon yang dulu ada, kini tak lagi ada. misalnya pohon jarak di halaman rumah mama saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap kali teringat pohon jarak itu, saya teringat nenek saya. nenek saya itu sudah mati. dan saya jarang menyanyikan lagu burung kakak tua. tapi cerita nenek saya tentang pohon jarak, tetap hidup dalam ingatan saya. kisah nenek, sewaktu zaman penjajahan jepang dulu, nenek kalo mandi sabunnya pake buah pohon jarak dan kakek tetap mencintai nenek. setiap kali teringat pohon jarak itu, saya teringat waktu kecil, saya kena sakit campak. mama mengambil daun pohon jarak itu, merendamnya di air, lalu daun pohon jarak yang sudah basah itu di letakan mama di tubuh saya yang diamuk campak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekarang di kampung saya sudah tumbuh pohon baru. kalau di malam hari, pohon itu mengeluarkan cahaya, warnanya merah. batang pohon itu terbuat dari besi, tidak berdaun, tidak berakar. pohon besi itu, paling tinggi di kampung saya. sebenarnya, saya tidak suka dengan pohon besi itu, burung-burung dan monyet juga tidak suka--mungkin itu sebabnya tidak ada burung-burung dan monyet membuat sarang di sana. tapi kalo pohon besi itu tak ada, saya tidak bisa berbagi kabar dengan teman-teman saya yang jauh dalam tempo sesingkat-singkatnya. dan pulsa di telpon genggam saya akan membusuk. tapi burung-burung tidak butuh pulsa. monyet juga tidak butuh pulsa. tapi kenapa orang jual pulsa pake monyet?! ternyata kecantikan luna maya kurang mampu untuk menjual pulsa, jadi butuh bantuan monyet, hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitulah, kesibukan saya yang berkesan bagi saya: melihat pohon!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kesibukan yang paling berkesan bagi saya adalah menanam pohon. setiap kali saya menanam pohon, saya merasa hidup masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ngomong-ngomong, kamu sekarang sibuk apa?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-404249010019282844?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/404249010019282844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=404249010019282844&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/404249010019282844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/404249010019282844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/01/solilokui_31.html' title='Solilokui'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-7948956268642899843</id><published>2009-01-31T14:11:00.000+07:00</published><updated>2009-01-31T14:51:29.392+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Menyeberang Ke Pulau Pisang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;ketika pasang surut&lt;br /&gt;aku menyeberang&lt;br /&gt;di pertemuan dua ombak yang tenang&lt;br /&gt;anak anak karang dalam air&lt;br /&gt;menata jalan ke pulau kecil&lt;br /&gt;pulau terpencil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tinggalkan kisahmu, malin&lt;br /&gt;yang membatu&lt;br /&gt;dan bersitegang dengan camar&lt;br /&gt;di pantai pulau besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke pulau kecil&lt;br /&gt;pulau terpencil&lt;br /&gt;ke sana, ke sana aku menuju&lt;br /&gt;lepaskan kisah baru&lt;br /&gt;bagi umang-umang si pengusung sarang&lt;br /&gt;yang tak mengenal kata pulang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-7948956268642899843?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/7948956268642899843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=7948956268642899843&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7948956268642899843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7948956268642899843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2009/01/poem_30.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-5563484574375591948</id><published>2008-12-14T17:09:00.000+07:00</published><updated>2008-12-14T17:42:37.515+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Kepada Puisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan kenangan &lt;br /&gt;mengentalkan rinduku padamu&lt;br /&gt;tapi keheningan embun jatuh&lt;br /&gt;dini hari berkabut&lt;br /&gt;sepi memagut&lt;br /&gt;pohon-pohon masa kecil yang lucu&lt;br /&gt;angin sesekali mengirim deru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;datang, datanglah&lt;br /&gt;aku ingin mencintaimu&lt;br /&gt;dalam banyak keindahan&lt;br /&gt;--juga kepedihan--&lt;br /&gt;yang tak terucapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sini, di kelok loban ini&lt;br /&gt;jauh dari kibasan lampu reklame&lt;br /&gt;dan etalase&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-5563484574375591948?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/5563484574375591948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=5563484574375591948&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5563484574375591948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5563484574375591948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/12/poem.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-2893997906380235345</id><published>2008-11-07T23:16:00.000+07:00</published><updated>2008-11-07T23:26:42.677+07:00</updated><title type='text'>Cerpen</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Tumbal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabrakan bis AKAP ekonomi dengan mobil Kijang Inova itu—menyebabkan 10 orang penumpang meninggal dunia, sekian luka berat dan selebihnya luka ringan—diyakini masyarakat sekitarnya disebabkan oleh Genderuwo penunggu pohon Asam Jawa di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jalan itu memang ganas,” ucap Parno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut Mbah Darmo, dulu jalan itu adalah istana makhluk halus. Sewaktu pembangunan jalan tidak ada yang minta izin. Tidak diselametin. Makanya pada saat tertentu penghuninya minta jatah,” sahut Gondes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian obrolan di pos ronda itu berkembang, membahas makhluk halus dan kiat mengatasinya. Dari Wewe Gombel sampai Drakula. Kadang mengutip pendapat ahli memedi yang sering tampil di koran daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin malam tambah ngawur. Membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan mau istirahat karena besok membuka bengkel tambal ban, aku meninggalkan pos ronda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Seminggu sejak peristiwa tabrakan bis AKAP ekonomi dengan mobil Kijang Inova itu, kampungku dipenuhi mulut-mulut yang menyusun kisah tentang dunia lain. Selaras usia dan daya mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara korban tabrakan cuma mendapat porsi cerita sekedar. Seakan bumbu pelengkap. Tak ada yang membahas lebih nasib korban meninggal, ditinggalkan, terluka, dan cacat. Perhatian orang-orang kampungku  tercurah pada Genderuwo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah akan dilaksanakan upacara selamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesuai dengan anjuran Mbah Darmo—yang disampaikan melalui Kang Samin—kita harus melakukan ruwatan. Agar kampung kita kembali tentrem. Kita akan menanam kepala seekor kerbau di pinggir jalan yang telah berulang minta korban itu. Maka, diharapkan sumbangan warga semua, baik berupa materi maupun non materi. Mengenai kapan waktunya, marilah kita tunggu petunjuk dari Mbah Darmo,” ucap Pak Narto, pemuka kampung, di hadapan penduduk yang hadir dalam rembug kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riuhlah balai kampung. Tapi tak satu pun mulut berani membantah rencana selametan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan akan diselamatkan itu lengang. Daerah pesawangan. Jalan aspal mulus dan lurus sepanjang 100 meter. Tidak ada penduduk berumah di pinggirnya—atau sengaja dibiarkan tanpa rumah? Pohon-pohon dan semak perdu berebut tumbuh di sisi kiri dan kanan jalan. Dari pohon-pohon yang ada, pohon asam Jawa itu satu-satunya, tumbuh di tengah—bagian kiri pinggir jalan kalau kau melintas dari arah timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung barat jalan yang dibiarkan lengang terentang itu, barulah ada rumah, milik Mbah Darmo, penasehat supranatural kampung kami. Di sebelah rumah Mbah Darmo, terdapat bengkel tambal ban milik cucunya, Kang Samin. Kemudian disusul rumah penduduk lainnya. Sedang di ujung timur jalan, akan kau temui bangunan pertama, yaitu bengkel tambal ban milikku, bersebelahan dengan rumah makan Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, aku tidak sepakat dengan acara selametan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabrakan itu, aku yakin bukan disebabkan Genderuwo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu—malam Jum’at Kliwon—sekitar pukul sebelas. Aku yang biasanya ditemani Kirun, ini kali cuma sendiri. Aku memetik gitar; berlagu Gereja Tua di bengkel. Kirun nonton dangdut Koplo di kampung sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat-saat begitu, dari arah timur melaju kencang mobil Kijang Inova. Kira-kira 20 meter setelah melintasi bengkelku, mobil ban itu meletus, suaranya keras. Mengagetkan aku. Menghentikan kocokan gitarku. Juga lagu Gereja Tua yang akan memasuki reffren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ban mobil itu meledak karena melindas paku!” Batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, terdengar bunyi cicit rem mobil mengoyak-ngoyak sepi malam. Disusul kemudian bunyi benda bertubrukan. Keras sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas itu orang-orang kampung berdatangan, mencari sumber suara yang mengguncang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di depan pohon Asam Jawa, Kijang Inova terbalik dengan posisi melintang dan badannya remuk. Sedang bis AKAP ekonomi rebah menimpa semak-semak di seberang. Kepalanya juga remuk, menghantam pohon Jati—barangkali pohon Jati itu menghentikan laju bis setelah tabrakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian tersiar kabar kecelakaan itu disebabkan Genderuwo. Kabar itu dihembuskan pertama kali oleh Kang Samin di pos ronda. Katanya, petunjuk ini didapatkannya dari hasil terawang Mbah Darmo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana, lantas jadi keyakinan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Mbah Darmo hingga sekarang belum bisa ditemui. Menurut Kang Samin, Mbah Darmo sedang melakukan meditasi; mencari wangsit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku yakin, tabrakan itu disebabkan oleh paku! Paku yang sengaja ditebarkan di jalan. Membuat ban mobil Kijang Inova itu meletus. Sehingga supirnya hilang kendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku tahu siapa yang menebar paku itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-2893997906380235345?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/2893997906380235345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=2893997906380235345&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2893997906380235345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2893997906380235345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/11/cerpen.html' title='Cerpen'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1014896908186310099</id><published>2008-10-23T23:41:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T10:26:10.385+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Urban&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;orang-orang membongkar pohon&lt;br /&gt;menanam beton&lt;br /&gt;udara jadi uang logam&lt;br /&gt;terbakar di tangan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1014896908186310099?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1014896908186310099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1014896908186310099&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1014896908186310099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1014896908186310099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/10/poem_23.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-6028671356111689993</id><published>2008-10-13T19:52:00.000+07:00</published><updated>2008-10-13T19:55:32.374+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Di Bawah Jam Gadang&lt;br /&gt;- &lt;em&gt;rz&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;selepas angin menghalau hujan&lt;br /&gt;kau dengar ringkik kuda beban&lt;br /&gt;dan lonceng jam berdentang&lt;br /&gt;pada angka IIII petang—&lt;br /&gt;seorang kusir tua tertidur dalam bendi&lt;br /&gt;seorang turis memanggil taksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku rebahkan kepalaku yang mendadak sakit&lt;br /&gt;di atas tas&lt;br /&gt;di pinggir taman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hawa dingin mengetuk-ngetuk keningku&lt;br /&gt;seakan dendang masa kecil yang memanggil&lt;br /&gt;&lt;em&gt;pada hari minggu kuturut ayah…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;dalam nafas peniup saluang di jenjang empat puluh&lt;br /&gt;dalam benteng fort de kock dalam ngarai sianok&lt;br /&gt;dalam lubang jepang dalam piti &lt;em&gt;oeri &lt;/em&gt;dalam musium&lt;br /&gt;rumah gadang di kebun binatang&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dalam…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;ahk, kepalaku bertambah sakit&lt;br /&gt;aku tak bisa mengingat seluruh masa lalu dengan baik&lt;br /&gt;mataku seperti sarang semut hitam&lt;br /&gt;langit bukittingi tampak buram&lt;br /&gt;mulutku masih menyimpan bau&lt;br /&gt;nasi kapau—&lt;br /&gt;tapi aku harus menelan &lt;em&gt;paracetamol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;waktu pelahan mengabur&lt;br /&gt;menuju yang tak terukur&lt;br /&gt;di bawah jam gadang&lt;br /&gt;aku jatuh tertidur&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-6028671356111689993?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/6028671356111689993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=6028671356111689993&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6028671356111689993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6028671356111689993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/10/poem_13.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-8285877996658760059</id><published>2008-10-11T03:11:00.000+07:00</published><updated>2008-10-11T06:04:44.295+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Kuta&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;bukan ombak yang menahanku&lt;br /&gt;ketika malam makin jauh&lt;br /&gt;tapi sebutir pasir&lt;br /&gt;dan angin mendesir&lt;br /&gt;lampu lampu hotel&lt;br /&gt;membuat aku makin asing&lt;br /&gt;dengan kepulangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak memiliki rumah&lt;br /&gt;dan teman bicara&lt;br /&gt;di pantai buta&lt;br /&gt;cuma sebutir pasir&lt;br /&gt;dan angin mendesir&lt;br /&gt;bulan susut- hilang&lt;br /&gt;ditelan laut hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua pergi&lt;br /&gt;semua pergi meninggalkanku&lt;br /&gt;seperti botol bir kosong&lt;br /&gt;cuma sebutir pasir&lt;br /&gt;dan angin mendesir&lt;br /&gt;bertahan di bibir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-8285877996658760059?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/8285877996658760059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=8285877996658760059&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8285877996658760059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8285877996658760059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/10/poem.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-5805766328736703741</id><published>2008-10-06T08:30:00.000+07:00</published><updated>2011-07-14T21:20:31.658+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Loloan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;sebelum ke tabanan, singgah lanan...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;sungai membelah memberi nama&lt;br /&gt;pada 80 hektar tanah&lt;br /&gt;syarif tua, beri pula aku kisah&lt;br /&gt;antara sayup azan dan aroma dupa&lt;br /&gt;di hilir sungai gading&lt;br /&gt;di bawah atap rumah panggung yang miring&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kenapa orang harus terusir&lt;br /&gt;dari negeri yang dicintainya&lt;br /&gt;mengubah rasa asing pada tanah-air&lt;br /&gt;jadi rindu&lt;br /&gt;jadi batu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;trengganu, trengganu&lt;br /&gt;aku tak ingin murung&lt;br /&gt;dalam diri kubangun kampung&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-5805766328736703741?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/5805766328736703741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=5805766328736703741&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5805766328736703741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5805766328736703741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/10/loloan-sebelum-ke-tabanan-singgah-lanan.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-7899751775448319942</id><published>2008-10-06T06:16:00.000+07:00</published><updated>2008-10-06T07:46:38.430+07:00</updated><title type='text'>Perjalanan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;semakin banyak berjalan semakin banyak yang dilihat, hehe..&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253815581696083234" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlNb4ZoRSI/AAAAAAAAALc/26T31hYCAmM/s320/PDRM1069.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;agaknya pepatah klasik itu berlaku juga. setidaknya dalam perjalanan saya dari jogja (22 september 2008)-bayuwangi (23-26 september) dalam rangka launching buku kumpulan cerpen iqbal baraas "pesta hujan di mata shinta" bersama raudal tanjung banua, nurwahida idris, indrian koto, mutia sukma. kemudian perjalanan itu berlanjut ke bali (26 september-5 oktober 2008).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;nah ini ada sedikit oleh-oleh. beberapa peristiwa yang terekam dalam kamera.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253829777451708050" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlaWLtg7pI/AAAAAAAAANE/I_NYdiVvnwA/s320/PDRM0999.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;bersama sutan sabit kalam banua di hotel asri. genteng, 23 september 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253830801828757362" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlbRz0CP3I/AAAAAAAAANM/zIHyzCJwoE0/s320/DSC00185.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;dramatisasi cerpen iqbal baraas "pendongeng abadi" bersama mutia sukma. bayuwangi, 24 september 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253818395736923522" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlP_rhP3YI/AAAAAAAAALs/zYF0mNUQvRE/s320/DSC00213.JPG" border="0" /&gt;foto bareng kawan-kawan bayuwangi seusai acara diskusi dan pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253819613092092066" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlRGihVmKI/AAAAAAAAAL0/XNE2T-Ixb2k/s320/DSC00296.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;dramatisasi cerpen iqbal baraas "pendongeng abadi" bersama mutia sukma. genteng, 25 september 2008&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253821292400244690" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlSoSbmd9I/AAAAAAAAAL8/lpJdZ6nBteM/s320/PDRM1316.JPG" border="0" /&gt; menunggu bis menuju bali (mutia sukma, iqbal baraas, raudal tanjung banua, auda, gw, nurwahida idris, ahok). genteng, 26 september 2008&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253822880867190338" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlUEv7ohkI/AAAAAAAAAME/0-nNTGq0sow/s320/PDRM1335.JPG" border="0" /&gt; di kapal penyebrangan bersama nurwahida idris. ketapang gilimanuk, 26 september 2008&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253824411332168114" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlVd1W6ybI/AAAAAAAAAMM/BsQP5faDfKs/s320/Copy+of+PDRM0192.JPG" border="0" /&gt; jalan-jalan di denpasar, mutia sukma, gw, muda wijaya. denpasar, 28 september 2008&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253832591585622290" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlc5_LUuRI/AAAAAAAAANU/sNv7Y94l96Y/s320/Copy+of+PDRM0341.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;di legian ada yang meledak diam-diam. 29 september 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253826530970850722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlXZNoKVaI/AAAAAAAAAMc/J31ULzdduxY/s320/Copy+of+PDRM0350.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;di tugu bom bali bersama pranita dewi dan mutia sukma. 29 september 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253828034400514674" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlYwuVucnI/AAAAAAAAAMs/UaTc9Jl_zGI/s320/Copy+of+PDRM0377.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;kuta, 29 september 2008&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253828466528124194" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlZJ4I-fSI/AAAAAAAAAM0/-7FLgcQGU8E/s320/Copy+of+PDRM0456.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;sunset di kuta bersama indrian koto. 29 september 2008&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253829000759017154" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlZo-Ti_sI/AAAAAAAAAM8/tRpaB20-LFw/s320/PDRM0502.JPG" border="0" /&gt;malam di kuta bersama pranita dewi. 29 september 2008&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;semoga perjalanan ini menjadi puisi. oya, khusus untuk di loloan (kampung nurwahida idris) gambaran saya di sana telah menjadi puisi :) tunggu tanggal tayangnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-7899751775448319942?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/7899751775448319942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=7899751775448319942&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7899751775448319942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7899751775448319942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/10/perjalanan.html' title='Perjalanan'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SOlNb4ZoRSI/AAAAAAAAALc/26T31hYCAmM/s72-c/PDRM1069.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-5748606707191730300</id><published>2008-09-24T15:25:00.000+07:00</published><updated>2008-09-24T15:56:30.510+07:00</updated><title type='text'>pertunjukan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tradisi Yang Tak Diam: Pementasan Teater “Siti Baheram&lt;br /&gt;(bukan dunia luar pagar)”&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249505067995177506" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 224px; CURSOR: hand; HEIGHT: 280px; TEXT-ALIGN: center" height="320" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SNn9C9h3IiI/AAAAAAAAALU/PWdKWPoiAbw/s320/IMG_0003.jpg" width="234" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tiga tukang kaba di atas tiga level, tampak seperti tungku. Di tengahnya, para penari dengan rebana kecil memainkan tari Indang, serupa api yang sedang menyala. Ditingkahi dendang dan alat musik Minangkabau (Saluang, Bansi, Rabab, dan Talempong yang silih berganti). Tiga tukang kaba itu melantunkan kisah, sahut menyahut. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tukang kaba dan penari berbaur menjadi tiga kelompok. Memainkan bentuk grouping, mereka saling berbantah, laiknya suara urang banyak. Satu kelompok (protagonis) memihak kisah “Siti Baheram”, Satu kelompok menolak (antagonis), satu kelompok lainnya (tetagonis) menengahi. Tiga kelompok itu adalah visualisasi tigo jerong yang merupakan istilah dalam tari Indang, juga mengacu pada filosofi Jerong Nan Tigo (alim ulama, ninik mamak, cerdik pandai). Sebelum selisih faham makin tajam, kelompok penengah mengajak untuk sebaiknya menyimak kisah. Akhirnya ‘kebenaran kisah’ dari Siti Baheram dikembalikan kepada penerima kaba (penonton).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Begitulah, awalan dari pementasan teater “Siti Baheram (Bukan Dunia Luar Pagar)”. Naskah lakon yang berangkat dari kaba (seni tradisi bertutur di Minang), yang ditafsir ulang oleh Raudal Tanjung Banua (penulis naskah) dan disutradarai oleh Efyuhardi S.Sn untuk ujian akhir penyutradaraan pasca sarjana ISI Surakarta. Di mata saya, awalan (Introduction) tersebut serupa tungku yang sedang memasak sebuah pertunjukan di panggung GedungTeater ISI Surakarta pada Jum’at, 29 Agustus 2008. pukul 20.00 wib.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Awalan yang rancak! Bagaimana tidak, bentuk seni tradisi bakaba yang selama ini berdiri sendiri dan terpisah, Rebab, Dendang, Saluang, dan Tari Indang, malam itu ditafsir ulang, disatukan dan dikolaborasikan dalam satu pertunjukan teater kolosal. Ada sesuatu yang ‘baru’ tanpa kehilangan yang ‘lama’. Efyuhardi S.Sn dan tim pertunjukan berhasil memahami konsep hukum ikat ‘sentak lepas’ Minang: adat dan tradisi (seni) bukan bersifat stagnan. Adat dan tradisi (seni) adalah buatan manusia yang bisa dikembangkan atau digubah sesuai zaman. Yang tak mungkin untuk digubah dan dibantah, itu bersifat hukum ikat mati—misalnya gempa bumi!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Selepas para tukang kaba memainkan perannya (exit stage), muncullah Buyung Juki (Rusmedi Agus) bersama sahabatnya, Buyung Gambuik (Toni Sri Rejeki). Mereka bersiasat, sebab sudah lama Buyung Juki memendam cinta pada Siti Baheram (Mariya Yulita Sari). Tetapi Ini bukan perkara mudah!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Siti Baheram adalah perempuan dan domain kekuasaan yang merupakan idealisasi perempuan Minang, dihadirkan sebagai wanita berbudi dan penuh pengabdian, rancak dan berharta, telah memiliki suami, yaitu Ajo Sidi (Tafsir Huda). Tetapi kehidupan rumah tangga Siti Baheram tidak bahagia. Ajo Sidi bukan suami yang bisa dijadikan seperti beringin di tengah kampung: akar tempat bergayut, batang tempat bersandar, daun tempat berteduh. Ajo Sidi adalah suami pelekat tangan (suka memukul), kerjanya cuma menguras harta Siti Baheram untuk memenuhi kegemarannya berjudi, mabuk-mabukan, dan bergendak dengan perempuan lain. Siksaan dari suami yang diterima Siti Baheram ditambah pula sikap keras mamaknya, Angku Kapalo (Edy Suisno), lengkaplah sansai Siti Baheram sebagai sosok korban egoisme patriarki.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Konflik dan siksaan yang diterima oleh Siti Baheram itu diketahui Buyung Juki. Lalu ia manfaatkan untuk memasukan cintanya. Gayung bersambut. Dalam kondisi jiwa yang rapuh, Siti Baheram menerima cinta Buyung Juki—meski dia tahu Buyung adalah sampah masyarakat, semaunya dan culas, tetapi sikap satria Buyung Juki meluluhkan hati Siti Baheram. Bersemilah cinta mereka (selingkuh?) dikitari persoalan-persoalan sosial yang terjadi. Hingga pada suatu malam, di jalan pulang yang kelam, dalam kondisi mabuk dan kalah judi, Buyung Juki melihat ada bayangan yang mengintainya, yang dia kira adalah penyamun. Maka disuruhnya Buyung Gambuik untuk menemui penyamun itu: “kalau dalam sepuluh tarikan nafas tak bisa kau selesaikan, aku yang akan turun tangan,” ucapnya pada sahabatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Lebih dari sepuluh tarikan nafas, Buyung Gambuik tak muncul kembali di hadapannya. Ia cemas kalau telah terjadi sesuatu dengan sahabatnya. Bergegas ia menemui sosok yang dia kira penyamun itu. Tanpa pikir panjang, digoroknya leher sosok tersebut dengan parang. Buyung Gambuik yang berada di antara peristiwa itu, hanya bisa terperangah. Apa lacur, ternyata sosok itu adalah Siti Baheram.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Siti Baheram mati di tangan orang yang dicintainya. Buyung Juki membunuh orang yang dicintainya. Kematian yang tragis! Kematian yang amat disesali oleh Buyung Juki dan diratapi Buyung Gambuik. Kematian yang menghantarkan nyawa Buyung Juki ke tiang gantungan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sementara persoalan-persoalan sosial yang terjadi selama pertunjukan berdurasi satu setengah jam itu, tidak hadir sebagai bumbu dari kisah cinta Siti Baheram dan Buyung Juki. Namun menjadi bagian yang menghidupkan inti kisah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mengambil latar masa kolonial Belanda, penonton dapat melihat kekuasaan lebih ‘berbicara’ dibandingkan kebenaran. Di mana kaum kecil diposisikan sebagai kaum yang harus mengikuti kemauan penguasa. Misalnya dalam adegan perampasan makanan perempuan istri tukang beruk (Sandityas) dan anaknya (Nanik Indarti) oleh para petugas pajak (Ilham Setyawan, Husni wardana Hole, Ofy Nurhansyah). Meski istri tukang beruk berusaha melawan, apa daya, hukum rimba jua yang berlaku. Istri tukang beruk itu mati ditembak senapang petugas!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Begitu pula pada adegan di arena perjudian dadu. Bandar Judi (RA Yopie) yang seharusnya memiliki hak mengatur permainan, bisa diatur oleh petaruh (anak buah Ajo Sidi dan Buyung Juki). Kekuatan otot berbicara. Tetapi Bandar Judi yang mengedepankan kelicinan otak itu, bisa kembali mengambil alih permainan. Ia menangguk di air keruh, memanfaatkan pertikaian antara Ajo Sidi dan Buyung Juki.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Namun pertaruhan otak dan otot, peruntungan baik dan buruk di meja judi itu, akhirnya berkesudahan di tangan petugas. Atas nama hukum, Kepala Petugas (Roci Marciano) membubarkan perjudian itu dan merampas uang para penjudi dengan cara ‘terhormat’ala aparat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Lagi-lagi kekuasan berbicara. Dan kekuasan yang berbicara itu makin terlihat pada adegan terakhir. Buyung Juki yang semestinya melewati proses pengadilan untuk menerima hukuman atas pembunuhan yang dilakukannya terhadap Siti Baheram, sesuai permintaan Angku Kapolo, harus dihukum gantung seketika. Tak ada pengadilan! Dan Kepala Petugas tak bisa membantah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Begitulah. Persoalan-persoalan sosial yang ada dalam konflik cinta Siti Baheram, memberikan celah pada lahirnya pertanyaan baru: mungkinkah masih ada kejujuran yang membuat orang tidak merasa menjadi pahlawan bagi kelangsungan hari esok yang menjanjikan? Karena sesungguhnya tak ada kejahatan dalam hidup, yang ada adalah manusia tak jujur dan mementingkan diri sendiri. Di sinilah terbukti bahwa ‘kasus’ Siti Baheram bukan dunia luar pagar, sebab memiliki keterkaitan dengan banyak hal. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menggali Tradisi, Meminang Nan Kini &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Transformasi teks dari kaba ke dalam bentuk naskah lakon (panggung) oleh Raudal Tanjung Banua ini, memiliki struktur yang kuat, mengacu pada pengungkapan yang berimbang dan realistik. Dari segi penokohan, tak ada tokoh yang diposisikan sebagai hero dan Deus Ex Machina. Semua tokoh memiliki persoalan dan deritanya masing-masing. Begitu pula dengan ruang dan waktu, penonton tidak diajak untuk berada di tempat ‘antah barantah’ atau negeri imajiner, melainkan mengambil latar waktu masa lampau untuk berbicara tentang persoalan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Memakai tata panggung minimalis-simbolik (Mata Emprit), ruang dan waktu dihidupkan lewat akting pemain dari adegan ke adegan. Hampir sebagian besar aktor dan aktris berperan dengan matang. Aktor dan aktris menjadi lewat pendekatan psikologis tokoh dan tidak terjebak dengan permainan tubuh yang akrobatik untuk mengejar kebanalan. Dengan kata lain, emosi tokoh yang diperankan aktor yang mencipta gerak. Sehingga kewajaran akting—yang biasa dipakai dalam permainan realis—hadir dengan baik. Hal ini terlihat dari bisnis akting tokoh Buyung Juki (Rusmedi Agus), Angku Kapalo (Edysuisno), Buyung Gambuik (Toni Sri Rejeki), Anak Buah Ajo Sidi (Jamal Abdul Naser) dan Anak tukang Beruk (Nanik Indarti).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Selama pertunjukan—terlepas dari awalan tukang kaba—seni tradisi yang hadir bukan hanya musik, kostum, dan tutur. Tetapi yang terlihat kuat pada pertunjukan malam itu adalah hadirnya permainan silek (silat) Minang, baik itu aliran silek langkah tigo maupun langkah ampek. Penguasaan langkah ampek silek Starlak terlihat dalam adegan perkelahian antara Buyung Juki (Rusmedi Agus) dengan Anak Buah Ajo Sidi. Buyung Juki (Rusmedi Agus) mampu memperagakan dengan baik pamenan silek Starlak itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Menghadirkan silek sebagai salah satu kebutuhan adegan dan akting aktor, merupakan pilihan yang tepat. Bagaimanapun, seni pertunjukan tradisi Minang banyak berakar dari Silek. Sebutlah misalnya Randai.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Boleh dibilang, pertunjukan teater Siti Baheram yang disutradarai Efyuhardi S.sn berhasil menggali seni tradisi; menafsir ulang, kemudian dihadirkan kembali ke dalam dramaturg teater moderen. Sehingga ‘kekinian’ terasa adanya. Kekinian yang bersumber dari yang lama. Seni tradisi yang juga hasil kreasi manusia itu, sekali lagi, sebagaimana hukum ikat sentak lepas, maka bisa digubah. Yang ada adalah penyesuaian dengan zaman. Dan kita tak perlu cemas kehilangan. Kecuali jika seni tradisi masih dipahami sebagai hukum ikat mati, seperti gempa bumi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;Solo-Yogyakarta, Agustus-September 2008 &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-5748606707191730300?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/5748606707191730300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=5748606707191730300&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5748606707191730300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5748606707191730300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/09/pertunjukan.html' title='pertunjukan'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SNn9C9h3IiI/AAAAAAAAALU/PWdKWPoiAbw/s72-c/IMG_0003.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1371438317190954393</id><published>2008-09-22T07:24:00.000+07:00</published><updated>2008-09-22T07:26:41.061+07:00</updated><title type='text'>release</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Anjangsana Budaya Sastrawan Yogyakarta&lt;br /&gt;ke Banyuwangi dan Bali&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah sastrawan Yogyakarta akan mengadakan anjangsana budaya ke Banyuwangi dan Jembrana, Bali. Menurut koordinator perjalanan, Raudal Tanjung Banua, kunjungan ke Banyuwangi terkait dengan peluncuran buku kumpulan cerpen Iqbal Baraas, Pesta Hujan di Mata Shinta (Frame Publishing, 2008). Acara berupa diskusi, pertunjukan sastra, bazar buku dan buka bersama, akan berlangsung di dua tempat masing-masing di Pendopo Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Jl. A. Yani, tgl. 24 September dan di Aula Balai Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng, 25 September 2008, mulai pkl. 14.00 WIB.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Acara di Banyuwangi diawali diskusi sastra bersama Hasnan Singodimayan (budayawan Using), Raudal Tanjung Banua dan Iqbal Baraas sendiri, moderator Fatah Yassin Noor. Setelah itu akan ada break buka bersama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, acara dilanjutkan dengan pentas sastra, di antaranya dramatisasi cerpen oleh Mutia Sukma dan Y. Thendra BP dari Yogyakarta; musikalisasi puisi dari Padepokan Gelar Tikar Banyuwangi, pagelaran tari kontemporer dari STKW Banyuwangi, monolog oleh Hendra (Malang) dan pentas teater Maha (Banyuwangi). Sedangkan pembicara diskusi di Genteng adalah Totok B. Santoso, Indrian Koto, dan Nur Wahida Idris. Acara yang terbuka untuk umum dan gratis itu, juga akan diramaikan bursa buku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, acara di Bali akan berlangsung di rumah panggung Nenek Sya’odah, Loloan Barat, Negara, tgl. 6 Oktober 2008 pkl. 19.30 WITA. Acara yang akan dihadiri penyair Umbu Landu Paranggi itu meliputi peluncuran buku puisi Nur Wahida Idris, Mata Air Akar Pohon, diskusi, pembacaan karya dan doa bersama untuk mengenang wafatnya Nenek Syaodah, tokoh cerita lisan Melayu dari Loloan, sebuah kampung diaspora di Bali Barat. Serta diagendakan pula peresmian taman bacaan dengan koleksi awal sumbangan buku dari penerbit Akar Indonesia, [sic], Frame Publishing dan Komunitas Rumahlebah Yogyakarta.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1371438317190954393?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1371438317190954393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1371438317190954393&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1371438317190954393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1371438317190954393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/09/release.html' title='release'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1056577120673242363</id><published>2008-09-17T02:06:00.001+07:00</published><updated>2008-09-17T02:09:28.166+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;September&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;di kamar tumpangan, dalam kebebasan yang tertahan,&lt;br /&gt;sebuah buku yang belum tuntas kubaca terjatuh&lt;br /&gt;ketika senja menggores kaca jendela;&lt;br /&gt;jam yang bersalin, dinding bertelur dingin.&lt;br /&gt;ada suara di loteng mengusikku, sesamar aku;&lt;br /&gt;mungkin malaikat atau hantu itu lagi menegurku&lt;br /&gt;dengan isyarat yang ganjil, seperti serombongan ababil&lt;br /&gt;tapi, mereka tidaklah lebih bahagia dari aku&lt;br /&gt;di kamar tumpangan ini; aku, malaikat dan hantu&lt;br /&gt;berbagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1056577120673242363?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1056577120673242363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1056577120673242363&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1056577120673242363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1056577120673242363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/09/september-di-kamar-tumpangan-dalam.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1177124877119530056</id><published>2008-09-06T16:03:00.000+07:00</published><updated>2008-09-06T16:30:15.825+07:00</updated><title type='text'>Solilokui</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pemburu Kost&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;awal september ini, saya rajin mengetuk pintu atau membunyikan bel, ngucapin kulonuwun dari satu rumah ke lain rumah, dari gang ke gang, dari jalan ke jalan di jogja kota pelajar, budaya, wisata, pahlawan, never ending asia (hehe...apanya?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;percayalah, saya bukan sedang jadi salesmen yang menawarkan produk. tapi, manakala pemilik rumah yang saya temui itu menampakan wajahnya, saya akan bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"apa masih ada kamar kosong?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hingga saya menulis solilokui ini, jawaban yang saya terima belum sesuai dengan apa yang saya harapkan. kamar kosong ada tapi harga tidak sesuai. harga sesuai, kamar tidak ada yang kosong, hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--wow, kayak mahasiswa baru aja. padahal saya sudah sepuluh tahun di jogja lho--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah anda pikir saya sedang mengeluh? sory aja deh. emangnya hidup ini buat keluh kesah doang? ya enggak lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesungguhnya, saya sedang menikmati travelling dari satu rumah ke lain rumah, dari gang ke gang, dari jalan ke jalan di jogja kota pelajar, budaya, wisata, pahlawan, never ending asia (hehe....apanya?).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1177124877119530056?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1177124877119530056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1177124877119530056&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1177124877119530056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1177124877119530056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/09/solilokui.html' title='Solilokui'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-7043457256727466863</id><published>2008-08-27T03:58:00.000+07:00</published><updated>2008-08-27T04:15:41.880+07:00</updated><title type='text'>pers release</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;nah, ini dia berita foto pementasan: Jangan Rusak Hutan Kami (Save Our Forest) di amphi teater taman budaya yogyakarta, minggu, 24 agustus 2008&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238934512545450722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SLRvLp3OSuI/AAAAAAAAAIE/7MzI81fbjP8/s320/foto+pentas.jpg" border="0" /&gt;Yogyakarta, 25/8-Teater Anak. Kelompok Belajar Rejowinangun membawakan&lt;br /&gt;pementasan teater anak dan remaja yang berjudul ''Save Our Forest/ jangan Rusak Hutan Kami'' di Amphi Theater Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (24/8) malam. Teater yang disutradarai oleh Y. Thendra BP tersebut bercerita tentang suasana hutan yang riang berubah menjadi tumpukan sampah sejak kedatangan si monster sampah. FOTO ANTARA/Agung Supriyanto/ss/mes/08&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://www.antarafoto.com/dom/prevw/?id=1219632835"&gt;http://www.antarafoto.com/dom/prevw/?id=1219632835&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-7043457256727466863?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/7043457256727466863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=7043457256727466863&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7043457256727466863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7043457256727466863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/08/pers-release.html' title='pers release'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SLRvLp3OSuI/AAAAAAAAAIE/7MzI81fbjP8/s72-c/foto+pentas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-8057277203949349462</id><published>2008-08-20T13:15:00.000+07:00</published><updated>2008-08-20T13:20:28.472+07:00</updated><title type='text'>Agenda</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Teater Anak Kelompok Belajar Rejowinangun ( KBR )&lt;br /&gt;“Save Our Forest “ karya Y. Thendra BP “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Anak-anak Kelompok Belajar Rejowinangun adalah anak kampung yang berkumpul dan melakukan banyak hal bersama, belajar kesenian, menari, theater, menulis, pantomime dan sebagainya. Anggota Kelompok Belajar Rejowinangun biasanya datang dari teman-teman yang berstatus ekonomi rendah namun memiliki semangat juang untuk lebih maju yang tinggi. Dalam kegiatan sehari-hari kami adalah kelompok yang berdiri sendiri. Dan tidak ada penyokong dari luar. Tapi untuk event yang lebih besar ini kami dengan rendah hati ingin meminta bantuan kepada pihak luar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Acara yang kami buat dalam rangka Hari Kemerdekaan dan Hari Anak Nasional ini bukan kegiatan yang melibatkan pihak luar untuk pertama kalinya. Sebelumnya pada Hari Anak Nasional 2006 kami pernah melakukan Pameran Expresi Anak yang berjalan denga meriah dan didatangi banyak pihak. Selain itu kami juga sering di undang mengisi kegiatan diluar misalnya FKY 2007, Temu Penyair 4 Kota 2007, Konfrensi Anak Cinta Lingkungan 2007 dll. Kamipun sering memenangkan perlombaan kesenian, juga beberapa karya kami dimuat di media massa. Pada tahun 2007 lalu Kelompok Belajar Rejowinangun juga mengantar pembina kami (Mutia Sukma) menjadi “ Pemuda Pelopor Seni dan Budaya “ &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Belajar Rejowinangun juga direncanakan dapat menjadi ruang bersama dalam membahas persoalan yang dihadapi anak pada umumnya, dan mencari berbagai kemungkinan pemecahan. Kegelisahan yang dialami para anak tidak hanya pada masalah bentuk estetika, namun juga persoalan di luarnya. Sehingga dibutuhkan sebuah pembahasan dalam hal ini, agar kondisi anak di Indonesia dapat berkembang lebih baik lagi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tema kegiatan ini adalah mencintai lingkungan (dalam hal ini hutan) dan ikut andil menjaganya. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 20 anak Kelompok Belajar Rejowinangun. Yang terus aktif melaksakan produksi pementasan ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Belajar Rejowinangun (KBR) bermula dari kumpul-kumpul pada bocah jauh sebelum tahun 2005, barulah setelah peristiwa gempa yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006 kelompok ini resmi diberi nama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adalah sekelompok anak-anak dan remaja yang tinggal di daerah Rejowinangun yang terletak dipinggir kota. Kegiatan yang dilakukan untuk anak-anak ini melingkupi kegiatan kesenian yang berbasis pendidikan, di antaranya; teater, musik puisi, pantomime, menggambar/melukis, keterampilan lainnya seperti pembuatan wayang karus, wayang mendong serta pembikinan madding dan perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tentang kegiatan&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas Teater Anak dan Remaja “Save Our Forest” (Jangan Rusak Hutan kami) merupakan naskah dari Y. Thendra BP dan disutradarainya sendiri dan dibantu oleh Ofi Nuhansyah sebagai astrada. Untuk pelaksanaan latihan dibantu oleh beberapa rekan aktivis teater dan dancer. Meskipun demikian, pada pelaksanaannya nanti tetaplah kedirian anak-anak itu yang hendaknya ditampilkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kelompok Belajar Rejowinangun (KBR) bekerja sama dengan Mutiakoto Art Syndicate didukung oleh beberapa komunitas lainnya dibantu oleh mahasiswa ISI Yogyakarta, UNY dan UIN Sunan Kalijaga. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk waktu penyelenggaraan pada bulah agustus ini adalah untuk merayakan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63 dengan tema mencintai lingkungan dan Ayo Selamatkan Hutan. Diharapkan, pada hari kemerdekaan ini, kita semua, anak-anak dan orang tua mesti memperhatikan lingkungan dan mulai menjaga kelestraiannya. Mengingat banyaknya terjadi bencana yang diakibatkan oleh kerusakan ekosistem dan kerusakan lahan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pembukaan juga akan diisi oleh beberapa kelompok dan komunitas anak di Yogyakarta.&lt;br /&gt;Adapun waktu pertunjukannya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/Tanggal : Minggu, 24 Agustus 2008&lt;br /&gt;Tempat : Teater Terbuka (Ampi Teater) Taman Budaya Yogyakarta&lt;br /&gt;Waktu : 19.00—selesai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan. Terima kasih kami ucapkan atas kerja samanya dan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam bahagia,&lt;br /&gt;Kelompok Belajar rejowinangun&lt;br /&gt;Pimpinan Produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutia Sukma&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-8057277203949349462?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/8057277203949349462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=8057277203949349462&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8057277203949349462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8057277203949349462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/08/agenda.html' title='Agenda'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-2396192504463855730</id><published>2008-07-06T00:54:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T11:04:56.481+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ghetto&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;aku membuat tatto rumah di punggung senja&lt;br /&gt;             dengan pecahan kaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senja terluka&lt;br /&gt;         rumah berdarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumah terluka&lt;br /&gt;          senja berdarah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-2396192504463855730?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/2396192504463855730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=2396192504463855730&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2396192504463855730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2396192504463855730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/07/poem_05.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-4707588480419994026</id><published>2008-07-03T14:07:00.000+07:00</published><updated>2008-07-03T14:11:37.766+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Manusia Pergi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;seekor bangau melintas di langit petang&lt;br /&gt;melintas menuju sarang&lt;br /&gt;aku yang bergegas&lt;br /&gt;ke mana musti pulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku manusia pergi, sayang&lt;br /&gt;menyimpan banyak lambaian&lt;br /&gt;menahan ragam kenangan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-4707588480419994026?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/4707588480419994026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=4707588480419994026&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4707588480419994026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4707588480419994026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/07/poem.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-4632953806291006619</id><published>2008-06-27T20:44:00.000+07:00</published><updated>2008-06-28T01:43:56.380+07:00</updated><title type='text'>solilokui</title><content type='html'>&lt;strong&gt;(Janin Cerita)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Kali ini, saya pesan kopi dengan cangkir yang pernah mencium bibir perempuan itu.”&lt;br /&gt;Pelayan itu menekan pena agak kuat di atas buku pesanan.&lt;br /&gt;“Maksud tuan?!”&lt;br /&gt;“Kopi dengan cangkir yang pernah mencium bibir seorang perempuan.”&lt;br /&gt;“Hehe..Tuan ini suka bercanda. Semua cangkir di kafe ini ada bekas bibirnya. Tapi itu sudah dicuci bersih. Kami menjaga kebersihan tentunya.”&lt;br /&gt;“Ah…bagaimana saya menceritakannya?” ucapnya pelan. Lalu ia menatap meja di pojok dekat pintu masuk. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Meja yang kini kosong itu membawa ingatannya pada suatu sore.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah bagian dari prosa yang sedang saya kerjakan. saya tidak tahu kapan akan selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika saya mati sebelum prosa itu selesai, sudikah anda melanjutkannya?&lt;br /&gt;jika anda mati sebelum prosa itu selesai, rugikah anda?&lt;br /&gt;jika prosa itu selesai dan kita masih hidup, saya akan menangis sepuas-puasnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;barangkali ini bisa jadi info bagi teman-teman yang sering bertanya, "sibuk apa?"&lt;br /&gt;yeah, itulah salah satu kesibukan saya. jadi janganlah menatap saya dengan sorot mata yang 'asing' itu, cintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh! saya sedang bekerja. bekerja dengan cara saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kenapa masih "ada" yang menganggap saya tidak punya pekerjaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa itu kerja, Tuan?&lt;br /&gt;Tuhan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-4632953806291006619?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/4632953806291006619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=4632953806291006619&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4632953806291006619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4632953806291006619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/06/info.html' title='solilokui'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-2070154965700939801</id><published>2008-06-24T19:28:00.001+07:00</published><updated>2008-06-24T19:28:53.225+07:00</updated><title type='text'>poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Petak Umpet&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;di balik akal aku sembunyi&lt;br /&gt;yang tak berakal&lt;br /&gt;sia-sia mencari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-2070154965700939801?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/2070154965700939801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=2070154965700939801&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2070154965700939801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2070154965700939801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/06/poem_24.html' title='poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-3796442124579704237</id><published>2008-06-23T00:46:00.000+07:00</published><updated>2008-06-23T01:08:37.946+07:00</updated><title type='text'>solilokui</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Tanah Lahir&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;O, bangkinang dan&lt;br /&gt;kelok 9; hujan dan malam&lt;br /&gt;turun pelan2…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengirim:&lt;br /&gt;Raudal TB&lt;br /&gt;Dikirim:&lt;br /&gt;21:40:51&lt;br /&gt;21/06/2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;SMS itu menyintakan saya. Membawa ingatan saya pada tanah lahir yang selalu saya tulis dalam biodata. Tanah lahir yang hanya sempat saya diami hingga berusia enam bulan—menurut cerita mama—sebab papa musti pindah tugas dari Yonif 131 Bima Sakti&lt;br /&gt;Bangkinang ke Yonif 133 Yudha Sakti di Padang Panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepindahan yang tergesa-gesa. Kepindahan yang membuat saya tidak memiliki memori intim dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkinang--yeah tanah lahir--sesuatu yang asing karena melulu saya kunjungi lewat cerita dan biodata, pun hingga saya menulis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma sekali saya pernah melintasinya pada dinihari ketika hendak menuju Pekanbaru dari Padang Sibusuak, dengan bis. Waktu itu, saya tidak ingin tidur, saya ingin melihat tanah lahir saya meski lewat jendela bis saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka selepas Kelok Sembilan, saya mulai gelisah dan bertanya pada gadis yang duduk di samping saya, “Masih jauhkah Bangkinang?” Saya bertanya pada gadis satu kampung yang bekerja di Batam, yang setiap dari atau ke Padang Sibusuak lewat Bangkinang. Saya pikir, ia tahu kapan Bis yang kami tumpangi memasuki jalan yang melintasi Bangkinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan menceritakan lebih banyak lagi, bagaimana perasaan saya ketika melewati ‘tanah lahir’ dengan bis itu pada dinihari yang turun dari langit desember 2004 itu. Biarlah hanya saya seorang yang tahu. Saya seorang. Dan semoga baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya ingin membalas SMS Raudal itu, yang pada saat itu ia sedang melintasi ‘tanah lahir’ saya (ia dalam perjalanan dari Pekanbaru menuju Padang). Ia yang 'sedia' menyediakan ruang mengingat 'tanah lahir' orang macam saya 'yang apalah' ini, di antara ruang ingatan ia yang sibuk dan terus bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginilah balasan SMS saya esok malamnya pada dia, yang saya tulis ulang di sini, semoga jadi puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;Bangkinang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;pernah sekali,&lt;br /&gt;angin dinihari&lt;br /&gt;menyusup lewat jendela bis&lt;br /&gt;yang tak terkunci;&lt;br /&gt;menegur aku,&lt;br /&gt;menoleh pada tanah kelahiran itu.&lt;br /&gt;tapi tak kutahu&lt;br /&gt;di bawah pohon apa ibu&lt;br /&gt;menanam ari-ariku.&lt;br /&gt;dan bis terus laju.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-3796442124579704237?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/3796442124579704237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=3796442124579704237&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3796442124579704237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3796442124579704237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/06/solilokui.html' title='solilokui'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-2019047841216671989</id><published>2008-06-10T00:19:00.000+07:00</published><updated>2008-06-10T00:29:38.134+07:00</updated><title type='text'>refrensi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;"penemuan" sebuah sajak cinta Chairil yang hilang oleh seorang Belanda, seperti yang dilaporkan oleh Burton Raffel dalam jurnal Indonesia Circle, No.66, tahun 1995. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sajak yang berjudul "Berpisah dengan Mirat" itu dikatakan telah diambil oleh seorang bernama Wil van Yperen dari sebuah majalah berbahasa Indonesia yang "kalau nggak salah Gelanggang Pemuda, Jan. 47":&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berpisah Dengan Mirat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(Chairil Anwar)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari tiba2 sudah tinggi, kami 5 x djalan lebih lekas dari&lt;br /&gt;pada biasa. Djam yang menatap kami menggigil seperti&lt;br /&gt;kena malaria rupanja Tiba disetasion ketjil ada lagi 2 a 3&lt;br /&gt;djam untuk berhadapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi pait dan pendjual tua jang hormat ketawa sadja djadi&lt;br /&gt;alasan untuk bitjara ketika kereta api bawa&lt;br /&gt;aku madju bergerak, kulihat mukamu&lt;br /&gt;terpaling Dan kau hilang..maka mulailah mesin dalam otakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengeri meluar garis, terasa rasa hendak petjah&lt;br /&gt;Penumpang2 lain djuga ikut dimakan njaladan kering oleh hawa sebaran diriku..kudengar setan datang&lt;br /&gt;Sehabis itulah berdentam dari mulutku Godverd. buat ganti dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Dengan membandingkan sajak di atas dengan sajak Chairil "Dalam Kereta", Burton Raffel mengambil kesimpulan bahwa sajak "Berpisah dengan Mirat" adalah memang benar karya Chairil karena "banyak irama tipikal Chairil ada pada sajak tersebut, dan juga imaji-imaji khasnya".&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Persamaan irama dan imaji pada kedua sajak memang mendukung kesimpulan Burton Raffel tersebut, apalagi kalau kita perhatikan tahun edisi majalah dari mana sajak "Berpisah dengan Mirat" itu dicopy-ulang merupakan masa Chairil produktif menulis puisi.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-2019047841216671989?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/2019047841216671989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=2019047841216671989&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2019047841216671989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2019047841216671989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/06/refrensi.html' title='refrensi'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-6925555904209993746</id><published>2008-06-01T01:19:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T11:28:44.731+07:00</updated><title type='text'>Perjalanan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SEGXV50KRDI/AAAAAAAAAHc/EO7-gTr8xOA/s1600-h/1_398234977l.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206609046769648690" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SEGXV50KRDI/AAAAAAAAAHc/EO7-gTr8xOA/s320/1_398234977l.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dari atas kiri: iman romansyah, dwi rahariyoso, ashadi, imam s arizal, pinto anugerah, indrian koto, anda s, joko gesang santoso, yono, bernando J. sujibto, romi zarman, gw (hehehe), chairan hafzan yurma. (fotografer faiz).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi yang ceria di pelataran rumah (kontrakan) anak-anak kandang padati, padang, 3 mei 2008 (setelah acara temu penyair lima kota payakumbuh 27-29 april 2008), sebelum waktu dan jarak mengembalikan kami pada kesunyian masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206611520670811202" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SEGZl50KREI/AAAAAAAAAHk/-NpEqHLleFw/s320/1_756076147l.jpg" border="0" /&gt;ingatlah sebisamu segala yang baik dan utangmu yang belum juga kau bayar, hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nb: ira puspitaningsih, mutia sukma, esha tegar putra, edo birama putra, m fadli, ucok siregar, wawan, tak ada waktu dikodak,  jadi bayangkan sajalah wajahnya :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-6925555904209993746?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/6925555904209993746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=6925555904209993746&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6925555904209993746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6925555904209993746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/05/perjalanan.html' title='Perjalanan'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/SEGXV50KRDI/AAAAAAAAAHc/EO7-gTr8xOA/s72-c/1_398234977l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-4976171004850192873</id><published>2008-05-23T14:48:00.000+07:00</published><updated>2008-05-23T14:52:58.730+07:00</updated><title type='text'>Agenda Sastra</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Datang Ya :)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Peluncuran Dua Buku terbitan penerbit [sic] Yogyakarta, yaitu "otobiografi" Saut Situmorang dan "Mata Air, Akar Pohon" Nur Wahida Idris, akan diluncurkan di Warung Nusantara (Koes Plus Mania), Jl. Bantul Dongkelan (Belakang BAJ), pada Selasa 27 Mei 2008, pukul 19.30 WIB-selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang digelar secara gratis dan partisipatif ini akan diramaikan pembacaan puisi oleh kedua penyair dan undangan, di antaranya TS Pinang, Y Thendra BP, Mutia Sukma, Ni Komang Ira, Joni Ariadinata, Bambang Darto, dan Indrian Koto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hadirin juga dipersilahkan ikut membacakan puisi kedua penyair, atau membacakan puisi sendiri, inilah yang dimaksud partisipatif, " kata Raudal Tanjung Banua, didampingi Mbak Trish pemilik Warung Nusantara. Dikatakan, selain untuk launching, kegiatan ini juga dimaksudkan memperingati 2 tahun peristiwa gempa Yogya. Sekaligus mengingatkan terjadi 2 kali kenaikan harga BBM dalam era pemerintahan SBY-JK, sebuah keputusan yang menyulitkan hidup masyarakat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkan oleh Saut Situmorang, acara pembacaan puisi secara partisipatif di Warung Nusantara ini akan digelar secara reguler sebulan sekali, sebagai kelanjutan Live Poets Society yang pernah digagasnya. "Cuma, kalau selama ini bertempat di Kedai Kebun, sekarang pindah ke Warung Nusantara, formatnya sama seperti dulu," katanya. Disebutkan, dalam berapa kali penyelenggaraan, kegiatan Live Poets Society telah menghadirkan sejumlah penyair tamu serta sudah memiliki apresian tersendiri, terutama di kalangan anak-anak muda yang selalu siap berpartisipasi membawakan puisi-puisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diketahui, buku puisi "otobiografi" sudah diluncurkan Saut Situmorang di berbagai kota di Pulau Jawa dan Bali, seperti Solo, Surabaya, Gresik, Malang, Kudus, Purwokerto, Tasikmalaya, Bandung dan Denpasar. Sedangkan "Mata Air, Akar Pohon" Nur Wahida Idris sudah diluncurkan di Padang dan Payakumbuh, dalam event Temu Penyair 5 Kota. Ke depan, terkait pembicaraan atau diskusi kedua buku puisi, akan diadakan acara khusus dengan melibatkan kritikus dan pemerhati sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB:untuk pertama kalinya Sutan Tsabit Kalam Banua rencananya akan membacakan dua puisinya yang ada di indriankoto. blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-4976171004850192873?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/4976171004850192873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=4976171004850192873&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4976171004850192873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4976171004850192873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/05/agenda-sastra.html' title='Agenda Sastra'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-8672206512645548045</id><published>2008-05-10T03:08:00.000+07:00</published><updated>2008-05-12T01:02:30.032+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;10 Mei&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;ibu, datanglah ke pesta kecilku&lt;br /&gt;usiaku bertambah hariku menipis&lt;br /&gt;berapa lama lagi ibu&lt;br /&gt;aku memiliki cadangan waktu&lt;br /&gt;bersalin baju&lt;br /&gt;memotong kuku?&lt;br /&gt;sedang tangis pertamaku&lt;br /&gt;yang memagut lehermu pagi itu&lt;br /&gt;masih saja jadi rahasia&lt;br /&gt;seperti tubuh yang melahirkan bayang-bayang&lt;br /&gt;pada jam 12 siang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tidak menyalakan api di sumbu lilin&lt;br /&gt;hanya untuk meniupnya hingga padam&lt;br /&gt;tidak juga memotong kue dan&lt;br /&gt;membagi-bagikan pada yang memberi ucapan&lt;br /&gt;tapi datanglah ibu&lt;br /&gt;ke pesta kecilku&lt;br /&gt;dalam rahimmu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-8672206512645548045?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/8672206512645548045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=8672206512645548045&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8672206512645548045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8672206512645548045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/05/poem_09.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-2604626525883164297</id><published>2008-04-12T16:30:00.000+07:00</published><updated>2008-04-12T16:34:47.697+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;April, Haiku, Chairil&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku melangkah&lt;br /&gt;di jalan sajak--&lt;br /&gt;bukan buat ke pesta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-2604626525883164297?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/2604626525883164297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=2604626525883164297&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2604626525883164297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2604626525883164297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/04/poem.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-6579298675934420753</id><published>2008-03-25T05:07:00.000+07:00</published><updated>2008-03-25T05:13:25.232+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Di Kota Wiji Tukul&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami orang baru,&lt;br /&gt;tersesat di kota &lt;em&gt;hanya satu kata&lt;/em&gt; yang hilang.&lt;br /&gt;jalan datang dan pulang sama&lt;br /&gt;asingnya dengan &lt;em&gt;sinuwun gusti&lt;/em&gt; dan penunggang kuda&lt;br /&gt;dalam billboard itu. tak ada peta di tangan kami,&lt;br /&gt;orang orang yang ditanya memberi tanda dan arah berbeda,&lt;br /&gt;seperti nasib &lt;em&gt;hanya satu kata&lt;/em&gt; itu!&lt;br /&gt;ada ragu tumbuh setiap bertemu simpang&lt;br /&gt;atau jalan baru. tapi kami masih sempat berkelakar—&lt;br /&gt;di atas motor pinjaman—jalan apa pun yang ditempuh&lt;br /&gt;semoga bertemu hanya satu kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam yang memboncengi gerimis, jatuh&lt;br /&gt;di atas jejak satu kata yang tak terlacak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-6579298675934420753?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/6579298675934420753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=6579298675934420753&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6579298675934420753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6579298675934420753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/03/poem_24.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-5381373031316812485</id><published>2008-03-01T04:42:00.000+07:00</published><updated>2008-03-01T07:21:50.275+07:00</updated><title type='text'>Perss release</title><content type='html'>&lt;span style="color:#000099;"&gt;sungguh. sebenarnya saya malas memposting yang satu ini. tapi setelah saya pikir, tak apalah, setidaknya ini merupakan tanda waktu, sesuatu yang pernah saya tempuh, dan lumayan bikin haru tapi gak nyampe tersedu-sedu, hehe...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;keikutsertaan saya dalam &lt;strong&gt;sayembara puisi cinta nyata&lt;/strong&gt; yang diadakan oleh tabloid nyata, hanya sebuah peristiwa kebetulan--mungkin karena hidup itu sendiri peristiwa kebetulan--koto memberi tahu saya ada lomba dan menyarankan untuk ikut (tengkyu koto dan sukma dan kiting). saya yang pemalas mengirim puisi ke media massa cetak apalagi ikut lomba, pada saat itu menerima tawaran tersebut, di samping hadiah yang lumayan untuk membayar hutang saya yang telah menumpuk, juga menjawab tantangan seorang kawan yang namanya kadang-kadang nongol di halaman koran minggu, dan pernah berkata dengan lantang pada saya: "buktikan dengan karya! kita cari tiga juri dan kita adu puisi kita!" (dengar kabar kawan tersebut ikut pula, tapi maaf, namanya tidak tercantum dalam daftar peserta yang berhak dapat uang, tentu saja setelah dipotong pajak buat pemerintah kita yang 'baik', hehe).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Nah beginilah nasib puisi saya, setelah bertarung dengan 6000 puisi (kata panitia, lho) karya macam-macam orang yang punya lagak macam-macam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;sekali lagi, ini bukan ajang pamer diri, ini hanya tanda waktu sebagaimana puisi yang ngos-ngosan dan enjoy saya tulis selama ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Sebagaimana larik puisi Mandan Chairi Anwar: &lt;em&gt;Kerja Belum Selesai&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Sajak buat Istri yang Buta dari Suaminya yang Tuli, M. Aan Mansyur, Makassar.&lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Lunto Kloof, Cinta Pertama yang Gagal Kuselamatkan, Y. Thendra BP, Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;3. Aku melihatmu Menanti di Depan Rumah, Ni Kadek Ayu Winastri, Kuta-Bali.&lt;br /&gt;4. Kidung Perpisahan, Herry Trunajaya BS, Balikpapan Selatan.&lt;br /&gt;5. Merah jambu Selendang Ibu, Thowaf Zuharon, Yogyakarta.&lt;br /&gt;6. Pernikahan, M Anshor Sja’roni, Waru, Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAIH KARYA TERPUJI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dalam Sekental Kopi, Hamiddin, Sumenep-Madura.2. Dan Ini Cinta Tuhan, Lindung Ratwiawan, Malang.3. Kau Bagiku, Ala Roa, Yogyakarta.4. Requiem: Senyum Berkabung, Kukuh Yudha Karnanta, Surabaya.5. Aku Ingin Menjadi Tua, Rozakky, Bangkalan-Madura.6. Ibu, Aulia Muhammad, Semarang.7. Ziarah Cinta, Nurul Iva Yulia Imawan, Randudongkal-Pemalang.8. Sajak Berlayar, Surasono Rashar, Lumajang.9. Mawarilah Aku, S. Yoga, Ngawi.10. Sepucuk Rinduku Padamu, Nak, Suharyono, Pati.11. Pelukan, M. Aan Mansyur, Makassar.12. Malam Pinangan, M. Badri, Bogor.13. Tiga Soneta Cinta untuk Oneta, Ifull Azka Zulkifliy, Cirebon.14. Hutan Kepala, Joko Gesang Santoso, Sleman-Yogyakarta.15. Aku Perempuan Pelamarmu, Putri hati Ningsih, Laweyan-Sala.16. Bacakan Aku Satu Puisi Cinta, Pay Jarot Sujarwo, Pontianak.17. Cinta di Tanah Perang, Alimuddin, Darussalam-Aceh Besar.18. Bayi, Hariqo Wibawa Satria, Bukittinggi-Sumatera Barat.19. Uterus, Kedung Darma Romansha, Indramayu-Jabar.20. Komposisi Kau dan Aku, Indrayani Puspitasari, Surabaya.21. Petak Umpet, Didi Arisandi, Lampung.22. Dzikir Air, Gema Yudha, Bandung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-5381373031316812485?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/5381373031316812485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=5381373031316812485&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5381373031316812485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5381373031316812485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/02/perss-release.html' title='Perss release'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-3056431313453600480</id><published>2008-02-16T02:01:00.000+07:00</published><updated>2008-04-12T16:29:23.779+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Lintas Sumatera&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baru sampai kota bumi&lt;br /&gt;pedih itu sudah kutemui. rumah&lt;br /&gt;rumah murung tepi jalan&lt;br /&gt;di rembang petang, seperti&lt;br /&gt;rumput kering menanti&lt;br /&gt;kelahiran hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya dari balik kaca, balik kaca&lt;br /&gt;bis yang laju berpenumpang rindu,&lt;br /&gt;sebagaimana smsmu, nafas hutan sakit&lt;br /&gt;ladang sawit, sampai jua ke dada&lt;br /&gt;jadi &lt;em&gt;pebukaan&lt;/em&gt; puasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-3056431313453600480?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/3056431313453600480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=3056431313453600480&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3056431313453600480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3056431313453600480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/02/poem_15.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-61014658880716980</id><published>2008-01-28T01:04:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T11:17:44.300+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Nanti Kampungku Jadi Kaleng Mentega&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;koto dan sukma. kalau nanti kalian jadi pengantin bulan&lt;br /&gt;aku ingin hadir di pesta kalian. tapi&lt;br /&gt;aku tidak tahu apa nasib waktu kemudian.&lt;br /&gt;sekarang kita bikin sedikit angan-angan dalam ambulan:&lt;br /&gt;kalau aku punya uang, kalian aku undang&lt;br /&gt;di kampungku makan lemang, mendaki bukit silungkang.&lt;br /&gt;apa kalian pernah melihat meditasi air di langit-langit ngalau?&lt;br /&gt;ratusan tahun lamanya ia bertahan dalam sunyi hingga menyusun dirinya&lt;br /&gt;jadi ornamen yang lebih indah dari bangunan apa pun orang&lt;br /&gt;kota ciptakan. baiklah, nanti kita jalan-jalan ke sisawah.&lt;br /&gt;memudik air di bawah cahaya matahari yang disaring daun daun,&lt;br /&gt;mendengar suara batu agung (gerbang kampung); suara akar, tebing, tanah,&lt;br /&gt;arus sungai; burung punai, babi hutan, harimau daun, ular, siamang, biawak, kucing air;&lt;br /&gt;cindaku, sijundai, sibigau. apalagi ya? alamak!&lt;br /&gt;angin ternyata menyimpan banyak suara tak tergambarkan&lt;br /&gt;campur aduk dengan suara kesedihan&lt;br /&gt;yang setengah mampus kita tuliskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sunlie, kiting, fahmi, mau ikut juga? ajaklah siapa saja&lt;br /&gt;asal jangan kalian bawa pemerintah. aku takut nanti kampungku&lt;br /&gt;jadi seperti kampung komang ira. nanti aku harus beli tiket masuk&lt;br /&gt;untuk berkunjung ke negeri leluhurku sendiri.&lt;br /&gt;nanti kampungku jadi kaleng mentega.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-61014658880716980?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/61014658880716980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=61014658880716980&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/61014658880716980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/61014658880716980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2008/01/poem.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1140287051652812760</id><published>2007-12-06T12:31:00.000+07:00</published><updated>2007-12-06T23:47:13.701+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Jalan Wirobrajan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalan ini padat dan pedas&lt;br /&gt;malam melintas gegas&lt;br /&gt;hanya sejenak&lt;br /&gt;sepi yang sejenak&lt;br /&gt;kami bertegur pandang:&lt;br /&gt;aku dan makam tua di seberang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1140287051652812760?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1140287051652812760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1140287051652812760&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1140287051652812760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1140287051652812760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/12/poem.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-7099776203021700529</id><published>2007-11-26T14:25:00.000+07:00</published><updated>2007-11-26T21:43:45.324+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Merak-Bakauheni&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angin jalang&lt;br /&gt;matahari lajang&lt;br /&gt;laut bercermin di langitmu&lt;br /&gt;siang hampir matang&lt;br /&gt;ahk! semua lapar&lt;br /&gt;usus menjerit&lt;br /&gt;seperti tulang tulang ikan di terumbu karang&lt;br /&gt;masih jauhkah pelabuhan itu?&lt;br /&gt;semua ingin sampai&lt;br /&gt;rindu ingin digapai&lt;br /&gt;tapi kapal ini begitu lambat&lt;br /&gt;congkak dan tua&lt;br /&gt;seperti pemerintah&lt;br /&gt;mengigau&lt;br /&gt;atas cahaya bawah laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gunung krakatau itu tampak tenang?&lt;br /&gt;sesungguhnya tidak, seperti dirimu&lt;br /&gt;menyimpan larva duka cinta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-7099776203021700529?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/7099776203021700529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=7099776203021700529&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7099776203021700529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7099776203021700529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/11/poem_25.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-3150497466824497261</id><published>2007-11-22T20:28:00.000+07:00</published><updated>2007-11-22T20:43:02.986+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span &gt;Sawahlunto&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;dari taman rumah sakit di ketinggian, di antara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;bau luka rumput dan tabung infus, kita lihat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;sebatang sungai kurus dan kumal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;bagai pemabuk mengalir sempoyongan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;melintasi kota lembah yang terbuat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;dari sperma belanda. lengking peluit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;kereta batu bara penghabisan masih mengiang dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;melayang antara bukit mata air dan puncak polan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;dalam senja berlemak. kualihkan pandangmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;pada menara angin: rumah hantu masa lampau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;kemudian percakapan kita melangkah ke bawah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;bersama malam berminyak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;di depan gereja tua dan pengantuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;mataku terantuk pada punggung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;pengendara motor tak dikenal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;yang melintas begitu cepat seperti tingkap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;seperti pintu rumah dikunci, di sini, sebelum tetes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;embun pertama jatuh dari mata bintang bintang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;menamatkan riwayat malam yang kesepian. ah,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;begitu lekas segala lalu. sementara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;aku tak tahu bagaimana kau hidup dengan kaki &lt;em&gt;terantai&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;di atas lubang lubang tambang yang terbengkalai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;mungkin, parfum murahan, musik yang mengalir dari telpon genggam,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;buklet pariwisata dalam tas hitam, sedikit menjagamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;dari ketiadaan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-3150497466824497261?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/3150497466824497261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=3150497466824497261&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3150497466824497261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3150497466824497261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/11/poem_22.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-7624309154890401821</id><published>2007-11-04T02:21:00.000+07:00</published><updated>2007-11-04T02:47:45.129+07:00</updated><title type='text'>Solilokui</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Hujan Jatuh Dari Bintang Bintang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudah hampir seminggu kedatangan saya di jogja sejak mudik dari kampung di ranah minang, dan selama itu pula saya bertemu melulu dengan hujan yang menebarkan aroma basah di mana-mana, hujan yang membuat kota seperti berada dalam linangan cahaya bawah air. sedang saya seperti penyelam kehabisan oksigen, ingin bergegas naik menuju pusat cahaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-7624309154890401821?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/7624309154890401821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=7624309154890401821&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7624309154890401821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/7624309154890401821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/11/solilokui_03.html' title='Solilokui'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-6340590954382932277</id><published>2007-11-02T03:15:00.000+07:00</published><updated>2007-11-02T06:04:42.563+07:00</updated><title type='text'>Solilokui</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Semuanya indah dalam angan-angan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami bersepakat (saya, indrian koto, esha tegar putra, pinto anugrah) pada hari lebaran ketiga tahun 2007 ini akan berkumpul di kota padang untuk &lt;em&gt;raun-raun&lt;/em&gt; (traveling) mengelilingi ranah minang. kenapa kami harus berkumpul di kota padang? maklumlah kami berasal dari nagari yang saling berpencar. koto di lansano, pesisir selatan. esha di saniang bakar tepi danau singkarak. pinto di sungai tarab, batu sangkar. sedang saya di padang sibusuak, sebuah nagari yang merupakan benteng pertahanan kerjaan minangkabau pada zaman dahulu, dan menurut &lt;em&gt;tambo alam minangkabau&lt;/em&gt;, nama padang sibusuak diberikan pada nagari yang awalnya bernama padang bulu kasab itu, tersebab keheroikan perjuangan rakyat minangkabau menghadang invansi bala tentara majapahit ke kerajaan pagaruyung di nagari padang bulu kasab yang kemudian berganti nama menjadi nagari padang sibusuak karena banyaknya mayat bergelimpangan seusai pertempuran dan menimbulkan bau busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kerajaan minangkabau tidak memiliki pasukan militer sebagaimana kerajaan lainnya. minangkabau menganut sistem pertahanan rakyat semesta dimana apabila diserang seluruh rakyat terlibat mempertahankan tanah pusako bundo. minangkabau selain dibantu oleh geografis alam yang dilingkung oleh bukit barisan (benteng alam), juga menerapkan nagari nagari benteng seperti kawasan "racun" di pasaman. sistem pertahanan 'rakyat semesta' inilah yang pernah diapdosi oleh tan malaka untuk dijadikan sistem pertahanan indonesia dan dipergunakan pada masa revolusi fisik (1945-1949).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam angan-angan saya selepas kesepakatan kami buat, sangatlah indah. bagaimana tidak, kami akan &lt;em&gt;raun-raun&lt;/em&gt; berempat dengan motor melihat ranah minang. bukit nan manjulang. lembah nan tambantang. langit nan takambang. lihat kincir air penumbuk kopi di sungai tarab sambil merasakan udara dingin turun dari gunung &lt;em&gt;marapi &lt;/em&gt;menyapa tubuh. mandi di danau singkarak dan kalau lapar makan nasi &lt;em&gt;bareh solok &lt;/em&gt;dengan lauk pangek ikan bili, hem sedap sekali! singgah di padang sibusuak dan pergi ke nagari sisawah menyusuri ngalau (goa) stalagmit, menghayati meditasi air yang menjadi ornamen batu yang indah di langit-langit goa. pergi melaut di lansano, pesisir selatan, bersama nelayan yang telah dipesan koto. tentu kami akan bersua pula dengan &lt;em&gt;padusi &lt;/em&gt;minang nan rancak, kamek, jongkek. alamak jang! perjalanan ini akan menyenangkan. dan saya yakin, lebih indah dari puisi apa pun yang pernah kami buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angin menggiring hari. hari yang kami sepakati pun tiba. tapi berempat dari kami, hanya koto yang percaya pada janji. ia tiba di padang sendiri (apakah ia sedih waktu itu?). sedang esha tetap di saniang baka. pinto di sungai tarab. saya di padang sibusuak. dengan kesibukan dan halangan masing-masing. untunglah di padang, ia bertemu dengan romi zarman dan mereka pun jalan-jalan. entah ke mana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-6340590954382932277?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/6340590954382932277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=6340590954382932277&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6340590954382932277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6340590954382932277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/11/solilokui.html' title='Solilokui'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-4588631756814849262</id><published>2007-10-31T23:52:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T11:28:46.357+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RyizPLX3cqI/AAAAAAAAACE/gyxGikyrBoM/s1600-h/PIC_6243.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127545249093612194" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RyizPLX3cqI/AAAAAAAAACE/gyxGikyrBoM/s320/PIC_6243.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dari kiri: esha tegar putra, indrian koto, aku, romi zarman (tukang foto: pinto anugerah. lokasi: kincir air penumbuk kopi di sungai tarab, batu sangkar)&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-4588631756814849262?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/4588631756814849262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=4588631756814849262&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4588631756814849262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4588631756814849262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/10/blog-post_31.html' title=''/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RyizPLX3cqI/AAAAAAAAACE/gyxGikyrBoM/s72-c/PIC_6243.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-9036241501240040066</id><published>2007-10-06T00:54:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T11:28:46.756+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RwZ74UYJZwI/AAAAAAAAAB8/GS_eqDZ5Ea0/s1600-h/PIC_5196.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117914234026026754" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RwZ74UYJZwI/AAAAAAAAAB8/GS_eqDZ5Ea0/s320/PIC_5196.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-9036241501240040066?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/9036241501240040066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=9036241501240040066&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/9036241501240040066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/9036241501240040066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/10/blog-post_05.html' title=''/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RwZ74UYJZwI/AAAAAAAAAB8/GS_eqDZ5Ea0/s72-c/PIC_5196.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1407219202762937918</id><published>2007-09-19T09:51:00.000+07:00</published><updated>2007-09-19T09:52:42.751+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Hantu Kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;hantu hantu kecil&lt;br /&gt;yang mengitari rumahku&lt;br /&gt;mengintai dari pentilasi&lt;br /&gt;dan lubang kunci&lt;br /&gt;hantu hantu kecil&lt;br /&gt;yang mengitari rumahku&lt;br /&gt;masuklah, mari kita diskusi&lt;br /&gt;kini aku bukan kanak-kanak lagi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1407219202762937918?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1407219202762937918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1407219202762937918&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1407219202762937918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1407219202762937918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/09/poem_3253.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-4303151159274086935</id><published>2007-09-05T01:41:00.000+07:00</published><updated>2007-09-05T01:54:58.773+07:00</updated><title type='text'>Solilokui</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beberapa hari  saya diamuk demam sungguhan. dalam deman itu, saya seperti berada di negeri asing. tak ada yang mengenal saya, pun saya seperti tak mengenal siapa-siapa.&lt;br /&gt;saya terbaring di atas kasur.  saya menatap langit-langit kamar. langit-langit kamar menatap saya. saya tidak tahu siapa sebenarnya yang menatap.&lt;br /&gt;ada suara berkejaran di loteng. saya bermain-main dengan suara di loteng itu. rasanya? hanya saya seorang yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya seorang :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-4303151159274086935?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/4303151159274086935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=4303151159274086935&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4303151159274086935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4303151159274086935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/09/solilokui.html' title='Solilokui'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-3965327439486236696</id><published>2007-08-21T05:14:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T11:28:46.964+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RsoTRhKMhJI/AAAAAAAAABc/-cNkyTvdUiA/s1600-h/bg-h12.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5100910719630345362" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RsoTRhKMhJI/AAAAAAAAABc/-cNkyTvdUiA/s320/bg-h12.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Percakapan Kecil&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;kita mau ke mana, ra?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;ke mana saja asal bisa bermain&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;hari sudah petang&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;tapi aku belum ingin pulang&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-3965327439486236696?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/3965327439486236696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=3965327439486236696&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3965327439486236696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3965327439486236696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/08/kita-mau-ke-mana-ra-ke-mana-saja-asal.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RsoTRhKMhJI/AAAAAAAAABc/-cNkyTvdUiA/s72-c/bg-h12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-78552745541611919</id><published>2007-08-18T04:13:00.000+07:00</published><updated>2007-08-18T11:54:12.201+07:00</updated><title type='text'>Poem</title><content type='html'>aku bukan&lt;br /&gt;aku diakali&lt;br /&gt;sehari dalam&lt;br /&gt;hari&lt;br /&gt;di kamar ini&lt;br /&gt;seperti berlayar di laut mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka, aku melangkah&lt;br /&gt;meninggalkan buku yang belum tuntas dibaca,&lt;br /&gt;wajah dalam cermin, asbak dan suara cicak,&lt;br /&gt;menjumpai jalan telah bersalin menjadi malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku melangkah dengan sepatu tua&lt;br /&gt;melewati pohon pohon lampu.&lt;br /&gt;mereka dalam rumah dengan jendela&lt;br /&gt;dan pintu tertutup.&lt;br /&gt;aku tak suka pada mereka&lt;br /&gt;yang bersembunyi dari malam&lt;br /&gt;dan jalan.&lt;br /&gt;seekor kucing melompat&lt;br /&gt;dari tong sampah&lt;br /&gt;menjangkau bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o, di mana kau putri&lt;br /&gt;kerajaan langitku&lt;br /&gt;yang hanya sekali kucumbu&lt;br /&gt;di suatu siang yang lengang&lt;br /&gt;dalam kebun pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tersesat dalam sepi&lt;br /&gt;yang berliku-liku&lt;br /&gt;antara trotoar jalan&lt;br /&gt;dan bintang-bintang.&lt;br /&gt;aku ingin membuat menara lonceng&lt;br /&gt;di sebuah bintang&lt;br /&gt;memanggilmu datang di suatu petang.&lt;br /&gt;tapi langit jauh dan angkuh.&lt;br /&gt;tak ada tangga menuju ke sana&lt;br /&gt;selain mimpi&lt;br /&gt;dan doa doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku pukul tanganku&lt;br /&gt;sekuat-kuatnya pada tiang listrik.&lt;br /&gt;dan suara itu akan jadi lonceng yang lain&lt;br /&gt;digiring angin untukmu!&lt;br /&gt;meninggalkan aku dalam rasa sakit&lt;br /&gt;yang hanya aku seorang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku seorang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-78552745541611919?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/78552745541611919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=78552745541611919&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/78552745541611919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/78552745541611919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/08/poem_17.html' title='Poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-8357586929193740316</id><published>2007-08-08T03:04:00.000+07:00</published><updated>2007-08-26T03:32:44.923+07:00</updated><title type='text'>solilokui</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;saya berlari karena saya ingin berlari&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitulah, agaknya, ucapan forest gump dalam film jadul yang dibintangi oleh tom hunk, tapi cukup lama berumah dalam ingatan saya dan saya bukan satpol pp yang gemar mengobrak-abrik, apalagi bagi memori yang mengambil tempat dengan intimnya.&lt;br /&gt;adakah alasan yang lebih kuat selain alasan itu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aku tak mencintaimu seolah-olah kau adalah serbuk mawar atau batu topaz atau panah anyelir yang menyalakan api&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(pablo neruda)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-8357586929193740316?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/8357586929193740316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=8357586929193740316&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8357586929193740316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/8357586929193740316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/08/solilokui.html' title='solilokui'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-1920272752428199046</id><published>2007-08-05T00:23:00.001+07:00</published><updated>2008-12-12T11:28:47.559+07:00</updated><title type='text'>poem</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RrS3c8GVrMI/AAAAAAAAAA0/GR7ygRFbXKA/s1600-h/PIC_1977.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5094898786259807426" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 280px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 210px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RrS3c8GVrMI/AAAAAAAAAA0/GR7ygRFbXKA/s320/PIC_1977.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Senja Hilang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senja hilang di jiwa yang hilang&lt;br /&gt;senja tak terbilang sayang.&lt;br /&gt;sekawan burung melintas&lt;br /&gt;tak membuat bekas&lt;br /&gt;pada langit yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekali lagi, kita jumpai kenyataan ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumah rumah&lt;br /&gt;pohon pohon&lt;br /&gt;jalan jalan&lt;br /&gt;orang orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersalin ke dalam malam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-1920272752428199046?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/1920272752428199046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=1920272752428199046&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1920272752428199046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/1920272752428199046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/08/senja-hilang.html' title='poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RrS3c8GVrMI/AAAAAAAAAA0/GR7ygRFbXKA/s72-c/PIC_1977.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-5969862044780323950</id><published>2007-08-05T00:01:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T11:28:47.828+07:00</updated><title type='text'>poem</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RrSyw8GVrLI/AAAAAAAAAAs/2wR2KqGJA2o/s1600-h/IMG_3188.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 224px; height: 230px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RrSyw8GVrLI/AAAAAAAAAAs/2wR2KqGJA2o/s320/IMG_3188.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5094893632299052210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyeberangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;meninggalkan pulau&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;menjemput pulau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;di buritan bersama angin yang lain&lt;br /&gt;tanpa kawan obrolan dan bulan&lt;br /&gt;nafas laut yang tua naik turun&lt;br /&gt;separuh getir, dan keheningan malam?&lt;br /&gt;mengental suara lunas kapal&lt;br /&gt;membentur punggung laut.&lt;br /&gt;ada kelip lampu mercusuar di kejauhan&lt;br /&gt;seperti mata perempuan tak dikenal&lt;br /&gt;menangkap mataku di senja merah penghabisan.&lt;br /&gt;pelabuhan masih jauh tapi sebentar lagi&lt;br /&gt;hari akan benderang. sebentar lagi&lt;br /&gt;angin malam bersalin ke dalam siang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-5969862044780323950?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/5969862044780323950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=5969862044780323950&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5969862044780323950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/5969862044780323950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/08/penyeberangan.html' title='poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RrSyw8GVrLI/AAAAAAAAAAs/2wR2KqGJA2o/s72-c/IMG_3188.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-3457177887768519824</id><published>2007-07-29T05:35:00.001+07:00</published><updated>2008-12-12T11:28:48.100+07:00</updated><title type='text'>pers release</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RqvFEMGVrII/AAAAAAAAAAU/Zto7XD5jOz4/s1600-h/doodle06.GIF"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092380479430438018" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RqvFEMGVrII/AAAAAAAAAAU/Zto7XD5jOz4/s320/doodle06.GIF" border="0" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Pernyataan Sikap Sastrawan Ode Kampung&lt;br /&gt;Serang, Banten, 20-22 Juli 2007 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Sastra Indonesia saat ini memperlihatkan gejala berlangsungnya dominasi sebuah komunitas dan azas yang dianutnya terhadap komunitas-komunitas sastra lainnya. Dominasi itu bahkan tampil dalam bentuknya yang paling arogan, yaitu merasa berhak merumuskan dan memetakan perkembangan sastra menurut standar estetika dan ideologi yang dianutnya. Kondisi ini jelas meresahkan komunitas-komunitas sastra yang ada di Indonesia karena kontraproduktif dan destruktif bagi perkembangan sastra Indonesia yang sehat, setara, dan bermartabat. Dalam menyikapi kondisi ini, kami sastrawan dan penggiat komunitas-komunitas sastra memaklumatkan Pernyataan Sikap sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Menolak arogansi dan dominasi sebuah komunitas atas komunitas lainnya.&lt;br /&gt;2. Menolak eksploitasi seksual sebagai standar estetika.&lt;br /&gt;3. Menolak bantuan asing yang memperalat keindonesiaan kebudayaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kami sastra adalah ekspresi seni yang merefleksikan keindonesiaan kebudayaan kita di mana moralitas merupakan salah satu pilar utamanya. Terkait dengan itu sudah tentu sastrawan memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat (pembaca). Oleh karena itu kami menentang sikap ketidakpedulian pemerintah terhadap musibah-musibah yang disebabkan baik oleh perusahaan, individu, maupunkebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat, misalnya tragedilumpur gas Lapindo di Sidoarjo. Kami juga mengecam keras sastrawan yang nyata-nyata tidak mempedulikan musibah-musibah tersebut, bahkan berafiliasi dengan pengusaha yang mengakibatkan musibah tersebut. Demikianlah Pernyataan Sikap ini kami buat sebagai pendirian kami terhadap kondisi sastra Indonesia saat ini, sekaligus solidaritas terhadap korban-korban musibah kejahatan kapitalisme di seluruh Indonesia. Kami yang menyuarakan dan mendukung pernyataan ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01. Wowok Hesti Prabowo (Tangerang), 02. Saut Situmorang (Yogyakarta), 03. Kusprihyanto Namma (Ngawi), 04. Wan Anwar (Serang), 05. Hasan Bisri BFC (Bekasi), 06. Ahmadun Y. Herfanda (Jakarta), 07. Helvy Tiana Rosa (Jakarta), 08. Viddy AD Daeri (Lamongan), 09. Yanusa Nugroho (Ciputat), 10. Raudal Tanjung Banua (Yogya), 11. Gola Gong (Serang), 12. Maman S. Mahayana (Jakarta), 13. Diah Hadaning (Bogor), 14. Jumari Hs (Kudus), 15. Chavcay Saefullah (Lebak), 16. Toto St. Radik (Serang), 17. Ruby Ach. Baedhawy (Serang), 18. Firman Venayaksa (Serang), 19. Slamet Raharjo Rais (Jakarta), 20. Arie MP.Tamba (Jakarta), 21. Ahmad Nurullah (Jakarta), 22. Bonnie Triyana (Jakarta), 23. Dwi Fitria (Jakarta), 24. Doddi Ahmad Fauzi (Jakarta), 25. Mat Don (Bandung), 26. Ahmad Supena (Pandeglang), 27. Mahdi Duri (Tangerang), 28. Bonari Nabonenar (Malang), 29. Asma Nadia (Depok), 30. Nur Wahida Idris (Yogyakarta), 31. &lt;strong&gt;Y. Thendra BP (Yogyakarta),&lt;/strong&gt; 32. Damhuri Muhammad, 33. Katrin Bandell (Yogya), 34. Din Sadja (Banda Aceh), 35. Fahmi Faqih (Surabaya), 36. Idris Pasaribu (Medan), 37. Indriyan Koto (Medan), 38. Muda Wijaya (Bali), 39. Pranita Dewi (Bali), 40. Sindu Putra (Lombok), 41. Suharyoto Sastrosuwignyo (Riau), 42. Asep Semboja (Depok), 43. M. Arman AZ (Lampung), 44. Bilven Ultimus (Bandung), 45. Pramita Gayatri (Serang), 46. Ayuni Hasna (Bandung), 47. Sri Alhidayati (Bandung), 48. Suci Zwastydikaningtyas (Bandung), 49. Riksariote M. Padl (bandung), 50. Solmah (Bekasi), 51. Herti (Bekasi), 52. Hayyu (Bekasi), 53. Endah Hamasah (Thullabi), 54. Nabila (DKI), 55. Manik Susanti 56. Nurfahmi Taufik el-Sha'b, 57. Benny Rhamdani (Bandung), 58. Selvy (Bandung), 59. Azura Dayana (Palembang), 60. Dani Ardiansyah (Bogor), 61. Uryati zulkifli (DKI), 62. Ervan ( DKI), 63. Andi Tenri Dala (DKI), 64. Azimah Rahayu (DKI), 65. Habiburrahman el-Shirazy, 66. Elili al-Maliky, 67. Wahyu Heriyadi, 68. Lusiana Monohevita, 69. Asma Sembiring (Bogor), 70. Yeli Sarvina (Bogor), 71. Dwi Ferriyati (Bekasi), 72. Hayyu Alynda (Bekasi), 73. herti Windya (Bekasi), 74. Nadiah Abidin (Bekasi) , 75. Ima Akip (Bekasi), 76. Lina M (Ciputat), 77. Murni (Ciputat), 78. Giyanto Subagio (Jakarta), 79. Santo (Cilegon), 80. Meiliana (DKI), 81. Ambhita Dhyaningrum (Solo), 82. Lia Oktavia (DKI), 83. Endah (Bandung), 84. Ahmad Lamuna (DKI), 85. Billy Antoro (DKI), 86. Wildan Nugraha (DKI), 87. M. Rhadyal Wilson (Bukitingi), 88. Asril Novian Alifi (Surabaya), 89. Jairi Irawan ( Surabaya) 90...... 91. Langlang Randhawa (Serang) , 92. Muhzen Den (Serang), 93. Renhard Renn (Serang), 94. Fikar W. Eda (Aceh), 95. Acep Iwan Saidi (Bandung), 96. Usman Didi Hamdani (Brebes), 97. Diah S. (Tegal), 98. Cunong Suraja (Bogor), 99. Muhamad Husen (Jambi), 100. Leonowen (Jakarta), 101. Rahmat Ali (Jakarta), 102. Makanudin RS (Bekasi), 103. Ali Ibnu Anwar ( Jawa Timur), 104. Syarif Hidayatullah (Depok), 105. Moh Hamzah Arsa (Madura), 106. Mita Indrawati (Padang), 107. Suci Zwastydikaningtyas (Bandung), 108. Sri al-Hidayati (Bandung), 109. Nabilah (DKI), 110. Siti Sarah (DKI), 111. Rina Yulian (DKI), 112. Lilyani Taurisia WM (DKI) 113. Rina Prihatin (DKI), 114. Dwi Hariyanto (Serang), 115. Rachmat Nugraha (Jakarta), 116. Ressa Novita (Jakarta), 117. Sokat (DKI), 118. Koko Nata Kusuma (DKI), 119. Ali Muakhir (bandung), 120. M. Ifan Hidayatullah (Bandung), 121. Denny Prabowo (Depok), 122. Ratono Fadillah (Depok), 123. Sulistami Prihandini (Depok), 124. Nurhadiansyah (Depok), 125. Trimanto (Depok), 126. Birulaut (DKI), 127. Rahmadiyanti (DKI), 128. Riki Cahya (Jabar), 129. Aswi (Bandung), 130. Lian Kagura (Bandung), 131. Duddy Fachruddin (Bandung), 132. Alang Nemo (Bandung), 133. Epri Tsaqib Adew Habtsa (Bandung), 134. Tena Avragnai (Bandung), 135. Gatot Aryo (Bogor), 136. Andika (Jambi), 137. Widzar al-Ghiffary (Bandung), 138. Azizi Irawan Dwi Poetra (Serang).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-3457177887768519824?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/3457177887768519824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=3457177887768519824&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3457177887768519824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3457177887768519824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/07/blog-post_28.html' title='pers release'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RqvFEMGVrII/AAAAAAAAAAU/Zto7XD5jOz4/s72-c/doodle06.GIF' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-2219112317972371989</id><published>2007-07-29T05:10:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T11:28:48.643+07:00</updated><title type='text'>Solilokui</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RqvIacGVrKI/AAAAAAAAAAk/rIm8RbvXdVA/s1600-h/anti+aging.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 185px; height: 208px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RqvIacGVrKI/AAAAAAAAAAk/rIm8RbvXdVA/s320/anti+aging.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092384160217410722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ehem....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengapa harus menulis puisi? ini pertanyaan sederhana yang kerap mengambil bantal, selimut, dan kasur saya, yang membuat saya tidak bisa tidur dan kehilangan mimpi semalaman dan menemukan kenyataan bahwa pagi telah benderang dan penanggalan baru dimulai lagi.&lt;br /&gt;kadang, saya mengherani pada orang yang bisa berteriak lantang sambil mengepalkan tangan, "aku menulis puisi karena begini..karena begitu.."&lt;br /&gt;selamat deh atas penemuan alasanmu..&lt;br /&gt;tapi saya--macam apa saya ini?&lt;br /&gt;saya jadi ingat waktu kecil dulu, tepatnya ketika masih sekolah TK di kota hujan Padang Panjang. Saya menyukai seorang cewek manis teman satu sekolah. tapi saya tidak tahu alasannya apa, selain dia itu manis. sangat manis. dan cilakanya, saya tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya--penyakit yang kadang menggerogoti saya sampai sekarang.&lt;br /&gt;yang bisa saya lakukan pada saat itu, mengejar dia setiap pulang sekolah. dan tentu saja, dia lari. saya mengejarnya. dia lari. hingga ia hilang dari jangkauan saya. begitulah berlangsung cukup lama.&lt;br /&gt;pada suatu hari--kenapa harus ada suatu hari?--di sekolah TK itu, pas jam bermain, dia memberikan sepotong kue bolu, "ini untukmu" ucapnya dengan senyum kanak-kanaknya. dengan malu-malu saya terima sepotong kue bolu itu, "makasih, ya" :)&lt;br /&gt;sejak itu, setiap pulang sekolah saya tak lagi mengejarnya. tapi setiap jam bermain, saya memberikan sebagian makanan saya dalam kotak padanya, dan ia pun begitu pula. kami saling berbagi sebagian makanan masa kecil.&lt;br /&gt;dan itu berlangsung cukup lama sampai kami meninggalkan taman kanak-kanak itu. dan saya tak tahu di mana dia sekarang.&lt;br /&gt;mungkin, menulis puisi bagi saya adalah menjaga dua kanak-kanak dalam diri saya agar tak hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, Juli 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-2219112317972371989?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/2219112317972371989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=2219112317972371989&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2219112317972371989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/2219112317972371989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/07/ehem.html' title='Solilokui'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RqvIacGVrKI/AAAAAAAAAAk/rIm8RbvXdVA/s72-c/anti+aging.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-3415859214402827762</id><published>2007-06-20T00:00:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T11:28:48.775+07:00</updated><title type='text'>poem</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RrS6XMGVrNI/AAAAAAAAAA8/9Wm0wsEDO70/s1600-h/IMG_1972.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RrS6XMGVrNI/AAAAAAAAAA8/9Wm0wsEDO70/s320/IMG_1972.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5094901986010442962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alis Matamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesekali tak salah kiranya&lt;br /&gt;aku kembali jadi bocah manja&lt;br /&gt;tak menagih apa-apa dari cinta&lt;br /&gt;dan cukup bahagia&lt;br /&gt;meski hanya bisa&lt;br /&gt;mengakrapi alis matamu&lt;br /&gt;dari jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-3415859214402827762?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/3415859214402827762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=3415859214402827762&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3415859214402827762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/3415859214402827762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/06/alis-matamu-sesekali-tak-salah-kiranya.html' title='poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HrXMSnFZNEI/RrS6XMGVrNI/AAAAAAAAAA8/9Wm0wsEDO70/s72-c/IMG_1972.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-4973605085276429659</id><published>2007-06-19T20:14:00.000+07:00</published><updated>2007-08-05T01:02:29.079+07:00</updated><title type='text'>poem</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tuhan, telpon aku dong&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan, sesekali telpon aku dong&lt;br /&gt;biar aku tahu di mana kau sungguh.&lt;br /&gt;jangan pakai sljj apalagi sli, yang dekat saja, lokal cukuplah.&lt;br /&gt;kalau engkau nilpon pakai sljj apalagi sli&lt;br /&gt;betapa jauhnya engkau dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;habis, setiap kali kucalling engkau&lt;br /&gt;acap kali mailbox atau terdengar suara mendayu bidadari entah: "tuhan&lt;br /&gt;yang anda hubungi sedang sibuk, tunggulah beberapa saat lagi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memang dosaku banyak,&lt;br /&gt;untuk itu aku pinta ampunanmu.&lt;br /&gt;kalau engkau tak sudi: wah pada siapa lagi aku akan meminta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan, telpon aku dong&lt;br /&gt;tak usah lama-lama, sedetik cukuplah.&lt;br /&gt;dan hidupku akan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, Januari 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-4973605085276429659?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/4973605085276429659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=4973605085276429659&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4973605085276429659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/4973605085276429659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/06/tuhan-telpon-aku-dong-tuhan-sesekali.html' title='poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8918241875963799307.post-6618303848556289058</id><published>2007-06-19T20:12:00.002+07:00</published><updated>2007-08-05T01:02:49.933+07:00</updated><title type='text'>poem</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kekasih Malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam seperti penyamun&lt;br /&gt;yang menghadang tiba-tiba&lt;br /&gt;ketika aku berjalan&lt;br /&gt;tanpa sesiapa bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam meminta sesuatu&lt;br /&gt;tapi aku tak membawa apa-apa,&lt;br /&gt;selain hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu malam mengambil hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sejak itu,kami pacaran di kuburan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8918241875963799307-6618303848556289058?l=langit-puisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://langit-puisi.blogspot.com/feeds/6618303848556289058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8918241875963799307&amp;postID=6618303848556289058&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6618303848556289058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8918241875963799307/posts/default/6618303848556289058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://langit-puisi.blogspot.com/2007/06/kekasih-malam-malam-seperti-penyamun.html' title='poem'/><author><name>Y. Thendra BP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00409757351835984901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
