Saturday, February 21, 2009
Solilokui
Melihat Kampung Dari Sebuah Bukit
kampung saya bukan jakarta!
jadi kalau anda datang ke kampung saya, anda tidak akan menemukan gedung pencakar langit--hiiiiii..metafora yang kasar dan angkuh, deh--tapi anda akan menemukan bukit bukit menjulang menjunjung langit.
nah, pada suatu sore, saya naik ke sebuah bukit di kampung saya itu. saya naik bukan untuk menjadi sisipus. tapi saya naik karena ingin melihat kampung saya dari ketinggian, terlentang digelimangi cahaya senja.
sesampai di atas bukit itu, saya lihat lembah tempat kampung saya berada. alamak jang, betapa indahnya kampung saya itu dilihat dari ketinggian, dari kejauhan.
angin perbukitan yang berhembus sejuk, tiba-tiba membawa ingatan saya pada kata-kata buya Hamka:
kampung itu indah karena kita tidak bisa memilikinya...
ah, buya, engkau pintar benar menyusun pikiran, hingga sekarang tak pupus dalam saya punya ingatan.
lalu saya menyalakan sebatang rokok. saya hembuskan asap pertama dari rokok saya yang telah menyala itu. asap itu membumbung. di udara, asap rokok itu, seakan sedang menyusun dirinya menjadi fatwa:
MUI HARAM!
Thursday, February 12, 2009
Poem
Manusia Ombak
senja menyusun tubuhku dari kepiting kepiting yang hilang
di pasir tua dan tabah. aku lihat manusia datang
untuk matahari yang akan tenggelam, lalu pergi
ke dalam kelam malam.
wai, kenapa manusia datang dan pergi
seperti ombak, membuat pusaran sunyi yang abadi
di pantai ini?
senja menyusun tubuhku dari kepiting kepiting yang hilang
di pasir tua dan tabah. aku lihat manusia datang
untuk matahari yang akan tenggelam, lalu pergi
ke dalam kelam malam.
wai, kenapa manusia datang dan pergi
seperti ombak, membuat pusaran sunyi yang abadi
di pantai ini?
Tuesday, February 3, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
