Friday, June 27, 2008

solilokui

(Janin Cerita)

"Kali ini, saya pesan kopi dengan cangkir yang pernah mencium bibir perempuan itu.”
Pelayan itu menekan pena agak kuat di atas buku pesanan.
“Maksud tuan?!”
“Kopi dengan cangkir yang pernah mencium bibir seorang perempuan.”
“Hehe..Tuan ini suka bercanda. Semua cangkir di kafe ini ada bekas bibirnya. Tapi itu sudah dicuci bersih. Kami menjaga kebersihan tentunya.”
“Ah…bagaimana saya menceritakannya?” ucapnya pelan. Lalu ia menatap meja di pojok dekat pintu masuk.

Meja yang kini kosong itu membawa ingatannya pada suatu sore.

....

itulah bagian dari prosa yang sedang saya kerjakan. saya tidak tahu kapan akan selesai.

jika saya mati sebelum prosa itu selesai, sudikah anda melanjutkannya?
jika anda mati sebelum prosa itu selesai, rugikah anda?
jika prosa itu selesai dan kita masih hidup, saya akan menangis sepuas-puasnya!

barangkali ini bisa jadi info bagi teman-teman yang sering bertanya, "sibuk apa?"
yeah, itulah salah satu kesibukan saya. jadi janganlah menatap saya dengan sorot mata yang 'asing' itu, cintaku.

sungguh! saya sedang bekerja. bekerja dengan cara saya.

tapi kenapa masih "ada" yang menganggap saya tidak punya pekerjaan?

apa itu kerja, Tuan?
Tuhan!

Tuesday, June 24, 2008

poem

Petak Umpet

di balik akal aku sembunyi
yang tak berakal
sia-sia mencari

Sunday, June 22, 2008

solilokui

Tanah Lahir

O, bangkinang dan
kelok 9; hujan dan malam
turun pelan2…

Pengirim:
Raudal TB
Dikirim:
21:40:51
21/06/2008

SMS itu menyintakan saya. Membawa ingatan saya pada tanah lahir yang selalu saya tulis dalam biodata. Tanah lahir yang hanya sempat saya diami hingga berusia enam bulan—menurut cerita mama—sebab papa musti pindah tugas dari Yonif 131 Bima Sakti
Bangkinang ke Yonif 133 Yudha Sakti di Padang Panjang.

Kepindahan yang tergesa-gesa. Kepindahan yang membuat saya tidak memiliki memori intim dengannya.

Bangkinang--yeah tanah lahir--sesuatu yang asing karena melulu saya kunjungi lewat cerita dan biodata, pun hingga saya menulis ini.

Cuma sekali saya pernah melintasinya pada dinihari ketika hendak menuju Pekanbaru dari Padang Sibusuak, dengan bis. Waktu itu, saya tidak ingin tidur, saya ingin melihat tanah lahir saya meski lewat jendela bis saja.

Maka selepas Kelok Sembilan, saya mulai gelisah dan bertanya pada gadis yang duduk di samping saya, “Masih jauhkah Bangkinang?” Saya bertanya pada gadis satu kampung yang bekerja di Batam, yang setiap dari atau ke Padang Sibusuak lewat Bangkinang. Saya pikir, ia tahu kapan Bis yang kami tumpangi memasuki jalan yang melintasi Bangkinang.

Saya tidak akan menceritakan lebih banyak lagi, bagaimana perasaan saya ketika melewati ‘tanah lahir’ dengan bis itu pada dinihari yang turun dari langit desember 2004 itu. Biarlah hanya saya seorang yang tahu. Saya seorang. Dan semoga baik-baik saja.

Saya hanya ingin membalas SMS Raudal itu, yang pada saat itu ia sedang melintasi ‘tanah lahir’ saya (ia dalam perjalanan dari Pekanbaru menuju Padang). Ia yang 'sedia' menyediakan ruang mengingat 'tanah lahir' orang macam saya 'yang apalah' ini, di antara ruang ingatan ia yang sibuk dan terus bekerja.

Beginilah balasan SMS saya esok malamnya pada dia, yang saya tulis ulang di sini, semoga jadi puisi.

Bangkinang

pernah sekali,
angin dinihari
menyusup lewat jendela bis
yang tak terkunci;
menegur aku,
menoleh pada tanah kelahiran itu.
tapi tak kutahu
di bawah pohon apa ibu
menanam ari-ariku.
dan bis terus laju.

Wednesday, June 18, 2008

Poem

Aku Tidak Memilikimu
: ma

aku tidak memilikimu ketika hatimu milik yang lain
aku mencintaimu ketika tanganmu sendiri
mendayung musim

aku raih tanganmu dengan apa yang kupunya
merengkuh tanganmu yang mencinta itu ke dada
agar engkau rasakan seratus tahun yang sunyi
kita yang terlalu liar jika dimiliki oleh diri sendiri

aku tidak ingin cinta ada seperti harta rampasan
perang yang panjang
sebagaimana hidup, biarkan
cinta tumbuh dari mata kesunyian masing-masing
jadi sungai
mengaliri pipi

nyanyian laut yang jauh akan sampai jua ke hati
dibawa angin malam lewat lubang kunci
dan ketika engkau tertidur dan bermimpi
aku jaga bulu matamu dari pencuri

Thursday, June 12, 2008

Poem

Dalam Sakit

letakanlah tanganmu
di kening malamku yang demam
dan kau akan faham
kenapa darahku mengigau
langit-langit kamar
kulihat penuh gambar
dari dua tangan kanak-kanak

hujan di luar
hujan di dalam
aku menggigil
sendiri mendengar
suara suara asing
seperti denting
keping masa lalu
yang jatuh ke dalam
kelam sang ajal

kau tahu,
pada saat-saat begini
betapa masih berharga hidup ini
walau hanya untuk meloloskan
seteguk air di tenggorokan

Monday, June 9, 2008

refrensi

"penemuan" sebuah sajak cinta Chairil yang hilang oleh seorang Belanda, seperti yang dilaporkan oleh Burton Raffel dalam jurnal Indonesia Circle, No.66, tahun 1995.
Sajak yang berjudul "Berpisah dengan Mirat" itu dikatakan telah diambil oleh seorang bernama Wil van Yperen dari sebuah majalah berbahasa Indonesia yang "kalau nggak salah Gelanggang Pemuda, Jan. 47":


Berpisah Dengan Mirat
(Chairil Anwar)

Matahari tiba2 sudah tinggi, kami 5 x djalan lebih lekas dari
pada biasa. Djam yang menatap kami menggigil seperti
kena malaria rupanja Tiba disetasion ketjil ada lagi 2 a 3
djam untuk berhadapan

Kopi pait dan pendjual tua jang hormat ketawa sadja djadi
alasan untuk bitjara ketika kereta api bawa
aku madju bergerak, kulihat mukamu
terpaling Dan kau hilang..maka mulailah mesin dalam otakku

Mengeri meluar garis, terasa rasa hendak petjah
Penumpang2 lain djuga ikut dimakan njaladan kering oleh hawa sebaran diriku..kudengar setan datang
Sehabis itulah berdentam dari mulutku Godverd. buat ganti dosa.

Dengan membandingkan sajak di atas dengan sajak Chairil "Dalam Kereta", Burton Raffel mengambil kesimpulan bahwa sajak "Berpisah dengan Mirat" adalah memang benar karya Chairil karena "banyak irama tipikal Chairil ada pada sajak tersebut, dan juga imaji-imaji khasnya".
Persamaan irama dan imaji pada kedua sajak memang mendukung kesimpulan Burton Raffel tersebut, apalagi kalau kita perhatikan tahun edisi majalah dari mana sajak "Berpisah dengan Mirat" itu dicopy-ulang merupakan masa Chairil produktif menulis puisi.

Thursday, June 5, 2008

Poem

Interlude

malam meninggi
bulan merendah

bayang-bayang kita
rebah
tak bersuara